NovelToon NovelToon
PEMBALASAN ISTRI Yang DITINGGALKAN

PEMBALASAN ISTRI Yang DITINGGALKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Penyesalan Suami
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Elena bukan perempuan biasa meskipun hidupnya tampak biasa. Lahir dari keluarga berada, ia rela meninggalkan segalanya demi menikahi Adrian, lelaki sederhana yang ia cintai sepenuh hati.

Mereka hidup miskin tapi bahagia. Hingga suatu hari Adrian merantau ke kota mencari kerja dan perlahan menghilang. Tidak ada kabar, tidak ada lagi kiriman uang. Tapi Elena tetap setia menunggu, banting tulang sendirian, membesarkan kedua buah hatinya dengan keyakinan bahwa suaminya pasti punya alasan dan suatu saat pasti kembali.

Hingga pada akhirnya kabar itu datang padanya. Bahwa Adrian ternyata hidup mewah di kota bersama wanita lain.

Elena memutuskan datang ke kota menyusul suaminya dan ia mendapati pengkhianatan yang telah dirancang sejak lama. Elena diam-diam mulai menyusun rencana untuk membalaskan rasa sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Pagi itu Elena mengetuk pintu ruangan ayahnya sebelum masuk.

Ia masuk dengan map laporan di tangannya, laporan keuangan kuartal yang sudah ia siapkan sejak pagi, yang seharusnya hanya butuh lima menit untuk diserahkan sebelum ia kembali ke mejanya sendiri.

Tapi ada seseorang di ruangan itu. Seorang lelaki duduk di kursi tamu depan meja ayahnya, punggungnya menghadap pintu, postur tubuhnya yang tegak namun santai sangat menunjukan kalau dia bukan orang biasa. Dan saat Elena masuk, dia sama sekali tidak menoleh.

Ayahnya mendongak dan langsung tersenyum. "Elena. Masuk, masuk. Kebetulan sekali kamu datang."

Elena masuk dan menutup pintu. Ia berjalan ke meja ayahnya dan meletakkan map laporan itu di atas meja. "Ini laporan kuartal. Sudah aku tandai bagian yang perlu Ayah perhatikan."

"Bagus, nanti ayah baca." Ayahnya mendorong map itu ke pinggir mejanya dengan cara yang menunjukkan bahwa laporan itu bukan prioritas saat itu. Ia berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah tamunya yang juga ikut berdiri. "Kamu harus kenalan dulu sama orang ini."

Lelaki itu berbalik.

Jas abu-abu gelap. Dasi biru tua. Postur yang tenang dengan cara yang tidak dibuat-buat. Wajah yang tenang tipe yang sulit di tebak.

Elena menatapnya. Ada sesuatu yang familiar. Tapi ia tidak tahu apa. Seperti mencoba mengingat mimpi yang sudah hampir hilang sepenuhnya.

"Leon." Ayahnya menepuk bahu lelaki itu dengan cara yang sangat tidak formal untuk seorang Hendra Wirawan yang Elena kenal, tepukan yang hangat, tepukan orang yang sudah mengenal seseorang jauh sebelum jabat tangan bisnis pertama mereka. "Anak nya Bimo. Masih ingat Om Bimo?"

Elena menatap ayahnya. "Om Bimo yang...."

"Yang sering datang ke rumah waktu kamu masih kecil. Yang anaknya suka rebutan mainan sama kamu di halaman belakang." Ayahnya tertawa kecil. "Leon. Ini Elena, putri om."

Leon mengulurkan tangannya. "Leon Raffael."

Elena menjabat tangannya. "Elena."

Tangannya kuat. Jabatannya singkat.

"Leon sekarang yang pegang Raffael Capital Group." Ayahnya kembali ke kursinya dengan santai. "Duduk, duduk. Elena kamu duduk juga, kebetulan ada yang perlu kita bahas bertiga."

Elena duduk di kursi samping Leon.

"Raffael Capital." Elena mengulang pelan, lebih ke dirinya sendiri. "Investasi dan perbankan?"

"Iya." Leon menjawab singkat.

"Om Bimo yang bantu danai proyek Wirawan di Sudirman saat awal berdiri." Ayahnya menyambung. "Waktu itu ayah hampir pusing tujuh keliling cari investor yang mau masuk di tengah kondisi pasar yang tidak menentu. Ayah Leon yang telepon duluan dan mengulurkan tangannya." Ayahnya menatap Leon dengan cara seorang ayah menatap anak yang ia banggakan tanpa perlu mengatakannya dengan keras. "Tidak pernah ayah lupakan itu."

Leon tidak menjawab. Hanya mengangguk kecil seperti tidak tahu harus berbuat apa dengan itu.

"Om Bimo, orang yang sangat berjasa bagi Ayah?" Elena berkata pelan.

Ayahnya menghela nafas. "Kamu benar sekali , Elena. Kalau bukan karena Om Bimo perusahaan Ayah tidak akan berdiri sampai sekarang."

"Ayahnya Leon dulu sahabat dekat ayah." Hendra Wirawan melanjutkan dengan nada yang sedikit berubah, lebih pelan, lebih seperti orang yang sedang mengingat sesuatu yang jauh. "Tapi Bimo pergi terlalu cepat." Ia menatap Leon sebentar. "Ayah masih ingat waktu dia telepon ayah tengah malam dan meminta satu hal dari ayah, sayangnya ayah tidak bisa mewujudkan nya karena waktu itu kamu memilih pergi denga pria miskin, Elena."

Ruangan itu hening sebentar.

Leon menatap meja di depannya. Tidak bicara. Tidak juga bergerak. Hanya diam dengan cara yang menunjukkan bahwa ini bukan topik yang ia tidak bisa tangani.

Elena menatap Leon sebentar dari sudut matanya.

Lalu menatap ayahnya. "Ayah."

Ayahnya mengerti. Ia menggeser posisi duduknya dan kembali ke nada yang lebih ringan. "Oke oke. Jadi proyek mixed-use di pusat kota. Leon sudah baca proposal yang om kirim minggu lalu?"

"Sudah, Om." Leon membuka map di tangannya. "Ada beberapa hal yang perlu kita diskusikan soal skema pendanaan."

Dan percakapan beralih ke angka, proyeksi pendanaan, skema pengembalian, timeline konstruksi. Elena masuk ke dalam diskusi itu dengan natural, mengambil map laporannya, membuka halaman yang relevan, melempar angka-angka yang sudah ia hapal tanpa perlu melihat catatannya.

Leon mendengarkan. Tidak menyela. Tidak mempertanyakan apakah perempuan yang baru saja masuk dengan map laporan di tangannya ini cukup kompeten untuk bicara soal angka sebesar itu.

"Elena yang akan pegang kendali proyek ini mulai sekarang." Ayahnya menyela di satu titik.

Leon menatap Elena.

"Saya yang akan handle dari awal sampai selesai." Elena menjawab langsung.

Leon mengangguk sekali. Kembali ke map di tangannya.

Diskusi berlanjut dua puluh menit lagi sebelum akhirnya ayahnya melihat jam di tangannya. "Ayah ada pertemuan konferensi sebentar lagi." Ia berdiri. "Kalian lanjutkan dulu. Elena bisa bantu Leon kalau ada yang perlu didiskusikan lebih detail."

Ayahnya lalu keluar. Dan ruangan itu tiba-tiba terasa berbeda tanpa kehadiran Hendra Wirawan di dalamnya, lebih sepi, lebih formal, dengan dua orang yang belum pernah duduk berdua tanpa perantara di antara mereka.

Elena membuka halaman berikutnya di map laporannya. "Klausul mana yang perlu kita diskusikan duluan?"

"Skema pengembalian di tahun ketiga." Leon menjawab langsung. "Proyeksi kamu terlalu optimis."

Elena mendongak. "Berdasarkan?"

"Kondisi pasar properti kelas A di kuartal terakhir." Leon menatapnya. "Occupancy rate turun rata-rata delapan persen. Proyeksi kamu tidak memperhitungkan itu."

Elena menatapnya sebentar. Lalu membuka halaman lain di map laporannya.

Ia tidak langsung menjawab. Karena Leon benar.

"Delapan persen itu angka rata-rata." Elena akhirnya berkata. "Properti mixed-use dengan konsep yang kita tawarkan targetnya segmen yang berbeda. Occupancy rate segmen itu tidak turun, justru naik enam persen di periode yang sama."

Leon menatapnya, dengan wajah yang masih tenang.

"Ada datanya?" Suaranya tidak meragukan Elena, ia hanya bertanya agar semua terlihat jelas.

"Ada." Elena menutup map laporannya. "Akan saya kirimkan sebelum meeting minggu depan."

Leon mengangguk. "Baik."

Hening sebentar.

"Jadi." Elena menatapnya langsung. "Klausul lain?"

Dan mereka lanjut bekerja, dua orang di ruangan yang sama dengan map dan angka di antara mereka, dengan cara yang sangat profesional dan sangat terukur.

Pertemuan itu selesai setengah jam kemudian. Leon berdiri dan membereskan map di tangannya. Elena pun ikut berdiri juga.

"Sampai jumpa minggu depan." Leon berkata.

"Sampai jumpa minggu depan."

Leon berjalan ke pintu. Membukanya. Dan tepat sebelum melangkah keluar. "Datanya jangan lupa."

Elena menatap punggungnya. "Tidak akan."

Pintu tertutup. Elena berdiri di ruangan itu sendirian. Ia memikirkan cara Leon bicara tadi. Suaranya yang rendah dan terukur. Cara ia berdiri saat ayahnya keluar, postur yang sama persis, tenang dengan cara yang tidak dibuat-buat.

Elena menatap pintu yang sudah tertutup itu.

Leon Raffael. Ia ingat bahwa pria itu adalah orang yang menolongnya di basment kemarin, tapi kenapa dia tidak bertanya atau menyinggung peristiwa itu? membuat Elena, merasa ragu-ragu untuk mengucapkan terimakasih yang kedua kalinya.

Dunia memang lebih kecil dari yang ia kira. Ia berjalan ke pintu dan keluar, ada terlalu banyak hal yang harus ia selesaikan hari ini untuk dihabiskan berdiri di ruangan kosong memikirkan sesuatu yang tidak ada di daftar prioritasnya.

Di kepalanya sudah ada daftar yang lebih panjang dan lebih penting dari itu. Dan Leon Raffael tidak ada di dalamnya. Tidak untuk sekarang.

1
Lili Inggrid
lanjut
Ovha Selvia
Pasti si clara lah pelakunya, klo si adrian mah ngikut2 aja..
Ovha Selvia
Waaah gak nyangka ternyata clara juga pintar, dia bahkan tau niatnya elena.. Elena, kamu harus selangkah lebih maju daripada pelakor.. Buktikan klo kamu seorang Elena Wirawan 💪
As Tini
yg kyk gini br AQ suka, hrs tegas berwibawa dan TDK menye"😄
As Tini
knp GK minta bantuan ke kluarga sndiri, pdhl kaya raya, demi anak hilangkan ego dan malu. pasti bklan di bantu kok, kasian ara
Sasikarin Sasikarin
lanjuuuuut 💪
Dessy C: siap kak 🫰
total 1 replies
arniya
mampir kak
Dessy C: makasih kak🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!