Ketika hidupmu dipenuhi dengan rutinitas dan kesibukan, tiba-tiba sebuah kontrak cinta muncul di depan mata. Sakira Anindya, seorang wanita muda yang mandiri, harus menjalani perjanjian unik dengan seorang CEO tampan dan misterius, Rafael Pratama. Awal dari perjanjian itu hanyalah formalitas, tapi hati tak pernah bisa diajak kompromi.
bisakah Sakira menjaga jarak tanpa terjerat perasaan? Ataukah kontrak ini justru membuka jalan bagi cinta yang tak pernah ia duga? Drama, romansa, dan rahasia CEO menanti untuk mengubah hidup Sakira selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Sutiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. batas yang mulai kabur
Hujan turun sejak sore, membasahi kaca-kaca tinggi gedung milik Rafael Group. Lampu-lampu kota memantul samar di permukaannya, seperti bayangan perasaan yang tak lagi jernih.
Di lantai paling atas, di ruang kerja luas dengan dinding kaca menghadap kota, Rafael berdiri memandangi hujan. Jas hitamnya masih rapi, dasinya sedikit longgar. Hari ini rapat berjalan panjang, melelahkan, dan penuh tekanan.
Tapi bukan itu yang mengganggu pikirannya.
Melainkan Sakira.
Wanita yang kini resmi menjadi “istri kontrak”-nya selama satu tahun ke depan. Kesepakatan yang mereka buat demi menyelamatkan reputasi perusahaan dan menghindari perjodohan keluarga Rafael.
Awalnya semua terasa sederhana. Tanda tangan. Aturan. Batasan.
Tidak ada sentuhan tanpa alasan.
Tidak ada perasaan.
Tidak ada cemburu.
Namun kenyataan mulai bergerak di luar kendali.
Pintu ruangannya diketuk pelan.
“Masuk,” ucap Rafael tanpa menoleh.
Sakira masuk dengan membawa map berisi dokumen kerja sama yang tadi ia periksa. Ia mengenakan blouse putih dan rok hitam sederhana. Rambutnya tergerai, sedikit lembap karena hujan.
“Kau belum pulang?” tanya Rafael, kini menoleh.
“Aku menunggu tanda tanganmu,” jawab Sakira tenang. “Dan… supir bilang mobilmu masih di sini.”
Rafael mendekat, menerima map itu. Jari mereka bersentuhan sekilas.
Hanya satu detik.
Tapi cukup membuat jantung keduanya berdetak lebih cepat.
“Aku bisa tanda tangan besok,” ucap Rafael pelan.
Sakira menggeleng. “Kita sudah sepakat. Profesional.”
Kata itu—profesional—terasa seperti pengingat yang menyakitkan.
Rafael menatapnya lama. “Kau selalu mengingatkanku pada kontrak.”
“Karena itu alasan aku ada di sini,” balas Sakira, berusaha terdengar biasa.
Padahal hatinya tidak biasa.
Beberapa minggu terakhir, hubungan mereka berubah. Rafael yang dulu dingin kini lebih sering memperhatikannya. Mengantar jemput. Menanyakan kabar. Bahkan tanpa sadar, bersikap posesif saat ada pria lain terlalu dekat.
Dan Sakira… mulai menikmati perhatian itu.
Rafael menandatangani dokumen, lalu menutup map tersebut.
“Hujan deras. Aku antar kau pulang.”
“Aku bisa naik taksi online,” jawab Sakira cepat.
“Aku tidak bertanya,” ucap Rafael tegas, namun suaranya lembut.
Mobil melaju pelan menembus hujan. Wiper bergerak ritmis, memecah sunyi di antara mereka.
Sakira menatap keluar jendela, berusaha mengabaikan keberadaan Rafael di sebelahnya. Aroma parfum pria itu terlalu akrab. Terlalu mengganggu ketenangannya.
“Tadi siang,” Rafael memulai, “aku melihatmu berbicara dengan Daniel.”
Sakira menoleh. “Direktur pemasaran itu?”
Rafael mengangguk.
“Kami membahas proposal. Kenapa?”
Rafael terdiam sesaat. “Dia terlihat… terlalu nyaman.”
Sakira mengernyit. “Apa maksudmu?”
Rafael menghela napas pelan. “Aku tidak suka cara dia menatapmu.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Sakira menahan napas. “Itu bukan bagian dari kontrak, Rafael. Kau tidak berhak cemburu.”
Mobil mendadak berhenti di lampu merah.
Rafael menoleh, menatapnya dalam. “Siapa bilang aku cemburu?”
“Tatapanmu bilang begitu.”
Untuk beberapa detik, hanya suara hujan yang terdengar.
“Aku hanya tidak ingin namaku jadi bahan gosip,” ucap Rafael akhirnya, meski ia sendiri tak sepenuhnya yakin pada alasan itu.
Sakira tersenyum tipis. “Kalau begitu, kau tidak perlu khawatir. Aku tahu batas.”
Lampu berubah hijau. Mobil kembali melaju.
Tapi di dalam hati Rafael, ada sesuatu yang bergejolak.
Ia tidak hanya khawatir soal gosip.
Ia khawatir kehilangan.
Malam itu, listrik di apartemen mereka sempat padam akibat hujan lebat.
Sakira keluar kamar dengan lilin kecil di tangan.
“Rafael?” panggilnya.
“Aku di sini,” jawab suara dari ruang tamu.
Ia berjalan perlahan hingga menemukan Rafael duduk di sofa, hanya diterangi cahaya lilin dari tangannya.
Dalam redup cahaya, wajah pria itu terlihat berbeda. Tidak setegas biasanya. Lebih… manusiawi.
“Kau takut gelap?” tanya Rafael.
“Sedikit,” aku Sakira jujur.
Rafael berdiri, lalu mendekat. Tanpa berkata apa-apa, ia mengambil lilin dari tangan Sakira dan meletakkannya di meja. Setelah itu, ia berdiri sangat dekat.
“Tinggal di sini,” ucapnya pelan.
Sakira menelan ludah. “Ini melanggar aturan jarak.”
“Tidak ada yang melihat.”
“Itu bukan poinnya.”
Namun tubuhnya tak bergerak menjauh.
Petir menyambar, membuat Sakira refleks memejamkan mata.
Tanpa sadar, ia mencengkeram lengan Rafael.
Pria itu membeku sesaat, lalu perlahan mengangkat tangannya dan memeluk Sakira.
Bukan pelukan pura-pura untuk publik.
Bukan sandiwara.
Hangat. Nyata.
“Tenang,” bisiknya.
Sakira bisa mendengar detak jantung Rafael. Cepat. Hampir sama cepatnya dengan miliknya.
Beberapa detik terasa seperti menit. Dan menit terasa seperti keabadian.
Sakira sadar ia tidak ingin melepaskan diri.
Tapi ia juga tahu, jika ia tidak menghentikan ini sekarang, ia akan jatuh lebih dalam.
Ia perlahan mundur.
“Kita harus ingat ini hanya sementara,” ucapnya pelan.
Tatapan Rafael berubah. Ada sesuatu yang terluka di sana.
“Bagaimana jika aku tidak ingin ini sementara?” tanyanya lirih.
Sakira terdiam.
Kalimat itu bukan bagian dari naskah kontrak.
“Apa maksudmu?” suaranya bergetar.
Rafael menyisir rambutnya ke belakang, frustasi. “Aku tidak tahu kapan tepatnya. Tapi kau bukan lagi sekadar solusi untuk masalahku.”
Jantung Sakira terasa sesak.
“Rafael…”
Aku tidak suka melihatmu dekat dengan pria lain. Aku memikirkanmu saat kau tidak ada. Dan aku—” Ia terhenti, menatapnya dalam. “Aku mulai lupa bahwa semua ini seharusnya hanya akting.”
Air mata tipis menggenang di mata Sakira.
Karena ia merasakan hal yang sama.
Tapi ketakutan lebih besar dari keberaniannya.
“Dan setelah kontrak selesai?” tanyanya pelan.
Rafael terdiam.
Pertanyaan itu seperti tamparan.
Ia CEO yang terbiasa mengendalikan segalanya. Tapi untuk pertama kalinya, ia tidak punya jawaban.
“Aku tidak ingin kehilanganmu,” ucapnya jujur.
Sakira tersenyum sedih. “Itulah risiko dari cinta kontrak.”
Listrik menyala kembali, menerangi ruangan.
Cahaya itu seperti mengembalikan mereka pada realita.
Rafael mundur selangkah.
Sakira menunduk, menenangkan napasnya.
Mereka berdiri berhadapan, hanya beberapa langkah terpisah, tapi terasa sejauh samudra.
“Aku butuh waktu,” kata Sakira akhirnya.
Rafael mengangguk. “Aku akan menunggu.”
Malam semakin larut.
Di kamar masing-masing, keduanya tidak bisa tidur.
Rafael menatap langit-langit, menyadari satu hal: ia tidak pernah benar-benar percaya pada cinta. Ia menganggapnya kelemahan.
Tapi kini, kelemahan itu justru membuatnya merasa hidup.
Sementara di kamar sebelah, Sakira memeluk bantal erat-erat. Ia datang ke dalam hidup Rafael dengan niat profesional. Dengan batas yang jelas.
Namun hatinya telah melanggar semua aturan.
Kontrak itu masih berlaku.
Tanda tangan mereka masih sah.
Tapi sesuatu telah berubah malam ini.
Pengakuan yang setengah terucap.
Perasaan yang tak lagi tersembunyi.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, baik Rafael maupun Sakira menyadari—
Bahwa cinta yang tumbuh di dalam kontrak bisa menjadi hal terindah… atau justru paling menghancurkan.
Bab ini bukan akhir.
Ini adalah awal dari keputusan yang akan mengubah segalanya.
Bersambung....