Lily Rosamaria bukan siapa-siapa di rumah itu. Anak kandung yang diperlakukan seperti pembantu, sejak ibu tiri dan Nindi datang mengambil alih segalanya.
Tapi Lily punya Dimas Arya, kekasihnya yang membuatnya bahagia. Sampai malam sebelum pernikahan mereka, Lily memergoki Dimas dan Nindi di kamar belakang.
"Kami saling mencintai, Lily. Kamu yang seharusnya pergi."
Bukan Dimas yang bicara, tapi Nindi dengan perut yang mulai membesar.
Lily tidak menangis, dia berlari masuk ke gudang tua belakang rumah ketika ayahnya justru menginginkannya terkurung di sana.
Di balik dinding yang pengap itu, Lily menemukan pintu kecil berkarat. Dan di balik pintu itu, sebuah ruang yang tidak masuk akal. Ruang yang mendengarnya. Ruang yang menjawab amarahnya.
"Kamu mau apa?" bisik sesuatu dari sana.
Lily mengepalkan tangan. Dadanya penuh amarah, malu, trauma dan satu bara kecil yang belum padam.
"Aku mau mereka merasakan apa yang aku rasakan."
Ruang itu bersinar.
Dan Lily Rosamaria mulai bangkit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 - DIAM YANG DIPILIH
Lily tidak langsung bereaksi.
Dia minum kopinya sampai habis seperempat gelas, meletakkannya kembali dengan tenang, dan baru kemudian berkata pelan ke Hendra tanpa menggerakkan bibirnya lebih dari yang diperlukan.
"Perempuan di luar. Jaket merah bata. Kamu lihat?"
Hendra mengangguk sedikit, gerakan yang dari luar kelihatan seperti dia setuju dengan sesuatu yang Lily katakan.
"Sudah berapa lama?"
"Sejak kamu masuk."
Artinya dia sudah di sana sebelum Lily tiba. Artinya ini bukan kebetulan, bukan Bibi Rah yang kebetulan lewat dan kebetulan melihat Lily di dalam. Dia sudah tahu Lily akan ke sini. Atau mengikuti Lily dari rumah.
Lily memikirkan rutenya tadi. Dari rumah ke pasar, belok kiri ke Jalan Kenari. Jarak lumayan, dan Lily tidak memperhatikan siapa yang ada di belakangnya karena tidak mengira kalau dia akan diikuti seseorang.
Kesalahan pertama, yang harus dicatat.
"Kita selesaikan dulu," kata Lily ke Hendra dengan nada yang terdengar seperti melanjutkan percakapan biasa. "Satu hal yang paling penting. Sisanya bisa lain waktu."
Hendra mengerti. "Lampiran B. Kamu perlu bertemu Pak Syarif langsung untuk itu. Tidak bisa diwakilkan, tidak bisa lewat aku. Ada prosedurnya, dia harus verifikasi identitasmu sendiri sebelum dokumen itu bisa dibuka."
"Kapan paling cepat?"
"Akhir minggu ini. Sabtu. Kantornya di pusat kota, tapi aku bisa atur supaya ketemu di tempat yang lebih netral."
"Kalau begitu, atur saja pertemuanku dengannya."
Lily berdiri. Mengambil kantong belanjaannya dari lantai. "Aku pulang lewat pasar dulu."
Hendra mengangguk dan tidak bangkit, mereka tidak perlu terlihat pergi bersamaan.
Lily berjalan ke kasir, membayar dua kopi, dan keluar dari warung tanpa menoleh ke jendela.
Di trotoar, Lily belok ke kanan menuju pasar.
Langkahnya normal. Tidak terburu-buru, tidak terlalu santai. Langkah orang yang punya tujuan sederhana.
Di belakangnya, dia mendengar atau lebih tepatnya merasakan ada yang bergerak di jarak tertentu. Tidak dekat, tidak jauh. Cukup untuk tetap mengawasi tapi cukup untuk tidak terlalu kelihatan.
Lily masuk ke pasar.
Pasar ini ramai di jam segini, pedagang sayur, pedagang ikan, beberapa ibu rumah tangga yang sudah hafal jalur mana yang lebih cepat. Lily berbelok ke kiri, masuk ke lorong pedagang bumbu yang lebih sempit dan lebih sesak. Berhenti di lapak cabai, mulai memilih dengan tekun.
Dari sudut mata, dia lihat sosok dengan jaket merah bata berdiri di mulut lorong.
Bibi Rah tidak masuk. Hanya berdiri di sana, setengah tersembunyi di balik tumpukan keranjang bambu.
Lily mengambil cabai dengan gerakan yang sangat biasa.
Kenapa Bibi Rah?
Itu pertanyaan yang pertama. Perempuan itu sudah bekerja di rumah itu lebih dari dua puluh tahun... jauh sebelum Tante Sari datang, jauh sebelum Mama meninggal. Kalau dia mata-mata Tante Sari, berarti Tante Sari berhasil membeli loyalitas seseorang yang sudah ada sebelum dia masuk.
Atau... dan ini kemungkinan yang berbeda, Bibi Rah mengikuti Lily bukan untuk Tante Sari. Tapi untuk alasannya sendiri.
Lily ingat anggukan kemarin di lorong. Kecil, cepat, seperti isyarat.
Orang yang mengkhianati kamu tidak memberi isyarat.
Tapi orang yang mencoba melindungimu dengan cara yang tidak bisa dia lakukan terang-terangan, mungkin mereka melakukan hal-hal yang kelihatan mencurigakan dari sudut yang salah.
Lily membayar cabainya. Berjalan keluar lorong ke arah yang sama dengan tempat Bibi Rah berdiri, langsung menuju perempuan itu, tidak menghindari.
Bibi Rah tidak kabur.
Mereka berdiri berhadapan di tepi lorong dengan keramaian pasar di sekitar mereka dan Lily menatap perempuan tua itu dengan pertanyaan yang tidak dia ucapkan.
Bibi Rah yang bicara duluan. Pelan, nyaris tenggelam di kebisingan pasar.
"Aku disuruh ikuti kamu."
"Sama siapa?"
"Ibu Sari." Bibi Rah tidak berkedip. "Sudah dua hari. Sejak ada tamu kemarin."
Lily menunggu.
"Tapi aku tidak akan lapor apa yang aku lihat hari ini."
"Kenapa?"
Bibi Rah diam sebentar. Matanya ... mata yang sudah tua dan sudah melihat terlalu banyak hal di rumah itu menatap Lily dengan sesuatu yang bukan kasihan, bukan juga rasa bersalah. Lebih seperti hutang yang sudah terlalu lama jatuh tempo.
"Karena aku kenal ibumu," katanya akhirnya. "Dan aku tidak melakukan cukup waktu dia masih hidup."
Lily menarik napas pelan.
"Kalau kamu tidak lapor, Tante Sari akan tahu."
"Aku bisa atur ceritanya." Bibi Rah menyesuaikan keranjang belanjanya di lengan. "Aku bilang kamu cuma ketemu teman lama, tidak ada yang istimewa. Dia tidak punya alasan untuk tidak percaya, aku sudah di sana dua puluh tahun lebih, tidak pernah berbohong ke dia sebelumnya."
"Kenapa sekarang?"
Bibi Rah menatapnya. "Karena kamu mulai bergerak. Dan ibumu layak mendapat seseorang yang bergerak untuk dia, bahkan kalau itu harus lewat kamu."
Keramaian pasar terus berlangsung di sekitar mereka. Dua perempuan berdiri di tepi lorong sayur yang tidak ada yang memperhatikan.
Lily menimbang semuanya dalam waktu yang sangat singkat.
Bibi Rah bisa jadi jebakan, Tante Sari sengaja mengirimnya untuk mendapatkan kepercayaan Lily dan melihat seberapa dalam Lily sudah bergerak. Itu mungkin.
Tapi wajah perempuan tua itu tidak kelihatan seperti wajah orang yang sedang menjalankan skenario. Ada lelah di sana. Lelah yang bertahun-tahun dan tidak punya tempat untuk diletakkan.
"Satu hal," kata Lily. "Jangan ubah rutinmu. Lakukan semuanya persis seperti biasa. Kalau Tante Sari tanya, jawab seperti yang kamu bilang tadi. Jangan tambah, jangan kurangi."
Bibi Rah mengangguk.
"Dan jangan ikuti aku lagi."
"Baik."
"Tapi kalau ada yang berubah di rumah, apa pun yang tidak biasa... kamu tahu cara bilang ke aku tanpa kelihatan bilang ke aku."
Bibi Rah menatapnya dengan sesuatu yang hampir seperti senyum tapi tidak sampai. "Aku tahu. Aku yang ngajari ibumu cara itu dulu."
Lily berjalan ke pedagang berikutnya.
Lily pulang dengan kantong belanja yang penuh dan wajah yang sama seperti setiap kali dia pulang dari pasar.
Di dapur, dia membereskan belanjaan sambil otaknya bekerja di jalur yang berbeda.
Bibi Rah punya informasi tentang Mama yang belum keluar. Itu jelas dari cara dia bicara, tidak melakukan cukup waktu dia masih hidup bukan kalimat orang yang cuma tahu sedikit. Itu kalimat orang yang menyaksikan sesuatu dan memilih diam.
Diam karena takut. Diam karena tidak punya posisi. Diam karena di rumah seperti itu, orang yang bicara terlalu banyak kehilangan pekerjaannya.
Tapi sekarang dia mau bicara. Atau setidaknya, mau berpihak.
Lily menyimpan bawang merah di tempat yang biasa dan berpikir tentang satu hal yang Bibi Rah katakan:
Aku yang ngajari ibumu cara itu dulu.
Artinya Bibi Rah dan Mama punya bahasa mereka sendiri. Kode-kode kecil yang digunakan di dalam rumah yang tidak aman untuk bicara terang-terangan.
Kode yang mungkin masih bisa digunakan.
Malam itu, Lily menunggu Tante Sari selesai makan malam dan masuk ke ruang televisi sebelum dia bergerak.
Bukan ke gudang malam ini. Ada sesuatu yang lebih sederhana yang perlu dia lakukan dulu.
Bibi Rah sedang mencuci piring di dapur ketika Lily masuk dan berdiri di sampingnya, pura-pura membantu mengelap peralatan yang sudah kering.
Mereka tidak bicara.
Tapi Lily meletakkan selembar kertas kecil di bawah talenan kayu di sudut meja dapur, kertas yang berisi satu pertanyaan yang ditulis dengan huruf kecil.
Apa yang kamu lihat sebelum Mama meninggal?
Bibi Rah mengelap piring tanpa berhenti.
Lima menit kemudian, waktu Lily mengambil talenan itu untuk disimpan di tempat biasanya. Kertas yang dia tinggalkan sudah tidak ada. Di bawah talenan, ada kertas yang berbeda. Lebih kecil. Tulisannya rapi dan singkat.
Lily membacanya sekali sebelum meremasnya di telapak tangan.
Tiga kata.
Dia tidak sendiri.