“Capek tidak, Sayang? Aku masih mau sekali lagi.”
“Kamu kuat sekali, Mas,” jawab istrinya sambil tersenyum lelah.
Tama tertawa pelan dan mencium pipi wanita itu dengan penuh kasih. Namun beberapa detik kemudian ia bertanya pelan,
“Sudah diminum pilnya?”
Senyum sang istri perlahan memudar.
“Harus terus, Mas? Aku lelah minum pil KB…”
Tama terdiam sejenak sebelum mengelus rambutnya lembut.
“Turuti saja, Sayang. Ini demi kebaikan kita.”
Istrinya tidak pernah benar-benar mengerti mengapa Tama selalu menolak memiliki anak.
Malam kembali hening saat Tama memeluknya dari belakang. bayangan masa lalu itu kembali datang.
Sebuah rahasia yang selama ini ia sembunyikan.
“Aku takut kamu meninggalkanku jika tahu siapa aku sebenarnya,” bisiknya dalam hati.
Karena jauh di masa lalu, Tama pernah melakukan sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia lupakan.
Dan jika kebenaran itu terungkap…
yang hancur bukan hanya rahasianya.
Tetapi juga pernikahan yang selama ini ia jaga mati-matian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nufierose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGINTAI
Tama membuka pintu mobil mewahnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menahan kunci. Di kursi penumpang, Alisya tersenyum manis, rambut panjangnya tertiup angin. Mata Alisya berbinar, seolah hari itu sudah dipenuhi kebahagiaan bahkan sebelum mereka memasuki mall modern yang terkenal di kota.
Dua bodyguard setia berdiri di sisi mobil Argo dan Gani, mata mereka waspada, mengamati setiap orang yang lewat, setiap gerakan mencurigakan. Bagi Alisya, pemandangan itu tidak menakutkan malah membuatnya merasa aman.
Dia tau Bodyguard suaminya ini sangatlah profesional.
Suaminya tentu punya alasan mengapa menyertakan Argo dan Gani dalam kencan mereka.
“Terimakasih Argo..” Ucap Alisya begitu manis menatap Bodyguardnya yang membantu menutup kembali mobilnya.
“Sama-sama bu.”
Tama menatap istrinya dengan senyum.
“Siap, Sayang?” suara Tama lembut, kedua matanya menatap Alisya dengan teduh.
Alisya mengangguk, senyum tulusnya tak bisa disembunyikan. Dia begitu bahagia karena hari ini Tama benar-benar mengosongkan waktu untuk pergi dengannya.
Sesampainya di Mall
Mall itu ramai. Lampu-lampu kristal memantulkan cahaya di lantai marmer mengilap, memantulkan setiap langkah mereka. Suara tawa anak-anak, dentingan belanja, dan aroma kopi memenuhi udara.
Alisya berjalan perlahan, menikmati setiap etalase, sementara Tama mengikuti setiap langkahnya dengan perhatian sempurna. Tidak ada gerakan Alisya yang luput dari penglihatannya. Setiap kali ada kerumunan terlalu dekat, ia menyingkirkan mereka, membentuk perisai kecil di sekeliling istrinya.
“Sayang, mau makan dulu atau mau beli sesuatu?”
“Aku belum lapar mas.”
Tama merangkul Alisya menjaga di sisinya.
“mau beli gaun? Aku tau toko Gaun yang bagus di sini.”
Alisya mengangguk, kemanapun Tama membawanya Alisya pasti menurut.
Mereka berhenti di sebuah toko pakaian mewah. Alisya masuk, mencoba beberapa gaun, dan Tama menunggu di luar ruang fitting. Ia menatap pintu kaca, selalu siap menolong, selalu siap menahan siapa pun yang mencoba mengganggu.
Setiap kali Alisya keluar, ia tersenyum, memutar tubuh, menunjukkan gaun yang dipilihnya. Tama tidak bisa menahan diri, ia mengangkat Ponselnyadan mengabadikan momen itu. Bukan sekadar foto, tapi seolah menangkap cahaya dari hati istrinya.
“Ini cocok ngga Mas?” tanya Alisya sambil memutar, rambutnya yang hitam mengilap berkilau di bawah lampu toko.
“Cantik sekali sayang.”
“Bagus warna putih atau hitam?”
“Apapun, asalkan kamu yang pakai pasti cantik.”
Alisya memanyunkan bibirnya.
“Pilih salah satu dong mas.”
“Kalau gitu ambil saja semuanya.”
“Dasar Boros!”
Alisya berbalik mencoba warna yang lain. Tama terkekeh.
“Ini warna merah, bagaimana?”
Tama menelan rasa kagum yang membuncah di dadanya, lalu mengangguk.
“Sempurna, seperti kamu,” katanya lembut. Ada sesuatu di matanya yang membuat Alisya tersipu.
Memilih beberapa gaun Tama membayarnya, di tatapnya sang Istri yang selalu memancarkan senyuman.
“Kamu bahagia sayang?”
“Sangat. Ini pertama kalinya kamu mengajakku kencan, mas.”
Tama menciumi kepala Alisya.
Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan ke food court. Duduk di salah satu sudut, di tengah keramaian, tapi tetap dijaga dua bodyguard yang menjaga jarak dengan profesional. Tama memesan makanan favorit Alisya, nasi goreng seafood dan jus buah segar.
Saat makanan datang, mereka makan sambil bercanda. Alisya tertawa saat Tama menceritakan insiden lucu di kantornya minggu lalu.
“Enak?”
“Hmm, Tapi tetap buatanmu yang juara Mas.”
Tama tersenyum mengusap jemari istrinya.
“Tersenyum dan bahagia seperti ini terus sayang, aku tak mau senyumanmu redup.”Tama membatin menatap istrinya.
Tanpa sadar, Tama sekali lagi mengangkat kamera, menangkap Alisya saat ia tertawa. Suara tawa itu begitu menenangkan, dan Tama ingin menyimpan selamanya.
Alisya memperhatikannya dan tersenyum lembut.
“Kamu memotretnya, ya?”
“Aku hanya ingin mengingat semuanya.setiap senyum, setiap tawa,” jawab Tama, matanya berbinar.
“Biar aku bisa melihatnya kapan saja.”Tambahnya lagi.
Setelah makan, mereka memutuskan masuk ke photobooth yang berwarna-warni.
Di dalam, mereka berpose lucu, saling menempelkan wajah, membuat ekspresi konyol, tertawa tanpa henti. Tama memotret satu per satu, tak malu untuk menangkap setiap momen yang menggemaskan.
Alisya menatapnya dan merasa hatinya hangat, karena ia tahu, cinta itu terlihat jelas di setiap gerakan dan tatapan suaminya.
Namun, ketenangan itu tak bertahan lama. Dari balik jendela mall, dua sosok misterius mengintai. Mereka mengikuti gerak-gerik Tama dan Alisya dari kejauhan, tersembunyi di antara pengunjung yang ramai.
Mata Tama yang tajam menangkap bayangan itu seketika. Perasaan bahaya menyelinap ke dalam dadanya, membuat senyum yang tadi tulus berubah menjadi kewaspadaan yang penuh perhatian.
Ia menurunkan kamera, menatap Alisya sejenak, dan dengan suara rendah namun tegas berkata,
“Tetap di dekatku.”
Alisya menoleh, sedikit terkejut.
“Ada yang salah?” tanyanya, nada suaranya menahan rasa cemas.
“Tidak sayang.” Takut istrinya khawatir Tama menggenggam tangan mungilnya.
“Kamu melihat apa sih, Mas?”
Tama menggeleng, tapi matanya tidak pernah lepas dari sosok asing itu.
“Hanya beberapa orang terlihat terlalu penasaran. Tapi jangan khawatir, aku di sini.”
Ia menggenggam tangan Alisya erat, menenangkan hatinya sekaligus menegaskan proteksinya.
Mereka berjalan lebih dekat ke area tengah mall, tempat keramaian lebih padat. Tama menempatkan Argo di depan, dan Gani di belakang, membentuk perisai alami. Setiap langkahnya terlihat seperti tarian protektif, memastikan Alisya tetap aman, tapi tetap menikmati momen mereka.
“Mau beli berlian sayang?” Tama mencoba mengalihkan perhatian Istrinya.
“Tidak ah mas, yang kamu berikan saja jarang aku pakai.”
Tama tersenyum.
“Tidak apa sayang, simpan saja. Buat koleksimu.”
Ketika mereka memasuki toko perhiasan, salah satu penguntit mencoba mendekat, menyelinap di antara pengunjung lain. Mata Tama langsung menangkap gerakan itu. Tanpa panik, ia mengalihkan Alisya ke lorong lain, sambil menenangkan dirinya sendiri agar tidak membuat istrinya cemas.
Dua bodyguard bereaksi sigap, menutup jalur penguntit dengan profesional.
Mereka melanjutkan jalan ke area dekorasi musim semi di mall. Bunga-bunga artifisial berwarna cerah, lampu-lampu kecil tergantung di langit-langit, menciptakan suasana romantis yang kontras dengan ketegangan yang masih membayangi.
Alisya tersenyum, mencoba tetap menikmati momen, sementara Tama memotret lagi.
Mereka berhenti di kafe kecil, duduk di pojok dengan pemandangan kaca besar ke luar. Tama menatap Alisya dengan mata penuh kasih sayang.
“Apa ada sesuatu mas?”
“Tidak ada sayang.”
Tama kembali memberikan senyuman teduhnya.
“Sudah sore, kita pulang yuk.”
“Yuk!”
Langit mulai memerah, matahari sore memantul di gedung tinggi kota. Suasana romantis yang sederhana, tapi penuh makna. Mereka berdiri, berjalan perlahan menuju mobil. Tama menatap sekeliling, memastikan jalan aman, sebelum membuka pintu untuk Alisya.
“Pelan-pelan sayang.”
“Siap sayangku.”
Di dalam mobil, Alisya bersandar di bahu Tama, Mesin mobil menyala, dan mereka meluncur pulang.
Hati mereka penuh perasaan hangat, kelegaan, dan cinta yang semakin dalam.
“Istirahatlah, kalau sudah sampai nanti aku bangunkan.”
Tama mengusap pipi Istri cantiknya namun sang Istri menggelengkan kepala.
“Tidak mau.”
“Yasudah.”
Tama membuka ponselnya, meminta Selin untuk mencari tau siapa sosok yang dengan berani mengintainya hari ini. Tama tidak akan memberinya Ampun.
“Sayang?”
“Hmmm?” Tama menjawab namun matanya masih fokus ke ponsel.
“Terimakasih untuk hari ini.”
Kini pandangan tama beralih menatap istrinya yang tengah menebar senyum.
“Untukmu sayang, apapun akan aku berikan. Cukup kasih aku senyum terbaikmu.”
“Kamu tidak lelah mas?”
Tama menggelengkan kepala.
“Tidak sayang. Asal bersamamu lelahku hilang.”
Tama menatap Argo yang menyetir, mengode jika lelaki itu harus menurunkan kaca spionnya.
Argo menurut.
Keduanya bercumbu mesra, Argo hanya bisa membuang nafasnya. Untung yang bersamanya ini sang Bos besar jika tidak mungkin Argo sudah mengamuk.
“Sabar Argo, ingat ini ujian.” Batin Argo sejenak memejamkan matanya.
suka sama karakter Tama walaupun kejam dan cuek tapi sama istri selalu lembut
love banget pokonya 😗 😗
antagonis mulai keluar nih kayanya