NovelToon NovelToon
SELESAI MENJADI SABAR

SELESAI MENJADI SABAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Slice of Life / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Keluarga / Suami Tak Berguna
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Lima tahun Hana mengabdi sebagai istri dan menantu yang sempurna, meski hanya dianggap sebagai pelayan tak berbayar. Ia rela makan sisa rendang di ujung meja dan menelan hinaan setiap hari demi keutuhan rumah tangga.
Namun, saat Hana menemukan Aris—suaminya—sengaja menyembunyikan uang puluhan juta sementara putra mereka terancam putus sekolah karena SPP menunggak, Hana sadar: kesabarannya telah habis.
Hana pergi membawa ijazah akuntansi yang selama ini berdebu di gudang. Dari seorang ibu rumah tangga yang tertindas, ia bertransformasi menjadi akuntan tangguh di bawah bimbingan Adrian, CEO dingin yang membantunya mengungkap borok finansial keluarga Aris.
Hana tidak membalas dengan amarah, ia membalas dengan cara yang paling menyakitkan: menjadi jauh lebih sukses dan menghancurkan harga diri Aris di meja hukum. Ternyata, berhenti menjadi sabar adalah keputusan terbaik dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Bayang-Bayang di Tanah Singa

Pesawat jet pribadi milik perusahaan Adrian membelah awan menuju Bandara Changi. Di dalam kabin yang senyap, Hana menatap keluar jendela, melihat hamparan laut biru yang memisahkan masa lalunya yang kelam dengan masa depan yang belum tertebak. Di sampingnya, Adrian sedang sibuk dengan tabletnya, namun sesekali ia melirik ke arah Hana yang tampak melamun.

"Ini pertama kalinya kamu ke Singapura?" tanya Adrian, memecah kesunyian.

Hana menoleh dan mengangguk kecil. "Dulu, saat masih kuliah, saya pernah bermimpi bisa magang di sini. Tapi kemudian saya bertemu Aris, menikah, dan semua mimpi itu seolah terkubur di bawah tumpukan cucian piring di rumah Ibu Salma."

Adrian menutup tabletnya. "Anggap saja ini adalah cara semesta membayar hutangnya padamu, Hana. Tapi ingat, Singapura bukan Jakarta. Di sini, setiap menit dihargai dengan angka, dan kesalahan sekecil apa pun bisa menjadi senjata bagi lawan bisnismu. Terutama Tan Sri Setyo."

Hana mengerutkan kening. "Tan Sri Setyo? Saya sering mendengar namanya di laporan keuangan proyek Grand Emerald. Tapi kenapa Anda terdengar begitu waspada?"

"Dia adalah investor utama, tapi juga orang yang sangat sulit ditebak. Dia punya pengaruh besar di Asia Tenggara. Dan satu hal lagi... dia punya sejarah panjang dengan industri konstruksi di Indonesia, jauh sebelum kamu mengenal Aris."

Begitu mendarat, Hana langsung dibawa menuju sebuah gedung perkantoran mewah di kawasan Marina Bay Financial Centre. Pemandangan dari lantai lima puluh sungguh luar biasa, namun Hana tidak punya waktu untuk mengaguminya. Ia harus segera menyiapkan berkas untuk pertemuan besar sore itu.

Di ruang rapat yang didominasi oleh kaca dan logam, seorang pria tua dengan rambut perak yang disisir rapi ke belakang duduk di kursi utama. Dialah Tan Sri Setyo. Matanya yang tajam menatap Hana dengan intensitas yang membuat bulu kuduk berdiri.

"Jadi, ini orangnya, Adrian? Wanita yang berhasil mengguncang posisimu di Jakarta dengan satu laporan audit?" suara Tan Sri Setyo terdengar berat dan penuh wibawa.

"Namanya Hana Anindita, Tan Sri. Dia Manajer Keuangan saya sekarang," jawab Adrian dengan nada bangga namun tetap hormat.

Hana maju ke depan, menyodorkan laporan yang telah ia susun. "Terima kasih atas waktunya, Tan Sri. Saya telah merapikan semua penyimpangan dana di proyek Grand Emerald. Ada selisih yang cukup besar yang mengalir ke perusahaan-perusahaan cangkang."

Tan Sri Setyo tidak langsung melihat laporan itu. Ia justru menatap wajah Hana lama, seolah sedang mencari sesuatu di sana. "Anindita... nama belakang yang tidak asing. Siapa nama ayahmu, Hana?"

Hana sedikit terkejut dengan pertanyaan pribadi itu. "Ayah saya bernama Hardiman, Tan Sri. Beliau hanya seorang buruh tani di Jawa Tengah sekarang."

Mendengar nama Hardiman, raut wajah Tan Sri Setyo berubah sejenak. Ada kilatan emosi yang lewat di matanya sebelum ia kembali memasang wajah kaku. "Hardiman... Jadi kamu adalah anaknya. Dunia ini memang sempit, dan terkadang sangat ironis."

Pertemuan berakhir dengan sukses secara profesional, namun Hana merasa ada yang tidak beres. Saat Adrian harus menghadiri jamuan makan malam dengan direksi lain, Hana memilih untuk kembali ke hotel lebih awal. Ia merasa perlu menjernihkan pikirannya.

Di lobi hotel, saat ia sedang menunggu lift, seorang pria muda berpakaian rapi mendekatinya. "Ibu Hana? Saya asisten pribadi Tan Sri Setyo. Beliau ingin bertemu dengan Anda secara pribadi di kafe hotel. Hanya sebentar."

Hana bimbang, namun rasa penasarannya lebih besar. Ia mengikuti asisten tersebut menuju sebuah meja di sudut kafe yang remang-remang. Tan Sri Setyo sudah duduk di sana dengan secangkir teh panas.

"Duduklah, Hana," ucap Tan Sri tanpa basa-basi. "Kamu pasti bertanya-tanya kenapa aku bertanya soal ayahmu."

Hana duduk di hadapan pria itu. "Benar, Tan Sri. Apakah Anda mengenal Ayah saya?"

"Dulu, tiga puluh tahun yang lalu, ayahmu adalah mandor kepercayaan di proyek pertama saya di Jakarta. Dia jujur, terlalu jujur untuk dunia yang penuh tipu daya ini. Ada sebuah kecelakaan kerja besar yang terjadi karena sabotase dari pesaing saya. Ayahmu dikambinghitamkan. Dia dipenjara selama dua tahun karena kesalahan yang tidak dia lakukan."

Hana terkesiap. Ayahnya tidak pernah bercerita soal penjara. Yang ia tahu, ayahnya hanya pernah bekerja di kota lalu pulang dan menjadi pendiam selamanya.

"Lalu apa hubungannya dengan Aris?" tanya Hana dengan suara gemetar.

Tan Sri Setyo menghela napas panjang. "Orang yang mensabotase proyek itu, orang yang menjebak ayahmu demi mendapatkan jabatan di perusahaan saya, adalah almarhum ayah Aris. Suami dari Ibu Salma."

Dunia seolah berhenti berputar bagi Hana. Rasa mual mendadak menyerangnya. Jadi, selama ini ia menikah dengan anak dari pria yang telah menghancurkan hidup ayahnya?

"Ibu Salma tahu soal ini?" tanya Hana lirih.

"Tentu saja dia tahu. Itulah sebabnya dia sangat membencimu sejak awal. Dia tidak membencimu karena kamu miskin atau karena kamu tidak becus mengurus rumah. Dia membencimu karena setiap kali dia melihat wajahmu, dia diingatkan pada dosa suaminya. Dia takut suatu saat kamu akan tahu kebenarannya dan menuntut balas," jelas Tan Sri Setyo.

Hana menyandarkan punggungnya di kursi. Air mata mulai mengalir tanpa ia sadari. Segalanya menjadi masuk akal sekarang. Mengapa Ibu Salma selalu menghinanya, mengapa Aris selalu merendahkan keluarganya di desa, dan mengapa mereka memperlakukannya seperti budak. Itu bukan hanya karena kesombongan, tapi karena rasa takut yang dibalut dengan kekejaman.

"Aris juga tahu?"

"Aku tidak yakin. Tapi melihat sifatnya yang manipulatif, aku tidak heran jika dia menyimpan rahasia ini darimu agar dia bisa terus mengendalikanmu," Tan Sri Setyo menatap Hana dengan tatapan yang sedikit lebih lembut. "Hana, aku memberitahumu ini bukan untuk membuatmu sedih. Aku memberitahumu karena aku berutang pada ayahmu. Dia tidak pernah mengkhianatiku meski dipaksa di penjara. Sekarang, anaknya berdiri di depanku sebagai wanita yang cerdas. Gunakanlah kebenaran ini untuk membebaskan dirimu sepenuhnya."

Hana kembali ke kamarnya dengan perasaan yang hancur sekaligus tercerahkan. Ia berdiri di balkon hotel, menatap gemerlap lampu Singapura. Ia teringat bagaimana ibunya di desa selalu berpesan agar ia bersabar menghadapi mertuanya, karena ibunya tidak ingin Hana mengalami nasib sial seperti ayahnya. Ternyata, orang tuanya selama ini hanya ingin melindunginya dari bayang-bayang masa lalu yang kelam.

Ia mengambil ponselnya, hendak menghubungi Aris di penjara untuk memaki pria itu, namun ia berhenti. Menghubungi Aris hanya akan memberinya kepuasan bahwa ia masih terpengaruh oleh mereka.

Hana menghapus air matanya. Ia tidak akan menangis lagi. Jika selama ini Ibu Salma dan Aris berpikir mereka bisa menindasnya karena ia "anak seorang pecundang", maka ia akan membuktikan bahwa ia adalah "anak dari pria jujur" yang akan meruntuhkan seluruh kebanggaan palsu mereka.

Esok harinya, Hana menemui Adrian di kantor. Wajahnya tampak berbeda—lebih dingin, lebih fokus.

"Ada apa, Hana? Kamu terlihat seperti baru saja melihat hantu," tanya Adrian cemas.

"Saya baru saja menemukan kunci terakhir untuk menutup pintu masa lalu saya, Mr. Adrian," jawab Hana dengan suara yang mantap. "Saya ingin mempercepat proses audit ini. Saya ingin memastikan tidak ada satu sen pun milik Tan Sri Setyo yang tersisa di tangan keluarga Aris melalui perusahaan-perusahaan cangkang mereka. Saya ingin mereka jatuh semiskin-miskinnya, sampai mereka merasakan apa yang ayah saya rasakan dulu."

Adrian menatap Hana, menyadari bahwa wanita di depannya kini bukan lagi sekadar Manajer Keuangan yang efisien. Hana kini telah menjadi badai yang siap meratakan apa pun yang menghalangi jalannya.

Di Jakarta, Aris yang masih mendekam di sel mulai merasakan firasat buruk. Pengacaranya memberitahu bahwa ada bukti baru yang ditemukan oleh auditor di Singapura yang bisa menambah masa hukumannya secara signifikan. Di rumah, Ibu Salma jatuh sakit lagi, namun kali ini bukan sekadar sandiwara. Ia terus memanggil-manggil nama suaminya yang sudah meninggal, seolah-olah ia sedang dihantui oleh bayang-bayang dosa masa lalu yang kini datang menjemput melalui tangan menantu yang selalu ia hina.

Hana Anindita tidak lagi sedang menjadi sabar. Ia sedang menjadi keadilan.

1
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
terlambat sudah penyesalan mu Aris mau gimana pun kamu memohon agar Hana mau kembali tetep aja hasilnya nihil karna Hana sekarang bukan Hana yang dulu lagi
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kok gak Aris gak emak nya sama² ngeyel sih udah tau nanti kena ulti sama Hana eh masih aja mau gangguin Hana 😒
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
baguslah akhirnya sekarang Hana bisa hidup tenang dan terbebas dari hama² ini
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
pelajaran nya disini tu jangan pernah meremehkan orang dari penampilan nya,berawal dari Hana yang diperlakukan seperti babu sekarang malah lebih bersinar dari orang² yang dulu memerintah nya
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kapokkk modyar aee kau Aris bisa² habis sudah semua harta haram mu itu 😂😂
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
sok²an meremehkan ni si Aris jangan kira karna Hana dulu diperlakukan seperti babu bukan berarti fungsi kepintaran di otak nya udah gak kerja yaa 😏
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
karma mu Aris bahkan anak mu aja gak Sudi lagi sama kamu lagian bisa² nya dia beli keramik baru tapi anak nya aja nunggak SPP 😒
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kok si Aris makin gak ngotak ya emang gak punya tangan ya buat mijet doang masak Hana Mulu yang gerak 😑
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
emang sih semua orang itu punya batas kesabaran gak semua orang itu tahan disakiti berkali kali apa lagi sama keluarga nya sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!