NovelToon NovelToon
Sajadah Untuk Sang Kupu-kupu

Sajadah Untuk Sang Kupu-kupu

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Tamat
Popularitas:23.8k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Sebuah jam tangan tua milik sang ibu menghilang, membawa Ustadz Adnan pada sebuah nazar yang menguji keimanannya di mata manusia. Ia berjanji: jika pria yang menemukannya, akan ia beri sawah; jika wanita, akan ia jadikan istri.
​Namun, semesta seolah sedang menguji nuraninya saat jam tersebut kembali melalui tangan Kinan—seorang wanita penghibur yang merasa dirinya telah ternoda oleh pekatnya dunia malam.
​"Saya ini bukan bidadari surga, Ustadz. Mana mungkin saya bisa bersanding dengan Anda?"
​Bagi Adnan, Kinan bukanlah sebuah kesalahan, melainkan pintu dakwah yang paling nyata. Namun, keputusan Adnan melamar Kinan memicu badai penolakan. Keluarga, santri, hingga masyarakat mengecam sang Ustadz karena dianggap mencoreng martabat gelarnya demi seorang "pendosa."
​Di antara cibiran dunia dan upaya Kinan untuk lari dari masa lalunya, Adnan tetap teguh pada prinsipnya: "Saya mencari teman menuju surga, bukan seseorang yang merasa sudah memilikinya."


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Kinan meremas kuat kain gamis di bagian dadanya, seolah-olah dengan begitu ia bisa menghentikan rasa sesak yang menghimpit paru-parunya.

Napasnya tersengal, pendek dan berat. Wajah yang tadinya dingin kini berubah menjadi raut kesakitan yang amat sangat, bukan karena luka di kepalanya, melainkan karena luka di batinnya yang kembali menganga.

"Sakit, Ustadz. Dadaku rasanya sakit..." rintih Kinan dengan suara yang nyaris hilang.

Adnan yang melihat itu langsung panik. Ia mencoba mendekat, tangannya gemetar ingin memegang bahu Kinan untuk menenangkannya, namun ia ragu apakah sentuhannya justru akan menambah rasa sakit itu.

"Kinan, istigfar, Sayang. Mas mohon, tenang dulu. Kita panggil dokter ya?" ucap Adnan dengan suara yang pecah oleh tangis.

Kinan menggeleng lemah, air mata mengalir semakin deras membasahi bantalnya.

Ia menatap Adnan dengan tatapan yang menghancurkan hati pria itu—tatapan penuh keraguan terhadap rahmat Tuhan karena perlakuan hambanya.

"Apakah Allah tidak menerima taubatku sampai suamiku sendiri seperti ini?" bisik Kinan pilu.

"Apakah dosaku di masa lalu begitu besar hingga orang yang paling aku percayai pun tidak bisa melihatku sebagai manusia yang baru?"

Pertanyaan itu bagaikan petir yang menyambar tepat di ulu hati Adnan.

Ia menyadari betapa fatal kesalahannya; bukan hanya menghancurkan hati Kinan, tapi ia juga telah membuat istrinya meragukan ampunan Allah karena sikapnya yang jauh dari sifat pemaaf Sang Pencipta.

"Tidak, Kinan. Demi Allah, tidak!" seru Adnan sambil bersimpuh di lantai, memegang pinggiran ranjang.

"Allah Maha Pengampun, Allah mencintaimu. Yang salah itu aku! Aku yang berdosa karena tidak bisa menjaga amanah-Nya. Aku yang kerdil karena tidak bisa melihat kemuliaan hatimu. Jangan salahkan taubatmu, Sayang. Salahkan aku yang bodoh ini."

Kinan memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba meredam badai di dadanya.

"Jika suamiku saja yang setiap hari melihatku sujud dan memasak dengan tulus masih melihatku sebagai pelacur. Lalu bagaimana orang lain? Bagaimana aku bisa yakin bahwa aku sudah bersih di hadapan-Nya jika kamu terus melemparkan lumpur itu padaku?"

Adnan tidak bisa lagi berkata-kata. Ia hanya bisa menunduk dalam-dalam, membiarkan air matanya membasahi lantai rumah sakit.

Ia baru menyadari bahwa seorang suami adalah cerminan rahmat Tuhan bagi istrinya. Dan ia, telah gagal menjadi cerminan itu.

Ia telah menjadi hakim yang kejam di saat Tuhan sudah memberikan ampunan.

Keheningan yang menyayat hati kembali menguasai ruangan, hanya diiringi isak tangis Adnan dan napas berat Kinan yang masih berjuang melawan rasa sakit di dadanya.

Adnan terdiam sejenak, menatap Kinan yang masih memalingkan wajah dengan dada yang naik turun menahan isak.

Ia tahu, kata-kata maaf saja tidak akan cukup menembus dinding es yang telah ia bangun sendiri.

Dengan suara rendah dan tenang—suara yang biasanya ia gunakan saat mengajar di madrasah—ia mulai berbicara.

"Kinan, kamu tahu kisah Nuaiman? Sahabat Nabi yang sangat jenaka itu?"

Kinan tidak menjawab, namun Adnan melihat jemari istrinya sedikit melonggar dari remasan selimut.

"Suatu hari, Nuaiman ikut berdagang ke Syam bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq. Karena sangat lapar dan tidak diberi makanan oleh temannya yang bernama Suwaibith sebelum Abu Bakar kembali, Nuaiman mendatangi pasar. Ia berkata pada orang-orang, 'Aku punya budak yang murah, tapi dia punya satu kekurangan: dia tidak mau mengaku sebagai budak dan selalu bilang kalau dia merdeka'."

Adnan menjeda kalimatnya, mencoba mencari reaksi di wajah Kinan.

"Orang-orang pasar pun membeli Suwaibith dari Nuaiman dengan harga murah. Saat Suwaibith diseret pembeli, ia berteriak-teriak, 'Aku bukan budak! Aku orang merdeka!'. Dan pembelinya hanya tertawa sambil bilang, 'Kami sudah tahu sifatmu yang tidak mau mengaku itu dari tuanmu'. Saat Rasulullah mendengar cerita ini, beliau tertawa hingga gigi gerahamnya terlihat. Beliau tidak marah pada kekonyolan Nuaiman, karena beliau tahu hati Nuaiman itu tulus, hanya saja caranya sering kali salah."

Kinan perlahan menoleh, matanya yang sembab menatap Adnan dengan tatapan datar yang menusuk.

"Ustadz, ini nggak lucu. Aku masih marah."

Kalimat pendek itu seketika mematikan usaha Adnan untuk mencairkan suasana.

Adnan mengangguk pelan, wajahnya kembali tertunduk penuh penyesalan.

"Mas tahu ini tidak lucu, Kinan. Mas menceritakan ini bukan untuk membuatmu tertawa, tapi untuk menunjukkan bahwa bahkan di mata Rasulullah pun, manusia tempatnya salah dan khilaf. Nuaiman melakukan kesalahan besar dengan 'menjual' temannya, tapi dia tetap dicintai. Mas sudah melakukan kesalahan yang jauh lebih besar dari Nuaiman. Mas sudah 'menjual' harga diri istri Mas sendiri demi ego dan rasa cemburu."

Adnan meraih tangan Kinan, kali ini ia memegangnya dengan sangat erat seolah takut wanita itu akan menghilang jika ia lepaskan.

"Kamu boleh marah, Kinan. Kamu berhak membenciku seumur hidupmu. Tapi tolong, jangan pernah ragukan taubatmu di hadapan Allah. Jika Rasulullah bisa memaafkan Nuaiman yang sekacau itu, apalagi Allah terhadap wanita semulia kamu yang sudah berjuang memperbaiki diri. Kesalahanku adalah murni kebodohanku, jangan bawa itu ke dalam hubunganmu dengan Sang Pencipta."

Kinan menarik napas panjang, matanya kembali berkaca-kaca.

"Cerita ustadz bagus. Tapi hati yang sudah pecah tidak bisa disambung lagi hanya dengan cerita sahabat nabi."

Adnan menyadari bahwa kehadirannya saat ini justru menjadi oksigen yang menyesakkan bagi Kinan.

Setiap kata yang ia ucapkan, meski itu adalah kebenaran atau kisah hikmah, hanya akan menjadi pengingat luka.

Dengan hati yang berat, Adnan berdiri dan membetulkan selimut Kinan tanpa berani menyentuh kulitnya.

"Mas keluar sebentar, ya. Kamu istirahatlah. Mas ada di depan pintu kalau kamu butuh apa-apa," bisik Adnan lembut.

Kinan tidak menjawab, ia hanya menatap kosong ke arah jendela. Adnan pun melangkah keluar, memberikan ruang yang sangat dibutuhkan istrinya untuk bernapas.

Adnan memberikan "me time" bagi Kinan dengan keluar dari kamar dan membiarkan Kinan merenung sendirian.

Suasana kamar menjadi sangat sunyi, hanya terdengar detak jam dinding yang seolah menghitung sisa kesabaran di hati Kinan. Namun, keheningan itu tidak bertahan lama.

Pintu kamar yang tidak tertutup rapat perlahan bergeser.

Seorang anak laki-laki kecil dengan piyama rumah sakit bergambar pahlawan super melongokkan kepalanya.

Anak itu melangkah masuk dengan ragu, tangannya memegang sebuah mobil-mobilan kayu.

Ia tampak kebingungan melihat lorong yang asing hingga akhirnya matanya bertemu dengan mata Kinan.

"Sepertinya Athar kesasar," ucap anak itu polos. Athar tertawa kecil, sebuah tawa renyah yang entah mengapa sanggup menembus dinding es di hati Kinan.

Kinan tertegun. Wajah anak itu begitu bersih dan menggemaskan.

Rasa keibuannya yang sempat terkubur oleh kesedihan mendadak bangkit. Ia berusaha memaksakan senyum tipis, meski bibirnya terasa kaku.

"Athar kesasar ya? Kamar Athar di mana, Sayang?" tanya Kinan lembut, suaranya jauh lebih hangat daripada saat ia bicara pada Adnan tadi.

Athar mendekat ke ranjang Kinan, menatap perban di kepala wanita itu dengan rasa ingin tahu yang besar.

"Tante sakit apa?" tanya Athar sambil menjinjitkan kakinya agar bisa melihat Kinan lebih jelas.

"Tante cuma sedikit pusing, Nak. Athar sendiri kenapa ada di sini?"

Athar menunduk, memainkan mobil-mobilannya di pinggiran ranjang.

Pertanyaan Kinan berikutnya membuat suasana mendadak berubah haru.

Athar menatap Kinan dengan mata bulatnya yang bening, lalu mengucapkan kalimat yang membuat jantung Kinan seolah berhenti berdetak.

"Tante mau jadi bunda Athar? Ayah dan bunda Athar sudah meninggal dunia kecelakaan," bisik bocah kecil itu tanpa beban, namun mengandung kepedihan yang sangat dalam bagi siapa pun yang mendengarnya.

Kinan terdiam seribu bahasa. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini luruh kembali, namun kali ini bukan karena Adnan.

Ia melihat dirinya sendiri pada sosok Athar—sosok yang sendirian, yang kehilangan tempat berteduh, dan yang sedang mencari cinta di tengah dunia yang asing.

Di ambang pintu, Adnan yang menyaksikan interaksi itu melalui celah kecil, membekap mulutnya sendiri.

Ia melihat Kinan merentangkan tangannya, memberi isyarat agar Athar mendekat ke dalam pelukannya.

Untuk pertama kalinya sejak siuman, Kinan menunjukkan emosi selain kedinginan.

1
Rosmazita Imah
semoga ttp terus tabah dlm menjalani kehidupan ini. selamat hari raya
my name is pho: Terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Bunda Idza
awal yang menarik....
falea sezi
anak angkat dulu. nama nya siapa
Rosmazita Imah
kenapa la sibik sangat nak rebut suami org. bnyk lagi lelaki lain. tu la menghalalkan segala cara utk mendapatkan kepuasan diri. yg rugi siapa. diri sendiri kan. taubat fauziah. taubat
Rosmazita Imah
eh. sedih la pulak
Mrs. Ketawang
Lah q pikir Tuan Aris ini belum berumur🤭
Ternyata..... malah ayah kandungnya Kinan... gak nyangka bgt🙏🏻🙏🏻
Maaf thor critanya bgus tp alurnya trlalu cepat,kyak keburu tamat🙏🏻🙏🏻
my name is pho: Terima kasih kak🥰
total 1 replies
Rosmazita Imah
bagus la. jgn termakan fitnah lagi
Mrs. Ketawang
Tuh kan gongnya Kinan masih perawan....
Adnan kbanyakan bersujud minta maaf ke Kinan,ea ampuunnn Kinan sperti di ratukan🤣🤣🤣
Mrs. Ketawang
Thor jg egois lahhhh🙏🏻🙏🏻
knp Adnan trus yg posisinya slalu salqh,pdhal Kinan bisa sprti skrang smua berawal dari Adnan jg...
Adnan sudah berusaha trus mngalah tp Kinan gak merasa bersalah sama skali dg kslahannya...
seolah" Adnan yg salah 100% dlm rmhtga mereka...
Kalo sampe plot twist nya mereka cerai dan Kinan nikah lagi sma pak Aris...
Dah gak seru lagi nih cerita😐🙏🏻
Tolonglah ego Kinan d turunkan,dynjg salah loh sbg istri😠
Mrs. Ketawang
Pdahal Adnan sdh brusaha mmprbaiki duri,mnjauh jg dr Fauziah....
untuk kmrahannya pda Galih,bukan salah Adnan jg..knp d sini Kinan gak mrasa brsalah sma skali....
Dah lah kalo mau cerai,Kinan sdh gak btuh drimu lgi Adnan krn Kinan merasa sdh jd wanita karir
Mrs. Ketawang
Sbg seorg istri dan ibu,d sini aq menyalahkan Kinan...
bgaimanapun keadaannya hrusnya Kinan izin dulu sama Adnan,posisi tengah mlm Adnan tdur d sampingnya mlah Kinan prgi k rmh Galih,pria single pula...
Spanik"nya ibu saat tahu anak sakit kalo ngomong suami kan bisa d antar sama suami,scr Adna jg sayang skali sma Athar...
Gak salah kalo Adnan sbg suami marah😏
Astrid Kucrit
lah bukannya waktu itu fauziah udah di usir dari pondok ya?
my name is pho: kembali lagi kak
total 1 replies
Astrid Kucrit
padahal kinan yg salah. pergi gak ijin suami
Dar Pin
hadeh kebanyakan sujud ustad apa nggak capek🤭
nining cahyaningrum
yup setuju... dari pihak wanita pun egois... hak suami tdk dipenuhi. suami terus yg kudu menurunkan ego sampe titik terendah
Dar Pin
kenapa Adnan terus yg harus menekan ego Thor jangan ada perpisahan dong biar semangat bacanya tp KL Adnan dan Kinan dipisahkan JD nggak semangat LG bacanya 🤣
falea sezi
kapok laki. kok gampang bgt esmosi
falea sezi
cerai aja beres athar ini ttep blooonn
Rosmazita Imah
macam tu la. kena bertegas
Dar Pin
haduh kenapa Adnan terus yg salah sebagai seorang istri meskipun atas nama keselamatan dan mendesak harusnya tetap membangunkan suaminya beda KL suaminya nggak dirumah sebenernya ini mau dibuat pisah apa gimana ya Thor maaf bukanya membela Adnan dan seharusnya pamannya menghubungi Adnan dulu bukan Kinan bagaimanapun itu tengah malam aku rasa bukan hanya Adnan yg marah semua suami jg akan emosi 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!