NovelToon NovelToon
Luka Di Balik Etalase

Luka Di Balik Etalase

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:237
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Dua jiwa yang terjepit di antara tuntutan menjadi "Pria Baja" dan "Wanita Porselen" bertemu dalam sebuah kepura-puraan yang menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji

Hari itu tiba lebih cepat dari detak jantung yang siap menghadapinya. Gedung serbaguna milik militer itu telah disulap menjadi hutan bunga lili putih dan anggrek bulan yang harganya cukup untuk membangun satu gedung sekolah. Ratusan karangan bunga papan berjajar di sepanjang jalan, memamerkan nama-nama pejabat tinggi dan konglomerat.

Di luar, penjagaan sangat ketat; setiap tamu harus melewati tiga lapis pemeriksaan. Ini bukan sekadar pernikahan, ini adalah unjuk kekuatan klan Baskoro. Di ruang rias pengantin, Laras duduk mematung. Wajahnya telah tertutup riasan tebal yang sangat sempurna, namun matanya tampak lelah. Gaun pengantin yang telah dimodifikasi Arka kini melekat di tubuhnya lebih ringan, namun tetap terasa seperti baju zirah.

"Laras, senyum sedikit!" bisik ibunya sambil memperbaiki letak mahkota kecil di kepala Laras. "Ini hari paling bahagia dalam hidupmu. Kamu akan jadi menantu Jenderal! Jangan pasang muka tembok begitu." Laras menatap pantulannya sendiri. Ia tidak melihat seorang pengantin. Ia melihat seorang prajurit yang sedang bersiap masuk ke medan pertempuran terakhir.

"Aku sedang berusaha, Bu," jawab Laras pendek.

Tiba-tiba, pintu terbuka. Arka masuk, sudah mengenakan seragam upacara militer lengkap dengan medali-medali tanda jasa yang dipinjamkan ayahnya demi estetika "keluarga patriot". Arka tampak sangat gagah, namun wajahnya sepucat kertas. Matanya langsung mencari mata Laras lewat cermin."Ibu, boleh kami bicara sebentar? Berdua saja?" pinta Arka dengan nada yang sopan namun tak terbantahkan.

Setelah ibunya keluar dengan wajah berbunga-bunga, Arka mendekati Laras. Ia meletakkan tangannya di bahu Laras yang terbalut brokat. Tangan itu dingin, sangat dingin.

"Kamu oke?" tanya Laras pelan, sambil memegang tangan Arka di bahunya.

"Hanya... terlalu banyak orang bersenjata di luar. Ayah benar-benar ingin menunjukkan bahwa ini adalah wilayah kekuasaannya," Arka menarik napas panjang, mencoba mengusir serangan panik yang mulai mengintai di sudut pikirannya. "Laras, ingat Pasal 4. Begitu semua sandiwara ini selesai malam nanti, kita akan langsung ke rumah di selatan. Tidak ada yang bisa mengganggu kita di sana."

"Aku pegang janjimu, Arka."

Pintu kembali terbuka lebar. Jenderal Baskoro berdiri di sana dengan wibawa yang meluap-luap. "Waktunya. Arka, berdiri di depan. Laras, bersiaplah. Jangan ada satu pun kesalahan." Prosesi dimulai. Musik orkestra mengalun megah saat Laras berjalan di atas karpet merah, digandeng oleh ayahnya menuju Arka yang menunggu di depan meja akad. Ratusan kamera ponsel dan jurnalis mengabadikan setiap langkah mereka. Di barisan depan, Doni duduk dengan wajah masam, namun ia tidak berani berkutik setelah ancaman Laras tempo hari.

Saat ijab kabul diucapkan, suasana menjadi sangat hening. Arka mengucapkan kalimat itu dengan satu tarikan napas, tegas dan tanpa ragu. "Sah!" seru para saksi.

Tepuk tangan bergemuruh. Arka dan Laras kini resmi menjadi suami istri di hadapan hukum dan agama. Namun, saat Arka menyentuh dahi Laras untuk memberikan ciuman formal, Laras bisa merasakan tubuh Arka gemetar hebat. Ciuman itu singkat, dingin, dan hanya sekadar persyaratan visual untuk para fotografer.

"Selamat, Kapten," bisik Laras saat mereka berdiri untuk bersalaman dengan tamu.

"Terima kasih, Ny. Arka," balas Arka dengan senyum palsu yang paling sempurna yang pernah ia buat.

Resepsi berlangsung selama lima jam yang menyiksa. Mereka harus menyalami lebih dari dua ribu orang. Berdiri berjam-jam di atas pelaminan yang tinggi membuat kaki Laras berdenyut nyeri, namun ia tetap berdiri tegak. Setiap kali ia merasa akan tumbang, Arka akan diam-diam menahan pinggangnya, memberikan topangan fisik agar ia tidak terlihat goyah. "Sedikit lagi," bisik Arka setiap kali jeda lagu berganti. "Tinggal beberapa pejabat lagi."

Saat malam mencapai puncaknya, Jenderal Baskoro naik ke panggung untuk memberikan pidato. Ia berbicara tentang kehormatan, kesetiaan, dan bagaimana pernikahan ini adalah simbol persatuan yang akan membawa stabilitas. Laras ingin tertawa. Stabilitas yang dibicarakan mertuanya adalah stabilitas kekuasaan, bukan kebahagiaan anak-anaknya.

Akhirnya, pukul sebelas malam, pesta itu berakhir. Setelah berpamitan secara formal dan melelahkan dengan kedua orang tua mereka yang masih mencoba mengatur agar mereka menginap di hotel saja Arka tetap bersikeras untuk langsung pulang ke rumah mereka di selatan.

Di dalam mobil pengantin yang dihias bunga, kesunyian baru benar-benar terasa nyata. Arka melepas topi upacaranya dan melonggarkan kerah bajunya yang mencekik. Laras melepas mahkotanya dan membiarkan rambutnya terurai berantakan. "Kita berhasil," gumam Laras, menyandarkan kepalanya di jok mobil.

"Kita baru saja menandatangani kontrak seumur hidup dengan iblis, Laras," sahut Arka, menatap ke arah luar jendela. "Tapi setidaknya, sekarang kita punya benteng kita sendiri."

Mobil berhenti di depan rumah beton di selatan yang masih belum sempurna 100%. Tidak ada lampu kristal, tidak ada karpet merah. Hanya ada lampu taman yang temaram dan aroma semen yang bercampur dengan udara malam.

Arka turun, lalu membukakan pintu untuk Laras. Ia mengulurkan tangannya. "Selamat datang di rumah, Laras. Rumah yang sesungguhnya. Di mana nggak ada Jenderal, nggak ada foto, dan nggak ada topeng."

Laras turun, kakinya yang lecet menyentuh tanah di halaman rumah mereka. Ia menatap Arka, lalu menatap bangunan di depannya. Malam ini, mereka memang sudah menikah. Tapi untuk pertama kalinya, mereka merasa bebas."Ayo masuk, Ka. Aku mau lepas gaun ini dan jadi manusia lagi," ujar Laras.

Mereka melangkah masuk ke dalam rumah yang sunyi itu, meninggalkan kemegahan palsu di belakang mereka. Di dalam sana, di bawah atap yang mereka bangun sendiri, babak baru kehidupan mereka sebagai "mitra konspirasi" resmi dimulai.

Dan kali ini, mereka tidak hanya melindungi rahasia masing-masing, tapi juga mulai membangun sesuatu yang mungkin, suatu hari nanti, bisa mereka sebut sebagai cinta yang nyata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!