NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Insinyur Di Era Tanam Paksa

Reinkarnasi Insinyur Di Era Tanam Paksa

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Time Travel / Tamat
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Jatmika adalah seorang genius di bidang mekanika dan kimia yang tewas dalam kecelakaan pesawat. Namun, maut bukan akhir baginya. Ia terbangun di tahun 1853, masa di mana Nusantara sedang dicekik oleh sistem Cultuurstelsel (Tanam Paksa) yang kejam. Hidup sebagai anak nelayan miskin di pesisir Kendal, Jatmika menyaksikan sendiri bagaimana rakyat mati kelaparan sementara gudang-gudang Belanda penuh dengan rempah dan emas. Berbekal ingatan masa depan, Jatmika memulai "perang" yang berbeda. Bukan dengan bambu runcing, melainkan dengan logistik dan ilmu pengetahuan.
Dapatkah Jatmika membawa Nusantara melompati satu abad perkembangan teknologi untuk merdeka lebih awal? Ataukah ilmu pengetahuan yang ia bawa justru menjadi kutukan yang memicu kehancuran lebih besar bagi rakyat yang ingin ia selamatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Rekayasa Di Atas Pasir Hitam

Fajar menyingsing di pesisir Kendal dengan warna merah darah yang memantul di permukaan laut. Bagi nelayan dan petani garam di Desa Karanganyar, matahari bukan hanya pemberi kehidupan, tapi juga mandor yang kejam. Jika matahari tidak terik, tak ada garam yang mengkristal. Jika tak ada garam, tak ada uang untuk membayar landrente (pajak tanah) kepada pemerintah kolonial.

Jatmika terbangun dengan punggung yang pegal karena tidur di atas lincak bambu yang keras. Namun, matanya cerah. Di sampingnya, sketsa arang yang ia buat semalam masih terlihat samar di atas permukaan tanah liat gubuknya.

"Jatmika! Cepat bangun! Bapak sudah siapkan cangkul. Kita harus memperbaiki pematang tambak yang jebol semalam," teriak ayahnya, Pak Sahid, dari luar gubuk.

Jatmika keluar sambil mengucek mata. Ia melihat ayahnya sedang memanggul cangkul berkarat yang matanya sudah tipis karena sering diasah. Di sekeliling mereka, tetangga-tetangga mulai bergerak lesu menuju tambak. Wajah mereka kusam, kulit mereka pecah-pecah karena terpapar air garam pekat setiap hari.

"Pak," panggil Jatmika saat mereka berjalan menyusuri pematang yang licin. "Kenapa kita tidak menaikkan air laut ke lahan yang lebih tinggi saja? Biar airnya mengalir sendiri ke kolam-kolam kristalisasi lewat talang kayu."

Pak Sahid berhenti melangkah, menoleh dengan dahi berkerut. "Le, air itu berat. Kita harus mengangkutnya pakai pikulan bambu. Kalau mau ditaruh di tempat tinggi, siapa yang mau memikul ribuan ember ke atas sana setiap hari? Pinggang kita bisa patah."

Jatmika tersenyum tipis. Itulah masalahnya: Logistik Energi. Orang-orang di tahun 1853 ini hanya mengenal tenaga otot atau hewan. Mereka belum mengenal efisiensi mekanika sederhana.

"Kita tidak perlu memikulnya, Pak. Biar angin yang bekerja untuk kita," ucap Jatmika tenang.

Ia menunjuk ke arah pantai di mana angin laut berembus kencang, menggoyang pohon-pohon kelapa hingga melengkung. Di sana ada energi kinetik yang terbuang sia-sia. Sebagai insinyur abad ke-21, melihat angin kencang tanpa turbin adalah sebuah "dosa" teknis baginya.

Sepanjang pagi, sambil pura-pura membantu ayahnya mencangkul, Jatmika mengamati topografi lahan. Ia butuh tiga hal: kayu yang kuat, kain layar bekas, dan bambu-bambu besar.

Kesempatan itu datang saat jam istirahat siang. Para mandor pribumi yang bekerja untuk Belanda sedang asyik berteduh di bawah pohon beringin besar, menikmati kopi dan penganan, sementara rakyat jelata hanya memakan ubi rebus dingin.

Jatmika mendekati tumpukan bambu di belakang gudang desa. Di sana juga ada sisa-sisa kayu perahu yang sudah lapuk.

"Mau buat apa kamu, Le? Jangan macam-macam, nanti dimarahi Mandor Kromo," tegur seorang pemuda desa bernama Darman yang sedang duduk lesu.

"Darman, mau bantu aku? Aku bisa buatkan alat yang bikin kamu tidak perlu lagi memikul air garam sampai pingsan," tantang Jatmika.

Darman tertawa sinis, tapi matanya menunjukkan rasa penasaran. "Pakai sihir?"

"Bukan. Pakai akal," jawab Jatmika singkat.

Selama tiga jam berikutnya, dengan bantuan Darman yang ragu-ragu, Jatmika mulai merakit sesuatu yang aneh. Ia membuat kerangka silang dari bambu berukuran empat meter. Di tengahnya, ia memasang poros kayu yang dihaluskan dengan minyak kelapa agar tidak seret. Untuk bilahnya, ia menggunakan sobekan kain layar perahu yang ia jahit kasar menggunakan serat nanas.

Itu adalah Kincir Angin Poros Horisontal sederhana. Namun, bagian kuncinya bukan pada kincirnya, melainkan pada mekanisme pompa naga (pompa rantai) yang ia hubungkan ke poros tersebut.

"Apa ini, Jatmika? Kayak mainan raksasa," tanya Pak Sahid yang akhirnya datang menghampiri karena heran melihat kerumunan kecil mulai berkumpul.

Jatmika tidak menjawab. Ia sedang sibuk menyambungkan rangkaian kotak kayu kecil yang diikat pada tali (pompa rantai) ke dalam parit air laut.

"Tolong bantu aku tegakkan ini!" seru Jatmika.

Beberapa nelayan membantu mengangkat kerangka bambu itu ke posisi tegak. Begitu kerangka itu berdiri, angin laut yang kencang langsung menyambar bilah-bilah kain.

Wusss!

Kincir itu mulai berputar. Awalnya pelan, lalu semakin cepat seiring dengan suara derit kayu yang bergesekan. Poros tengah berputar, menarik tali yang membawa kotak-kotak kayu kecil ke atas. Dan tiba-tiba...

Grojok!

Air laut mulai tumpah dari ujung talang bambu di bagian atas, mengalir deras masuk ke kolam penampungan tanpa ada satu orang pun yang perlu memikul ember.

Orang-orang desa ternganga. Mereka mundur selangkah, seolah-olah melihat benda keramat. Pak Sahid menjatuhkan cangkulnya. Air yang tadinya harus dipikul dengan keringat dan air mata, kini mengalir begitu saja hanya karena tiupan angin.

"Ajaib... Ini ilmu apa, Jatmika?" bisik Darman sambil menyentuh air yang mengalir itu.

"Ini namanya mekanika, Darman. Angin punya tenaga, kita hanya meminjamnya," jawab Jatmika.

Namun, kegembiraan itu tidak bertahan lama. Dari kejauhan, terdengar suara derap langkah sepatu bot yang berat di atas tanah kering. Kerumunan warga segera menyibak, wajah-wajah mereka berubah pucat pasi.

Seorang pria pribumi dengan seragam resmi—beskap hitam dan jarik yang rapi, lengkap dengan keris terselip di pinggang—berjalan mendekat. Itu adalah Mandor Kromo, tangan kanan penguasa lokal yang laporannya bisa membuat seseorang dijebloskan ke penjara bawah tanah milik Belanda.

"Apa-apaan ini?" teriak Mandor Kromo sambil menunjuk kincir angin itu dengan tongkat kayunya. "Siapa yang mengizinkan kalian membangun benda aneh di tanah pemerintah? Apa kalian sedang membuat alat komunikasi untuk pemberontak?"

Jatmika melangkah maju. Ia tahu, di era ini, pengetahuan tanpa diplomasi adalah bunuh diri. Ia harus merendah, tapi tetap memegang kendali.

"Maaf, Den Mandor," Jatmika membungkuk dalam, mengikuti tradisi yang sebenarnya ia benci. "Ini bukan alat pemberontak. Ini adalah persembahan untuk mempercepat setoran garam ke gudang Kanjeng Tuan Belanda. Dengan alat ini, warga bisa menghasilkan garam dua kali lebih banyak. Bukankah itu berarti pajak untuk Den Mandor juga akan naik?"

Mendengar kata "pajak naik", mata Mandor Kromo yang picik itu langsung berkilat. Ia mendekati kincir tersebut, memperhatikannya dengan teliti. Keserakahan di wajahnya mulai mengalahkan kecurigaannya.

"Dua kali lebih banyak, katamu?" tanya Kromo dengan nada yang lebih melunak.

"Bahkan tiga kali, Den, jika kita membangun sepuluh lagi di sepanjang pantai ini," tambah Jatmika dengan nada meyakinkan.

Mandor Kromo mengelus dagunya yang berminyak. "Hm... baiklah. Tapi alat ini di bawah pengawasanku. Dan kamu, bocah ingusan, jangan coba-coba bertindak tanpa lapor padaku. Mengerti?"

Jatmika membungkuk lagi. "Tentu, Den Mandor."

Setelah sang mandor pergi dengan langkah angkuh, warga desa bersorak rendah. Namun, Jatmika hanya menatap kincirnya dengan pandangan dingin. Ia tahu, ia baru saja memberi "makan" pada monster. Tapi ini perlu.

Untuk membangun tentara, ia butuh uang. Untuk mendapat uang, ia butuh industri. Dan untuk membangun industri, ia harus membiarkan musuhnya merasa menang untuk sementara waktu.

Satu-nol untukku, Kompeni,batin Jatmika. Kalian pikir aku membangunkan ini untuk kalian? Kalian baru saja membiarkan aku membangun fondasi logistik perangku sendiri.

Malam itu, Jatmika tidak hanya menggambar kincir. Di sudut tersembunyi hatinya, ia mulai merancang skema untuk memurnikan sendawa (kalium nitrat) dari kotoran kelelawar di gua belakang desa. Bahan utama untuk mesiu.

1
Nemi yaa
kereen😍
Sastra Gulo: Terimakasih ka :)
total 1 replies
anggita
terus berkarya tulis👌. moga novelnya lancar.
Sastra Gulo: Amin kak. support selalu ya🙏😍
total 1 replies
anggita
Jatmika.. 👍💣💥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!