NovelToon NovelToon
Call Man Service

Call Man Service

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Dikelilingi wanita cantik / Teen
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: APRILAH

Di tengah beban hidup yang menghimpit, Xiao Han— pemuda 22 tahun yang menjadi tulang punggung keluarga, berjuang mati-matian menghidupi ibunya yang lumpuh serta membiayai pendidikan adik perempuannya yang baru kelas 1 SMP. Gaji sebagai tukang antar surat tak pernah cukup untuk menutupi biaya pengobatan dan kebutuhan sehari-hari.

Dengan putus asa namun tekad kuat, Xiao Han akhirnya membuka jasa panggilan pria, dan mempromosikannya secara diam-diam di media sosial. Awalnya hanya sebagai cara bertahan hidup, layanan ini perlahan membawanya masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: pertemuan-pertemuan rahasia, rahasia klien, dan batasan moral yang terus diuji.

Hingga suatu malam, satu panggilan khusus datang, sebuah pengalaman yang tak terduga, penuh risiko, dan emosi yang mengubah segalanya. Pertemuan itu bukan hanya mengguncang hidupnya saat ini, melainkan juga membuka pintu menuju masa depan yang akan mengubah kehidupannya secara drastis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon APRILAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Malam itu Xiao Han baru saja pulang setelah membantu Aria membereskan kosan baru. Ponselnya yang sudah dia matikan notifikasi Call Man Service tiba-tiba bergetar lagi—bukan dari Lin Qing, bukan dari Hua Ling’er, bukan dari Aria. Pesan masuk dari akun media sosial yang sudah dia pikir akan segera dia hapus sepenuhnya.

**@midnight_guardian_40:**

Halo Kak Xiao Han. Saya baca profil Call Man Service Anda. Saya butuh jasa penjaga rumah selama satu bulan penuh. Petugas keamanan rumah saya sedang cuti panjang mulai minggu depan. Saya tinggal sendirian di rumah besar di kawasan Bukit Permata.

Tugasnya hanya jaga malam hari: patroli ringan di halaman dan dalam rumah, pastikan semua pintu terkunci, dan ada kehadiran orang kalau ada apa-apa. Tidak perlu bersentuhan fisik, tidak perlu tidur di rumah. Cukup hadir dari jam 11 malam sampai jam 6 pagi.

Bayaran 10 juta untuk satu bulan penuh (30 hari), dibayar mingguan. Transfer DP 3 juta dulu kalau setuju.

Saya wanita 40 tahun, tinggal sendiri, butuh rasa aman. Bisa?

Xiao Han menatap pesan itu lama sekali. Jantungnya berdegup agak kencang—bukan karena takut, tapi karena ini panggilan pertama setelah dia resmi jadi supir Lin Qing. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menutup akun itu, tapi nomor rekening yang terus menipis untuk biaya terapi lanjutan ibunya membuatnya ragu.

Dia mengetik balasan hati-hati.

**Call Man Service:**

Selamat malam, Mbak. Terima kasih sudah percaya. Saya bisa ambil tugas itu, tapi saya punya pekerjaan utama sebagai supir pribadi mulai pagi sampai sore/malam tergantung jadwal bos saya. Jadi saya hanya bisa mulai jaga dari jam 11 malam sampai jam 6 pagi. Setelah itu saya harus istirahat dan siap kerja lagi pagi harinya.

Kalau Mbak setuju dengan jam itu, saya bisa mulai minggu depan. DP 3 juta saya terima via transfer ke rekening yang sama seperti profil.

Pesan dibaca dalam hitungan detik. Balasan datang cepat.

**@midnight_guardian_40:**

Setuju sekali. Justru lebih aman kalau Anda datang malam dan pergi pagi, supaya tidak terlalu mencolok di lingkungan.

Saya kirim DP sekarang. Alamat rumah: Bukit Permata Blok A No. 8. Datang langsung jam 11 malam tanggal 5 nanti (Senin depan). Bawa KTP dan surat pernyataan sederhana kalau mau, tapi tidak wajib.

Terima kasih banyak, Kak. Saya tunggu.

Tak lama kemudian, notifikasi transfer masuk: 3.000.000 dari rekening atas nama **Rina Wijaya**.

Xiao Han menatap angka itu di layar ponsel. 3 juta lagi untuk terapi ibu. 10 juta sebulan kalau kontrak jalan lancar. Itu berarti dia bisa lunasi sisa biaya terapi lebih cepat, bahkan sisihkan untuk biaya sekolah Xiao Mei semester depan.

Tapi di dadanya ada beban baru. Ini berarti dia harus keluar rumah setiap malam pukul 10.30, pulang subuh pukul 6.30, lalu langsung siap mengantar Lin Qing jam 7 pagi. Tidur hanya 3–4 jam sehari. Tubuhnya pasti akan lelah, tapi dia sudah terbiasa dengan lelah yang lebih berat dari ini.

Senin malam tanggal 5, pukul 10:50, Xiao Han tiba di depan rumah besar Blok A No. 8, Bukit Permata. Gerbang besi hitam tinggi terbuka otomatis setelah dia menekan interkom. Halaman depan luas, diterangi lampu taman hangat, pohon-pohon palem tinggi dan kolam ikan koi yang tenang. Rumahnya bergaya modern minimalis dengan dinding kaca besar dan atap datar, tapi terasa sepi meski mewah.

Pintu utama terbuka sebelum Xiao Han sempat mengetuk. Seorang wanita berdiri di ambang pintu, mengenakan gaun tidur sutra krem panjang yang lembut mengalir sampai mata kaki, lengan panjang tipis dengan detail renda halus di pergelangan. Rambut hitam panjangnya tergerai lurus dan berkilau seperti baru disisir, wajahnya tanpa make-up tebal tapi kulitnya mulus sempurna—hasil perawatan rutin mahal: facial, laser, dan skincare kelas atas. Usianya 40 tahunan, tapi kecantikannya luar biasa; tubuhnya tetap kencang dan proporsional, pinggang ramping, bahu terbuka sedikit menunjukkan kulit cerah yang terawat, dan postur tubuhnya tegak seperti wanita yang terbiasa dengan yoga dan pilates pribadi. Dia terlihat seperti perpaduan antara dewasa elegan dan remaja yang terawat dengan sempurna—feminin, anggun, dan memancarkan aura kaya raya yang tenang.

“Xiao Han?” suaranya lembut, tapi ada nada percaya diri yang tak bisa disembunyikan.

“Iya, Mbak Rina. Maaf kalau telat beberapa menit. Jalan agak macet.”

Rina Wijaya tersenyum tipis, menggeleng pelan.

“Nggak apa-apa. Masuk dulu. Aku tunjukin area yang perlu dijaga.”

Dia mengantar Xiao Han masuk ke ruang tamu luas dengan sofa kulit putih, lampu gantung kristal, dan karpet Persia asli. Rumah itu bersih sempurna, aroma diffuser lavender samar-samar tercium. Rina berjalan di depan, gaun sutranya bergoyang lembut mengikuti langkahnya yang anggun.

“Ini rumah besar, tapi aku biasanya hanya pakai lantai 1 dan kamar utama di lantai 2. Kamu cukup patroli halaman depan-belakang setiap jam sekali, cek pintu jendela, dan duduk di ruang tamu atau ruang keluarga kalau mau istirahat. Kamera CCTV sudah aktif, tapi aku tetap butuh orang sungguhan di sini malam-malam.”

Xiao Han mengangguk, matanya menyapu ruangan.

“Baik, Mbak. Saya paham. Saya akan mulai patroli jam 11 tepat.”

Rina menoleh, matanya menatap Xiao Han lebih lama dari yang diperlukan.

“Kamu kelihatan capek. Kerja pagi juga ya?”

“Iya, Mbak. Supir pribadi. Tapi saya bisa atur waktu.”

Rina mengangguk pelan, lalu tersenyum kecil—senyum yang membuatnya terlihat lebih muda dari usianya.

“Terima kasih sudah mau. Aku nggak suka rumah sepi malam-malam. Kalau ada apa-apa, kamu bisa masuk ke kamar utama di lantai 2. Pintunya selalu terbuka kalau darurat.”

Dia mengulurkan tangan untuk berjabat—jari-jarinya ramping, kuku terawat rapi dengan kuteks nude lembut.

“Mulai malam ini, kamu resmi penjaga rumahku. Selamat bertugas, Kak Xiao Han.”

Xiao Han menjabat tangan itu pelan, merasakan kehangatan yang kontras dengan dinginnya AC rumah.

“Terima kasih kepercayaannya, Mbak Rina. Saya akan jaga sebaik mungkin.”

Rina tersenyum lagi, lalu berbalik naik tangga ke lantai atas, gaun sutranya bergoyang lembut seperti ombak kecil. Xiao Han berdiri sendirian di ruang tamu luas itu, mendengar langkah hak sepatu rumahnya menghilang di atas.

Malam pertama dimulai.

Dia mulai patroli: keliling halaman depan, cek pagar, kolam ikan, pintu belakang, lalu masuk lagi ke rumah. Semuanya aman. Dia duduk di sofa ruang tamu, memandang jam dinding yang berdetak pelan. Rumah ini megah, tapi terasa hampa—seperti istana yang ditinggali satu orang saja.

Pukul 01:30, lampu lantai 2 masih menyala samar. Rina belum tidur, atau mungkin baru saja matikan lampu. Xiao Han tidak naik ke atas—dia ingat batasannya.

Tapi di pikirannya, ada pertanyaan kecil: wanita seperti Rina Wijaya—kaya, cantik luar biasa, feminin dan terawat sempurna—kenapa memilih tinggal sendirian di rumah besar ini? Dan kenapa dia mempercayai orang asing seperti dia untuk menjaga malam-malamnya?

Xiao Han menghela napas pelan, menyandarkan kepala ke sofa.

Malam masih panjang.

Dan 10 juta sebulan terasa semakin berat—bukan karena uangnya, tapi karena apa yang mungkin akan dia temui di balik pintu-pintu rumah ini.

1
Wang Chen
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Wang Chen
ummm♥️
Wang Chen
/Determined//Determined//Determined/
Wang Chen
oh my Vina♥️♥️
Wang Chen
fhb
Wang Chen
ok
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
😍/Drool//Drool/
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
/Determined//Determined//Determined/
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
Luar biasa
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
lanjut
APRILAH
Chapter 16, sabar ya🙏
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
Lanjutkan
APRILAH: Asyiappp
total 1 replies
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
🤭🤭/Determined//Slight/
APRILAH: /Grin//Grin//Grin/
total 1 replies
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
Aaaaa tidak... itu Vina ku
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
Vina I love you
APRILAH
Chapter 11, sabar ya guys
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
/Drool//Drool//Drool/
APRILAH: 🤭/Grin//Grin//Grin/
total 1 replies
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
tapi aman sih harusnya, Aria cukup lembut dan baik
APRILAH: iya sih
total 1 replies
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
mantul
APRILAH: 🤭/Grin//Proud/
total 1 replies
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
/Drool//Drool//Drool/
APRILAH: /Grin//Grin//Grin/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!