Perjalanan 50 KM, Tabungan Sebulan, Berakhir di Centang Biru.
Rafi, siswa SMA dengan uang saku pas-pasan, rela makan nasi garam selama sebulan demi satu proyek besar: mengajak Nisa berkencan ke Irian Kisaran. Menempuh 50 KM demi bioskop 5D dan makan di McD, semuanya tampak sempurna hingga mereka berpisah di terminal.
Di dalam bus pulang yang sunyi menuju Tanjung Balai, Rafi mengirimkan pesan terindahnya. Ia menunggu dalam cemas hingga bus tiba di tujuan, namun harapannya hancur saat layar HP hanya menunjukkan status paling menyakitkan: "Dibaca."
Apakah pengorbanan keringat dan harga diri Rafi hanya dianggap hiburan satu hari bagi Nisa? Di dunia di mana perasaan diukur dari kecepatan membalas chat, Rafi harus belajar bahwa investasi hati tak selamanya berbalas janji.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Pemandangan Kebun Sawit
Bab 21: Pemandangan Kebun Sawit
Bus terus melaju, membelah jalanan aspal yang memanjang lurus seperti garis tak berujung. Di kanan dan kiri, pemandangan ruko-ruko kayu yang kusam perlahan menghilang, digantikan oleh barisan pohon sawit yang berdiri kaku.
Pelepah-pelepahnya yang hijau tua tampak berdebu, seolah sudah berbulan-bulan merindukan hujan yang tak kunjung turun di pesisir Sumatera Utara ini.
Secara visual, pemandangan ini repetitif dan membosankan. Namun bagi Rafi, keheningan yang menyertai pemandangan ini adalah sebuah ruang jeda yang krusial. Setelah letupan obrolan canggung di Bab 19 dan drama hawa panas di Bab 20, kini mereka memasuki fase stagnan—fase di mana waktu benar-benar terasa seperti ditarik ulur.
Rafi menurunkan intensitas kipasan buku catatannya. Lengannya terasa pegal, ada denyut halus di otot bisepnya yang tidak terbiasa bekerja secara repetitif dalam durasi lama. Ia melirik Nisa.
Gadis itu tidak lagi menyeka keringat. Ia tampak sudah "menyerah" pada hawa panas dan memilih untuk hanyut dalam ritme getaran bus.
Nisa menyandarkan kepalanya pada bingkai jendela bus yang bergetar. Matanya yang jernih menatap kosong ke arah barisan pohon sawit yang lewat satu per satu. Pantulan cahaya matahari yang menembus celah pelepah menciptakan pola cahaya dan bayangan yang bergantian menyinari wajahnya.
Dia terlihat sangat tenang, pikir Rafi secara subjektif.
Secara analitis, Rafi mulai melakukan pengamatan mikroskopis. Ia memperhatikan bagaimana helai-helai rambut halus di dekat telinga Nisa bergerak lembut tertiup angin dari jendela. Ia memperhatikan profil hidung Nisa yang bangir, dan bagaimana bibirnya sedikit terkatup, menunjukkan kelelahan yang mulai mengambil alih kesadaran.
Rafi merasa seperti seorang pencuri. Ia mencuri pandang, mengagumi setiap detail wajah Nisa yang tidak mungkin bisa ia tatap sedalam ini jika mereka sedang berbicara langsung. Dalam hening ini, ia merasa memiliki Nisa sepenuhnya dalam pandangannya, tanpa gangguan rasa minder yang biasanya membuyarkan fokusnya.
"Nis," panggil Rafi sangat pelan, hampir menyerupai bisikan.
Nisa tidak menyahut. Napasnya mulai teratur dan lambat. Kelopak matanya perlahan menutup, lalu terbuka sedikit, lalu menutup lagi. Ia sedang berada di ambang antara sadar dan kantuk. Hawa panas yang memuai memang sering kali bekerja seperti obat bius bagi para penumpang bus bumel.
Rafi kembali menatap ke luar. Ia melihat sebuah truk tangki minyak meluncur dari arah berlawanan, menimbulkan angin besar yang mengguncang bus mereka sesaat. Bus tetap melaju dengan suara mesin diesel yang monoton—dug-dug-dug-dug—suara yang perlahan-lahan berubah menjadi lullaby kasar bagi siapa saja yang ada di dalamnya.
Secara logis, Rafi seharusnya ikut beristirahat. Ia sudah begadang di Bab 4 dan tidak bisa tidur di Bab 15. Energi tubuhnya secara sistematis sudah berada di zona merah. Namun, kewaspadaannya justru meningkat. Ia merasa memiliki tugas suci untuk menjadi "penjaga" Nisa selama gadis itu terlelap.
Ia memperhatikan posisi duduk Nisa yang tampak kurang nyaman. Setiap kali bus melindas retakan jalan, kepala Nisa terbentur pelan pada bingkai jendela besi. Rafi meringis setiap kali itu terjadi. Ia ingin sekali menawarkan bahunya sebagai bantal, namun protokol "Rasa Minder" yang ia anut melarangnya keras-keras.
Bahu flanelku ini kasar dan bau matahari, pikirnya skeptis. Nisa pasti lebih memilih membentur besi dingin daripada bersandar di bahu dekil ini.
Namun, melihat Nisa yang kepalanya semakin miring dan tampak akan terjatuh ke arah depan, Rafi tidak bisa tinggal diam. Ia menggeser duduknya sedikit lebih dekat—sangat perlahan, agar jok kulit imitasi itu tidak mengeluarkan suara decit yang bisa membangunkan Nisa. Ia memosisikan lengannya di atas sandaran kursi, memberikan bantalan imajiner agar kepala Nisa tidak langsung menghantam bagian keras bus jika supir mengerem mendadak.
Di luar, pemandangan kebun sawit seolah tak ada habisnya. Hijau, cokelat tanah, hijau, cokelat tanah. Pola yang menghipnotis.
Rafi mulai merenung. Perjalanan ini, meski hanya menuju Kisaran, terasa seperti metafora hidupnya. Ia adalah pria yang harus berjuang melewati jalanan berdebu dan panas hanya untuk mencapai satu titik kecil kebahagiaan. Ia teringat celengan ayamnya yang pecah (Bab 1). Uang-uang receh itu kini telah menjelma menjadi tiket perjalanan ini.
Apakah semua ini sepadan? Pertanyaan skeptis
itu muncul di benaknya.
Ia menatap Nisa kembali. Nisa sekarang benar-benar tertidur. Wajahnya yang damai adalah jawaban dari pertanyaannya. Ya, setiap butir keringat dan setiap jam begadang mengetik tugas itu sepadan hanya untuk momen hening ini.
Momen di mana ia bisa berada sedekat ini dengan seseorang yang selama ini hanya ia tatap dari kejauhan di koridor sekolah.
Secara finansial, ia sudah mengeluarkan sekitar 10.000 rupiah untuk ongkos bus pergi (untuk dirinya sendiri). Ia masih memegang kendali atas sisa anggarannya. Namun secara emosional, investasinya sudah jauh melampaui angka-angka di kertas coret-coretannya.
Tiba-tiba, bus melambat secara signifikan. Suara klakson truk di belakang mereka membahana. Rupanya ada rombongan pengangkut sawit yang berjalan lambat di depan. Bau pelepah sawit segar dan aroma tanah merah tercium masuk ke dalam kabin.
Nisa sedikit terusik. Ia mengerang pelan, lalu membetulkan posisi tidurnya. Kepalanya kini tidak lagi menghadap jendela, melainkan miring ke arah lorong—ke arah Rafi.
Rafi menahan napas. Ia membeku di tempat. Jarak antara wajah Nisa dan bahunya kini hanya tersisa beberapa sentimeter. Ia bisa merasakan hawa hangat dari napas Nisa yang teratur. Detak jantung Rafi kembali berpacu, menciptakan ritme yang lebih kencang dari mesin bus.
Ia takut bergerak. Ia takut jika ia bergeser sedikit saja, Nisa akan terbangun dan menyadari betapa dekatnya mereka, lalu merasa tidak nyaman.
Maka, Rafi memilih untuk menjadi patung. Selama sepuluh menit berikutnya, ia bertahan dalam posisi kaku yang menyiksa punggungnya, demi membiarkan Nisa mendapatkan sisa tidurnya di tengah perjalanan panjang yang membosankan ini.
Pemandangan kebun sawit di luar sana mulai berganti menjadi pemukiman penduduk yang lebih rapat. Pertanda mereka sudah melewati perbatasan kabupaten.
Rafi melirik jam di ponselnya. Pukul 09.45. Secara estimasi, dua puluh menit lagi mereka akan sampai.
"Sebentar lagi, Nis," bisik Rafi tanpa suara.
Ia kembali menatap ke depan, ke arah jalanan aspal yang memuai karena panas. Meskipun punggungnya pegal dan kemejanya lembap, ada secuil rasa bangga yang tumbuh di dadanya. Ia telah berhasil menjaga Nisa melewati zona paling membosankan dalam perjalanan ini. Kebun sawit yang tadinya ia anggap monoton, kini menjadi saksi bisu dari pengabdian kecil seorang remaja Tanjungbalai yang sedang berjuang melawan rasa rendah dirinya.
Bus kembali menambah kecepatan, meninggalkan hamparan pohon sawit terakhir, menuju hiruk-pikuk pinggiran kota Kisaran yang sudah mulai terlihat di cakrawala.