Arabelle, seorang barista, tak menyangka hidupnya akan berubah ketika Lorenzo Devereaux, pemimpin dunia bawah yang dikenal sebagai Damon, datang menagih utang ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
"Bu, aku mau menginap di tempat Lorenzo malam ini."
Catherine menoleh dari sofa, Mila bermain di sampingnya. "Oke, hati-hati ya."
Singkat. Tidak ada interogasi. Arabelle naik ke kamar dengan lega.
Ia mengeluarkan tas yang cukup besar dari lemari, lalu mulai mengisinya, baju ganti untuk besok, sikat gigi, sisir, toner, pelembap, semua yang masuk akal untuk dibawa menginap semalam. Setelah packing selesai, ia melepas seragam dan masuk ke kamar mandi.
Mandi agak lama. Air hangat terasa terlalu nyaman untuk cepat-cepat ditinggalkan.
Selesai mandi, ia mengoleskan losion seluruh tubuh, lalu mengenakan hoodie besar dan celana pendek hitam, bukan piyama resmi, tapi cukup nyaman untuk tidur. Rambut disisir, tas makeup dimasukkan ke dalam tas besar, parfum disemprot sebentar lalu botolnya ikut masuk juga.
Ponselnya berdering.
"Halo?"
"Arabelle, aku berangkat sekarang. Kamu sudah siap?"
Suara Lorenzo di telepon terdengar lebih dalam dari biasanya. Arabelle tidak tahu kenapa itu perlu dicatat, tapi otaknya mencatatnya.
"Kamu tidak harus jemput, aku bisa--"
"Arabelle."
"--naik taksi seben--"
"Aku sudah di jalan. Bye." Ia menutup telepon.
Arabelle menatap layar yang sudah gelap, lalu menghela napas dan mengangkat tasnya.
Di tangga, Daniel berteriak dari arah teras. "Arabelle, jangan macam-macam!"
"Iya, Ayah!" Ia berteriak balik dengan nada yang sama kerasnya.
Catherine tertawa dari dalam.
"Bye, Bu. Bye, Mila." Ia mencium puncak kepala Mila yang berlari memeluk kakinya sebentar sebelum kembali bermain.
Ia keluar. Mobil hitam Lorenzo sudah berhenti di depan pagar.
Arabelle masuk ke kursi penumpang. Lorenzo menyambutnya dengan ciuman singkat di pelipis sebelum tangannya kembali ke setir.
"Kenapa pakai celana pendek?" tanyanya begitu mobil mulai melaju. "Nanti kedinginan."
"Tidak akan."
"Aku yang bilang akan."
"Dan aku yang merasakan." Arabelle menatapnya dengan satu alis terangkat.
Lorenzo meliriknya dari sudut mata. "Kamu penting bagiku, Arabelle. Aku boleh khawatir."
Arabelle tidak punya jawaban untuk itu. Ia hanya membuang muka ke jendela, dan Lorenzo tidak melanjutkan, tapi tangannya bergerak ke atas tangan Arabelle di atas pahanya.
Mereka mengobrol ringan sepanjang jalan, tentang tidak banyak hal, tapi tidak ada keheningan yang canggung di antaranya. Sampai gerbang besi hitam itu muncul di ujung jalan.
Mobil berhenti tepat sebelum memasuki halaman, dan Lorenzo turun.
"Kamu tidak langsung masuk?" tanya Arabelle.
"Mobilnya nanti diparkir sama penjaga."
Arabelle turun dan memandang ke arah bangunan di depannya. Ini sudah kali kedua ia ke sini, tapi tetap saja, setiap kali melihatnya, ada momen singkat di mana otak Arabelle perlu waktu beberapa detik untuk memproses bahwa ini benar-benar tempat tinggal satu orang.
"Wow," gumamnya tanpa sadar.
Lorenzo mendengarnya. "Masih kagum juga?"
"Coba kamu tinggal di rumah yang wajar selama dua puluh tahun, terus tiba-tiba lihat ini."
Ia tertawa kecil, suara yang masih terasa langka dan karena itu selalu mengejutkan.
**
Mereka naik ke kamar Lorenzo. Arabelle meletakkan tasnya di sudut ruangan, lalu berjalan ke arah pintu kaca besar yang ternyata membuka ke sebuah balkon kecil. Ia berdiri di sana sebentar, menatap halaman yang diterangi lampu taman dari bawah.
"Kamu punya balkon di kamar," katanya.
"Ya."
"Di rumahku, kamarku langsung menghadap tembok tetangga."
Lorenzo berdiri di belakangnya. "Kalau begitu bawa saja barang-barangmu ke sini."
Arabelle menoleh. "Itu tidak lucu."
"Aku tidak bercanda."
Ia masuk kembali ke kamar sebelum ekspresi wajahnya bisa menjawab hal-hal yang belum siap ia ucapkan.
"Kamu bilang mau masak," katanya, mengalihkan topik.
"Iya." Lorenzo melepas kemejanya sambil berjalan ke arah lemari dan Arabelle langsung menemukan titik yang sangat menarik untuk dipandangi di dinding seberang. "Ayo ke dapur."
**
Dapur Lorenzo luasnya hampir tidak masuk akal. Kulkasnya penuh sesak sampai Arabelle bertanya-tanya apakah ada staf yang bertugas belanja setiap hari.
"Duduk, aku panggil kalau sudah selesai," kata Lorenzo.
"Aku mau bantu."
Lorenzo menatapnya. "Kamu tidak perlu--"
"Aku mau bantu." Arabelle sudah duduk di atas meja island dapur dengan kaki terjuntai. "Suruh aku melakukan sesuatu."
Ia menghela napas. "Ambilkan tiga telur dan tepung terigu."
Arabelle turun, membuka kulkas, mengambil telur dengan mudah, lalu berdiri di depan lemari penyimpanan dan memandangi rak-rak yang tingginya melampaui jangkauannya.
"Tepungnya di mana?"
"Rak kedua dari atas."
Arabelle mengangkat tangannya. Masih kurang dua ruas jari.
Sebelum ia sempat mencari kursi atau solusi lain, kehangatan ada di punggungnya, Lorenzo berdiri tepat di belakangnya, mengambil tepung dari rak dengan mudah, dan meletakkannya di tangan Arabelle. Parfumnya, kayu, sedikit smoky, terlalu nyaman untuk dihirup, mengisi udara di sekitarnya.
"Terima kasih," gumam Arabelle.
Lorenzo mencium pipinya ringan sebelum kembali ke kompor.
Arabelle duduk kembali di island, kali ini menonton Lorenzo memasak. Ada sesuatu yang berbeda dari melihatnya di sini, wajahnya yang biasanya terlalu terkendali tampak lebih rileks. Matanya fokus pada panci di depannya, rahangnya sedikit mengendur, dan bibirnya, yang biasanya ditarik ke garis lurus, sesekali bergerak tipis ketika ia mengecek rasanya.
Kenapa seseorang yang mengelola jaringan kejahatan bisa terlihat sesantai ini di dapur.
"Kamu menatap lagi," kata Lorenzo tanpa menoleh.
"Aku tidak--"
"Kamu iya."
Arabelle pura-pura sibuk memainkan ujung jarinya.
Sekitar setengah jam kemudian, pasta krim jamur tersaji di dua piring besar. Lorenzo meletakkan satu di depan Arabelle dengan jumlah porsi yang membuat matanya sedikit melebar.
"Lorenzo, ini untuk berapa orang?"
"Kamu kurus. Makan banyak."
"Aku bukan kurus, aku--"
"Makan."
Arabelle menatap piringnya, lalu mengambil garpu.
Suapan pertama. Ia berhenti sebentar.
"Ini enak sekali."
"Aku tahu."
"Bukan, maksudku, ini benar-benar enak. Kenapa kamu bisa masak?"
Lorenzo duduk di sebelahnya dan mulai makan. "Pertanyaan aneh."
"Kamu punya koki, punya asisten, punya semua orang yang bisa melakukan ini untukmu. Tapi kamu bisa masak sendiri."
"Bisa masak itu tidak ada hubungannya dengan punya uang atau tidak." Ia mengangkat bahu. "Dan aku suka."
Arabelle mengunyah sambil memikirkan jawaban itu.
"Kamu tidak kesepian di sini?" tanyanya kemudian. "Rumah sebesar ini, sendirian."
Sunyi sebentar.
"Jangan tanya soal keluargaku." Nada suaranya berubah, tidak marah, tapi ada sesuatu di baliknya yang menutup pintu dengan jelas. "Jangan pernah tanya lagi."
Arabelle mengangguk pelan. "Oke."
Ia tidak mendesak. Ada hal-hal yang memang belum saatnya.
Mereka melanjutkan makan. Lorenzo sesekali menatapnya sampai Arabelle menutupi wajahnya dengan tangan.
"Berhenti."
"Kenapa?"
"Kamu menatap dan itu membuatku tidak nyaman makan."
"Aku menatap karena kamu cantik." Tangannya mengusap pipi Arabelle. "Jangan tutup wajahmu."
Arabelle menurunkan tangannya perlahan.
**
Setelah makan, Arabelle membawa piringnya ke mesin cuci piring dan berbalik dan sebelum ia sempat melangkah kemana-mana, Lorenzo sudah mengangkatnya. Kakinya otomatis melingkar di pinggangnya, dan bibirnya mendarat di lehernya, bergerak perlahan ke tulang selangka.
Arabelle menutup matanya.
Lalu ketukan di pintu.
Lorenzo berhenti. Ia menurunkan Arabelle, wajahnya kembali ke ekspresi datar dalam hitungan detik.
Rabeka membuka pintu. Di belakangnya, berdiri seorang perempuan, potongan wajahnya tajam, bajunya ketat, dan caranya berdiri mengatakan bahwa ia terbiasa diperhatikan.
"Mau apa kamu ke sini, Ana?" tanya Lorenzo. Suaranya dingin dan singkat.
"Mau ketemu kamu." Perempuan itu masuk satu langkah, lalu matanya jatuh ke Arabelle. "Siapa ini?"
"Arabelle," jawab Lorenzo.
"Adikmu?"
"Dia kekasihku."
Sesuatu di perut Arabelle bergerak hangat mendengar kata itu.
Ana menatap Arabelle dari atas ke bawah dengan senyum yang tidak sampai ke matanya. "Berapa lama lagi sampai kamu bosan dan lempar dia juga seperti yang lain?"
Setiap kata itu mendarat dengan beratnya masing-masing.
"Keluar dari rumahku sebelum aku kehilangan kesabaran." Suara Lorenzo naik satu level, bukan berteriak, tapi cukup untuk membuat suhu ruangan terasa turun.
Ana menatapnya sebentar, lalu berbalik dan pergi. Rabeka menutup pintu di belakangnya.
Arabelle tidak menunggu. Ia melangkah ke tangga dan naik dengan cepat.
"Arabelle."
Ia tidak berhenti.
"Arabelle, berhenti."
Ia mendorong pintu kamar Lorenzo dan masuk, lalu berdiri di dekat jendela dengan tangan menyilang di dada.
Lorenzo menyusul dan menutup pintu. "Apa yang ada di pikiranmu sekarang?"
"Apa yang dia katakan itu benar?" Arabelle menatapnya langsung. "Tentang kamu?"
"Sebagian."
Arabelle menelan ludah. "Bagian yang mana?"
"Sebelumnya, ya. Banyak orang yang datang dan pergi." Ia melangkah lebih dekat. "Tapi tidak bersamamu, Arabelle. Bersamamu berbeda."
"Kamu bilang begitu sekarang."
"Aku tidak pernah membawa siapapun ke rumah ini." Suaranya tidak membela diri, hanya datar dan langsung. "Tidak pernah memasak untuk siapapun di sini. Tidak pernah tidur dengan seseorang di kamarku dan masih ingin mereka ada di sana saat bangun pagi." Ia berhenti tepat di depannya. "Kamu berbeda. Dan aku tidak tahu harus menjelaskannya dengan cara lain."
Arabelle menatap matanya yang tidak berkedip.
"Kamu akan meninggalkanku?" bisiknya.
"Tidak."
"Janji?"
"Tidak akan pernah."
Ia memeluk Lorenzo tanpa pikir panjang, wajahnya terkubur di dadanya. Tangan Lorenzo melingkar di punggungnya.
"Jangan pergi," gumam Arabelle.
Bibirnya menyentuh puncak kepalanya. "Tidak akan."
Mereka duduk di kasur. Arabelle mengusap sudut matanya dengan punggung tangan — tidak terlalu banyak yang keluar, tapi cukup untuk terasa malu karenanya.
"Film?" tanya Lorenzo.
"Film."
Ia menyerahkan remote ke Arabelle. Ia memilih komedi acak dari Netflix, dan mereka berbaring berdampingan di kasur king-size dengan TV besar yang membuat layar terasa seperti bioskop kecil.
Film berjalan. Arabelle tertawa beberapa kali di bagian yang memang lucu, dan sekali di bagian yang mungkin tidak dimaksudkan lucu tapi entah kenapa terasa lucu.
Sekitar satu jam kemudian, matanya mulai berat.
Ia tidak melawan.
Tubuhnya miring ke samping, menemukan posisi yang nyaman, dan dalam hitungan menit napasnya sudah teratur.
Tidak lama kemudian, lengan Lorenzo melingkar dari belakang, menariknya sedikit lebih dekat, hangat dan berat dengan cara yang terasa seperti jangkar.
Dan Arabelle tidur.