NovelToon NovelToon
Lupa Bahwa Kau Milikku

Lupa Bahwa Kau Milikku

Status: tamat
Genre:CEO / Perjodohan / Tamat
Popularitas:44.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Menikah tanpa kehadiran suami bukanlah impian Sheena. Ia terpaksa menandatangani dokumen pernikahan di catatan sipil hanya didampingi oleh ibu mertuanya, sementara Matthias—sang suami—lebih memilih merayakan kelulusan S2-nya di The Spire Of Wisdom tanpa sedikit pun memberi kabar.

Tiga bulan penuh pengabaian membuat hati Sheena mendingin. Saat Matthias pulang dengan aura black flag yang kaku dan dingin, Sheena dipaksa pindah ke mansion pribadi pria itu. Matthias bersikap seolah Sheena hanyalah orang asing yang menumpang hidup, karena hatinya masih tertahan pada sosok gadis kecil di halte bus bertahun-tahun lalu—satu-satunya orang yang membolehkannya menangis.

Matthias tidak sadar, sapu tangan yang ia simpan bagai nyawa adalah milik wanita yang kini ia abaikan di rumahnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, apakah Sheena masih mau menunggu pria yang sudah membuang waktunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Laporan Sang "Monyet" dan Paket Misterius

Pagi harinya di SM Corp, Rei masuk ke ruang kerja Matthias dengan wajah datar nan profesional. Ia meletakkan sebuah map tipis berwarna abu-abu di atas meja mahoni sang CEO.

"Ini laporan yang Anda minta, Tuan. Mengenai pria bernama Martin di University of Makati," ucap Rei singkat.

Matthias meletakkan cangkir kopinya, lalu membuka map itu dengan perlahan. Matanya menyapu baris demi baris informasi yang telah dikumpulkan tim keamanan SM Corp dalam waktu kurang dari 24 jam.

...SUBJEK: MARTIN DE LEON...

Status: Mahasiswa Drop-out dari Universitas di Calapan (Sedang mencoba mendaftar ulang di Manila).

Pekerjaan: Pengangguran (Sesekali menjadi promotor acara malam).

Latar Belakang: Keluarga kelas menengah bawah di Calapan. Ayahnya memiliki utang piutang yang cukup banyak.

Catatan Perilaku: Memiliki riwayat sering meminjam uang dari teman-teman wanitanya. Terkenal sebagai "player" di lingkungan SMA-nya dulu.

Tinggi Badan: 163 cm (Matthias mendengus saat membaca bagian ini).

Matthias melempar laporan itu ke atas meja dengan tatapan meremehkan. "Hanya ini? Dia bahkan tidak punya pekerjaan tetap dan berani menyentuh istriku dengan tangan kotornya?"

"Ada informasi tambahan, Tuan," sela Rei. "Sepertinya dia sedang terlilit masalah finansial dan mencoba mendekati Nyonya Sheena kembali, karena dulu Nyonya Sheena sering membantunya."

Rahang Matthias mengeras. "Jadi dia ingin memanfaatkan Sheena kembali? Berani sekali dia."

"Satu lagi, Tuan. Pagi ini kurir mengantarkan sebuah paket kecil ke mansion atas nama Nyonya Sheena. Karena prosedur keamanan, pengawal di depan sempat memeriksanya. Pengirimnya adalah Martin De Leon."

Mata Matthias berkilat tajam. "Apa isinya?"

"Sebuah surat dan... foto lama mereka saat SMA. Sepertinya dia mencoba mengingatkan Nyonya tentang masa lalu mereka," jawab Rei ragu.

Sore harinya di Mansion...

Sore itu, Sheena pulang dengan perasaan was-was. Kabar tentang "jemputan mewah" kemarin masih menjadi bahan gunjingan di kantin, dan ia hanya ingin segera masuk ke kamarnya untuk bersembunyi. Namun, langkahnya terhenti di ruang tengah.

Matthias duduk di sofa tunggal dengan kaki menyilang elegan. Di atas meja kopi di depannya, tergeletak sebuah amplop cokelat yang sudah terbuka dan sebuah foto tua. Wajah Matthias tampak datar, namun auranya begitu dingin hingga Sheena merasa suhu ruangan turun beberapa derajat.

"Kau menerima kiriman," ucap Matthias tanpa mengalihkan pandangan dari foto itu.

Sheena mendekat, jantungnya berdegup kencang saat melihat foto dirinya saat SMA bersanding dengan Martin. "Itu... dari mana kau mendapatkannya?"

Matthias menyesap tehnya perlahan sebelum menjawab. "Penjagaku mencegat kurir di gerbang. Prosedur standar. Aku tidak membiarkan barang sampah masuk ke rumahku tanpa pemeriksaan."

Matthias mengambil foto itu dengan dua jari, menatapnya dengan tatapan meremehkan. "Martin De Leon. Anak laki-laki yang kau tangisi saat perjodohan kita dimulai. Ternyata seleramu dulu cukup... rendah, Sheena."

Wajah Sheena memerah, campuran antara malu dan marah. "Itu masa lalu, Matthias! Untuk apa kau membahasnya?"

"Aku tidak membahas masa lalu. Aku membahas niat busuknya di masa sekarang," Matthias meletakkan selembar kertas laporan dari Rei di samping foto tersebut. "Dia mencarimu bukan karena rindu, tapi karena ayahnya terlilit hutang judi dan dia pikir kau adalah mesin ATM berjalan terbaik."

Sheena tertegun. Ia mengambil laporan itu dan membacanya. Matanya memanas bukan karena masih cinta, tapi karena merasa sangat bodoh pernah memuja pria seperti Martin.

"Dia mengirimkan foto ini untuk memancing emosimu," lanjut Matthias, suaranya kini merendah, hampir seperti bisikan yang menenangkan namun otoriter. "Dia ingin kau merasa bersalah, lalu menemuinya, dan akhirnya kau membantunya lagi."

Sheena meremas pinggiran bajunya. "Aku tidak akan pernah memberinya sepeser pun."

Matthias bangkit dari duduknya, berjalan mendekat hingga bayangan tubuhnya yang menjulang menutupi tubuh mungil Sheena. Ia mengambil foto itu dari meja, lalu dengan gerakan perlahan namun pasti, ia merobeknya menjadi serpihan kecil tepat di depan mata Sheena.

"Bagus. Karena aku tidak suka berbagi, apalagi dengan parasit," ucap Matthias. Ia mengulurkan tangan, menyelipkan anak rambut Sheena ke belakang telinga dengan gerakan yang sangat lembut, kontras dengan kata-katanya yang tajam.

"Mulai hari ini, jangan pernah membuka surat atau paket apa pun yang tidak kuketahui. Biar aku yang menjadi filternya. Kau hanya perlu fokus pada kuliahmu, bukan pada sampah dari Calapan itu."

Sheena mendongak, menatap mata Matthias yang kelam. Ada rasa posesif yang luar biasa kuat di sana, namun entah kenapa, Sheena tidak merasa terancam. Ia justru merasa seperti sedang dilindungi oleh benteng yang tak tertembus.

"Kenapa kau melakukan ini?" Tanya Sheena pelan.

Matthias terdiam sejenak, menatap bibir Sheena yang sedikit bergetar. "Karena namamu sekarang adalah Sheena Smith. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun mengotori nama itu, atau menyakiti pemiliknya."

Matthias berbalik pergi menuju ruang kerjanya, meninggalkan Sheena yang terpaku menatap serpihan foto di lantai. Untuk pertama kalinya, Sheena merasa bahwa pernikahan paksa ini mungkin adalah satu-satunya hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupnya yang kacau.

1
Ira Nadira
astga nagaaaaaaaa bagus bgt thorrrr😍😍😍 aku padamu pokoknya mah😍
Bae •: makasih ya kak 😍
total 1 replies
Ira Nadira
baper bgt kalo punya laki model gini nih🤭, kira2 ada g yah di dunia nyata😁
Ira Nadira
mampus lu rasain😒
Ira Nadira
tp di awal td ada kata2 kalo si mathiass tau Senna pemilik sapu tangan itu kan??
Ira Nadira
yahhh pecah perawan dah😁
Ira Nadira
duh thorrrr🤣kan gw yg salting ihhh malu ahh🤭
bagus, ceritanya ringan dan manis. gak ada konflik. tapi panjangkan lah lain kali ceritanya hahah🤣
Ira Nadira
wahhh salut sama si othorrr keren bgt penulisannya😍😍 hampir g ada typo samsek😍😍
Ira Nadira
astaga astagaaaaaaaa😍😍😍 manis bgt sih akhhh🤣🤣
Ira Nadira
dari awal bab g pernah komen karna saking serunya😍😍
Bae •: makasih ya kak😍
total 1 replies
Naufal hanifah
keren /Good//Good//Good/
Sari Purnama
Hmm..saya suka saya suka saya sukaaaaaaaa
Sari Purnama
ahay deuy..🤭🤭
YuWie
seru sih..tapi klo salah sangkanya dipanjang2 in jadi malz jg ya
YuWie
berubah kah wajah mereka shg tak saling mengenali?
LEECHAGYN
wihh terpanaa juga😭
Anonymous
ceritanya bagus bgttttt...,. sayang terlalu pendekkkkk....
mili
suka cerita nya
falea sezi
keren
Mirda Julianti
karya yang bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!