Bagi Liana, mencintai Justin dimulai dari sebuah sore di lobi kampus. Hanya karena melihat Justin bermain basket di bawah hujan, Liana nekat mengejar pria dingin itu hingga mereka bersatu di tengah lapangan basket yang basah.
Namun, janji itu hancur saat Justin memutusnya secara sepihak di hari kelulusan Justin dan menghilang tanpa jejak.
Tiga tahun kemudian.
Liana terkejut saat harus berhadapan dengan CEO baru di kantor tempatnya melamar kerja. Justin kembali, namun ia kini asing, dingin, dan terjebak dalam pusaran perjodohan.
Meski waktu berlalu, Liana menyadari: "There was something about you that I can't forget." Hidupnya tetap terjebak pada melodi yang sama Lagu kesukaannya "About You" milik The 1975. Karena baginya, ini masih tentang Justin di setiap detiknya.
Apakah takdir memberi mereka kesempatan kedua, ataukah hujan kali ini benar-benar menghapus jejak mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Kursi di Samping Liana
Jam dinding di ruang kelas Akuntansi menunjukkan pukul dua belas siang tepat. Dosen baru saja menutup sesi perkuliahan, dan suara gesekan kursi yang ditarik serentak menciptakan kegaduhan yang melegakan bagi para mahasiswa. Namun, bagi Liana, ada hal lain yang membuatnya berdebar sejak tadi: kotak bekal berwarna biru muda yang tersimpan rapi di dalam tasnya.
"Li, kantin yuk! Gue laper banget, pengen makan bakso Pak Kumis," ajak Dhea sambil memasukkan alat tulisnya dengan terburu-buru.
Liana tersenyum sambil menepuk tasnya. "Gue bawa bekal, Dhe. Tapi ayo, gue temenin lo ke kantin."
"Wah, rajin banget lo masak pagi-pagi? Atau nyokap yang masakin?" tanya Dhea kepo saat mereka berjalan menyusuri koridor gedung fakultas.
Liana hanya menggigit bibir bawahnya, ragu untuk menjawab. Jika ia mengatakan bekal ini dari Justin, Dhea pasti akan berteriak histeris dan menarik perhatian seluruh koridor. "Nanti juga lo tahu," jawab Liana misterius.
Kantin pusat Universitas Cakrawala sedang berada di puncak keramaiannya. Aroma berbagai macam masakan, mulai dari penyetan hingga mi ayam, bercampur jadi satu. Suara obrolan ratusan mahasiswa menciptakan dengungan yang memekakkan telinga. Liana dan Dhea berhasil mendapatkan meja kosong di pojokan, tidak jauh dari stan jus buah.
Dhea segera memesan bakso, sementara Liana mengeluarkan kotak bekal kainnya. Begitu kotak biru itu terbuka, aroma ayam suwir kecap yang gurih dan sayur bening yang segar langsung menguar. Potongan wortel dan bayamnya terlihat sangat cantik, tertata rapi di samping nasi putih yang masih hangat.
"Gila, estetik banget bekal lo, Li. Kayak bekal di drama-drama Korea," komentar Dhea yang baru kembali membawa mangkuk baksonya. Saat Dhea memperhatikan lebih teliti, matanya membelalak. "Eh, tunggu... itu kotak bekal merek Lock-Elite yang harganya mahal banget kan? Dan itu... coraknya mirip sama punya seseorang yang sering gue liat di Sekre."
Liana baru saja akan menyuap nasi ketika suasana kantin yang tadinya sangat bising tiba-tiba mereda. Keheningan itu merambat dari arah pintu masuk kantin, seolah-olah ada seorang pejabat penting yang sedang lewat.
Liana menoleh, dan jantungnya serasa berhenti berdetak.
Justin masuk ke kantin. Ia masih mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung sampai siku, menampakkan urat-urat tangan yang maskulin. Di tangan kanannya, ia memegang kotak bekal serupa milik Liana, namun berwarna hitam gelap. Di belakangnya, Raka mengekor sambil membawa botol minuman, wajahnya tampak penuh seringai jenaka.
Justin menyapu pandangannya ke seluruh penjuru kantin. Banyak mahasiswi yang menahan napas, berharap Justin akan duduk di dekat mereka. Namun, tatapan tajam Justin terkunci pada satu meja di pojok bawah stan jus.
Tanpa ragu, Justin melangkah lebar menuju meja Liana. Suara decit sepatunya di atas lantai kantin terdengar sangat jelas di tengah keheningan yang mencekam.
"Geser," ucap Justin singkat pada Raka, padahal Raka bahkan belum sempat duduk.
Justin menarik kursi tepat di sebelah Liana. Jarak mereka begitu dekat hingga bahu Justin hampir bersentuhan dengan bahu Liana. Di seberang mereka, Dhea membeku dengan sendok bakso yang menggantung di depan mulutnya. Raka sendiri duduk di samping Dhea dengan santai.
"Dimakan. Jangan cuma diliatin," kata Justin pada Liana sambil membuka kotak bekal hitamnya.
"K-Kak Justin... kok makan di sini?" bisik Liana dengan wajah yang sudah merah padam. Ia bisa merasakan ratusan pasang mata menatap ke arah mereka. Beberapa mahasiswi bahkan sudah mengeluarkan ponsel untuk memotret momen langka ini.
"Gue laper. Dan gue mau mastiin lo habisin makanan lo," jawab Justin santai, seolah-olah duduk di tengah kantin yang penuh gosip adalah hal yang sangat wajar baginya.
Raka tertawa kecil melihat ekspresi Liana. "Sabar ya, Li. Kapten kita ini kalau sudah mode 'pawang' emang nggak kenal tempat. Dia rela ninggalin ruang Sekre yang ber-AC cuma buat makan bareng lo di kantin yang panas ini."
"Diem lo, Rak," potong Justin tajam, namun ia tetap menyodorkan sepotong ayam dari kotak bekalnya ke arah Liana. "Mau coba ini? Bi Ijah masak agak banyak tadi pagi."
Liana merasa ingin menghilang dari muka bumi saat itu juga karena malu, namun ia juga merasa sangat terlindungi. Ia menerima potongan ayam itu dengan tangan gemetar. Di sudut lain kantin, ia bisa melihat Alena yang sedang duduk bersama teman-temannya. Wajah Alena tampak pucat pasi, matanya berkilat penuh amarah dan dendam saat melihat Justin begitu perhatian pada Liana di depan umum.
Tiba-tiba, Kaila muncul dan bergabung di meja mereka, membuat suasana semakin ramai. Kaila duduk di ujung meja dengan gaya tomboy-nya yang khas.
"Wah, wah, ada pesta bekal ternyata di sini?" goda Kaila. Ia melirik Liana, lalu menatap Justin. "Tin, Pak Broto nyariin lo tuh. Katanya ada revisi buat jadwal latihan gabungan nanti sore."
Justin hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari Liana yang sedang mengunyah bayam. "Gue tahu. Habis makan gue ke sana."
Kaila tertawa, lalu menoleh pada Liana. "Liana, jangan kaget ya sama kelakuan sepupu gue ini. Dia emang agak kaku, tapi kalau udah peduli sama satu orang, dia bakal jadi sangat posesif."
Liana tersedak pelan. "S-Sepupu?"
Dhea ikut tersedak baksonya. "Hah? Jadi Kak Kaila dan Kak Justin itu saudara?"
Kaila mengedipkan sebelah matanya. "Yup. Kita sepupuan. Tapi tolong rahasiakan ya, jangan sampai anak-anak UKM tau semua, nanti gue nggak bisa marahin Justin pas dia lagi egois di lapangan, haha!"
Liana menatap Justin dengan pandangan baru. Jadi itu alasannya Kaila tampak begitu dekat dan berani berdebat dengan Justin. Justin hanya mendengus melihat rahasia keluarganya dibongkar begitu saja oleh Kaila.
"Makan, Liana. Jangan dengerin Kaila. Dia cuma berisik," ucap Justin lembut, namun tangannya secara spontan mengambil sehelai tisu dan menyeka sudut bibir Liana yang terkena sedikit kuah sayur.
DEG.
Suara bisik-bisik di kantin meledak kembali menjadi riuh. Tindakan Justin barusan adalah konfirmasi paling nyata bagi seluruh penghuni kampus. Bahwa Liana bukan sekadar mahasiswa baru biasa. Bahwa Liana adalah seseorang yang telah berhasil meruntuhkan dinding es di hati Justin Adhinata.
Liana tertunduk malu, namun dalam hatinya, ia merasakan kebahagiaan yang membuncah. Di bawah riuh rendah suara kantin dan tatapan tajam dari para pembenci, Liana merasa aman. Selama Justin duduk di sampingnya, ia merasa sanggup menghadapi apa pun—termasuk turnamen besar yang akan datang dua minggu lagi.