NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Paksa Sang Dewa Kegelapan

Reinkarnasi Paksa Sang Dewa Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Sistem / Kultivasi Modern
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Upaya bunuh diri Onad Nevalion berakhir dengan kegagalan. Alih-alih menemukan kematian, ia justru dibangkitkan oleh Dewa Kegelapan dan dikirim ke Solmara, sebuah dunia asing yang hancur oleh konflik antar entitas ilahi.

Onad terpilih sebagai wakil sang dewa untuk menghadapi Dewa Iblis di dunia Solmara. Dewa Kegelapan tidak dapat turun langsung karena campur tangannya akan melanggar hukum keseimbangan antar dunia.

Satu-satunya hal yang diinginkan Onad hanyalah menghilang dari kesialan hidupnya di dunia. Namun, mengapa kesialan itu justru mengejarnya hingga ke dunia lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kota Halivaara

Noah menatap dua pria tua yang berdiri di hadapannya.

“Itu cuma kebetulan. Nggak lebih,” kata Noah sambil berdiri.

Beberapa saat kemudian, pria tua itu mengeluarkan sebuah kantong yang menggembung penuh koin.

“Nak, anggap ini tanda terima kasih karena kau udah menyelamatkan nyawa kami. Kami nggak punya cara lain buat berterima kasih sekarang. Jadi tolong terima ini.” Pria tua itu mendorong kantong koin itu ke depan.

“Simpan aja. aku nggak butuh uang kamu,” Noah menolak.

Penolakan itu membuat penilaian kedua pria di hadapannya terhadap dirinya meningkat.

Ia datang di detik terakhir dan menyelamatkan nyawa mereka. Meski tujuannya membalas dendam atas rekan-rekannya, perbuatannya tetap tak terlupakan. Dan sekarang ia juga menolak bayaran.

Dalam dunia mereka, menyewa pengawal saja membutuhkan biaya sangat mahal, dan banyak pedagang enggan melakukannya kecuali keuntungannya sangat besar. Bahkan saat menghadapi situasi hidup dan mati, banyak ahli bayaran justru memilih melarikan diri daripada menepati perjanjian untuk melindungi majikan mereka.

Seorang pria paruh baya lainnya mengangguk melihat sikapnya.

“Kasih tahu aku. Siapa nama kamu?” tanya pria paruh baya itu.

“Noah,” jawabnya datar, tanpa emosi.

Ekspresi itu membantunya mempertahankan citra seseorang yang sedang berduka.

“Hemm ... aku Bradd. Pemimpin tim Ekspedisi Diamond. Yah … sisa-sisanya aja sekarang.” Bradd menatap tubuh-tubuh rekan yang gugur. Matanya bergetar menahan duka, tetapi wajahnya tetap tenang dan sabar, seperti pemimpin sejati yang harus mampu mengendalikan diri dalam situasi apa pun.

Sementara itu, rekan-rekannya yang lain menangis di dekat jasad teman dan anggota tim mereka.

“aku … turut berduka. Kalau aku sampai lebih cepat, mungkin beberapa dari mereka masih bisa selamat,” ujar Noah dengan nada empati, Seakan ia memahami rasa kehilangan itu.

“Bukan salah kamu. kamu udah bantu kami lebih dari cukup,” kata Bradd.

Pria tua itu kemudian memperkenalkan diri. “Namaku Luigi. Pemimpin perusahaan dagang The Emerald.” Ia mengulurkan tangan.

Noah menjabat tangannya dan mengangguk.

“Kamu punya tujuan sekarang, anak muda? Kenapa nggak ikut dengan kami?” tanya Luigi.

“Kota terdekat dari sini di mana? aku udah berminggu-minggu di hutan ini,” jawab Noah terus terang.

“Bertahan hidup sendirian di hutan selebat ini selama berminggu-minggu … pantes aja kamu kuat dan jago membunuh,” kata Bradd. Ia sudah menilai Noah sebagai orang yang bisa dipercaya dan ia melirik sekilas ke arah pria tua itu.

“Kalau kamu nggak keberatan, kamu bisa ikut kami. Aku bisa bantu kamu kembali ke rumah,” kata pedagang tua itu.

“aku … udah nggak punya rumah. Nggak lagi,” jawab Noah dengan wajah muram, Seakan kembali mengingat keluarganya yang telah tiada.

“Nemenin kami dulu. Setelah itu kamu bisa mutusin mau ngapain. Tinggal di sini nggak aman,” kata Luigi dengan suara penuh kepedulian. Jika bukan karena Noah, tak satu pun dari mereka masih bernapas sekarang. Ia ingin membalas budi itu dengan cara apa pun. Lagi pula, mereka sendiri juga punya orang-orang yang harus mereka ratapi.

Noah mengangguk dan bergabung dengan rombongan.

Setelah membersihkan medan pertempuran dan memindahkan semua rekan yang gugur ke gerobak, kelompok yang tersisa akhirnya berangkat.

...***...

Selama dua hari berikutnya, perjalanan berlangsung tanpa masalah. Noah lebih banyak diam dan jarang berbicara dengan siapa pun, termasuk Luigi, mempertahankan citra dirinya sebagai seseorang yang sedang berduka.

Suasana seluruh kafilah dipenuhi rasa kehilangan dan penderitaan. Semua orang berduka dengan caranya masing-masing, kecuali Noah yang sekadar mempertahankan perannya.

Akhirnya, setelah mereka mencapai jalan batu yang rapi dan melihat gerbang kota raksasa, barulah mata Noah menunjukkan sedikit ketertarikan.

Saat menatap gerbang besar yang dipenuhi orang keluar masuk, banyak manusia dan jenis makhluk yang bahkan belum pernah ia baca dalam novel atau cerita fantasi apa pun terlihat di antara kerumunan. Rasa ingin tahunya pun muncul.

Ada tiga hal dalam daftar prioritasnya sekarang.

Uang.

Informasi.

Kekuasaan.

Gerbang kota itu dipenuhi kerumunan yang lalu lalang tanpa henti. Sebuah papan besar terpasang di bagian atas gerbang.

Kota pertama yang dilihat Noah di Solmara sejak kedatangannya bernama Halivaara.

“Berhenti! Tunjukkan identitas dulu,” kata penjaga yang bertugas. Ia mengenakan zirah pas badan yang cocok untuk penjaga gerbang.

“Biar aku yang urus,” kata Luigi. Ia maju dan berbicara dengan penjaga gerbang, sambil menunjuk ke arah Noah yang masih setengah telanjang dengan balutan kulit serigala.

Penjaga itu mengangguk paham. Luigi diam-diam menyelipkan kantong kecil berisi koin ke tangan penjaga.

“Kalian boleh lewat.”

Akhirnya mereka pun bergerak masuk. Penjaga lain tidak menghentikan atau menanyai mereka. Seakan semua sudah mendapat bagian.

Peradaban.

Akhirnya Noah melihat bangunan dan rumah yang tertata rapi, jalanan penuh orang dari berbagai ras, struktur wajah yang berbeda, dan banyak spesies tak dikenal yang belum pernah ia lihat ataupun dengar sebelumnya.

Sebagian makhluk tidak berjalan, melainkan merayap di atas jalan-jalan batu. Ada pula yang memiliki lebih dari dua atau tiga kaki.

Bangunan-bangunan di kota itu juga tidak mengikuti satu gaya arsitektur tertentu. Ada yang terbuat dari batu keras, ada pula yang dibangun dari kayu berkilau yang tampak indah dipandang.

Meski Noah tidak mengenali kata-kata atau bahasa yang tertulis di atas bangunan dan toko-toko, otaknya memahami maknanya berkat anugerah Kemampuan Semua Bahasa yang ia terima dari Khelgar, Dewa Perang.

Ia juga menyadari bahwa ketika berbicara dengan orang lain, mulutnya mengucapkan kata-kata dalam bahasa yang bahkan tidak ia kenal. Namun pikirannya memahami semuanya dengan jelas.

Hambatan bahasa yang seharusnya ia lewati untuk berbaur di dunia baru ini telah runtuh. Dalam hati, Noah kembali berterima kasih kepada Khelgar.

1
umar aryo
di tunggu updatenya ya
umar aryo
lanjut thorrr
umar aryo
weleh.....
umar aryo
walah...
umar aryo
arus cerita yg unik meski sedikit naif
umar aryo
jos gandos
umar aryo
wiiihhhh... dewa di katain.... anjirrr
umar aryo
mantap... 😄🤣🤣
umar aryo
jalan cerita nya halus Thor... lanjutkan
Piw Piw: terima kasih
total 1 replies
Amir Machmud
thor..ayo dilanjut..aku tambah penasaran...tak tunggu..
Amir Machmud
lanjut bab...beli coin atau lihat seponsor...
Amir Machmud
gimana kelanjutannya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!