NovelToon NovelToon
Penerus Warisan Dewa

Penerus Warisan Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:39.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di malam Festival Bulan Darah yang kelam, klan kecil Lin di pinggiran Benua Timur Dunia Fana Bawah dibantai habis-habisan oleh pasukan elit Sekte Bayangan Abadi.

Sebuah Tanah Suci 8 bintang yang ditakuti seluruh alam rendah. Penyebabnya? Hanya sebuah cincin perak tua yang tampak biasa, namun menyimpan rahasia mengerikan.

Lin Xuan, pemuda berusia 17 tahun dengan bakat kultivasi biasa-biasa saja di Qi Condensation Lapisan 3, menyaksikan segalanya dengan mata terbuka lebar.

Ayahnya Kepala Klan Lin dibunuh di depan matanya. Ibunya, dalam keputusasaan terakhir, merobek jantungnya sendiri dengan tangan gemetar, menyerahkan cincin itu ke telapak tangan anaknya sambil berbisik.

“Jangan pernah menyerah… balas dendam… bahkan jika kau harus menjadi iblis.”

Lin Xuan dilempar ke jurang maut Laut Darah Terlarang, tubuhnya hancur, darah mengalir deras. Di ambang kematian, cincin itu bergetar hebat. Cahaya hitam pekat menyelimuti tubuhnya. Suara tua yang dalam dan dingin bergema di benaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Satu Tebasan Peringatan

Suasana di Kamar 204 menjadi sangat hening, hingga suara napas Zhao Yun yang tertahan terdengar jelas.

Pemuda berwajah lonjong itu pemimpin dari tiga preman Fraksi Naga menatap Lin Xuan dengan mata membelalak. Dia mencoba menarik tongkat kayu ek berlapis besinya, namun benda itu seolah telah menyatu dengan sarung pedang Lin Xuan. Tidak bergeser sedikit pun.

Hawa dingin yang memancar dari mata Lin Xuan membuatnya merinding. Tapi arogansi menutupi ketakutannya. Dia adalah kultivator Qi Condensation Lapisan 5, sedangkan pemuda pucat di depannya ini hanya memancarkan aura Lapisan 3.

"Lepaskan tongkatku, Sampah!" bentak si wajah lonjong, wajahnya memerah karena malu di depan anak buahnya. Dia mengalirkan Qi elemen Tanah ke kedua lengannya, membuat otot-ototnya membengkak.

Dia menarik sekuat tenaga.

Lin Xuan tidak melawan tarikan itu. Sebaliknya, dia justru membiarkan sarung pedangnya terlepas dari tongkat tersebut dengan gerakan luwes.

Hilangnya penahan secara tiba-tiba membuat si wajah lonjong kehilangan keseimbangan dan terhuyung ke belakang.

"Kau berani mempermainkanku?!" teriaknya kalap, merasa dipermalukan. Dia menoleh ke dua anak buahnya. "Hancurkan kaki mereka! Biar mereka tahu siapa penguasa asrama ini!"

Kedua pengikutnya, kultivator Lapisan 4, langsung mencabut pedang pendek dari pinggang mereka dan menerjang ke arah Lin Xuan dari dua sisi. Pada saat yang sama, si wajah lonjong mengayunkan tongkat besinya ke arah kepala Lin Xuan, berniat memecahkan tengkoraknya.

Zhao Yun berteriak memperingatkan, "Mu Chen, awas!"

Tiga serangan mematikan datang bersamaan. Jarak mereka kurang dari dua meter. Di ruang sempit itu, tidak ada tempat untuk menghindar.

Namun, Lin Xuan tidak berniat menghindar.

Mata Lin Xuan menyipit. Dunia di sekitarnya terasa melambat. Aliran Qi murni di meridiannya yang telah dipadatkan melalui penyiksaan semalaman di Hutan Bambu Hitam meledak dan mengalir deras ke lengan kanannya.

Otot di lengan kanannya menegang, menahan rasa perih yang luar biasa saat energi itu dipaksa masuk melebihi kapasitas normal.

Seni Pedang Kilat Hantu: Tebasan Bayangan.

Lin Xuan tidak meneriakkan nama jurus itu. Dia hanya menarik napas.

Sring!

Sebuah kilatan cahaya perak melintas di udara ruangan yang remang-remang. Terlalu cepat untuk diikuti oleh mata murid Qi Condensation biasa. Bunyinya bukan dentingan logam beradu, melainkan seperti suara selembar sutra yang dirobek dengan paksa.

Detik berikutnya, terdengar bunyi klik yang pelan.

Itu adalah suara pedang Lin Xuan yang kembali masuk ke dalam sarungnya dengan sempurna.

Pemuda berwajah lonjong dan dua anak buahnya tiba-tiba membeku di tempat, bagaikan patung batu. Ayunan senjata mereka berhenti di udara.

Hening.

"Apa... apa yang kau lakukan?" bisik si wajah lonjong. Suaranya bergetar hebat. Dia tidak merasakan sakit, tapi ada rasa dingin yang aneh merayap di lehernya.

Trak. Trak. Trak.

Ujung tongkat kayu ek berlapis besi milik si wajah lonjong tiba-tiba tergelincir jatuh ke lantai, terpotong miring dengan permukaan yang sangat mulus.

Menyusul kemudian, pedang pendek milik kedua anak buahnya patah menjadi dua bagian, bilahnya jatuh berdenting di atas lantai kayu.

Mata ketiga preman itu terbelalak horor. Mereka perlahan menunduk, menatap dada mereka sendiri.

Jubah luar berlambang Fraksi Naga yang mereka kenakan telah terbelah terbuka dari bahu kiri hingga pinggang kanan. Dan di leher si wajah lonjong, muncul sebuah garis merah setipis rambut.

Setetes darah segar mengalir turun dari garis itu.

Jika tebasan Lin Xuan maju setengah inci lagi, kepala pemuda itu sudah menggelinding di lantai asrama.

Kaki ketiga orang itu kehilangan tenaga. Pedang dan sisa tongkat mereka jatuh dari genggaman. Mereka menyadari bahwa mereka baru saja melangkah di tepi jurang kematian, dan pemuda di depan mereka ini adalah algojonya.

"Aku sudah bilang," suara Lin Xuan memecah keheningan, dingin dan tanpa emosi. "Tinggalkan sepuluh Batu Roh sebagai ganti rugi pintu itu."

Si wajah lonjong menelan ludah dengan susah payah. Kakinya bergetar. Dia merogoh kantung di balik jubahnya yang robek dengan tangan gemetar, mengeluarkan sepuluh keping Batu Roh yang bersinar redup, lalu meletakkannya perlahan di atas meja terdekat.

"K-kami... kami akan mengingat ini," ancamnya dengan suara parau yang sama sekali tidak terdengar meyakinkan.

"Silakan," balas Lin Xuan. "Tapi ingat juga, di pertemuan berikutnya, pedangku tidak akan berhenti di kulit."

Tanpa berani menatap mata Lin Xuan lagi, ketiga preman itu berbalik dan lari terbirit-birit keluar dari kamar, bahkan menabrak ambang pintu yang rusak karena panik.

Suara langkah kaki mereka yang menjauh di koridor memecah kesunyian pagi.

Di dalam kamar, Zhao Yun masih berdiri mematung di dekat ranjangnya. Rahangnya seolah jatuh ke lantai. Dia menatap Lin Xuan, lalu menatap potongan besi dan kayu di lantai secara bergantian.

"Mu... Mu Chen..." Zhao Yun terbata-bata. "Itu tadi... apa itu tadi?!"

Lin Xuan memutar bahu kanannya pelan. Di balik lengan jubah panjangnya, beberapa pembuluh darah kecil di kulitnya pecah akibat efek samping teknik Pedang Kilat Hantu, menyisakan rasa perih yang menyengat. Namun wajahnya tidak menunjukkan rasa sakit sedikit pun.

"Hanya teknik pedang cacat yang kutemukan di pasar," jawab Lin Xuan datar, melangkah maju untuk memungut sepuluh Batu Roh di atas meja. Dia melemparkan lima keping kepada Zhao Yun, yang menangkapnya dengan kikuk.

"Teknik cacat?! Kau memotong tongkat besi tebal itu seperti memotong tahu! Kau menyembunyikan kekuatanmu saat ujian masuk, kan?!" Zhao Yun mendekat, matanya berbinar penuh kekaguman. "Kau pasti jenius pedang rahasia yang melarikan diri dari klan besar!"

"Terserah apa maumu menilainya," Lin Xuan duduk kembali di tempat tidurnya. "Tapi sebaiknya kau bersiap. Mengusir anjing-anjing itu hanya akan memancing majikan mereka datang."

Raut wajah Zhao Yun langsung berubah serius. "Wang Long... Ya, kau benar. Fraksi Naga tidak akan membiarkan penghinaan ini. Mereka sangat menjaga harga diri."

Zhao Yun memukul telapak tangannya sendiri. "Bulan depan ada Turnamen Peringkat Murid Luar (Outer Disciple Ranking Tournament). Sepuluh besar akan mendapatkan hadiah berlimpah, termasuk Pil Pembentuk Dasar (Foundation Building Pill), dan berhak masuk ke area dalam sekte. Wang Long pasti akan menggunakan turnamen itu untuk menghancurkanmu secara sah di atas arena."

Mendengar kata "Pil Pembentuk Dasar", mata Lin Xuan menyipit di balik bayangan topinya.

Pil Pembentuk Dasar. Itulah pil yang dijanjikan ayah Zhao Yun padanya, namun karena Lin Xuan bukanlah keturunan murni klan besar, peluangnya mendapatkannya melalui jalur normal sangat kecil. Pil itu adalah syarat mutlak untuk menembus dinding Foundation Establishment tanpa cacat di meridian.

"Baguslah," batin Lin Xuan. "Aku memang butuh alasan untuk membunuhnya tanpa melanggar aturan sekte."

"Terlalu lembut," suara Gu Tianxie mendengus di dalam kepala Lin Xuan. "Seharusnya kau penggal saja kepala mereka bertiga tadi. Darah mereka cukup lumayan untuk sarapan."

"Di dalam sekte, membunuh murid tanpa alasan di luar arena adalah tindakan bodoh," balas Lin Xuan dalam hatinya. "Biarkan kebencian mereka tumbuh. Saat mereka menyerangku di arena turnamen nanti, tidak akan ada satu Tetua pun yang bisa menyalahkanku jika aku mematahkan leher Wang Long."

"Saudara Mu," panggil Zhao Yun, membuyarkan percakapan mental Lin Xuan. Wajah pemuda elemen angin itu tampak penuh tekad. "Mulai hari ini, aku akan berlatih lebih keras. Aku tidak mau hanya menjadi beban yang kau lindungi. Saat turnamen nanti, aku akan membereskan kaki tangan Wang Long untukmu!"

Lin Xuan menatap mata Zhao Yun yang jernih dan jujur. Kesetiaan yang tulus. Sesuatu yang sangat langka di dunia kultivasi, sekaligus kelemahan yang sangat fatal.

"Lakukan sesukamu," kata Lin Xuan singkat, sebelum memejamkan mata dan kembali bermeditasi.

Di luar kamar, angin pagi berhembus membawa udara dingin. Berita tentang murid baru misterius yang mempermalukan anggota Fraksi Naga dalam satu kedipan mata segera menyebar ke seluruh asrama Paviliun Seribu Bambu, seperti api yang membakar padang ilalang kering.

Bidak-bidak catur kini telah tersusun. Badai darah di Sekte Awan Hijau perlahan mulai berkumpul, berpusat pada satu nama: Mu Chen.

1
saniscara patriawuha.
hancurrrkannnnn mangh suannnn
saniscara patriawuha.
gassssddd...
saniscara patriawuha.
sikattttt manggg suannnn
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Jooossss 👍
REY ASMODEUS
selamat datang tingkatan baru... selamat datang sang azura dan selamat menikmati kehancuran wahai benua tengah. 🤣🤣🤣
Budi Wahyono
5 mawar untuk lin xuan
REY ASMODEUS
ini namanya konspirasi pertandingan tingkat dewa🤣🤣🤣
saniscara patriawuha.
gasdddd deuiiiii anuuuu kenceungggh..
Bisri Ilhamsyah
mantap ceritanya
REY ASMODEUS
Thor aku serakah. up lqgi 12 bab boleh ? 🙏🙏🙏🙏🤭🤭🤭
Sang_Imajinasi: kita gas besok
total 1 replies
REY ASMODEUS
aku suka gayamu azura🤣🤣🤣🤣,
saniscara patriawuha.
lanjuttttkannnnnnn.....
Sang_Imajinasi: siap💪
total 1 replies
REY ASMODEUS
merinding bosku. ini baru azura sang pembantai. biarkan pion maju kedepan sedangkan sang bayangan menari dengan rima berdarahnya di balik bayangan
saniscara patriawuha.
krakkkkkk bunyi yanggg gurih gurih renyahhhh....
saniscara patriawuha.
gassssss polllll deuiiii...
saniscara patriawuha.
sukatttttt mangggg suannnn...
REY ASMODEUS
sekte kabut ilusi. kalian slaah kasih nama harusnya sekte ilusi suka ngibul🤣🤣🤣
Arinto Ario Triharyanto
silent.... mematikan....itu benar mantap Thor... lanjutkan 💪
saniscara patriawuha.
sikatttt sampeee lumattt
saniscara patriawuha.
gasssssd pollllll
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!