Di dunia di mana sihir adalah segalanya, kekuatan bukanlah anugerah—melainkan hasil dari latihan dan pengorbanan.
Ia hanyalah seorang siswi Akademi Sihir Arcanova. Tenang. Cerdas. Tak tersentuh. Hingga sebuah simbol tersembunyi muncul di tubuhnya—tanda kutukan dari iblis yang bahkan hanya hidup dalam legenda.
Tak hanya dirinya.
Dua siswa dari sekolah berbeda—termasuk seorang pewaris Akademi Crimson Crest—ternyata memikul kutukan yang sama… namun berasal dari iblis yang berbeda.
Kekuatan mereka luar biasa. Tak terbatas.
Namun setiap kali digunakan, ada harga yang harus dibayar.
Di tengah persaingan dua akademi, pelatihan mematikan di Hutan Abyss, dan rumor tentang iblis berwujud manusia yang belum pernah terlihat…
Pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling kuat.
Tapi siapa yang akan bertahan ketika kutukan itu mulai mengambil alih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia yang Membakar
Malam itu, bulan di atas Crimson Crest tampak seperti sabit perak yang tajam, membelah awan hitam yang menggantung rendah. Lucien tidak bisa memejamkan matanya. Setiap kali ia menutup kelopak mata, bayangan tentang sayap hitam yang pecah dari punggung dan tubuh yang memudar menjadi abu terus menghantuinya. Informasi dari buku kedelapan itu seperti racun yang mengalir dalam pikirannya, lebih panas daripada petir biru yang bersemayam di punggungnya.
Tanpa menunggu fajar menyingsing, Lucien menyelinap keluar dari kamarnya. Tanpa Simbol Daun Hijau yang mengikatnya, ia kini bisa bergerak lebih leluasa menembus sistem keamanan asrama. Ia bergerak seperti bayangan, melewati koridor-koridor sunyi dan melompati pagar tinggi akademi menuju arah Hutan Noxara—titik pertemuan rahasia mereka.
Udara pagi yang dingin menusuk kulit saat Lucien tiba di sebuah air terjun kecil yang tersembunyi di balik rimbunnya pohon pinus. Tak lama kemudian, dua sosok muncul dari arah berlawanan. Vivienne datang dengan keanggunan yang tenang, sementara Daefiel muncul dengan melompati dahan pohon, tampak masih penuh energi meski matahari belum sepenuhnya terbit.
"Lucien! Kau sudah bebas dari daun sialan itu?" seru Daefiel dengan suara tertahan namun ceria. "Aku dengar dari gosip para pelayan, Master Alaric sendiri yang memulihkan peringkatmu. Hebat juga kau, bisa membuat si tua Silas terdiam."
Vivienne tersenyum tipis, namun senyumnya memudar saat ia melihat raut wajah Lucien yang sangat pucat. "Ada apa, Lucien? Kau tidak terlihat seperti orang yang baru saja memenangkan kebebasannya. Kau terlihat seperti... orang yang baru saja melihat kematian."
Lucien mengatur napasnya, ia menatap kedua temannya satu per satu. "Kita harus bicara. Ini tentang apa yang ada di dalam tubuh kita. Ini jauh lebih buruk dari sekadar kutukan yang memberi kekuatan."
Mereka duduk melingkar di atas batu-batu sungai yang basah. Lucien mulai menceritakan setiap detail dari buku yang ia baca di perpustakaan rahasia. Ia menjelaskan tentang empat tahap transformasi itu dengan suara yang berat.
"Tahap pertama adalah rasa sakit yang kita alami di awal," kata Lucien. "Tahap kedua adalah mata kita. Aku sudah mengalaminya saat kalian terdesak di Abyss. Warna mataku berubah sesuai dengan petirku."
Daefiel mengerutkan kening, mencoba mencerna informasi itu. "Lalu... tahap ketiga? Tanduk? Sayap? Kau bercanda, kan?"
"Aku tidak bercanda, Daefiel," potong Lucien tajam. "Buku itu mengatakan bahwa kegelapan ini akan termanifestasi secara fisik jika kita kehilangan kontrol. Dan yang paling mengerikan adalah tahap keempat. Keabadian yang kosong. Kita akan berhenti menua, namun jika kita mati, kita tidak akan meninggalkan jasad. Kita akan menghilang seperti monster-monster yang kita bunuh semalam. Menjadi abu."
Hening seketika menyelimuti mereka. Suara gemericik air terjun terasa seperti lonceng kematian. Vivienne meraba lehernya, tempat simbol Bulan Hitam berada. Wajahnya yang cantik kini diliputi ketakutan yang nyata. "Hidup abadi... tapi bukan sebagai manusia? Jadi, kita ini apa? Eksperimen yang gagal?"
"Kita adalah inang," jawab Lucien. "Dan kunci agar kita tidak segera sampai ke tahap akhir adalah fokus dan kontrol diri yang mutlak. Itulah kenapa kemarin saat kita bertarung dengan fokus tinggi, kita tidak merasakan sakit. Kita harus belajar untuk menekan emosi kita, terutama amarah dan keputusasaan."
Daefiel, yang biasanya penuh canda, kini terdiam seribu bahasa. Ia menatap pergelangan tangannya yang membawa Api Hitam. "Jadi, jika aku terlalu marah, aku bisa saja menumbuhkan tanduk di tengah kelas? Sial... ini benar-benar gila."
"Kita harus saling mengawasi," tegas Lucien. "Jika salah satu dari kita mulai menunjukkan tanda-tanda tahap kedua atau ketiga, yang lain harus membantu menenangkan atau menariknya kembali sebelum transformasi itu menjadi permanen. Kita tidak boleh membiarkan akademi tahu, terutama Silas."
Mereka bertiga saling berpegangan tangan di tengah remang fajar. Di bawah cahaya pagi yang mulai menyingsing, mereka menyadari bahwa persahabatan mereka bukan lagi sekadar ikatan siswa antar akademi, melainkan sebuah pakta pertahanan hidup. Mereka adalah tiga jiwa yang terikat oleh kutukan yang sama, berusaha mempertahankan sisa kemanusiaan mereka sebelum takdir mengubah mereka menjadi debu yang terlupakan.
Setelah kesepakatan berat itu tercapai, Daefiel dan Vivienne bergegas kembali menuju Arcanova, menghilang di balik rimbunnya pepohonan Noxara dengan langkah yang terburu-buru. Lucien berdiri sejenak, menatap kepergian mereka sembari merapikan jubah Crimson Crest-nya yang sedikit lembap oleh embun pagi. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang masih belum stabil setelah membicarakan nasib mengerikan tentang tahap keempat kutukan mereka.
Namun, baru saja Lucien melangkah keluar dari batas Hutan Noxara menuju jalan setapak akademi, langkahnya mendadak mati. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.
Di sana, berdiri membelakangi cahaya matahari yang baru saja muncul, adalah Master Alaric.
Sang Master berdiri dengan tenang, kedua tangannya tersembunyi di dalam lengan jubah abu-abunya yang luas. Tidak ada aura permusuhan, namun keberadaannya di tempat terpencil itu pada jam sepagi ini adalah sebuah kejutan yang menyesakkan napas. Lucien terpaku. Apakah dia tahu? Apakah dia mendengar percakapan kami tentang sayap, tanduk, dan keabadian iblis itu?
"Pagi yang sangat produktif untuk seorang siswa yang baru saja lepas dari masa pengawasan, bukan begitu, Lucien?" suara Master Alaric memecah keheningan, nadanya datar namun sarat akan makna tersembunyi.
Lucien membungkuk hormat secepat mungkin untuk menyembunyikan kegugupan di matanya. "Master Alaric. Saya hanya... mencari udara segar untuk menjernihkan pikiran setelah membaca buku-buku yang Anda berikan."
Master Alaric perlahan berbalik. Matanya yang bijak menatap Lucien dengan intensitas yang seolah mampu menembus lapisan jubah dan kulitnya, langsung menuju ke arah simbol Petir Biru di punggungnya. Namun, Alaric tidak membahas soal pertemuan rahasia itu. Ia justru melangkah mendekat, menatap ke arah Hutan Abyss yang nampak menghitam di kejauhan.
"Kemarin, kau kehilangan kesempatan untuk membuktikan ketajaman pedangmu," ucap Master Alaric. "Silas benar soal satu hal: poin peringkat adalah hukum yang berlaku di Crimson Crest. Meskipun aku telah memulihkan posisimu ke peringkat asal sebagai bentuk apresiasi atas studimu, kau tetap berada di bawah mereka yang berhasil membawa pulang Burung Obsidian. Peringkatmu 'aman', tapi tidak lagi berada di puncak tertinggi seperti biasanya."
Lucien tetap diam, mendengarkan dengan saksama.
"Aku datang ke sini untuk memberimu sebuah pilihan, Lucien Vlad," lanjut Master Alaric sembari menatap tajam ke arah muridnya. "Kesempatan untuk merebut kembali kehormatanmu secara mutlak. Masuklah ke Hutan Abyss sekarang, seorang diri. Tangkap seekor Burung Obsidian dan bawakan padaku sebelum lonceng sarapan berbunyi. Jika kau berhasil, aku sendiri yang akan memberikan poin tambahan yang akan menempatkanmu jauh di atas siapa pun di papan peringkat."
Alaric menjeda kalimatnya, membiarkan angin dingin berhembus di antara mereka.
"Atau, kau bisa kembali ke asrama sekarang. Biarkan peringkatmu tetap di sana, stabil namun tidak lagi bersinar. Kau akan aman, tidak perlu bertarung, dan tidak perlu mengambil risiko. Pilihan ada di tanganmu. Apakah kau ingin menjadi ksatria yang hanya patuh pada buku, atau ksatria yang menempa takdirnya di tengah bahaya?"
Lucien menatap Master Alaric. Ini bukan sekadar soal poin peringkat. Ini adalah ujian. Jika ia pergi, ia harus menggunakan "Fokus Mutlak" agar kutukannya tidak mengambil alih. Jika ia tinggal, ia akan selamanya berada di bawah bayang-bayang kegagalan kemarin.
"Saya akan pergi, Master," jawab Lucien dengan mata yang mulai berkilat biru tipis. "Saya akan membawakan burung itu untuk Anda."
Master Alaric tersenyum misterius. "Kalau begitu, jangan biarkan waktu memburumu, Lucien. Pergilah."