NovelToon NovelToon
Subosito

Subosito

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: eko yepe

Seorang pemuda dengan kutukan api di dalam tubuhnya, membuat dirinya dibenci oleh seluruh warga desa.

Padahal di dalam hatinya, Subosito tak ingin melukai siapa pun dengan apinya.

Banyak pendekar yang mengincar kekuatan itu, untuk kepentingan pribadi mereka

Subosito mencoba untuk mengarungi dunia pendekar yang tidak mudah.

Bagaimana kisah perjuangan pemuda api itu dengan kutukan yang dimilikinya?

Ikuti keseruan kisahnya dalam 'Subosito'.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eko yepe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alun-alun Utara

Trowulan bukan sekadar kota; melainkan samudera bata merah yang membeku. Sejauh mata memandang, tembok-tembok tinggi dengan ukiran halus memisahkan pemukiman penduduk, pasar yang riuh, dan kompleks keraton yang megah.

Aroma dupa yang wangi bercampur dengan uap masakan rempah dan bau laut yang dibawa oleh para pedagang dari seberang menjadi satu dalam hangatnya matahari pagi.

Di langit, panji-panji berwarna merah dan putih berkibar dengan angkuh di atas menara-menara pengawas, seolah-olah sedang mengawasi setiap gerak-gerik manusia di bawahnya.

Subosito, yang kini dikenal sebagai Sura, melangkah perlahan mengikuti Jati menembus arus manusia yang mengalir menuju Alun-Alun Utara.

Tempat itu kini telah berubah menjadi lautan kesatria. Pendekar dari tanah Melayu dengan keris panjang terselip di pinggang, kesatria bertubuh raksasa dari tanah seberang yang memanggul kapak ganda, hingga para petapa gunung yang membawa tongkat-tongkat kayu sakti.

Suara teriakan dalam berbagai bahasa dan dialek menyatu menjadi dengungan yang memekakkan telinga.

“Jangan menatap mata para kesatria itu, kakak,” bisik Jati sambil menarik kain goni Subosito. "Beberapa dari mereka memiliki ilmu Trawangan . Jika mereka melihat kilatan emas di matamu, penyamaran kita berakhir di sini!"

Subosito mengangguk pelan, memusatkan segalanya di kepala, memusatkan perhatian pada tanah berdebu yang diinjaknya. Kain penutup punggung terasa semakin berat, bukan karena bebannya, melainkan karena energi Garuda Paksi yang terus mendidih di baliknya, seolah-olah bisa merasakan bahwa dirinya dikelilingi oleh ribuan calon lawan.

Mereka tiba di barisan pendaftaran untuk kasta rendah—barisan bagi mereka yang tidak memiliki nama besar atau surat rekomendasi dari kadipaten.

Di depan mereka berdiri sebuah panggung, di tengah panggung itu terdapat sebuah prasasti batu raksasa berwarna hitam legam yang dipenuhi ukiran aksara kuno.

“Itu adalah Batu Sapta Prana,” Jati menjelaskan dengan nada rendah. "Peserta kasta rendah tidak perlu menunjukkan kesaktian kanuragan. Maharaja ingin ksatria yang memiliki dasar fisik yang kuat. Aturannya sederhana: angkat batu itu sampai setinggi dada tanpa menggunakan energi tenaga dalam sedikit pun. Jika ada secercah cahaya atau hawa murni yang keluar dari tubuhmu, kau dianggap gagal dan diusir, kak!"

Subosito menatap prasasti itu, sedikit bisa merasakan hawa dingin yang aneh darinya. Itu bukan batu biasa, batu itu telah dirajah dengan mantra pemberat tingkat tinggi oleh para pendeta kerajaan.

Berat aslinya mungkin hanya seratus kilogram, tetapi di bawah pengaruh mantra, batu itu bisa terasa seberat gunung kecil bagi siapa pun yang menyentuhnya.

Satu per satu peserta maju.

Seorang pendekar bertubuh kekar dengan otot yang menonjol mencoba mengangkatnya. Pendekar itu mengerang, wajahnya memerah padam hingga urat-urat di sekitarnya tampak seolah-olah akan pecah.

Namun, begitu pendekar itu mulai memberikan sedikit energi murni untuk membantu ototnya, batu itu memancarkan cahaya biru redup dan kembali menghunjam ke tanah.

"Gagal! Pergi!" teriakan petugas pendaftaran yang mengenakan ikat kepala merah.

Kini giliran Subosito.

Pemuda itu melangkah maju dengan gerakan pincang dan kaku, layaknya seorang kuli yang kelelahan. Bisik-bisik terdengar dari kerumunan kesatria di sekitarnya. "Lihat gelandangan bisu itu," tawa seorang pendekar berbaju sutra hijau. "Dia akan hancur terhimpit batu itu sebelum sempat mengangkatnya, hahaha!"

Subosito berdiri di depan Batu Sapta Prana, sedikit membungkuk dan meletakkan jemarinya yang kasar di bawah ceruk batu tersebut. Saat kulitnya bersentuhan dengan permukaan batu yang dingin, Subosito merasakan serangan balik dari mantra pemberat itu. Seolah rasanya ada ribuan tangan gaib yang mencoba membenamkan tubuhnya ke dalam bumi.

Jangan gunakan api. Kosongkan pikiran, bisik batinnya, mengulangi peringatan Larasati.

Subosito mulai menarik batu itu. Otot-otot lengan mulai menegangkan. Tulang belakangnya berderit. Namun, masalah terbesar bukan pada berat batu itu, melainkan pada reaksi alami dari Segel Garuda Paksi.

Di dalam nadinya, energi emas mulai bergejolak hebat. Bagi sang Garuda, beban ini adalah tantangan yang harus dijawab dengan ledakan api.

Subosito harus berjuang melawan dua kekuatan sekaligus—berat batu di luar, dan ledakan api di dalam.

Keringat dingin mulai bercucuran di dahi, pelipis, dan mengalir ke dagunya. Batu itu baru terangkat satu jengkal dari tanah.

Tekanannya begitu luar biasa hingga kaki Subosito gemetaran. Di dalam pikirannya, Subosito melihat bayangan Resi Bhaskara yang tertawa, memaksanya untuk melepaskan api itu agar menang.

Tidak! Aku adalah udara. Aku adalah tanah, Subosito membatin dengan gigih.

Subosito memanggil kekuatan tanah yang didapatkan dari Gada Sungsang Aji. Tujuannya bukan untuk mengeluarkan energi murni, melainkan sebagai penguat struktur tulang secara mekanis.

Subosito membiarkan berat batu itu mengalir melalui lengan, melewati tulang punggung, dan langsung dibuang ke tanah melalui tumit kaki.

Batu itu perlahan naik. Satu jengkal. Dua jengkal.

Tubuh Subosito gemetar luar biasa. Percikan emas kecil hampir saja bocor dari pori-pori tangannya, untungnya pemuda itu segera menggigit lidahnya sendiri hingga berdarah.

Subosito menggunakan rasa sakit fisik untuk mengalihkan konsentrasi batinnya. Pemuda itu memaksa apinya kembali ke titik terendah, menekannya hingga ke relung terdalam jiwanya.

Dengan satu sentakan otot murni yang terakhir, batu raksasa itu terangkat hingga setinggi dada.

Hening menyelimuti alun-alun. Sang petugas pendaftaran mendekat, matanya mencari jejak cahaya kanuragan, tetapi tidak menemukan apa-apa. Subosito benar-benar mengangkat beban ribuan jin itu hanya dengan kekuatan fisik yang ditempa oleh penderitaan.

“Lulus,” ucap petugas itu datar, lalu menyerahkan sebuah kepingan perunggu berbentuk bulat gepeng dengan lubang di tengahnya. "Kau peserta nomor 45. Masuk ke babak berikutnya!”

Subosito meletakkan kembali batu itu perlahan. Suaranya menghantam bumi dengan dentuman keras, meninggalkan lubang sedalam setengah kaki di tanah.

Jati berlari mendekatinya, wajahnya berseri-seri. "Luar biasa, kakak Sura! Aku hampir mengira tadi kakak akan meledak!"

Namun Subosito tidak mendengar pujian Jati. Pandangannya menyapu barisan peserta kasta tinggi yang baru saja memasuki alun-alun melalui gerbang khusus.

Di antara barisan prajurit pengawal bersenjata lengkap, muncul seorang kesatria yang memancarkan aura kegelapan yang tenang dan juga mematikan. Kesatria itu mengenakan zirah yang bukan terbuat dari besi biasa, melainkan dari lempengan logam berwarna perak yang tersusun menyerupai sisik naga. Di dadanya, terukir lambang seekor naga yang melingkar, memegang sebuah permata biru.

Jantung Subosito berdegup kencang, dirinya sangat mengenal lambang itu.

Naga Sisik Perak dari Barat.

Itu adalah salah satu dari Papat Kiblat , pelindung mata angin yang menurut Kitab Warangka Jati telah jatuh ke tangan orang jahat. Kesatria itu berjalan dengan angkuh, setiap langkahnya membuat kerumunan pendekar di sekitarnya menyingkir karena rasa takut yang mendalam.

Yang lebih mengerikan lagi adalah penampakan mata sang kesatria naga itu; matanya tidak memiliki pupil, hanya berisi pusaran perak yang dingin.

Saat kesatria naga itu melewati barisan kasta rendah, tiba-tiba berhenti. Kepalanya berputar pelan, menatap ke arah kerumunan di mana Subosito berdiri.

Subosito segera menundukkan kepalanya sedalam mungkin, dan mulai merasakan hawa dingin yang tajam menusuk kulitnya. Sang kesatria naga seolah sedang mencari sesuatu—sebuah aroma yang sangat dikenal, aroma yang seharusnya menjadi saudaranya, tetapi kini menjadi musuhnya.

“Ada apa, Gusti Senopati?” tanya salah seorang pengawal kerajaan dengan nada hormat.

Kesatria Naga Sisik Perak terdiam sejenak., lalu menjawab dengan suaranya yang terdengar seperti menempa logam di atas besi. "Aku merasakan hawa panas yang tidak pada tempatnya. Seakan matahari mencoba bersembunyi di balik tumpukan jerami!"

Mata peraknya menyisir barisan peserta rendahan. Jati gemetar di samping Subosito, memegang erat lengan pemuda itu. Subosito menahan napas sepenuhnya, menghentikan detak jantungnya sendiri dengan teknik Tapa Napas yang dipelajari di gua-gua Lawu. Subosito menjadi benar-benar mati sejenak didalam kehidupan.

Setelah beberapa saat terasa hening, kesatria naga itu kembali berjalan. "Mungkin hanya sisa-sisa hawa dari Batu Sapta Prana. Ayo lanjut!"

Setelah rombongan kasta tinggi itu menjauh, Subosito akhirnya melepaskan napasnya, dan menyadari satu hal yang mengerikan: Sayembara Jagat Raya ini bukan sekadar ujian untuk mencari Panglima, melainkan jebakan bagi para pelindung mata angin yang masih tersisa. Musuhnya bukan lagi sekadar Patih Mangkubumi; melainkan pusat sarang naga yang telah dirasuki kegelapan.

"Kakak, siapa orang itu?" tanya Jati dengan suara berbisik, wajahnya masih pucat.

"Kematian," jawab Subosito di dalam hatinya, lalu menyimpan nomor 45 di saku bajunya bagian dalam dengan terasa sangat berat.

Langkah pertama telah berhasil, gerbang yang baru saja dia masuki adalah gerbang menuju medan pertempuran di mana rahasianya adalah taruhan nyawanya.

Pendaftaran telah usai, namun ujian yang sebenarnya baru saja dimulai. Disela ditemukannya Kesatria Naga Sisik Perak, Subosito menyadari bahwa kekuatan adalah beban sekaligus kunci keselamatannya. Jika dirinya gagal menyamarkan identitasnya di hadapan sesama pelindung kiblat, maka Majapahit bisa saja menjadi tempat kuburannya.

Apa yang akan terjadi pada babak persiapan pertama? Kengerian macam apa yang telah disiapkan Maharaja di dalam babak penyisihan itu? Dan apakah Subosito akan menjadi lawan dari Kesatria Naga Sisik Perak?

Jangan lewatkan kelanjutan kisah Subosito.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!