Perasaan Kaylee Lumiere didasari oleh kasih sayang yang begitu besar sehingga ia rela menomorduakan kebahagiaannya sendiri.
Ia lebih memilih mendengarkan cerita cinta Atlas Theodore dengan wanita lain daripada mengambil risiko menyatakan cinta dan kehilangan kehadiran Atlas selamanya. Baginya, "memiliki Atlas sebagai sahabat" jauh lebih baik daripada "kehilangan Atlas karena cinta yang ditolak."
Kaylee Sudah ahli Menekan rasa cemburu, sesak napas, dan teriakan di dalam hati yang ingin mengatakan, "Seharusnya aku yang ada di posisi itu."
Kaylee merasa seperti berdiri di balik kaca bening. Ia bisa melihat Atlas dengan sangat jelas, menyentuhnya, dan mengetahui setiap rahasia terkecilnya, namun ada penghalang tak kasat mata yang mencegahnya untuk melangkah lebih jauh. Ia adalah orang paling dekat, sekaligus orang paling jauh dari hati Atlas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Atlas Yang posesif
Atlas tertawa rendah melihat wajah Kaylee yang masih cemberut. Ia menarik Kaylee lebih dekat, lalu mulai membenamkan wajahnya di ceruk leher Kaylee. "Aku hanya ingin kamu, Ay. Hanya kamu," gumamnya dengan suara serak yang mematikan.
Atlas mulai memberikan kecupan-kecupan kecil yang menuntut, menghirup aroma vanila yang sangat ia rindukan. Kaylee memejamkan mata, tangannya merambat ke rambut Atlas, hampir menyerah pada gairah yang kembali tersulut.
Namun, di tengah momen intim itu, ponsel Kaylee di atas nakas bergetar hebat. Sebuah nama muncul di layar: Steve.
Atlas berhenti sejenak, matanya menyipit melihat nama pria itu. Tanpa permisi, ia menyambar ponsel tersebut sebelum Kaylee sempat meraihnya.
"Siapa Steve?" tanya Atlas dengan nada yang tiba-tiba berubah dingin dan posesif.
"Dia teman kantor di firma arsitekturku, At. Dia—"
Belum sempat Kaylee menjelaskan, Atlas sudah menekan tombol accept dan menyalakan speaker.
"Kaylee? Kamu sudah bangun? Aku sudah di depan apartemenmu di London, tapi resepsionis bilang kamu tidak ada di kamar. Aku membawakan sarapan favoritmu dan Niel," suara Steve terdengar sangat perhatian dan lembut dari seberang telepon.
Atlas mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras. Ia menatap Kaylee dengan pandangan jelaskan ini padaku sekarang juga.
"Steve, aku sedang tidak di apartemen. Aku... aku sedang ada urusan," jawab Kaylee gugup, matanya memberi isyarat agar Atlas tidak bersuara.
"Urusan apa sepagi ini, Kay? Apa kamu bersama pria itu lagi? Maksudku... kamu selalu bilang kamu sudah menikah, tapi tiga tahun ini aku tidak pernah melihat bayangan suamimu. Kay, foto-foto Atlas dan wanita Italia itu masih ada di mana-mana. Dia sudah bahagia, kenapa kamu masih membohongi dirimu sendiri dengan status menikah itu?" Steve menghela napas panjang. "Niel butuh sosok ayah yang nyata, bukan sekadar cerita tentang pria yang meninggalkan ibunya."
Wajah Atlas memerah padam. Amarahnya meledak mendengar ucapan Steve yang menganggapnya telah meninggalkan Kaylee. Ia merampas ponsel itu sepenuhnya dari tangan Kaylee.
"Dengarkan aku, Bro," ucap Atlas dengan suara bariton yang sangat berat dan penuh penekanan. "Suami yang kamu cari-cari itu sedang berada di tempat yang seharusnya, yaitu di ranjang bersama istrinya. Dan satu lagi, jangan pernah sebut nama anakku seolah kamu mengenalnya."
Hening di seberang sana. Steve tampaknya syok mendengar suara pria yang begitu dominan dari ponsel Kaylee.
"Ini... Atlas?" suara Steve bergetar.
"Pergi dari sana sebelum aku benar-benar sampai di depan wajahmu," desis Atlas tajam, lalu langsung mematikan sambungan telepon itu dan melempar ponsel Kaylee ke atas kasur.
Atlas berbalik menatap Kaylee, kali ini tatapannya penuh dengan kecemburuan yang lebih akut dari yang dirasakan Kaylee tadi. "Jadi ini alasannya kamu menutup wajah Niel dengan stiker di media sosial? Supaya pria-pria seperti dia berpikir kamu tersedia?" gumamnya sambil merangkak mendekati Kaylee, mengunci tubuh istrinya di bawah kungkungannya.
"At, bukan begitu! Aku menutupi wajah Niel agar orang-orang Bianca tidak bisa melacaknya! Aku hanya ingin melindunginya," ucap Kaylee membela diri.
"Tapi mereka bilang kamu sudah move on, Kay. Mereka bilang kamu janda satu anak," geram Atlas. Ia mencium leher Kaylee dengan lebih kasar, seolah ingin memberikan tanda kepemilikan yang sangat jelas di sana agar semua pria di London tahu siapa pemilik Kaylee yang sebenarnya.
"Aku akan buat postingan baru di akunmu, tanpa stiker, dan dengan aku yang memeluk kalian berdua. Biar teman kantormu itu tahu siapa yang sebenarnya memiliki tempat di hatimu," gumam Atlas di sela ciumannya.
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 😍