Tak ada yang menyangka bahwa seorang jenius kepolisian seperti Song Lang akan lenyap dari dunia yang pernah ia kuasai. Namun setelah sebuah peristiwa kelam yang dipicu oleh musuh bebuyutannya, ia menghilang tanpa jejak—dan muncul kembali bertahun-tahun kemudian dengan nama baru: Chen Shi, seorang sopir biasa di kota yang tak pernah berhenti bergerak.
Chen Shi hanya ingin hidup tenang, jauh dari sorotan, jauh dari masa lalu. Namun takdir seolah menolak memberinya ketenangan. Suatu malam, sebuah kasus pembunuhan mengusik hidupnya, dan semua bukti justru mengarah kepada dirinya. Dalam sekejap, orang yang berusaha melupakan dunia kriminalitas kembali menjadi pusat perhatian.
Dipaksa membuktikan bahwa ia bukan pelaku, Chen Shi bekerja sama dengan seorang polisi muda yang gigih. Namun semakin dalam mereka menggali, semakin jelas bahwa kasus tersebut bukanlah kebetulan. Ada tangan-tangan gelap yang bergerak, dan jejaknya terasa terlalu familiar bagi Chen Shi. Terlalu mirip dengan seseorang ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Kasus Pembunuhan Wang Yueche
Ia berlutut di tengah genangan darah, berusaha membangunkan tubuh yang perlahan mengeras. Tepat ketika jemarinya gemetar mengguncang bahu korban, suara langkah kaki tiba-tiba terdengar dari belakang.
Ia spontan meraih pistol yang tergeletak di dalam darah, mengangkatnya, dan mengarahkannya kepada sosok yang semakin mendekat.
“Aku bunuh kau!” serunya.
Namun, meskipun pelatuk ditekan berulang kali, peluru tak satu pun keluar. Sosok itu tertawa rendah, sinis.
“Luar biasa. Detektif Hebat Song Lang, membunuh atasan dan rekannya sendiri dengan tangannya. Aku tak sabar menantikan berita utama di koran besok.”
Amarah membara dalam dada Song Lang, hampir meledak. Ia membuang pistol itu dan menerjang pria yang telah menjebaknya. Namun sebelum ia sempat mendekat, orang itu mengeluarkan pipa besi dari belakang tubuhnya dan menghantamkan benda tersebut ke kepala Song Lang. Ia terjatuh, darah segar menyusuri pelipisnya.
Penyerangnya menjatuhkan pipa besi itu ke lantai; suara denting logam bergema tajam.
“Dengarkan baik-baik. Mulai detik ini, Detektif Song Lang akan menghilang untuk selamanya. Jika aku mendapati sedikit saja jejakmu, aku akan memburumu dan kembali merenggut semua yang berharga bagimu.”
Dengan tawa perlahan yang memudar, sosok itu lenyap ditelan kegelapan…
Chen Shi tersentak bangun. Dalam cermin spion, ia melihat wajahnya sendiri—basah oleh keringat dan tampak asing, seolah ia sedang menatap orang lain. Betapapun ia ingin melupakan masa lalunya, malam penuh darah itu selalu kembali menghantuinya.
Ia meraih sebungkus rokok dari laci dasbor dan mengguncangnya. Kosong. Dengan kesal ia melemparkannya kembali.
Ia mengusap kening. Awal musim gugur memang menyulitkan. Suhu berubah-ubah, dan bila tidak berhati-hati, seseorang mudah jatuh sakit. Bagi seorang sopir, ia tidak memiliki kemewahan untuk beristirahat beberapa hari.
Jam di dasbor menunjukkan pukul dua dini hari. Hampir saatnya pulang, mandi air hangat, dan beristirahat.
Ponselnya berbunyi, menandakan masuknya sebuah pesanan baru. Jarak penumpang hanya satu kilometer.
Ia memeriksa tujuan perjalanan dan mendapati rutenya searah dengan rumahnya. Kesempatan mendapatkan ongkos terakhir sambil pulang—cukup untuk membeli beberapa tusuk sate. Ia menerima pesanan itu secara otomatis, lalu menyalakan mesin.
Cahaya lampu depan menyorot siluet seorang wanita. Chen Shi refleks merapikan rambutnya yang kusut.
Sepasang kaki jenjang dan berkulit pucat melangkah anggun menuju kursi belakang. Saat wanita itu membungkuk masuk, Chen Shi mengamatinya melalui spion. Perawakannya memikat.
“Ke mana kita, Nona?” tanyanya ramah.
“Jangan bicara yang tidak perlu. Di pesanan sudah tertulis jelas: Hotel Feng ZhiLin,” jawabnya ketus.
Ketika mobil melaju, wanita itu mengeluarkan sebungkus rokok dari tas. Chen Shi mengangkat dua jarinya sambil berkata tanpa sungkan, “Berikan satu. Aku lupa membeli rokok hari ini.”
Yang ia terima hanya tatapan penuh kejengkelan, sebelum wanita itu memasukkan kembali rokoknya.
“Inikah sikap Anda?” Chen Shi tetap mencoba mengobrol. “Pergi ke hotel sendirian malam-malam begini? Pacar Anda tidak menjemput?”
“Aku hanya menemui seorang teman.”
“Alasan umum. Malam seperti ini, Anda dapat saja bertemu orang yang berniat buruk.”
“Orang yang berniat buruk?” Wanita itu mencibir. “Tidak mungkin ada tulisan ‘penjahat’ di wajah mereka.”
“Belum tentu,” jawab Chen Shi datar. “Jika seorang pembunuh masuk ke mobilku, sembilan dari sepuluh aku dapat mengenali gelagatnya.”
“Oh? Menurut Anda, seperti apa pembunuh itu?”
“Mereka biasanya bermata gelisah, waspada, sensitif, mudah tersinggung, dan menghindari pembicaraan tentang diri mereka.”
Wanita itu mendengus. “Seolah-olah Anda pernah berurusan dengan mereka.”
Ketika percakapan mulai panjang, Chen Shi mencoba memberanikan diri.
“Mari bertukar WeChat.”
“Apa?”
“Hanya ingin berkenalan. Mengapa begitu berjaga-jaga?”
“Maaf. Aku tidak merasa perlu mengenal orang seperti Anda.”
“Baiklah, anggap saja aku tidak bicara apa pun,” ujarnya sambil menepis rasa malu.
Beberapa menit berlalu. Wanita itu mengeluarkan ponsel dan, sambil mengawasi Chen Shi dari spion, menulis pesan:
“Sayang, sopir ini tidak berhenti bicara. Mengganggu sekali!”
Pagi hari tanggal 11 September, sekitar seratus meter dari jembatan di Jalan Xi Anfu, jenazah seorang wanita ditemukan di tepi sungai. Korban diperkirakan berusia sekitar dua puluh lima tahun, bertubuh ramping dan berwajah menarik. Pakaian korban robek; pada lehernya terdapat bekas jeratan. Laporan sementara dokter forensik menyatakan bahwa korban tewas karena dicekik dari belakang, dan ditemukan tanda-tanda aktivitas seksual sebelum kematian.
Tiga ratus meter hilir, ditemukan tas korban yang berisi identitas diri, ponsel, dan barang-barang pribadi. Setelah diperiksa, diketahui bahwa uang tunai 1.000 yuan miliknya hilang. Ponselnya rusak akibat terendam air; setelah diperbaiki, dua pesan terakhir kepada kekasihnya ditemukan:
Pesan pertama:
“Sayang, sopir ini tidak berhenti bicara. Mengganggu sekali!”
Pesan kedua:
“Baru turun. Sepertinya ada seseorang mengikutiku.”
Kekasih korban mengonfirmasi telah menerima kedua pesan tersebut. Polisi kini berupaya menghubungi platform Wang Yueche untuk menyelidiki identitas sang sopir.
Kapten Unit Investigasi Kriminal, Lin Qiupu, membacakan laporan tersebut dengan nada tenang. Para anggota tim mulai berbisik.
“Kasus pembunuhan sopir Wang Yueche lagi?”
“Mutu para sopirnya semakin buruk. Platform seperti itu seharusnya ditutup!”
“Jangan berspekulasi. Belum ada bukti bahwa sopir adalah pelakunya.”
“Melihat waktu kematian—sekitar pukul tiga pagi—lalu lintas sepi. Kemungkinan pelakunya adalah sopir!”
Lin Qiupu mengetukkan tangannya ke meja. Suasana langsung hening.
“Wang Yueche. Perkosaan. Pembunuhan. Korban perempuan muda. Kurang dari satu bulan sejak kasus sebelumnya, kini muncul lagi. Jika kasus ini terekspos publik, dampaknya sangat besar. Pimpinan menuntut penyelesaian secepat mungkin. Aku akan menangani tekanan dari atasan dan media. Kalian bekerja seperti biasa. Mulai hari ini, seluruh cuti dua hari ke depan dibatalkan. Jika biasanya kalian tidur tujuh jam, sekarang lima jam. Kita harus mencapai hasil dalam empat puluh delapan jam. Apakah kalian siap?”
Jika kalimat itu keluar dari orang lain, mungkin terdengar keras. Namun ketika disampaikan oleh Lin Qiupu, suaranya tegas dan meyakinkan. Beberapa polisi wanita menatapnya penuh kekaguman.
Para polisi pria hanya dapat menghela napas melihat itu semua. Perbandingan memang selalu meruntuhkan hati.
“Kami siap!” jawab mereka serempak.
“Baik. Sekarang pembagian tugas. Xiao Qi, cek ulang lokasi kejadian…”
Para anggota meninggalkan ruang rapat. Lin Qiupu sedang merapikan berkas ketika ia merasakan seseorang menatapnya. Ia tetap membereskan mapnya, lalu berkata tanpa menoleh, “Mengapa kau belum pergi?”
“Kenapa setiap kali, aku hanya diberi tugas-tugas tidak penting seperti memeriksa hubungan sosial korban?!” ujar seorang polisi wanita tajam.
“Tidak penting? Tidak ada tugas yang tidak penting dalam penyelidikan. Semua bagian dari proses. Yang perlu kau lakukan hanya mengikuti perintah.”
“Hmph! Ucapannya selalu sama. Tugas sulit dan berbahaya tidak pernah diberikan padaku. Apakah selamanya aku di matamu hanyalah gadis kecil yang tidak mampu? Aku menempuh empat tahun pendidikan di akademi kepolisian bukan untuk menjalani pekerjaan ringan!”
Akhirnya Lin Qiupu menoleh, menatap mata yang penuh tuntutan itu. Nada suaranya melembut.
“Adik, aku—”
“Kapten Lin!” potongnya keras. “Panggilan akrab seperti itu tidak pantas di lingkungan kantor.”
Ia berjalan menuju pintu. Tepat sebelum melangkah keluar, ia berkata lirih, namun tegas:
“Aku akan membuatmu mengakui kemampuanku melalui kontribusiku dalam kasus ini.”
Lin Qiupu hanya dapat memandang punggung adiknya yang pergi, sambil menampilkan senyum getir.