Kevin sanjaya adalah seorang pemuda pekerja keras yang berasal dari keluarga miskin. Demi menyambung hidup, ia bekerja sebagai kurir pengantar makanan untuk sebuah perusahaan Ojol Indonesia.
Suatu hari, dalam salah satu pengantaran malamnya, ia mengalami kejutan pahit. Kamar hotel yang menjadi tujuan pesanannya ternyata adalah kamar yang dipesan oleh pacarnya sendiri—bersama pria lain—untuk menghabiskan malam.
Tertangkap basah, sang pacar justru memutuskan hubungan mereka di tempat itu juga. Dengan dingin, ia mengatakan bahwa Kevin sanjaya terlalu miskin dan tidak mampu memberinya kehidupan yang diinginkan.
Saat amarah dan penghinaan hampir meluap, sebuah notifikasi tiba-tiba terdengar dari ponselnya:
“Pengantaran selesai. Hadiah sistem telah diperoleh!”
Berkat kebiasaannya membaca novel, Kevin sanjaya langsung menyadari satu hal,
ia telah mendapatkan sebuah sistem cheat.
Sistem ini memberinya hadiah luar biasa setiap kali ia menyelesaikan misi pengantaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenjiro Dominic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 – Mimpi
Bahkan satu lampu Bugatti Veyron saja harganya lebih mahal daripada sebuah Daihatsu Terios.
“Meysi Kurniawan,” ucap Kevin sanjaya dengan nada datar namun dingin,
“apa sekarang kamu menyesal telah membuangku?”
Tatapan Meysi Kurniawan bergetar sesaat. Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa, Kevin sanjaya sudah mengulurkan kantong makanan itu dan menjatuhkannya tepat di depan pintu kamar.
“Pesananmu sudah sampai,” katanya singkat.
“Selamat menikmati.”
Ia tidak menunggu jawaban. Tidak juga menoleh kembali. Langkah kakinya mantap saat ia berbalik dan berjalan menuju lift.
“Kevin sanjaya!”
Suara Meysi Kurniawan terdengar dari belakang, kali ini tidak lagi setinggi sebelumnya.
“Aku… aku salah. Aku benar-benar menyesal!”
Kevin sanjaya berhenti sejenak di depan lift. Jari-jarinya mengepal, lalu kembali mengendur.
“Sudah terlambat.”
Pintu lift menutup perlahan, memutuskan semua kemungkinan.
Di dalam lift yang sepi, Kevin sanjaya menghela napas panjang. Perasaannya tenang, terlalu tenang. Seolah beban yang selama ini menekan dadanya akhirnya terangkat.
Jika ia berhasil menyelesaikan misi berikutnya, sistem akan memberinya sebuah perusahaan.
Ia tidak punya waktu untuk menoleh ke masa lalu.
Menghabiskan waktu memikirkan wanita yang mengkhianatinya hanya akan membuatnya terlihat bodoh.
Sekarang, yang ada di pikirannya hanyalah satu hal, mengantar pesanan dan menjadi kaya.
Saat ia keluar dari hotel, suasana di depan gedung sudah berbeda.
Kerumunan orang berdiri mengelilingi sebuah Bugatti Veyron merah yang terparkir dengan mencolok. Kilau bodinya memantulkan cahaya lampu jalan, menciptakan pemandangan yang nyaris tidak nyata.
Ponsel terangkat ke mana-mana. Suara kagum terdengar silih berganti.
“Mobil ini gila…” “Siapa ya pemiliknya?” “Bugatti asli di kota ini?”
Kevin sanjaya berhenti sejenak, menatap mobil itu dari kejauhan. Ada rasa tak percaya di dadanya.
“Benar juga,” gumamnya pelan.
“Mobil sport memang selalu menarik perhatian.”
Ia sendiri masih belum sepenuhnya yakin bahwa semua ini nyata.
Baru beberapa menit lalu ia masih seorang kurir miskin yang dihina pacarnya.Sekarang, sebuah supercar bernilai puluhan juta berdiri di hadapannya.
Dan ini baru permulaan.
Jika ia menyelesaikan satu pengantaran lagi, ia bahkan bisa menjadi bos sebuah perusahaan.
Ia melangkah ke arah motor bututnya, kendaraan sederhana yang telah menemaninya bekerja siang dan malam selama beberapa bulan terakhir.
“Kamu sudah bekerja keras,” katanya lirih sambil menepuk bodi motor itu.
Setelah itu, ia mengambil kotak pengantaran dan berjalan ke arah Bugatti.
“Permisi,” ucapnya tenang,
“tolong beri jalan.”
“Pemilik mobilnya datang?”
Beberapa orang menoleh dengan penuh harap. Namun saat melihat Kevin sanjaya yang mengenakan seragam Ojol dan membawa kotak pengantaran di punggungnya, ekspresi mereka langsung berubah.
Raut antusias berubah menjadi kecewa.
kevin sanjaya tidak peduli. Ia hanya tersenyum tipis sambil menatap mobil itu dari dekat.
“Bugatti Veyron,” gumamnya.
“Jadi inilah yang disebut legenda.”
Ia mengulurkan tangan dan menyentuh bodi mobil yang dingin dan sempurna itu. Permukaannya halus, nyaris tanpa cela.
“Jangan sembarangan menyentuh!”
Beberapa pria langsung menegurnya dengan nada meremehkan.
“Tahu tidak harga mobil ini? Dua puluh Miliar! Kalau sampai tergores, kamu tidak akan sanggup membayarnya!”
Bisik-bisik meremehkan terdengar di sekelilingnya.
Namun Kevin sanjaya hanya tersenyum, sama sekali tidak terpancing emosi.
“Mobil ini milikku,” katanya santai.
“Aku bebas melakukan apa pun.”
Semua orang terpaku dengan perkataannya.
“Apa? Kurir sekarang sudah berani sesombong ini?”
Tawa keras meledak dari kerumunan.
Tanpa menjelaskan apa pun, Kevin sanjaya mengeluarkan kunci mobil dari sakunya dan menekannya.
Lampu Bugatti langsung menyala terang.
Pintu mobil terbuka perlahan, disertai suara mekanis yang halus.
Tawa itu seketika terhenti.
Ekspresi mengejek berubah menjadi keterkejutan.
“Tidak mungkin…” “Ini… mobilnya benar-benar milik dia?”
Kevin sanjaya melepas helm Ojolnya dengan tenang, meletakkan kotak pengantaran di kursi penumpang, lalu duduk di balik kemudi.
Saat mesin dinyalakan, raungan rendah yang bertenaga menggema di udara malam.
Lampu depan menyorot tajam ke depan.
Semua orang terdiam.
Itulah pemandangan yang hanya ada dalam mimpi banyak pria.
Dan kini, mimpi itu…
menjadi milik seorang Kevin sanjaya.
aku kasih kopi deh biar semngat trus😁