Di Desa Oetimu, Nusa Tenggara Timur, hidup adalah perjuangan melawan tanah merah yang retak dan matahari yang membakar. Jonatan, seorang pemuda cerdas namun miskin, tumbuh besar dalam bayang-bayang penghinaan. Di sekolah, ia dijuluki "Anak Tanah" dan dipandang sebelah mata oleh mereka yang berpunya. Namun, di balik seragamnya yang menguning, Jonatan menyimpan mimpi besar: memutus rantai kemiskinan keluarganya.
Kesempatan emas datang ketika ia diterima di sebuah universitas ternama di Jawa. Namun, mimpi itu menuntut harga yang sangat mahal. Demi tiket berangkat, ayahnya, Pak Berto, secara rahasia menggadaikan tanah warisan leluhur kepada rentenir kejam. Kepergian Jonatan pun berubah menjadi sebuah pertaruhan hidup-mati; jika ia gagal, keluarganya akan kehilangan segalanya.
Jakarta ternyata jauh lebih dingin daripada kemarau di NTT. Jonatan harus berjuang melawan diskriminasi dan rasa lapar yang mencekik. Di tengah rasa putus asa saat kiriman uang terhenti karena ayahnya jatuh sakit,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon joekris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: PERTARUHAN DI BALIK PINTU BAMBU
Jika sekolah adalah medan perang bagi harga diri Jonatan, maka rumah adalah medan perang bagi kelangsungan hidupnya. Sore itu, Jonatan pulang dengan tubuh yang terasa remuk. Perjalanan dua jam di bawah siraman matahari yang seolah hendak mengelupas kulit membuatnya tiba di Desa Oetimu dengan langkah gontai. Namun, kelelahan fisiknya mendadak sirna saat ia melihat sebuah pemandangan yang tak biasa di depan rumah bambunya.
Sebuah sepeda motor mengkilap—benda yang sangat asing di desa mereka yang miskin—terparkir miring di depan teras. Suara tawa yang keras dan parau terdengar dari dalam, bersahutan dengan suara ayahnya yang terdengar rendah dan penuh nada memohon.
Jonatan berhenti di bawah pohon mangga yang meranggas, jantungnya berdegup tidak beraturan. Ia mengenal suara itu. Itu adalah suara Tuan Markus, seorang tengkulak sekaligus rentenir desa yang paling ditakuti. Orang-orang menyebutnya "Sang Lintah", karena sekali ia menempel pada nasib seseorang, ia tidak akan lepas sampai darah terakhir orang itu terhisap habis.
Dengan langkah sepelan mungkin, Jonatan mendekati dinding bambu rumahnya. Ia menempelkan telinganya pada celah-celah kayu yang sudah mulai lapuk.
"Berto, aku ini bukan lembaga amal," suara Tuan Markus terdengar tajam, diikuti bunyi korek api yang menyala. "Sudah tiga musim panen kau hanya memberiku janji. Tanah ini tidak akan menghasilkan apa-apa tanpa air, dan air tidak akan turun hanya karena kau menangis di bawah pohon."
"Tolong, Tuan. Kasih saya waktu satu musim lagi," suara Pak Berto bergetar, ada kehancuran yang nyata di sana. "Anak saya, Jonatan, dia mau lulus. Dia punya kesempatan sekolah di Jawa. Kalau dia sukses, semua hutang saya akan lunas, bahkan dengan bunganya."
Tawa Tuan Markus meledak, sebuah tawa yang menghina dan kering. "Sekolah di Jawa? Kau bermimpi terlalu tinggi, Berto! Anak petani seperti kita ini, lahir di atas tanah, mati pun di dalam tanah. Jangan kau korbankan sisa hidupmu untuk mimpi kosong anakmu itu. Berikan saja sertifikat tanah ini padaku sekarang, dan kau boleh tetap tinggal di sini sebagai buruhku. Itu jauh lebih masuk akal."
Jonatan memejamkan mata kuat-kuat. Tangannya mencengkeram tiang bambu hingga serpihan kayunya menusuk kulitnya. Rasa perih itu tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit yang menghujam dadanya. Ayahnya sedang memohon-mohon, merendahkan martabatnya demi masa depan Jonatan. Ayah yang biasanya diam dan teguh, kini seperti selembar daun kering yang diinjak-injak di bawah sepatu Tuan Markus.
"Tidak, Tuan. Saya tidak akan memberikan tanah warisan ini kecuali jika saya sudah tidak bernapas lagi," suara Pak Berto tiba-tiba mengeras, ada sisa-sisa keberanian yang tersisa.
"Baik kalau begitu," Tuan Markus berdiri, suara langkah sepatunya terdengar berat di atas lantai tanah. "Tapi ingat, bunga tetap berjalan. Dan jika dalam tiga bulan kau tidak bisa membayar cicilan pokoknya, jangan salahkan aku kalau aku datang membawa polisi untuk menyeretmu keluar dari gubuk ini."
Jonatan segera bersembunyi di balik semak-semak saat Tuan Markus keluar dari rumah dengan wajah angkuh, lalu memacu motornya hingga menimbulkan kepulan debu yang menutupi pandangan.
Setelah suasana tenang, Jonatan masuk ke dalam. Di ruang tengah yang hanya beralaskan tikar pandan yang sudah sobek, ia melihat ayahnya duduk termenung. Pak Berto memegang selembar kertas tua yang kusam—sertifikat tanah peninggalan kakek Jonatan. Wajah ayahnya tampak sangat pucat di bawah temaram cahaya sore yang menyelinap dari jendela.
"Bapak..." panggil Jonatan pelan.
Pak Berto tersentak, lalu dengan cepat menyembunyikan kertas itu ke balik bajunya. Ia mencoba memasang wajah tegar, namun matanya tidak bisa berbohong. Ada ketakutan luar biasa di sana.
"Oh, kau sudah pulang, Jon. Bagaimana sekolahmu?" tanya Pak Berto, berusaha mengalihkan pembicaraan.
Jonatan duduk di samping ayahnya. Ia tidak ingin berpura-pura. "Aku dengar semuanya, Bapak. Kenapa Bapak tidak bilang kalau hutang kita sebanyak itu?"
Pak Berto terdiam lama, matanya menatap kosong ke arah pintu yang terbuka. "Tugasmu itu belajar, Jon. Bukan memikirkan hutang. Bapak ini masih punya tangan dan kaki. Bapak akan cari jalan."
"Jalan apa, Bapak? Tanah kita kering. Hujan tidak mau turun. Kalau Bapak memaksakan diri, Tuan Markus akan mengambil rumah ini. Aku... aku tidak perlu ke Jawa. Aku bisa bekerja di kota kabupaten, jadi buruh bangunan. Uangnya bisa untuk bayar hutang," suara Jonatan tercekat di tenggorokan.
Tiba-tiba, Pak Berto memegang bahu Jonatan dengan cengkeraman yang sangat kuat. "Dengar, Jon. Seumur hidup, Bapak selalu dipandang sebelah mata oleh orang-orang seperti Markus. Mereka pikir kemiskinan kita adalah kutukan yang tidak bisa dipatahkan. Tapi Bapak lihat ada cahaya di matamu. Kau cerdas. Kau punya sesuatu yang tidak mereka punya. Jika kau tinggal di sini dan jadi buruh, kau hanya akan jadi Berto yang kedua. Kau akan terjebak di lingkaran setan ini selamanya."
Pak Berto menarik napas panjang, suaranya kini melunak. "Pergilah ke Jawa. Buktikan bahwa anak Oetimu bisa berdiri lebih tinggi dari mereka semua. Tanah ini... biarlah Bapak yang menjaganya. Ini adalah pertaruhan terakhir keluarga kita. Jika kau gagal, kita kehilangan semuanya. Tapi jika kau berhasil, kau akan memerdekakan kita."
Malam itu, Desa Oetimu terasa lebih sepi dari biasanya. Di dapur, ibunya, Bu Maria, sedang memasak jagung titi dengan mata yang sembab. Rupanya, ia juga mendengar ancaman Tuan Markus. Tidak ada kata-kata yang terucap di meja makan malam itu. Hanya ada suara sendok yang beradu dengan piring plastik dan suara jangkrik di luar sana.
Jonatan tidak bisa memejamkan mata. Ia berbaring di atas bale-bale bambu, menatap atap rumbia yang mulai bocor. Di dalam pikirannya, ia membayangkan perjalanan yang akan ia tempuh. Ia tahu bahwa ia tidak akan pergi dengan membawa uang yang banyak. Ia akan pergi dengan membawa beban seluruh harapan keluarganya di atas pundaknya.
Setiap lembar rupiah yang akan digunakan untuk tiket kapalnya nanti adalah tetes keringat dan air mata orang tuanya. Setiap suap nasi yang ia makan nanti adalah hasil dari harga diri ayahnya yang digadaikan.
Jonatan bangkit, mengambil buku catatannya di bawah lampu minyak yang hampir padam. Dengan tangan yang gemetar, ia menuliskan sesuatu di bawah impiannya yang kemarin: Aku tidak akan pergi untuk mencari kesenangan. Aku pergi untuk menjemput kembali harga diri Bapak yang diinjak-injak hari ini.
Ia menyadari bahwa keberangkatannya ke kota bukan lagi sekadar pelarian dari kemiskinan, melainkan sebuah misi penyelamatan. Di balik pintu bambu yang rapuh itu, sebuah sumpah telah dibuat. Jonatan tidak lagi merasa seperti anak sekolah yang lemah. Di dalam dadanya, ia merasa seperti seorang prajurit yang sedang bersiap untuk pergi ke medan perang yang sesungguhnya.
Dunia mungkin masih melihatnya sebelah mata, namun Jonatan tahu, mata yang sebelah lagi kini sedang menatap masa depan dengan api yang tidak akan pernah bisa dipadamkan oleh siapa pun, bahkan oleh Sang Lintah sekalipun.
tanah outimu menanti perubahan & akan mendukungmu jon, 💪💪💪
smoga keberuntungan sll menyertaimu 💪💪💪
kasian