Tio tidak pernah meminta untuk mati—apalagi tereinkarnasi dan bangun di dunia kultivasi brutal sebagai Ci Lung di Benua Tianlong.
Dengan tekad sederhana untuk hidup tenang di Lembah Sunyi, ia mencoba menjauh dari sekte, perang, dan orang-orang yang bisa membelah gunung hanya dengan bersin. Sayangnya, sebuah sistem misterius muncul, memberinya kekuatan… sekaligus hutang yang terus bertambah.
Lebih sial lagi, dunia mulai salah paham dan menganggapnya sebagai ahli tersembunyi yang menakutkan—padahal tingkat kultivasinya sebenarnya masih pas-pasan.
Di belakangnya berdiri Gu Shentian, guru di puncak Void Realm yang terlalu kuat untuk dijelaskan. Di sampingnya ada Yan Yu, murid kecil yang terlalu percaya bahwa gurunya adalah legenda hidup.
Ci Lung hanya ingin hidup normal.
Masalahnya…
Setiap kali ia mencoba, langit justru retak duluan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Monster Kuat Muncul
Bangunan tua yang terletak di tengah lembah itu seharusnya selalu sunyi. Bukan sunyi yang kosong, melainkan sunyi yang menetap. Seperti tempat yang sudah lama berdamai dengan dirinya sendiri.
Malam itu, kesunyian itu terasa berbeda.
Ci Lung terbangun bukan karena suara, melainkan karena sesuatu terasa bergeser. Bukan karena angin, bukan aliran qi, melainkan sensasi samar yang sulit dijelaskan, seperti saat lantai yang biasa kamu pijak tiba-tiba terasa tidak sepenuhnya rata seperti menggeronjal.
Ia duduk dengan perlahan, punggungnya masih bersandar pada dinding batu yang dingin. Di luar bangunan, kabut lembah bergerak lebih tebal dari biasanya, menggulung rendah di antara pepohonan yang tinggi.
“…….”
Ci Lung menatap ke arah batas lembah.
Barrier itu tidak terlihat, seperti biasa. Tidak ada cahaya, tidak ada getaran besar. Namun, bertahun-tahun hidup di dalamnya membuatnya mengenali perubahan sekecil apa pun. Ia bisa merasakan bagian tertentu dari lembah itu tidak lagi “tertutup” seperti sebelumnya.
Bukan menghilang, Tapi menipis.
Ia segera berdiri, melangkah keluar dari bangunan tua, dan menghirup udara malam. Qi masih mengalir dengan normal, terlalu normal dan justru itu yang membuat tengkuknya terasa kedinginan.
“OUW SIALAN, Jangan bilang…” gumamnya pelan.
Jawaban datang bukan dari suara, melainkan dari tanah yang bergetar halus dari kejauhan.
SESUATU MASUK
taptaptaptap.
Langkah itu berat. Tidak tergesa-gesa. Tidak berhati-hati dan terasa seperti orang kehilangan akalnya.
Sesuatu berjalan melewati batas lembah dengan cara paling sederhana: terus maju.
Pepohonan serta daun mulai bergeser, bukan karena dihantam sesuatu, melainkan karena memilih memberi jalan. Aura asing yang tak dikenali mulai mendekat, namun aura itu tidak agresif, tapi jelas bukan bagian kehidupan dari lembah ini. Seperti noda hitam di kain putih yang terlalu lama bersih.
Saat sosok itu muncul dari balik kabut, Ci Lung langsung tahu satu hal.
Ini bukan monster biasa.
Tubuhnya sangat besar, makhluk itu bersisik gelap dengan tulang menonjol di bahu dan punggung.
Matanya merah kusam seperti darah yang telah lama dingin, tidak menyala oleh emosi, hanya fokus pada satu hal: keberadaan hidup di depannya.
Monster itu berhenti beberapa langkah darinya.
Untuk sesaat, mereka saling diam.
Ci Lung bisa merasakannya, keraguan samar datang dari makhluk itu. Seolah instingnya mengatakan bahwa tempat ini salah, bahwa mangsa di depannya bukanlah sesuatu yang seharusnya disentuh.
Namun insting lain lebih kuat.
kelaparan.
Monster itu bergerak.
SERANGAN YANG TIDAK TERHINDARKAN
Tidak ada teknik. Tidak ada strategi.
Cakar besar itu menyapu udara dengan kekuatan mentah dari tubuhnya. Ci Lung refleks menghindar, tubuhnya yang ringan bergerak lebih cepat dari yang ia sadari, tapi itu saja tetap tidak cukup.
Rasa panas menjalar ke bahunya.
Ia terhuyung satu langkah ke belakang.
Darahnya mulai menetes.
Ci Lung menatapnya sebentar, agak terkejut oleh kesederhanaan rasa itu, rasa perih yang nyata, tidak bisa diabaikan sama sekali.
Sudah lama sekali.
Monster itu tidak berhenti dan seolah semakin bertambah kuat. Serangan kedua datang lebih cepat, lebih dekat. Ci Lung mundur ke belakang, napasnya mulai tidak teratur. Ia tidak merasa panik, tapi pikirannya kosong, mencoba mencari sesuatu yang selama ini tidak pernah ia perlukan.
Teknik bertarung.
Pengalaman hidup dan mati.
Ia tidak mempunyai itu.
Selama ini, ia bertahan dengan cara lain: menghindar, bersembunyi, menunggu dunia lupa bahwa ia ada. Itu cukup, namun sampai hari ini saja.
Cakar monster kembali terangkat.
Tepat sebelum serangan itu jatuh.
Penglihatannya terdistorsi oleh sesuatu yang samar.
Tulisan transparan muncul di hadapannya, dingin dan rapi, seolah sudah lama menunggu momen ini.
[Kondisi Pengguna: Cedera]
[Ancaman: Tinggi]
[Opsi Bertahan Hidup Tersedia]
Ci Lung membeku sepersekian detik.
“…goblok kenapa kau baru muncul sekarang?” gumamnya.
Monster itu meraung, cakar hampir menyentuhnya.
[Terobosan Darurat Dapat Diaktifkan]
[Berbasis Adaptasi Tubuh Suci]
[Konsekuensi Permanen]
Kata permanen membuat dadanya terasa berat.
Ia tahu artinya.
Sekali ia melangkah ke depan, ia tidak bisa kembali ke kehidupan lama, ke hari hari sepi tanpa sorotan, tanpa ekspektasi.
Ia bisa saja menolak tawaran itu.
Ia bisa berlari. Bersembunyi. Lalu berharap monster ini segera pergi.
Tapi berharap bukanlah rencananya.
Dan dunia takkan berhenti hanya karena seseorang ingin diam.
Ci Lung menghela napas panjang. Bukan untuk mengumpulkan qi, melainkan untuk menenangkan pikirannya sendiri.
“kau muncul kagak buat nolong, sialan” katanya pelan.
“kau muncul cuman buat maksa aku memilih.”
Tidak ada jawaban yang keluar.
Ia tersenyum tipis.
“Ya udah, oke kalo gitu aku terima.”
Saat ia menerima opsi itu, sesuatu di dalam tubuhnya berubah cara kerjanya.
Qi tidak meledak. Dan tidak mengamuk.
Ia menyusun ulang.
Seolah tubuh Ci Lung akhirnya berhenti menahan diri, berhenti berpura-pura menjadi wadah biasa. Aliran qi yang selama ini ia rasakan samar kini terasa sangat jelas, setiap jalur didalam tubuh, setiap tekanan, setiap batas.
Ia tidak naik tingkat seperti kultivator lain.
Ia menjadi sadar.
Saat monster menyerang lagi, Ci Lung tidak menghindar.
Ia melangkah masuk ke jangkauan serangan, memutar tubuhnya sedikit, lalu memukul.
Tinju itu sangat sederhana. Tidak berkilau. Tidak disertai dengan teriakan.
Namun ketika mengenai dada monster.
Krakkz.
Suara retakan terdengar jelas.
Tubuh besar itu terlempar jauh, menghantam pepohonan, dan terguling beberapa kali sebelum berhenti.
Monster itu bangkit tertatih dengan memegang lukanya.
Kali ini, matanya tidak lagi kosong, dia seolah merasa ketakutan.
Ia mundur.
Tidak cepat. Tidak panik.
Tapi cukup jelas bahwa ia tidak berniat melanjutkan.
Ci Lung berdiri di tempatnya, napasnya berat, tubuhnya terasa sangat asing, bukan lebih kuat, tapi lebih jujur. Seolah tubuhnya tidak lagi menyembunyikan apa yang ia miliki.
Monster itu akhirnya berbalik dan pergi dengan berlari sambil terpincang pincang, menghilang ke balik kabut, membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada luka.
Pengalaman.
Ci Lung menatap ke arah batas lembah.
Barrier itu tidak kembali normal.
Ia tahu, mulai hari ini, lembah ini tidak lagi sepenuhnya tertutup dari dunia.
Lalu setelah itu sistem muncul sekali lagi.
[Status: Bertahan Hidup]
[Catatan: Dunia Mulai Mengenali Keberadaan Anda]
Ci Lung mengusap debu diwajahnya, lalu ia tertawa kecil tapi tidak ada ekspresi.
“Repot banget sih,gitu doang aja kok,” gumamnya.
Ia menoleh ke bangunan tua itu, ke tempat hidup yang selama ini ia pertahankan dengan cara paling pasif yang ia bisa.
Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari satu hal dengan jelas:
diam bukan lagi pilihan yang aman.
Dan kalo boleh jujur,
Kalau authornya konsisten pakai gaya ini, ini bisa jadi ciri khas yang beda dari pasar murim mainstream, aku bakal lanjut baca.
Inget thor aku bakal jadi salah satu pembaca yang marah kalo Yan yuu kenapa-kenapa😠