Lahir pada malam 1 Suro setelah dikandung dua belas bulan, seorang bayi menjadi incaran para pendekar aliran hitam dan putih. Di tengah pertumpahan darah, ia menghilang dari dunia manusia.
Diasuh oleh makhluk mitos di rimba purba, ia tumbuh dengan ilmu yang tak dikenal perguruan mana pun. Ia belajar dari angin, dari api, dan dari naluri alam.
Saat dewasa, Braja Geni kembali ke dunia persilatan.
Kehadirannya menggemparkan jagat kanuragan. Jurusnya tak berpihak pada putih maupun hitam—ia adalah kekuatan baru yang mengancam keseimbangan.
Namun di balik kesaktiannya, tersembunyi rahasia kelahiran dan takdir besar yang akan menentukan arah dunia persilatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Sebelum kau mati, katakan siapa namamu. Akan lebih baik bila aku mengetahui nama calon korbanku,” ujar Ki Jarwo dengan suara dingin.
Ki Baraya tersenyum tipis.
“Apalah artinya sebuah nama. Aku telah lama meninggalkan dunia persilatan. Namun orang-orang sepertimu rupanya memaksaku kembali melangkah ke jalan lama.”
Ia menegakkan tubuhnya.
“Namaku… Baraya.”
Sejenak Ki Jarwo terdiam.
Nama itu seperti menggema di kepalanya. Ia teringat seorang pendekar yang puluhan tahun lalu pernah menggemparkan bumi Pasundan. Seorang lelaki yang tiba-tiba menghilang tanpa jejak, seakan ditelan kabut zaman.
“Baraya… Pedang Keramat?” tanyanya perlahan, nyaris tak percaya.
“Begitulah orang-orang memanggilku,” jawab Ki Baraya tenang.
Sorot mata Ki Jarwo berubah. Bukan lagi sekadar marah—kini ada kewaspadaan bercampur gairah membunuh.
Ia pun mengambil kuda-kuda.
“Ternyata malam ini aku bertemu pendekar yang telah lama hilang. Sayang sekali kau menolak bergabung dengan kami. Maka tak ada pilihan lain. Kau harus dimusnahkan. Kau akan menjadi penghalang besar bagi langkah kami ke depan. Heyaaa…!”
Telapak tangan Ki Jarwo berputar, membentuk lengkung tajam di udara. Sebuah tebasan tenaga dalam meluncur deras mengarah ke leher Ki Baraya.
Ki Baraya segera melenting ke belakang.
Angin berisi tenaga dalam itu melesat melewati lehernya. Meski tak mengenai sasaran, hembusannya saja cukup membuat kulitnya terasa perih, seakan tergores bilah tipis tak kasatmata.
Ki Jarwo memang tak berniat bermain-main.
Sejak awal ia datang dengan niat membunuh. Ia sadar betul, jika lelaki di hadapannya benar-benar Baraya Pedang Keramat, maka membiarkannya hidup sama saja dengan membuka ancaman besar. Terlebih Ki Baraya telah menyusup ke perkemahan dan mengetahui rencana mereka. Bila informasi itu sampai ke pihak Pajajaran, ratusan prajurit bayangan yang bersembunyi di hutan bisa terancam sebelum sempat bergerak.
Malam semakin sunyi.
Tak ada lagi kata-kata.
Kini yang berbicara hanyalah tenaga dalam—
dan niat membunuh yang tak disembunyikan lagi.
Namun orang yang hendak ia bunuh bukanlah sembarang lawan. Ia adalah pendekar yang pernah mengguncang dunia persilatan Pasundan. Walau rambutnya telah memutih dan usianya menua, tenaga dalamnya tak pernah surut oleh waktu.
Dengan gerakan ringan namun terukur, Ki Baraya menghindari setiap tebasan maut Ki Jarwo.
“Tapak Sakti dari Bukit Tengkorak…” ujar Ki Baraya santai sambil berkelit. “Hei, gurumu si Mata Belo bermulut mancung itu… apa masih hidup?”
Ucapan itu seperti minyak yang disiram ke bara.
“Bajingan kau! Heyaaa!” teriak Ki Jarwo, serangannya makin menggila.
Sesungguhnya Ki Jarwo sempat terperangah. Tak banyak orang yang mampu mengenali jurusnya hanya dari satu dua gerakan. Apalagi mengetahui gurunya yang memang telah lama wafat. Namun ejekan itu membakar harga dirinya.
Amarahnya memuncak.
Telapak tangannya perlahan memancarkan cahaya kemerahan, seperti bara yang menyala di balik kulit. Hawa panas menguar dari setiap tebasannya. Inilah puncak ajian Tapak Sakti dari Bukit Tengkorak—ilmu yang memusatkan tenaga dalam pada telapak tangan hingga mampu merobek daging tanpa menyentuh.
Ki Baraya mulai terdorong mundur.
Angin yang melesat dari setiap sabetan telapak Jarwo membuat kulitnya terasa seperti teriris bilah tipis. Ujung bajunya koyak, darah tipis mulai merembes di lengan dan lehernya.
“Hahaha! Sebentar lagi kau akan mampus! Tak ada yang bisa menandingi Tapak Saktiku! Bahkan Baraya Pedang Keramat akan musnah di tanganku! Heyaaaa!”
Sebuah tebasan kilat meluncur cepat, mengarah lurus ke dada Ki Baraya.
Namun kali ini Ki Baraya tak lagi menghindar.
Ia menghentakkan kaki, memusatkan tenaga di kepalan tangannya, lalu menyambut tebasan itu dengan tinju lurus.
“Buggghh!”
“Arggghh!”
Benturan dua tenaga dalam itu menggetarkan tanah di bawah mereka. Gelombang hawa memancar ke segala arah, membuat daun-daun berjatuhan.
Ki Jarwo terpental beberapa langkah, wajahnya meringis kesakitan sambil memegangi pergelangan tangannya.
Ketika ia menatap tangan Ki Baraya, napasnya tercekat.
Kepalan itu menghitam legam, berkilau seperti besi yang ditempa api.
“Aji Tapak Wesi…” desis Ki Jarwo dengan mata melebar.
Ki Baraya perlahan menurunkan tangannya.
“Ilmu telapakmu memang ganas,” ujarnya tenang, meski napasnya mulai berat. “Tapi kau lupa… besi tak mudah dibelah oleh bara.”
Tatapan keduanya kembali bertemu.
Kini bukan lagi sekadar duel dua pendekar.
Ini adalah pertarungan antara bara yang membakar—
melawan baja yang ditempa kesabaran dan pengalaman puluhan tahun.