17 Agustus 1996.
Bagi Julian "Lian" Pratama, hari ini seharusnya menjadi titik akhir. Di balik senyum sempurna sang Ketua OSIS, jiwanya telah lama kosong. Ia menaiki rooftop sekolah, siap untuk pergi selamanya.
Namun, alih-alih keheningan, yang terdengar hanya bunyi "KLIK" dari sebuah Walkman tua.
Lian terbangun kembali di pagi yang sama. Upacara yang sama. Kebosanan yang sama. Terjebak dalam loop waktu yang tak berujung, dunia Lian perlahan memudar menjadi hitam-putih. Hingga ia menemukan satu anomali: Kara Anjani.
Gadis pecinta musik grunge itu adalah satu-satunya yang tetap berwarna di mata Lian. Anehnya, setiap kali hari berulang, ada detail kecil pada Kara yang tidak ikut terhapus.
Apa hubungan Kara dengan putaran waktu ini? Dan jika Lian berhasil menekan tombol Stop pada kaset misterius itu, apakah ia akan bebas... atau justru kehilangan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vorlagh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bau Minyak Kayu Putih
Senin, 19 Agustus 1996.
Pukul 07:15 WIB.
BRUK.
Aspal itu keras. Panas. Kasar.
Lian merasakan kulit lututnya terparut permukaan lapangan basket. Rasa perih yang menyengat langsung menjalar ke otak.
Bukan sakit digital. Ini sakit biologis.
"Akh..." Lian mengerang, matanya mengerjap melawan sinar matahari yang menyilaukan.
Bising.
Suara yang mendenging di telinganya bukan lagi suara statis radio rusak atau alarm pemusnahan massal.
Itu suara jeritan manusia.
"KESURUPAN! ADA YANG KESURUPAN!"
"Panggil Pak Guru! Panggil!"
"Ya Allah, itu Lian Ketua OSIS ngapain guling-gulingan sama cewek?!"
"Eh, minggir woy! Jangan ditontonin!"
Lian mengangkat kepala yang terasa beratnya minta ampun. Pandangannya berputar.
Dia berada di tengah lapangan upacara SMA Merah Putih.
Tapi tidak ada Pintu Kayu Jati. Tidak ada Rantai Kenangan. Tidak ada lubang di langit.
Di sekelilingnya, ratusan siswa berkerumun membentuk lingkaran besar. Wajah mereka bukan wajah rata atau toa masjid.
Wajah mereka... normal. Penuh jerawat remaja, minyak, keringat, dan ekspresi kepo (ingin tahu) bercampur ngeri.
"Ra...?" panggil Lian serak.
Dia menoleh ke samping.
Kara tergeletak di aspal, tepat di sebelahnya. Kondisinya berantakan.
Gaun pastel pink yang dia pakai di "Dunia Mimpi" tadi kini lenyap. Berganti menjadi Seragam Putih Abu-abu biasa yang kotor oleh tanah. Rambutnya awut-awutan. Sepatunya (yang di dunia mimpi jebol) kini utuh, tapi salah satu talinya lepas.
Kara membuka mata. Dia terbatuk, memuntahkan cairan bening (air liur). Napasnya tersengal-sengal seperti orang yang baru tenggelam.
"BUBAAAAAAARRRR!!"
Suara itu meledak seperti petasan banting.
Kerumunan siswa terbelah.
Pak Surip—Guru Kedisiplinan yang asli—datang menerjang dengan wajah merah padam, kumis tebalnya bergetar karena marah. Di tangannya ada rotan penunjuk.
Ini bukan Pak Surip robot yang dingin. Ini Pak Surip manusia yang emosian.
"Kalian ini apa-apan?! Upacara baru mulai lima menit malah bikin onar!" Pak Surip menunjuk wajah Lian dengan rotannya. "Julian! Kamu ini Ketua OSIS macam apa? Teriak-teriak di tengah lapangan, narik-narik siswi kelas dua sampai pingsan?!"
Lian bingung.
"Pak... s-sekolahnya nggak meledak?" tanya Lian gagap.
"Meledak apanya?! Otak kamu yang meledak!" semprot Pak Surip. "Bangun! Jangan drama kamu!"
Lian ditarik paksa kerahnya oleh Pak Surip. Kara juga ditarik berdiri oleh dua guru wanita (Bu Nining dan Bu Sri) dengan wajah jijik dan kasihan.
"Bawa ke UKS!" perintah Pak Surip. "Sisanya kembali ke barisan! Kalau ada yang ketawa saya setrap hormat tiang bendera sampai sore!"
Kara menangis. Tangisannya pelan, lirih.
Dia menatap Lian saat mereka dipisahkan. Matanya memancarkan ketakutan yang berbeda: Ketakutan sosial.
Tadi mereka pahlawan yang menghancurkan sistem. Sekarang mereka hanyalah "Tontonan Aneh" satu sekolah.
"Kak Lian..." bisik Kara saat dia diseret menjauh ke arah ruang guru BP, sementara Lian diseret ke arah UKS.
Lian ingin mengejarnya. Tapi kakinya lemas seperti jeli. Dan kepalanya... sakit kepala hebat menghantamnya lagi. Depresi itu kembali. Beratnya dua kali lipat dari sebelumnya karena adrenalinnya sudah habis.
...----------------...
Unit Kesehatan Sekolah (UKS). Pukul 07:30.
Bau itu.
Bau khas UKS: alkohol 70%, obat merah, dan aroma minyak kayu putih yang menyengat.
Lian duduk di tepi ranjang periksa dengan sprei putih.
Seorang petugas PMR (Palang Merah Remaja), adik kelas yang gemetaran, sedang membersihkan luka di lutut dan siku Lian dengan kapas.
"Ssshh... sakit, Dek," desis Lian.
"Ma-maaf, Kak Lian," cicit gadis PMR itu, tidak berani menatap mata idola sekolah yang barusan jatuh dari takhta kewarasannya.
Tirai pembatas tersibak kasar.
Riko masuk.
Riko yang ini memakai seragam kemeja putih yang sedikit keluar, dasi longgar, dan rambut agak gondrong (bukan cepak tentara).
Dan di lehernya menggantung kamera Nikon FM2 yang utuh. Tidak hancur. Tidak retak.
"Gila lo, Yan," Riko menggelengkan kepala, wajahnya campuran antara khawatir dan takjub. "Sumpah, lo gila."
Lian menatap sahabatnya. Dia ingin memeluk Riko saking leganya melihat Riko "rusak" dan tidak sempurna lagi.
"Rik... lo nyata?" Lian menyentuh lengan Riko.
"Nyata lah, bego! Lo pikir gue hantu?" Riko menepis tangan Lian, lalu duduk di kursi sebelah ranjang. Dia mengeluarkan bungkus rokok dari saku celana (pelanggaran berat di UKS), tapi hanya memainkannya di jari, tidak berani menyalakan.
"Ceritain ke gue, Yan," kata Riko serius. "Lo kenapa? Tiba-tiba pas lagi baca teks Pancasila, lo berhenti. Lo diem lima menit. Mata lo kosong. Terus tiba-tiba lo teriak 'PINTU!' dan lari ke tengah lapangan ngejar adek kelas itu."
Lian terdiam.
Jadi itu yang dilihat orang-orang?
Bagi dunia nyata, Lian mengalami blip (jeda) psikotik selama beberapa menit. Tapi bagi Lian dan Kara, mereka sudah petualangan selama 3 hari di dimensi lain.
"Gue..." Lian memegang kepalanya yang masih pening. "Gue liat sesuatu yang nggak beres, Rik. Sekolah ini..."
"Sekolah ini emang nggak beres, tapi lo lebih nggak beres," potong Riko. Nada suaranya turun, lebih empatik. "Anak-anak pada bilang lo kesurupan penunggu pohon beringin. Tapi gue tau lo nggak percaya gituan."
Riko mendekatkan wajahnya.
"Obat lo... lo masih minum obat dari psikiater lo, kan?"
Pertanyaan itu menampar Lian.
Di dimensi Loop, depresi Lian dimanifestasikan jadi monster dan hujan. Di sini? Depresi hanyalah penyakit. Gangguan kimiawi otak yang membuatnya dianggap tidak stabil.
"Gue... kayanya lupa minum, Rik," bohong Lian. Padahal dia sudah tidak minum obat itu seminggu karena merasa obat itu membuatnya tumpul.
"Tck," Riko berdecak. Dia membuka tutup lensa kameranya, membidik wajah Lian yang kusut.
Cekrek.
Dia memotret Lian.
"Buat apa?" Lian menutup wajah.
"Buat bukti," kata Riko sambil memutar tuas film. "Bahwa hari ini, sang Ketua OSIS Julian Pratama akhirnya jadi manusia biasa. Lo berantakan, Yan. Dan jujur aja? Gue lebih suka lo yang ginian daripada lo yang senyum palsu tiap hari."
Lian tersenyum tipis.
Kalimat itu. Itu resonansi dari Riko di TPA sampah.
Riko yang asli memang menyukai kejujuran, sejelek apa pun itu.
"Kara gimana?" tanya Lian mengalihkan topik.
"Siapa? Cewek mading itu?" Riko mengangkat bahu. "Dibawa ke BP sama Bu Nining. Kayanya bonyoknya dipanggil. Denger-denger dia histeris pas sadar. Teriak-teriak soal kaset."
Lian langsung turun dari ranjang, mengabaikan nyeri di lututnya.
"Gue harus ke sana."
"Eits! Mau ke mana lo?" Riko menahan bahu Lian. "Di luar ada Pak Surip lagi ngasah golok—eh, rotan. Lo keluar, abis lo."
"Gue nggak peduli, Rik. Dia... dia butuh gue."
Lian menepis tangan Riko dan berjalan pincang keluar UKS.
...----------------...
Depan Ruang Bimbingan Konseling (BP). Pukul 08:00.
Koridor sepi karena KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) jam pertama sudah dimulai.
Lian berdiri di samping pintu ruang BP yang tertutup rapat. Dia menempelkan telinganya ke kayu pintu.
Terdengar isak tangis di dalam.
Bukan suara Kara. Tapi suara wanita dewasa. Ibu Kara.
"Maafkan anak saya, Bu... Saya juga bingung. Di rumah dia baik-baik saja. Mungkin... mungkin dia salah bergaul."
Lalu suara tegas Bu Nining terdengar.
"Ini bukan soal pergaulan saja, Bu. Kara berteriak hal-hal yang tidak masuk akal. 'Dunia palsu', 'kabel monster'. Kami khawatir Kara mengalami gangguan delusi berat. Atau mungkin, maaf, pengaruh obat-obatan terlarang?"
"Demi Tuhan, nggak mungkin, Bu!" sang Ibu menangis makin keras. "Kara anak baik..."
Lian mengepalkan tangannya di balik tembok. Kuku jarinya menancap ke telapak tangan sampai sakit.
Dunia nyata memang kejam.
Pengalaman magis mereka diredusir menjadi diagnosa medis dingin: Delusi. Narkoba.
Tak lama kemudian, pintu BP terbuka.
Lian buru-buru bersembunyi di balik pot tanaman besar.
Seorang wanita paruh baya (Ibu Kara) keluar sambil memapah Kara.
Wajah Ibu Kara sembab, matanya merah. Wajah Kara... tertunduk dalam. Sangat dalam. Rambutnya menutupi wajah. Bahunya merosot seperti orang yang sudah menyerah pada hidup.
Mereka berjalan menuju gerbang sekolah. Kara dipulangkan paksa. Skorsing. Atau mungkin dikeluarkan?
Saat mereka melewati pot tempat Lian bersembunyi, Kara berhenti sejenak.
Dia tidak menoleh. Dia tidak mengangkat wajah.
Tapi tangannya bergerak pelan ke saku roknya.
Dia menjatuhkan sesuatu.
Sebuah Kertas Kumal.
Bukan kaset. Bukan walkman. (Karena semua benda magis itu hilang).
Hanya secarik kertas sobekan buku tulis.
Lalu Kara diseret ibunya pergi, masuk ke dalam taksi yang menunggu di gerbang.
Lian menunggu sampai koridor benar-benar sepi.
Dia keluar, memungut kertas itu.
Tangannya gemetar membukanya.
Tulisan tangan Kara. Jelek, cepat, ditulis sambil gemetar di ruang BP tadi mungkin.
Kak Lian,
Mereka bilang aku gila.
Mama nangis. Ayah kecewa.
Obat penenangnya bikin aku ngantuk.
Tapi aku tau tadi itu nyata.
Lututku sakit. Itu buktinya.
Jangan lupa sama Sisi B. Tolong jangan lupa.
- Kara
Lian meremas kertas itu ke dadanya.
Satu-satunya jangkar yang tersisa.
Dia melihat ke lapangan upacara yang kini kosong dan panas. Tiang bendera berdiri tegak, bayangannya memanjang hitam.
Bagi dunia, hari ini adalah Senin biasa di mana dua murid stress bikin onar.
Bagi Lian, ini adalah Hari Pertama Perang Dingin.
Dia selamat dari Time Loop. Tapi sekarang dia harus bertahan hidup dari diagnosis "Sakit Jiwa" yang akan ditempelkan semua orang di jidatnya.
Lian memasukkan kertas itu ke saku, lalu berjalan pincang kembali ke UKS.
Dia tidak akan melawan Pak Surip hari ini.
Dia akan main cantik.
Dia akan pura-pura "Sembuh" sampai dia bisa menemukan cara untuk menyelamatkan Kara dari dunia nyata yang mencekik ini.