Katanya sakit hati seseorang itu adalah ketika dia diam dan pergi tanpa banyak bicara. Itu yang di lakukan Anjas, dia sakit hati pada istrinya yang selingkuh, tapi bukan pergi untuk menata hati yang hancur, dia justru pergi ke dukun untuk membalas sakit hati.
"Saya ingin dia mati Mbah"
"Ada penyiksaan yang lebih mematikan dari kematian"
"Apa itu Mbah?"
"Rasa cinta yang tak berbalas"
"Bagaimana saya melakukannya?"
"Teluh... Pelet mati"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu godaan baru
"Akkhhhhkkkk.... le.. lepaskan aku" lirih Sintia yang tanpa sadar terus mengunyah kue dan juga belatung yang masuk ke dalam mulutnya yang terbuka.
"Lepaskan? mbok tidak pernah melepaskan buruan mbok nduk hihihihi.."
Sintia terlihat sudah sangat pucat, bibirnya tidak berhenti mengunyah dan tangannya bergerak sendiri memasukkan kue kue itu ke dalam mulutnya. matanya juga tak berhenti mengeluarkan air mata karena dia berusaha keras untuk berhenti tapi tidak bisa.
"To... tolong!" teriaknya dan saat itulah Affan yang sudah sampai di lantai atas mendengar teriakan Sintia
Dia mengintip di jendela dan hanya melihat Sintia yang sedang makan kue sambil menangis, tapi dia tidak melihat sosok nenek nenek yang sedang menatap Sintia tajam dengan seringai jahat di bibirnya.
"Awas kalau kamu berani mengganggu Anakku! aku tidak anak segan segan membuat kamu mati dan akan membawa kamu ke alam ratu Kinasih!" ancam sosok itu saat mata Sintia bertabrakan dengan tatapan matanya yang tajam
"Bu Sintia..." panggilnya
"Tolong!" teriaknya sekali lagi dan barulah Affan memberanikan diri untuk masuk.
Ceklek.
Sosok nenek itu menghilang, wangi kenanga di ruangan itu juga menghilang, semua jejak ketakutan Sintia juga menghilang termasuk belatung yang ada di mulutnya, dan hanya memperlihatkan dia yang tersedak kue yang dia makan.
"Ya ampun, Sintia, kamu tersedak?"
Affan buru buru mengambil air minum di dispenser yang ada di ruangan Anjas, dia memberikan air minum itu pada Sintia, tapi Sintia malah ingin muntah dan Affan segera membawanya ke toilet di lantai tempat Sintia bekerja dengan cara menggendongnya di lihat beberapa OB yang naik ke lantai paling atas itu untuk menyuguhkan air minum dan makan untuk para karyawannya yang akan rapat.
"Kenapa pak Affan menggendong Bu Sintia?" tanya salah satu OB
"Mungkin hamil, lihat saja wajahnya pucat begitu, mereka kan sering terlihat bersama saat di kantor meskipun lantai tempat bekerja pak Affan ada di lantai empat" bisik temannya membuat dia terkejut
"Kita jangan buka mulut, biasanya hubungan seperti itu biasa di kantor" bisik temannya itu dan dia mengangguk.
Mereka kembali bekerja sementara Sintia sudah memuntahkan apa yang dia makan di toilet di bantu Affan, Affan juga membantu Sintia mengusap tengkuknya supaya Sintia bisa bernafas dan membersihkan apa yang di muntahkan Sintia.
"Kamu kenapa makan kue sebanyak itu, apa kamu mau celaka?" tanya Affan
"Hisk... pak ada hantu" jawab Sintia yang masih terlihat lemas
"Hantu apa? kamu tadi sedang duduk di ruangan pak Anjas sambil memakan kue pak Anjas, kamu sudah tidak sopan bagaimana kalau pak Anjas tahu, dia pasti marah karena kue itu adalah dari anak dan adiknya" ucap Affan
"Saya serius pak, tadi itu saya di paksa hantu" jawab Sintia
"Kamu pasti kuwalat itu, karena makan kue pak Anjas jadi berhalusinasi, kamu jangan mengada-ada" ucap Affan sama sekali tidak percaya karena yang dia lihat adalah Sintia yang makan kue itu dengan tangannya sendiri tidak di paksa siapapun.
Sintia masih mengeluh tapi Affan juga tetap dengan pendiriannya hingga mereka sudah sampai di ruang rapat dan para OB yang ada di sana segera keluar karena mereka melihat Sintia terlihat lemas setelah memuntahkan apa yang dia makan.
"Ini kamu minum dulu" ucap Affan dan Sintia menerima segelas air itu dengan tangan gemetar.
"Aku takut..."
"Tidak perlu takut, aku tidak akan mengatakan apapun pada pak Anjas" bujuk Affan mengusap rambut Sintia karena selain menggoda Anjas, Sintia juga menggoda beberapa ketua divisi di perusahaan Anjas dan salah satunya adalah Affan yang sebenarnya sudah menikah tapi bercerai setelah Affan pindah ke Jakarta karena mantan istrinya tidak mau ikut pindah dengan Affan.
"Pak Anjas masih di pabrik, katanya pak Gunawan yang akan memimpin rapat hari ini" ucap Sintia masih dengan tatapan kosong karena dia sekarang merasa ketakutan.
"Jangan melamun, hari ini kita harus fokus karena kamu mewakili pak Anjas" ucap Affan dan Sintia mengangguk.
×××××××××
Sementara itu Anjas sedang makan siang bersama Juno di sebuah kafe, mereka baru selesai meninjau pabrik dan memastikan mesin yang datang dalam keadaan bagus dan bisa beroperasi dengan baik.
"Kak, kakak tidak melihat Sintia sering sekali menarik perhatian kakak?" tanya Juno
"Kak Juno berencana ingin mengganti dia, sudah beberapa kali dia berusaha menggoda kakak, dulu kakak hampir tergoda karena terlalu lama sendiri dan butuh melepaskan hasrat, tapi untungnya kakak ingat Adisti dan semua itu tidak terjadi, mungkin karena itu dia sedikit kurang ajar sekarang" jawab Anjas
"Kalau begitu sebaiknya memang di ganti, Olivia bilang Sintia sering menggoda beberapa karyawan di perusahaan kita, aku tidak mau nantinya ada keributan di sana, apalagi kalau sampai ada data perusahaan yang bocor ke tangan saingan kita" ungkap Juno
"Kakak akan mencari gantinya, tapi laki laki saja, kakak tidak mau berurusan dengan perempuan untuk saat ini" jawab Anjas melihat sekeliling karena para perempuan di tempat itu sedang menatapnya kagum.
"Pelet kakak ampuh" celetuk Juno membuat Anjas tersedak.
"Uhuk... kamu ini bicara apa sih" gerutu Anjas segera meraih gelar yang di sodorkan Juno.
"Hahaha... maaf kak, habisnya kemanapun kita pergi, para perempuan terus saja menatap kakak" jawab Juno
"Itu hanya Kebetulan saja, mungkin karena sekarang kakak lebih memperhatikan penampilan dan mobil kakak baru" balas Anjas dan keduanya tertawa
"Iya, mereka lihat mobil kakak yang baru makanya silau"
"Maaf, boleh saya duduk di sini? meja yang lain penuh" tanya seorang perempuan berpakaian cukup terbuka menyapa Anjas dan Juno
"Maaf, istri saya melarang saya duduk dengan perempuan lain, kalau anda mau anda bisa menumpang di meja yang lain" jawab Anjas langsung di cubit Juno karena yang mendatanginya adalah seorang artis sinetron yang begitu terkenal.
"Kak, dia itu artis Mariska Mariana" bisik Juno
"Kakak tidak kenal, kakak tidak pernah nonton sinetron" jawab Anjas cuek melanjutkan makannya
"Maaf, saya pikir saya bisa makan di meja yang sedikit sepi karena saya tidak biasa makan di tempat ramai" ucapnya memelas dan Juno terlihat kasihan
"Kamu duduk saja tidak apa apa" ucap Juno mendorong satu kursi di samping kursinya.
"Terima kasih" ucapnya tersenyum manis
"Mbak Mariska sedang istirahat syuting?" tanya Juno
"Iya, saya sedang syuting di sekitar sini dan merasa lapar, jadi saya mampir untuk makan" jawab Mariska dengan senyum andalannya tapi matanya terus mencuri pandang pada Anjas.
"Kalian juga sedang istirahat makan siang?" tanya Mariska
"Iya, kami habis meninjau pabrik" jawab Juno
"Pabrik? pabrik apa?" tanya Mariska berpura pura tidak tahu karena dia mengenal Anjas yang wajahnya sering ada di majalah bisnis.
"Pabrik cimol, kami buka usaha cimol" jawab Juno hampir membuat Anjas tertawa
"Cimol... apa itu sejenis barang?" tanya Mariska polos
"Hahaha... iya, itu nama tas branded yang sedang kami buat, merk-nya Cimol bag" jawab Juno tak bisa menahan tawanya
"Dasar gila, yang satu gila yang satunya so kaya, masa dia tidak tahu cimol, aku saja yang pengusaha tahu apa itu cimol" cibir Anjas pelan