NovelToon NovelToon
GERBANG YANG SAMA

GERBANG YANG SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ghuci Shintara

Semua bermula dari hari pertama menjadi siswa SMK Pariwisata, dimana takdir mempertemukan mereka didepan gerbang yang telah tertutup rapat, mereka terlambat. Mereka berkenalan dan mereka terkejut karena mereka sama-sama jurusan yang sama dan sama-sama dikelas yang sama bahkan karena mereka terlambat, mereka hanya mendapatkan kursi kosong dipaling belakang dan mereka kembali sama-sama duduk di meja kelas yang sama. Seiring berjalannya waktu mereka sudah menjalin pertemanan dan hingga waktunya tiba kegiatan Study Tour yang menjadi program penting sekolah SMK Pariwisata untuk kelas 1 dan dari sanalah sebuah kesepakatan di bawah langit Bali terjalin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 - Hari Persentasi

Pagi itu, suasana kelas PH2 tidak seperti biasanya. Tidak ada candaan Reno yang menggelegar atau obrolan santai tentang hobi. Sebaliknya, udara di dalam kelas seolah dipenuhi oleh "virus" kecemasan yang menular. Hampir semua murid terlihat sibuk dengan kertas skrip mereka; ada yang komat-kamit menghafal dialog, ada yang sibuk membenarkan dasi, dan ada pula yang terlihat pucat menatap buku kamus.

Gery duduk di bangkunya, sesekali memejamkan mata sambil mengulang pelafalan kata “reservation” agar tidak terpeleset lagi seperti saat di rumah Vanya. Di sampingnya, Vanya terlihat lebih tenang, namun jemarinya yang terus mengetuk-ngetuk meja menunjukkan bahwa ia pun sedikit tegang.

Teng! Teng!

Bel berbunyi nyaring, memutus waktu latihan terakhir mereka. Pintu kelas terbuka, dan Ibu Fatma melangkah masuk dengan anggun, membawa map penilaian dan sebuah bel hotel kecil di tangannya. Tatapannya yang tajam namun profesional menyapu seisi kelas.

"Selamat pagi, semuanya. Saya harap kalian sudah siap dengan simulasi hari ini," ucap Ibu Fatma tenang. Beliau menoleh ke arah barisan depan. "Dion, tolong bantu Ibu. Atur dua meja di depan kelas agar berjajar rapi seperti meja resepsionis hotel. Sisakan ruang di depan meja untuk area tamu masuk."

Dion selaku ketua kelas segera berdiri dan melaksanakan instruksi tersebut. Suara gesekan meja dengan lantai terdengar nyaring di tengah keheningan kelas yang mencekam. Setelah meja tertata, Ibu Fatma meletakkan bel hotel itu di atas meja.

"Baik, presentasi akan dimulai berdasarkan urutan kelompok yang saya panggil secara acak. Penilaian meliputi fluency (kelancaran), grooming (penampilan), dan akurasi prosedur hotel. Pastikan bahasa Inggris kalian terdengar meyakinkan, bukan seperti sedang membaca buku teks," tambah Ibu Fatma sambil membuka map penilaiannya.

Gery menarik napas dalam-dalam. Ia melirik Vanya, Sammy, dan Nadia yang duduk berdekatan. Mereka saling memberikan tatapan penyemangat. Vanya menyentuh punggung tangan Gery sekilas, memberikan kode bahwa semuanya akan baik-baik saja.

"Kelompok pertama yang akan maju adalah..." Ibu Fatma menjeda kalimatnya, membuat jantung para siswa serasa mau copot. "Kelompok Reno, Adrian, Yola, dan Rini. Silakan ke depan."

Reno yang biasanya paling berisik, mendadak terlihat gugup saat memegang dasinya. "Waduh, tumbal pertama nih gue, Ger," bisik Reno saat melewati meja Gery.

Gery hanya bisa memberikan anggukan kecil. Kini, fokusnya beralih sepenuhnya ke meja di depan. Ia tahu, setelah kelompok Reno selesai, giliran mereka akan segera tiba. Inilah saatnya membuktikan bahwa latihan keras di rumah Vanya—termasuk gangguan dari Vania dan godaan singa betina—tidak akan sia-sia.

Setelah penantian yang menegangkan, akhirnya nama mereka disebut. "Kelompok Gery, Vanya, Sammy, dan Nadia, silakan maju," ucap Ibu Fatma dengan nada datar namun menuntut kesempurnaan.

Gery berdiri, merapikan kemeja seragamnya yang disetrika licin, dan menghela napas panjang seolah membuang seluruh keraguan yang tersisa. Vanya berjalan di sampingnya, memberikan senyum tipis yang sarat akan dukungan.

Ibu Fatma mengetukkan pulpennya ke meja. "Silakan dimulai."

Gery berdiri di balik meja yang disimulasikan sebagai meja resepsionis. Tangannya tertata rapi di atas meja, punggungnya tegak, dan wajahnya memasang smiling voice yang sempurna. Saat Sammy dan Nadia masuk sebagai tamu VIP yang datang dari luar negeri, Gery membuka mulutnya.

"Good morning, Welcome to Gemini Grand Hotel. My name is Gery, how may I assist you today?"

Suaranya tenang, berat, dan yang paling mengejutkan: fasih. Tidak ada lagi lidah yang terbelit, tidak ada lagi pengucapan yang terdengar seperti "kumur-kumur air jahe". Setiap kosakata hospitality keluar dari bibirnya dengan intonasi yang tepat, hasil dari latihan mati-matian di rumah Vanya dan pengulangan tiada henti di kamarnya sendiri.

Di bangku penonton, Reno, Dion, dan Feri melongo. Mereka saling berpandangan dengan mata membelalak.

"Woi, itu beneran si Gery?" bisik Reno nyaris tak terdengar. "Kemarin di bus nyayi bahasa inggris aja masih belepotan, sekarang udah kayak bule nyasar jadi resepsionis!"

Vanya yang berperan sebagai manajer hotel yang memantau stafnya, menatap Gery dengan binar bangga yang tak bisa disembunyikan. Ia tahu betul perjuangan Gery menghafal setiap baris kalimat itu. Saat sesi tanya jawab singkat dari "tamu" berlangsung, Gery menjawabnya dengan tangkas tanpa jeda “ehm” atau “anu” sedikit pun.

Proses penyerahan kunci hotel dilakukan dengan gerakan tangan yang elegan, sesuai standar operasional prosedur yang diajarkan Ibu Fatma. Simulasi diakhiri dengan kalimat penutup yang manis dari Gery.

"We hope you have a pleasant stay with us, Mr. and Mrs. Sammy. Have a great day."

Keheningan sempat menyelimuti kelas selama beberapa detik sebelum akhirnya Ibu Fatma meletakkan pulpennya dan bertepuk tangan pelan—sebuah gestur langka dari guru paling pelit nilai itu.

"Penampilan yang sangat solid," komentar Ibu Fatma singkat sambil matanya tetap fokus mencoret-coret lembar penilaian di hadapannya. "Kombinasi antara grooming dan kemampuan komunikasi yang sangat meningkat. Silakan kembali ke tempat duduk."

Gery berjalan kembali ke bangkunya dengan perasaan lega yang luar biasa. Saat ia duduk, Vanya diam-diam menyenggol lengannya di bawah meja. "Hebat lo, Resepsionis Ganteng," bisik Vanya sambil nyengir lebar.

Gery hanya bisa tersenyum simpul, menyadari bahwa kerja kerasnya terbayar tuntas, dan mungkin... sedikit "siksaan" dari singa betina selama latihan memang membawa berkah.

Ibu Fatma menutup kelas dengan catatan evaluasi yang cukup memuaskan bagi sebagian besar siswa, meski beberapa nama tetap mendapat teguran karena grooming yang kurang rapi. Tepat saat Ibu Fatma melangkah keluar, kegaduhan khas jam pulang sekolah langsung meledak.

Gery sedang memasukkan buku catatan matematikanya ke dalam tas ketika Vanya mencondongkan tubuh, bibirnya mendekat ke telinga Gery. Bisikan pelan itu membuat gerakan tangan Gery terhenti seketika.

"Serius lo?" tanya Gery dengan mata membelalak, menatap Vanya tak percaya.

Vanya tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menyodorkan layar ponselnya yang menampilkan sebuah pesan singkat dari sang Mama. Di sana tertulis jelas: “Kak, minta nomornya Gery dong. Mama mau simpen buat jaga-jaga kalau ada apa-apa. Sekalian mama ngomong langsung untuk minta tolong ke Gery buat anterin kamu pulang setiap hari, karena jadwal les Vania makin padat.”

Gery berjalan menuju area parkir dengan pikiran yang masih berputar. Sambil memasukkan kunci ke lubang kontak motor matic-nya, ia bergumam kecil, "Apa ga salah Tante minta nomor gue? Emang nggak cukup lewat Vanya aja ngomongnya?" Ada rasa bangga sekaligus gugup yang bercampur jadi satu. Mendapatkan nomor telepon adalah satu hal, tapi diminta langsung oleh sang calon ibu mertua—eh, ibu dari pacar kontraknya—adalah level yang berbeda.

1
Shintara
iya 👍
only siskaa
pertama Thor jngn lupa mmpir ke karya aku juga yaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!