NovelToon NovelToon
Kami Lahir Tanpa Namamu

Kami Lahir Tanpa Namamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / One Night Stand / Anak Genius / CEO / Hamil di luar nikah / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nurizatul Hasana

Satu malam.
Tanpa rencana.
Tanpa nama.
Tanpa masa depan.
Aluna tidak pernah berniat masuk ke dalam hidup pria itu. Ia hanya menggantikan sahabatnya yang sakit, mengenakan seragam hotel, dan berharap bisa pulang dengan selamat. Namun di balik pintu kamar hotel mewah, ia terjebak dalam situasi berbahaya—tarikan paksa, ketakutan, dan batas yang nyaris hancur.
Malam itu bukan tentang cinta.
Bukan tentang rayuan.
Melainkan tentang dua orang asing yang sama-sama terperangkap dalam keadaan salah.
Aluna melawan. Menolak. Tak pasrah.
Namun ketika segalanya berhenti di titik abu-abu, sebuah keputusan keliru tetap tercipta—dan meninggalkan luka yang tak langsung terlihat.
Ia pergi tanpa menoleh.
Tanpa tahu nama pria itu.
Tanpa ingin mengingat malam yang hampir menghancurkan dirinya.
Lima tahun kemudian, Aluna telah menjadi wanita tangguh—cantik, elegan, dan berdiri di atas kakinya sendiri. Ia membesarkan tiga anak kembar dengan kelebihan luar biasa, tanpa sosok ayah, tanpa cerita masa lalu. Bersa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 Ikatan Diam - Diam

Ikatan Diam-Diam

Pagi setelah rumor itu, udara rumah terasa lebih padat dari biasanya. Bukan karena banyak orang. Tapi karena semua orang… berpikir terlalu banyak.

Aruna sedang melipat baju di ruang tengah. Tangannya bergerak otomatis, tapi pikirannya jelas tidak di situ.

Arka berdiri di dekat jendela, membaca sesuatu di ponselnya.

“Media mulai cari alamat lengkap,” katanya akhirnya.

Aruna berhenti melipat.

“Secepat itu?”

Arka mengangguk kecil. “Mereka belum tahu detail. Tapi mereka tahu aku tidak tinggal sendirian.”

Sunyi beberapa detik.

Aruna menarik napas pelan. “Kita nggak bisa hidup seperti target.”

Arka menatapnya lama. “Kita juga nggak bisa terus tanpa status jelas.”

Aruna paham maksudnya tanpa perlu penjelasan panjang.

Siang itu, anak-anak sedang di kamar. Maya datang membawa beberapa kotak kue, tapi langsung sadar suasana rumah berbeda.

“Kenapa muka kalian kayak mau sidang negara?” celetuknya.

Aruna duduk di sofa. “Media mulai masuk.”

Maya menghela napas panjang. “Oke… berarti waktu kita makin sempit.”

Arka menatap dua perempuan itu bergantian.

“Aku nggak mau anak-anak tumbuh dengan label.”

Aruna langsung paham arah pembicaraan.

“Pernikahan.”

Bukan pertanyaan. Pernyataan.

Arka mengangguk. “Tapi bukan pernikahan besar.”

Maya mengangkat alis. “Lo… miliarder. Lo bilang bukan besar?”

Arka menjawab datar, “Bukan untuk publik. Untuk keluarga.”

Aruna menatap meja kosong di depannya. “Kalau kita umumkan sekarang… orang akan fokus ke masa lalu.”

“Makanya kita tidak umumkan,” jawab Arka.

Maya langsung senyum kecil. “Jadi… nikah diam-diam dulu, pesta nanti kalau semua tenang?”

Arka mengangguk. “Status dulu. Perayaan bisa menunggu.”

Aruna lama tidak bicara.

Bukan karena ragu pada Arka. Tapi karena semua ini terasa terlalu cepat… dan terlalu penting.

“Aku tidak butuh pesta,” katanya akhirnya pelan. “Aku cuma butuh kepastian.”

Arka menjawab tanpa jeda, “Kamu dapat itu.”

Malamnya, Arka bicara dengan orang tuanya melalui panggilan video.

Ibunya yang pertama bicara, “Ini keputusan yang benar.”

Ayahnya menambahkan tenang, “Pernikahan tidak harus menjadi pertunjukan.”

Arka hanya mengangguk.

“Kami tidak akan umumkan dulu,” lanjut Arka. “Anak-anak harus tetap hidup normal.”

Ibunya tersenyum lembut. “Keluarga tidak diukur dari seberapa banyak orang yang tahu.”

Keesokan harinya, Arka bicara dengan anak-anak di ruang tamu.

Tidak formal. Tidak seperti pengumuman besar.

Ia duduk di lantai sejajar dengan mereka.

“Aku mau tanya sesuatu.”

Arven menatap curiga. “Serius banget mukanya.”

Arka sedikit tersenyum. “Aku dan Mama kalian mau menikah.”

Arkana langsung berhenti menggambar. “Bukannya… kalian sudah keluarga?”

Arka mengangguk. “Secara hati, iya. Secara hukum, belum.”

Arsha memeluk lututnya. “Kalau menikah… papa tetap di sini?”

Arka menatapnya hangat. “Aku di sini bukan karena status. Tapi status akan melindungi kalian.”

Arven bertanya jujur, “Kenapa nggak pesta besar?”

Arka menjawab apa adanya, “Karena dunia luar sedang terlalu ribut. Kita tidak mau kebahagiaan kita jadi tontonan.”

Anak-anak saling pandang.

Arkana akhirnya berkata pelan, “Yang penting… jangan cuma sebentar.”

Arka mengangguk. “Bukan sebentar.”

Hari pernikahan itu datang tanpa dekorasi mewah.

Tidak ada gaun mahal. Tidak ada tamu undangan panjang.

Hanya keluarga dekat. Maya. Dan sahabat Arka yang datang tanpa formalitas berlebihan.

Rumah kecil itu menjadi saksi.

Aruna memakai gaun sederhana warna putih lembut. Rambutnya tergerai natural. Tidak ada perhiasan mencolok.

Arka berdiri di depannya dengan setelan gelap sederhana.

Tidak ada musik. Tidak ada sorotan kamera.

Hanya suara napas dan detak jantung.

Ijab kabul diucapkan dengan suara tenang.

Tidak dramatis. Tidak berlebihan.

Tapi jelas.

Sah.

Anak-anak berdiri tidak jauh dari mereka.

Arsha yang pertama mendekat setelah selesai. Ia memegang tangan Arka pelan.

“Sekarang… beneran papa?”

Arka berlutut sedikit. “Kalau kamu mau.”

Anak itu mengangguk kecil.

Arven mendekat sambil pura-pura santai. “Berarti kita satu tim sekarang.”

Arka tersenyum. “Satu tim.”

Arkana cuma berkata, “Jangan aneh-aneh, ya.”

Semua tertawa kecil.

Malamnya, setelah semua tenang, Aruna duduk di teras bersama Arka.

Angin malam lembut.

Tidak ada keramaian. Tidak ada publik.

Hanya mereka.

“Tanpa pesta… kamu menyesal?” tanya Arka.

Aruna menggeleng pelan. “Ini lebih nyata dari pesta besar.”

Arka menatap langit sebentar. “Nanti, kalau semua tenang… kita rayakan.”

Aruna tersenyum kecil. “Nanti.”

Ia menatap rumah kecil itu.

Anak-anak sudah tidur. Lampu kamar mereka menyala redup.

“Kita menikah bukan untuk dunia,” katanya pelan. “Tapi untuk rumah ini.”

Arka menggenggam tangannya.

“Dan rumah ini… tidak akan aku tinggalkan.”

Untuk pertama kalinya sejak rumor itu muncul—

Keheningan terasa aman.

1
Lisa
Kasihan y Mira..udh balik aj ke rmhnya Aruna..
Lisa
Bahagia selalu y Arka, Aruna & ketiga anaknya
Risal Fandi
rekomend banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!