NovelToon NovelToon
My Big Boy

My Big Boy

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Posesif
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nyai Nung

(Bukan Novel yang awalnya benci jadi cinta ya, alur sesuai imajinasi Mimin)

Rania, seorang perantau dari Indonesia, datang ke negeri asing hanya untuk bertahan hidup. Ia tidak pernah menyangka langkah nekatnya akan mempertemukannya dengan Marco seorang mafia besar, dingin, berbahaya, dan bucin tingkat dewa.
Pertemuan mereka menyeret Rania ke dunia gelap penuh kekuasaan, obsesi, dan perlindungan berlebihan. Cinta yang salah, pria yang salah... tapi terlalu sulit untuk ditolak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pendarahan.

Seorang Remaja berusia 15 tahun berdiri menghadap kaca besar yang memperlihatkan deretan gedung-gedung tinggi saling bersaing mencapai langit. Tangannya masuk ke saku celana, bahunya tegak.

Pintu terbuka pelan.

Seorang pria yang lebih tua masuk, langkahnya tenang. Ia duduk di kursi kayu dekat meja, menyalakan rokok, lalu menghembuskan asapnya perlahan.

"Kau sudah berdiri di sana selama 30 menit," katanya tanpa menoleh.

"Kenapa? Galau karena undanganmu ditolak?"

Remaja itu tidak langsung menjawab. Ia menatap pantulannya sendiri wajah, sorot matanya sedang mencoba terlihat dewasa.

"Itu bukan cuma undangan," jawabnya akhirnya. "Itu… keberanian pertamaku."

Pria itu tersenyum tipis. "Keberanian pertama memang selalu terasa seperti segalanya."

Pemuda itu menoleh sedikit.

"Daddy, tidak mengerti."

Pria itu terdiam sesaat. Asap rokok menggantung di udara.

"siapa bilang ayah tidak mengerti Lorenzo" Lorenzo mengerutkan kening.

"Waktu Ayah seusiamu, Ayah juga pernah seperti itu. Merasa dunia runtuh hanya karena satu kata ‘tidak’."

"Lalu?"

"Lalu Ayah sadar… dunia tidak runtuh. Hanya egoku saja yang jatuh."

Lorenzo menggigit bibirnya. "Tapi rasanya memalukan aku sudah berharap terlalu jauh."

Pria itu bangkit, berjalan mendekat, berdiri di sampingnya menghadap kaca yang sama.

"Lihat gedung-gedung itu," katanya. "Kau pikir semuanya langsung berdiri setinggi itu? Tidak. Mereka gagal, retak, direnovasi, dibangun ulang. Tapi tetap berdiri."

Pemuda itu menatap lampu-lampu kota yang mulai menyala.

"Jadi aku harus apa?" tanyanya pelan.

"Belajar menerima. Lalu tumbuh. Kalau memang dia bukan untukmu sekarang, mungkin kau hanya sedang dilatih untuk sesuatu yang lebih besar."

Pemuda itu terdiam lama. Lalu ia menghela napas panjang.

"sakit juga ya jadi dewasa." ujar Lorenzo Pria itu tertawa kecil.

"Itu sebabnya jangan terburu-buru menjadi dewasa. Nikmati dulu sakit yang kecil-kecil ini."

Di luar, langit mulai gelap. Di dalam ruangan, dua generasi berdiri berdampingan satu baru belajar tentang penolakan, satu lagi sudah berdamai dengannya.

Dan ini bukan tentang undangan yang ditolak.

Lorenzo menatap lagi keluar Jendela.

"Cantika...." gumam nya pelan.

Di Mansion Moretti. Marco sedang memijat kaki Rania, benar memijat. Marco seorang tiran kejam itu sedang memijat kaki istrinya.

"Hubby, kau tidak perlu melakukan nya" ujar Rania namun Marco menolak dan tetap melakukan nya.

"tidak sayang. Kaki mu pasti pegal karna berdiri sejak tadi apalagi mau membawa bayi kita" ujar Marco posesif.

Rania terkekeh pelan. " tidak Hubby, aku hanya berdiri sebentar lagi pula perutku masih datar, janin nya baru dua bulan" ujar Rania.

Marco menatap Rania tajam. "meskipun dua bulan itu cukup berat Sayang, aku dengar saat kehamilan mu sudah besar kau bahkan tidak akan bisa berdiri" ujar Marco serius.

Rania terkekeh pelan, Marco terlalu protektif.

"Kau mendengar dari siapa?" tanya Rania.

"Jerry, dia bilang sepupunya nya sedang hamil 8 bulan dan tidak bangun dari tempat tidur" jawab Marco serius.

Rania tertawa bukan tawa kecil tapi tawa meledak ia gemas dengan Marco yang protektif dan polos, tanpa ia sadari Rania menangkup wajah Marco dan mengecup bibir nya. Marco terdiam Rania tersadar.

"eh_" saat ia hendak menarik tangan nya Marco lebih dulu menahan tangan nya dan langsung bergerak menyambar bibir Rania.

Marco menindih tubuh tubuh Rania namun ia berhati-hati agar tidak terlalu menekan perut Rania. Rania membalas ciuman Marco.

Posisi berubah, Rania mendorong Marco hingga kini Rania berada diatas tubuh Marco, ciuman mereka semakin agresif dan bergairah.

Ciuman Rania turun keleher Marco dan ia terdiam cukup lama menghirup aroma tubuh Marco, entah ini karna hormon ibu hamil atau apa tapi aroma parfum yang dipakai Marco sangat manis dan lembut, aroma mint bercampur kayu pinus sangat menenangkan.

Marco mengusap Pinggang Rania, namun perlahan tangan nya bergerak masuk melalui rok Rania.

"Sayang, Bayi nya_"

"Jerry berbohong, ia sedang menipumu, mungkin sepupunya tidak bangun karna yang lain bukan karna kehamilan" ujar Rania, hidungnya masih menempel di leher Marco.

"Jerry sialan! Aku akan memotong gaji nya bulan ini" ujar Marco dingin.

Sedangkan dilantai bawah Jerry bersin-bersin.

"Aduhh siapa sih yang ngomongin" ujar nya sambil menggosok hidungnya.

Kembali kelantai atas, Rania mencubit pinggang Marco.

"Mulut nya, nanti bayi nya dengar Daddy nya mengumpat" ujar Rania marah.

Marco langsung menggeleng. "ngak... Ngak... Sayang anggap aja tadi aku ngak ngomong apapun" ujar Marco cepat.

Rania menarik wajahnya dari leher Marco, ia menatap wajah tampan suaminya lalu duduk diatas tubuh Marco. Marco memegangi pinggang Rania takut Rania jatuh.

Rania mengusap seluruh wajah Marco dengan kedua tangannya lalu mengusap perut nya.

"Biar ketampanan Daddy nya nurun ke anak nya" ujar Rania membuat Marco tertawa.

Marco bangun mengubah posisi nya menjadi duduk dan Rania duduk dipangkuan nya tangan nya memeluk pinggang Rania posesif.

" tentu saja ketampanan ku akan menurun pada Anak kita"ujar Marco menyeringai.

Rania tersenyum, ia mengalungkan tangannya di leher Marco lalu memulai ciuman, ia mencium bibir Marco. Marco tersenyum dan membalas ciuman.

Tangan Rania bergerak membuka satu persatu kancing baju Marco dan perlahan dada bidang nya terlihat. Ciuman Rania turun dari bibir keleher Marco.

Lalu.... Rania mendorong tubuh Marco hingga pria itu kembali berbaring terlentang, Rania menunduk mencium dada bidang Marco lalu kembali naik mencium bibir Marco.

"Sayang berhentilah menggoda ku" ujar Marco serak.

Rania tentu bisa merasakan sesuatu yang keras menekan bokong nya.

Marco membalik posisi Rania dibawah nya. Tangan nya bergerak naik menyingkap rok Rania, Rania memejamkan matanya saat Marco mencium perut nya.

BRAK!

"DADDY! MOMMY! CANTIKA MAU TIDUR DENGAN DISINI!" teriak Cantika nyaring sambil mendorong pintu dengan tangan kecilnya.

Rania refleks mendorong Marco menjauh dari tubuhnya. wajahnya menjadi merah padam. Marco yang terjatuh terduduk di lantai menatap Cantika.

"Princess, bisakah malam ini kamu tidur dengan Marry saja?" tanya Marco dengan tatapan memohon.

Cantik menggelengkan kepala cepat membuat pipi gembul nya terombang-ambing, jari kecil nya bergerak ke kanan kiri.

"nonono, hari ini tidak bisa Cantika mau bobo bareng Daddy dan mommy" ujar ya lalu berjalan mendekat ketempat tidur dan naik dengan susah payah.

setelah berhasil naik dengan susah payah Cantika menatap pakaian mommy nya yang berantakan.

"Mommy kenapa?" Tanya Cantika bingung.

wajah Rania memerah semakin parah lalu segera duduk dan merapikan pakaiannya.

"tadi di serang beruang" jawab Rania asal.

 Marco melorotkan matanya. " beruang apaan" ujar Marco.

Rania menutup mulut nya dengan tangan tertawa kecil namun hanya sebentar saat rasa mual kembali menghampiri nya, Rania segera turun dan berlari kecil masuk kekamar mandi.

Marco segera berdiri dan hendak masuk namun pintu dikunci dari dalam.

"Sayang! Sayang buka pintu nya!" Marco menggedor pintu itu dengan kuat.

Cantika turun dari ranjang berjalan mendekati Marco, gadis kecil itu mengira Marco marah padanya karna ingin tidur bersama. Air mata nya turun membasahi pipi gembul nya.

"Daddyyy hiksss jangan marah hikss Cantika akan tidur sendiri Daddy jangan marah lagi" ujar gadis kecil itu sesenggukan.

Marco terkejut dan langsung berbalik ia berlutut memeluk Cantika dan menggendong nya.

"ssttt no princess, Daddy gak marah sama kamu, Daddy hanya khawatir sama Mommy kamu" ujar Marco lembut mengusap air mata dipipi gembul Cantika.

Gadis kecil itu langsung memeluk erat Marco dan membenamkan wajah kecil nya di leher Marco.

"benarkah? Daddy gak marah? Terus kenapa Daddy teriak tadi?" tanya Cantik masih sesenggukan.

Marco mengeratkan pelukannya lalu mencium pucuk kepala putrinya.

"Mommy kamu kunci pintu dari dalam, Daddy khawatir maaf ya buat princess takut" ujar Marco lembut namun hatinya bimbang karna Rania masih muntah-muntah didalam sana.

Sedangkan didalam sana Rania meremas perutnya kuat-kuat, tiba-tiba rasanya sangat sakit kaki nya lemas lalu pandang nya gelap.

tiba-tiba di area selangkangan nya darah mengalir keluar rasa sakit semakin menjadi.

Bruk!

Rania terjatuh meringkuk di kamar mandi darah menggenang dilantai.

" H-hubby" ujar Rania lemah.

Di luar Marco sedang menenangkan Cantika tiba-tiba terdengar suara dari dalam.

"H-hubby" tubuh Marco menegang ia melepaskan pelukan Cantika lalu memanggil Marry.

"MARRY! " teriak Marco.

Marry datang tergesa-gesa disusul dengan Vano. Marry langsung mengambil Cantika.

Marco menendang pintu kamar mandi hingga terlepas dan langsung masuk, tubuhnya menegang nafasnya terhenti sejenak.

"Rania!" Marco langsung menggendong tubuh Rania keluar dari kamar mandi. Rahangnya mengeras melihat darah menggenang di lantai kamar mandi.

"Panggil dokter!" bentak nya.

1
Hesty
ko ga up😄
Nyai Nung: Lagi proses sayang, malam baru up
total 1 replies
Hesty
ko ga up😄
anggita
like iklan👍☝
anggita
kadang KDRT malah jdi trend😑
Nyai Nung: Gimana maksudnya sayang?
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!