Sinopsis Bab
Kedatangan Alexey Liebert ke kampus elite Icheon langsung mengguncang keseimbangan yang selama ini mapan. Sosoknya yang dingin, tertutup, dan mencolok dengan aura berbahaya segera menarik perhatian, sekaligus memicu bisik-bisik kagum dan rasa terusik di kalangan mahasiswa. Namun di balik statusnya sebagai mahasiswa baru rekomendasi internasional, Alexey menyimpan masa lalu kelam: putra pewaris dunia bayangan yang kembali ke Icheon bukan semata untuk kuliah, melainkan untuk tujuan tersembunyi yang berakar pada kematian ibunya delapan tahun lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon De Veronica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Gudang Arsip
Selang satu jam kemudian, mobil Alexey berhenti tepat di halaman rumah Haerim. Perjalanan tadi berlangsung dalam keheningan yang canggung, tidak ada yang memulai pembicaraan.
"Sudah sampai," ucap Alexey datar sambil menatap lurus ke depan, tangannya masih di setir. "Turunlah."
"Terima kasih, Alexey," ucap Haerim pelan sambil melepas sabuk pengamannya, suaranya masih terdengar malu. "Untuk... hari ini. Untuk semuanya..."
Haerim baru saja ingin turun dari mobil, namun tiba-tiba Alexey meraih tangannya dengan cepat, menahannya.
"Untuk apa berterima kasih?" tanya Alexey dengan nada datar namun ada nada penasaran di baliknya.
"Untuk semua yang kita jalani hari ini," jawab Haerim dengan suara lirih. "Menjemputku, mengantarku. Aku benar-benar berterima kasih, Alexey..."
Tiba-tiba Alexey menarik Haerim kembali ke dalam mobil dengan gerakan cepat, menutup pintu mobil. Tanpa peringatan, ia kembali mencium bibir Haerim, kali ini lebih lama, lebih dalam, lebih intens.
Haerim sempat terkejut namun kemudian membalas ciuman itu, meski gerakannya masih kaku dan canggung. Tangannya meremas bahu Alexey dengan gemetar, napasnya tidak teratur.
Alexey akhirnya melepaskan ciuman itu dengan perlahan, napasnya sedikit tersengal. Ia mengusap bibir Haerim dengan ibu jarinya, tatapannya melunak sejenak sebelum kembali datar.
"Masuk," perintahnya dengan nada rendah namun lembut. "Hari sudah malam. Jangan buat ibumu khawatir."
Haerim yang masih canggung dan gugup langsung membuka pintu mobil dan berlari tergesa-gesa menuju gerbang rumahnya, wajahnya merah padam. Ia bahkan tidak sempat menoleh ke belakang.
Alexey menatap punggung Haerim yang menjauh dengan tatapan kosong. Ia menyandarkan kepalanya ke kursi dan memejamkan mata sejenak.
"Kau sudah berhasil merusak pikiranku," gumamnya pelan dengan nada frustrasi, tangannya meremas setir dengan kuat. "Sial..."
Di dalam rumah, Haerim berlari lucu dengan wajah merah padam melewati ruang tamu. Kang Mira yang sedang duduk di sofa membaca dokumen langsung mengangkat alisnya melihat tingkah putrinya yang aneh.
"Haerim, ada apa denganmu?" tanya Kang Mira penasaran sambil menatap putrinya yang berlari menuju tangga. "Kok kayak dikejar hantu gitu?"
"Ini lebih dari hantu, Mom!" teriak Haerim dari tangga sambil terus berlari menuju kamarnya tanpa berhenti, suaranya terdengar panik namun... senang?
Kang Mira hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah aneh putrinya.
Haerim langsung melempar tubuhnya ke kasur dengan wajah tertutup bantal. Ia berguling-guling gelisah sambil menendang-nendang kakinya ke udara.
"Apa kami benar-benar sudah berciuman?!" teriaknya tertahan di bantal, suaranya nyaris histeris. "Ciuman pertamaku... diambil sama Alexey! Dan kami berciuman dua kali! DUA KALI!"
Ia mengangkat kepalanya dan berteriak kecil ke arah langit-langit kamar.
"AAAAHHH! Kenapa jantungku masih deg-degan begini?! Ini gila! Aku gila!" rengeknya sambil memeluk bantal erat-erat, wajahnya merah padam seperti kepiting rebus.
Haerim terus berguling-guling di kasur seperti orang yang kehilangan akal sehat, senyumnya tidak bisa hilang dari wajahnya.
Setelah menyelesaikan mandi, Haerim turun ke ruang makan untuk sarapan. Kang Mira sudah duduk di meja sambil menyeruput kopinya dengan tenang.
"Haerim, besok malam ada gala tahunan yayasan keluarga Kang," ucap Kang Mira sambil meletakkan cangkir kopinya. "Jadi Mommy ingin mengundang Alexey dan teman-temanmu yang lain ke hotel. Kamu bisa sampaikan undangannya?"
Haerim terdiam sejenak, lalu menatap ibunya dengan tatapan penuh harap.
"Mom... apa Mommy approve Alexey?" tanyanya hati-hati, suaranya pelan. "Maksudku, Mommy nggak melarang kalau aku dekat sama Alexey kan?"
"Itu urusanmu, sayang," jawab Kang Mira dengan senyum lembut sambil menatap putrinya. "Kamu sudah dewasa. Mommy percaya sama keputusanmu. Asal Alexey tidak menyakitimu, Mommy nggak akan melarang."
"Alexey nggak jahat kok, Mom," ujar Haerim dengan nada tulus dan serius. "Dia cuma dingin dan tertutup."
Wajah Haerim sedikit memerah mengingat kejadian kemarin.
Sementara itu di apartemennya, Alexey berdiri di depan investigator board dengan tatapan kosong. Matanya menyapu foto-foto yang terpasang, termasuk foto Kang Mira yang menempel di sana.
"Kalau sampai Kang Mira terlibat..." gumamnya pelan dengan nada frustrasi, tangannya terkepal di sisi tubuhnya. "Bagaimana caranya untuk menjauhi Haerim? Kenapa harus dia..."
Ia menutup matanya sejenak, mengingat ciuman mereka kemarin. Perasaan yang mulai tumbuh dan misi yang harus dijalani, keduanya bertabrakan keras di dalam kepalanya.
Tiba-tiba telepon Alexey berdering. Ia langsung mengangkatnya tanpa melihat layar, sudah tahu siapa yang menelepon.
"Tuan Muda," sapa Thomas dari seberang dengan nada formal. "Saya sudah mengumpulkan semua informasi yang Anda minta."
"Ceritakan dengan detail," perintah Alexey dingin sambil berjalan menuju sofa, matanya masih menatap investigator board. "Jangan ada yang tertinggal. Aku ingin tahu semuanya."
"Bros Phoenix itu adalah lambang keluarga Kang, Tuan Muda," jelas Thomas dengan nada serius. "Setiap anggota keluarga yang sudah dewasa diwajibkan memakainya sebagai simbol identitas dan loyalitas mereka terhadap keluarga. Rektor Minsook, Kang Mira, dan anggota keluarga Kang lainnya semua memilikinya."
"Kang Mira?" tanya Alexey dengan nada mendesak, rahangnya mengeras. "Apa yang kamu temukan tentang dia?"
"Kang Mira adalah seorang jaksa senior, Tuan Muda," lanjut Thomas dengan nada hati-hati. "Dulu saat Nyonya Seoyon masih aktif mengajar di kampus dan bekerja sebagai pengacara, mereka sering bekerja sama menangani kasus-kasus besar. Hubungan mereka sangat dekat, bahkan bisa dibilang sahabat karib."
Alexey terdiam sejenak, tangannya menggenggam ponsel lebih erat.
"Kemungkinan Kang Mira yang ada dalam video CCTV itu?" tanyanya dengan nada tegang, suaranya bergetar menahan emosi. "Wanita yang terlihat bersama ibu sebelum insiden di bandara?"
"Itu belum pasti, Tuan Muda," jawab Thomas dengan nada hati-hati. "Video CCTV-nya sangat buram. Ditambah lagi, anggota keluarga Kang masih memiliki seorang anak perempuan, adiknya Kang Mira, yang juga sama-sama menggunakan bros itu. Jadi belum bisa dipastikan siapa yang benar-benar ada di sana waktu itu."
Alexey memutuskan sambungan telepon tanpa basa-basi. Ia melempar ponselnya ke sofa dan menatap kosong ke foto ibunya di investigator board.
"Mama..." gumamnya pelan dengan suara bergetar, tangannya gemetar. "Semoga aku tidak salah mengambil langkah. Semoga..."
Saat Alexey memejamkan mata mencoba menenangkan pikirannya, teleponnya kembali berdering. Ia meraihnya dengan malas, mengira Thomas menelepon lagi.
Namun yang terdengar adalah suara lembut Haerim dari seberang.
"Alexey... kamu belum tidur?" tanya Haerim dengan nada pelan dan lembut, terdengar khawatir. "Sudah malam banget lho..."
"Baru saja ingin tidur," jawab Alexey dengan nada datar namun terdengar lelah. "Kenapa meneleponku?"
"Oh, aku cuma mau ngasih tahu," jelas Haerim dengan nada sedikit gugup. "Besok malam ada gala tahunan yayasan keluarga Kang di hotel. Mommy mengundangmu untuk datang. Kamu... mau datang kan?"
Alexey terdiam sejenak, pikirannya berputar cepat. Ini kesempatan sempurna untuk berbicara empat mata dengan Kang Mira, untuk mencari kebenaran.
"Aku akan datang," jawabnya datar namun tegas.
"Benaran?!" seru Haerim dengan nada gembira dari seberang. "Oke, sampai besok ya, Alexey. Selamat malam..."
Suaranya terdengar malu-malu di akhir kalimat, seolah mengingat ciuman mereka kemarin.
"Selamat malam," balas Alexey dengan nada rendah. "Tidurlah. Jangan begadang."
Setelah sambungan terputus, Alexey menatap ponselnya dengan tatapan kosong. Ia berjalan kembali ke investigator board dan menatap foto Kang Mira dengan intens.
"Mungkin Kang Mira tahu sesuatu," gumamnya pelan dengan nada penuh tekad. "Aku harus segera menemuinya. Besok malam... aku akan mendapatkan jawabannya."
Sore harinya di rumah keluarga Kang, Kang Mira memanggil Haerim yang sedang bersiap-siap untuk acara malam nanti.
"Haerim sayang, tolong ke gudang arsip keluarga sebentar," pinta Kang Mira sambil sibuk mengecek daftar undangan. "Ambilkan foto-foto keluarga yang lama. Mommy mau pajang di acara nanti untuk nostalgia."
"Lho, kenapa nggak suruh pembantu aja, Mom?" tanya Haerim sambil menoleh ke arah ibunya. "Kan ada pembantu yang bisa disuruh. Aku masih harus bersiap-siap nih..."
"Sayang, itu gudang arsip keluarga," jelas Kang Mira dengan nada lembut namun tegas. "Nggak bisa dimasuki sembarang orang, bahkan pembantu. Cuma anggota keluarga langsung yang boleh masuk ke sana. Kamu kan tahu aturannya."
"Haah... yasudah deh," keluh Haerim dengan malas sambil beranjak dari kursi rias.
Haerim keluar dari ruangan rias dengan langkah lesu, masih mengomel pelan sambil berjalan menuju gudang arsip keluarga.
Sampai di depan gudang arsip keluarga, Haerim langsung mengernyit melihat ruangan gelap yang penuh debu. Ia menyalakan senter dari HP-nya dengan tangan sedikit gemetar.
"Ih, seram banget sih ruangan ini," gerutunya sambil melangkah masuk perlahan. "Kayak rumah hantu. Kenapa nggak dipasang lampu yang terang aja sih... Mommy nyuruh aku ke sini sendirian lagi..."
Cahaya senter HP-nya menerangi tumpukan kotak-kotak arsip tua dan foto-foto berdebu yang tersusun rapi di rak-rak kayu.
Haerim mulai mengambil beberapa foto keluarga dari rak dengan hati-hati, meniup debu yang menempel. Ia menatap foto-foto itu dengan tatapan sendu.
"Sesepi itu ya keluarga kita," gumamnya pelan dengan nada sedih. "Bahkan foto keluarga besar saja tempatnya di gudang yang gelap dan berdebu begini. Nggak ada yang peduli... nggak ada yang pernah lihat lagi..."
Ia mengusap permukaan foto dengan lembut, merasakan kesepian yang sama seperti foto-foto itu.
Saat Haerim baru ingin keluar dari gudang, tiba-tiba sebuah benda terjatuh dari atas lemari dengan bunyi gedebuk pelan.
"Itu apa?" tanyanya pada diri sendiri sambil mengarahkan senter HP ke arah suara.
Ia mendekat dan mengambil kotak kecil yang terjatuh itu. Dengan hati-hati, ia membuka tutupnya. Matanya langsung membulat kaget.
Di dalam kotak itu ada beberapa lembar foto lama, seorang wanita cantik sedang menggendong seorang bayi dengan senyum lembut di wajahnya.
"Apa ini... Bibi Seoyon?" gumamnya pelan sambil menatap foto itu lebih dekat dengan cahaya senter. "Dan wajahnya... memang sangat mirip dengan Alexey. Mata, hidung, bahkan senyumnya... Ini pasti Bibi Seoyon..."
Tangan Haerim sedikit gemetar memegang foto itu, perasaan aneh menyelimuti dadanya.
Haerim terus menatap foto itu dengan pikiran yang berputar cepat. Kepingan-kepingan puzzle mulai menyatu di kepalanya.
"Apa Bibi Seoyon ada hubungannya dengan Alexey?" gumamnya penasaran sambil menggenggam foto itu erat. "Makanya Alexey akhir-akhir ini sering bertanya tentang keluargaku... dan Mommy juga bilang Alexey mirip sama sahabatnya..."
Ia memasukkan foto-foto itu ke dalam saku jaketnya dengan hati-hati.
"Aku harus menunjukkan ini pada Alexey," putusnya dengan nada yakin. "Dan bertanya langsung padanya. Pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan... sesuatu yang berkaitan dengan keluargaku dan Bibi Seoyon..."