Dipaksa menikah dengan pria yang terkenal dingin dan kejam untuk menggantikan Kakak tirinya yang pergi melarikan diri menjelang pernikahan, Gia tak bisa menolak.
Gia berdiri di samping Tuan Ardiansyah yang berkuasa, dengan seluruh tubuh gemetar dan air mata yang menggenang di pelupuk mata.
Dia takut kalau Tuan Ardiansyah tau yang ada di balik kain veil itu adalah dirinya, bukan Siska Kakaknya.
Tapi tangan hangat dengan jari yang besar justru menggenggam tangannya.
"Bernapaslah, ikuti kataku. Semua akan baik-baik saja!"
Bagaimana jadinya jika Tuan Ardiansyah yang terkenal kejam itu justru tak seperti yang orang katakan. Dia justru begitu hangat dan perhatian, apa Siska akan menyesal telah meninggalkan pernikahan waktu itu?
Apa Siska akan kembali dan merusak kebahagiaan yang baru saja Gia dapatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Debut yang menegangkan
Pagi itu hujan turun rintik-rintik, membuat suasana mansion Ardiansyah terasa lebih dingin dari biasanya. Gia sedang berada di dapur, mencoba menyibukkan diri dengan membantu koki menyiapkan sarapan. Ia ingin merasa berguna, bukan hanya menjadi pajangan di rumah besar ini. Toh, dia sudah terbiasa melakukan pekerjaan rumah layaknya pelayan di rumah itu.
Ares muncul dengan kemeja biru navy yang belum dikancingkan sempurna. Ia berhenti di ambang pintu dapur, melihat Gia yang sedang serius memotong buah.
"Gia" panggilnya lembut.
"Iya, Mas?" Gia menoleh dengan sedikit terkejut.
Ares berjalan mendekat. Bukannya memerintah, ia justru mengambil pisau dari tangan Gia dengan pelan.
"Tangan kamu bisa luka kalau melamun begini. Biar pelayan yang melakukan ini!"
Gia menarik tangannya, merasa canggung. Semua sentuhan Ares itu masih terasa asing baginya.
"Saya cuma mau membantu, Mas. Saya tidak terbiasa diam saja!"
Ares tidak menjawab. Ia justru meraih tangan kanan Gia, memperhatikan telapak tangan gadis itu yang sedikit kasar karena sering bekerja keras dulu. Tanpa diduga, Ares mengusap jempolnya di sana dengan gerakan yang sangat lembut, sebuah perlakuan manis yang membuat jantung Gia berpacu, namun mata Ares tetap terlihat datar, seolah ia sedang menegaskan pada Gia agar hatinya tidak ikut terlibat.
"Besok akan ada acara makan malam amal" Ucap Ares sambil melepaskan tangan Gia.
"Kamu harus ikut sama Mas. Mas sudah meminta desainer mengirimkan beberapa pilihan gaun nanti sore!"
"Harus saya, Mas?"
"Hanya kamu yang punya hak untuk berdiri di samping Mas sekarang. Jangan bertanya hal yang sudah jelas!" Ares mengatakannya dengan sangat jelas dan tegas.
"Baik Mas!"
Sore harinya, saat desainer datang, Gia mencoba salah satu sepatu hak tinggi yang dikirimkan. Karena tidak terbiasa, tumitnya lecet dan memerah. Ia mencoba menyembunyikannya saat Ares pulang kantor. Dia merasa malu karena hanya memakai sepatu seperti itu saja tidak bisa. Dari tumitnya yang luka itu, sudah menunjukkan kalau Gia tidak pernah memakai hak tinggi dan tidak pentas bersanding dengan Ares yang selalu berpenampilan sempurna dengan segala sesuatu yang mahal melekat pada tubuhnya.
Namun, mata Ares yang tajam tidak bisa dibohongi. Saat mereka duduk di ruang tengah untuk meminum teh, Ares menyadari cara duduk Gia yang tidak nyaman.
Tanpa berkata apa-apa, Ares berlutut di lantai, tepat di depan kaki Gia.
"Mas! Apa yang Mas lakukan?" Gia panik, mencoba menarik kakinya.
"Diam!" perintah Ares pelan namun tegas hingga membuat Gia tersentak dan ketakutan. Ia mengangkat kaki kecil Gia dan meletakkannya di atas lututnya. Ia melihat lecet di tumit Gia.
Ares mendesah pelan. Ia meminta pelayan membawakan kotak obat. Dengan sangat telaten seperti seorang pelindung yang sedang merawat hartanya yang rapuh, Ares mengobati luka itu. Jemarinya yang dingin menyentuh kulit Gia yang hangat, memberikan sensasi yang membuat Gia merinding.
"Kalau sakit, katakan. Jangan dipaksakan hanya karena ingin terlihat sempurna di depan Mas!" ucap Ares tanpa mendongak.
"Saya hanya tidak ingin mempermalukan Mas nanti!" Gia menatap pucuk kepala Ares.
Ares mendongak, mata mereka bertemu dalam jarak yang sangat dekat. Ares menatap mata Gia cukup lama, seolah sedang menimbang-nimbang sesuatu.
"Kamu tidak akan pernah mempermalukan Mas, Gia!" Bisik Ares.
"Ganti sepatunya dengan yang lebih rendah. Mas tidak peduli kamu terlihat pendek di samping Mas, asalkan kamu tidak kesakitan!"
Setelah itu, Ares pergi ke ruang kerjanya, kembali menciptakan jarak setelah memberikan momen yang begitu manis. Ia meninggalkan Gia yang terpaku, meraba tumitnya dengan perasaan campur aduk.
Ares begitu manis, namun ada garis tak kasat mata yang seolah berkata, aku akan menjagamu, tapi jangan minta aku untuk mencintaimu.
🌹🌹🌹
Malam itu, gedung pertemuan mewah di pusat Jakarta dipenuhi oleh kilatan lampu kamera dan jajaran mobil mewah. Ares turun dari mobil, tampak sangat berwibawa dengan tuksedo hitam pekat. Ia berputar ke sisi lain, membukakan pintu untuk Gia.
Gia keluar dengan gerakan ragu. Ia mengenakan gaun beludru berwarna biru gelap yang dipilihkan Ares, gaun itu tidak terlalu terbuka, namun sangat elegan, menonjolkan kulitnya yang putih bersih.
"Genggam lenganku, Gia!" Bisik Ares rendah namun memerintah.
Gia ragu sejenak sebelum menyampirkan tangannya di lengan kekar Ares. Ia bisa merasakan otot lengan Ares yang mengeras, seolah pria itu sendiri sedang bersiap menghadapi medan perang.
"Tetaplah di samping Mas. Jangan lepaskan genggamanmu, apa pun yang terjadi!" Tambah Ares, menunduk sedikit untuk berbisik di telinga Gia. Jarak yang begitu dekat membuat jantung Gia berpacu kencang, namun ada rasa aman yang menyelinap di antara ketakutannya.
Begitu mereka masuk ke dalam ballroom, keheningan sesaat melanda ruangan. Semua mata tertuju pada mereka. Bisik-bisik mulai terdengar.
"Bukannya itu adik tiri Siska? Kenapa dia yang ada di sana?"
"Kasihan sekali Tuan Ardiansyah, harus menikahi cadangan demi harga diri"
Gia menunduk, tangannya yang memegang lengan Ares mulai gemetar. Namun, seolah bisa merasakan kegelisahan istrinya, Ares justru menutupi tangan Gia dengan telapak tangannya sendiri yang besar dan hangat. Ia meremasnya pelan, sebuah isyarat tanpa kata yang berarti 'Aku di sini'
Seorang kolega bisnis mendekat, membawa segelas sampanye.
"Tuan Ardiansyah, selamat atas pernikahannya. Tapi... kami semua cukup terkejut. Di mana Siska?"
Rahang Ares mengeras, namun suaranya tetap tenang dan penuh wibawa.
"Siska tidak lagi menjadi bagian dari pembicaraan di rumah maupun bisnisku. Ini adalah Gia, istriku. Dan saya harap Anda bisa menyapa Nyonya Ardiansyah dengan cara yang lebih sopan!"
Kolega itu tersentak, segera membungkuk kecil pada Gia.
"Maafkan saya, Nyonya Ardiansyah!"
Malam terus berlanjut. Ares harus berbicara dengan banyak orang tentang bisnis. Meski mereka berdiri berdampingan, Gia merasa ada jurang yang dalam. Ares tampak sangat ahli di dunianya, sementara Gia hanya bisa berdiri diam, merasa seperti pajangan yang indah namun tak berguna karena dia tak tau apa-apa. Riwayat pendidikannya yang hanya tamatan sekolah menengah atas membuatnya cetek ilmu.
Saat Ares sedang sibuk berdiskusi dengan seorang menteri, Gia meminta izin untuk pergi ke toilet.
"Hanya lima menit, Mas!" bisik Gia.
Ares menatapnya tajam, seolah enggan melepaskannya.
"Cepatlah kembali. Aku akan menunggumu di dekat air mancur itu!"
Namun, di lorong menuju toilet, Gia dihadang oleh sekelompok wanita muda, kerabat jauh keluarga Ardiansyah. Salah satu dari mereka sengaja menyenggol bahu Gia hingga tas kecilnya jatuh.
"Oh, maaf. Aku tidak lihat ada pembantu di sini!" Ucap wanita itu sinis.
"Gia, apa kamu tidak malu? Memakai perhiasan dan gaun mahal yang seharusnya milik Siska? Kamu hanya bayangan, Gia. Kalau suatu saat Siska kembali, Ares akan membuangmu seperti sampah!"
Gia mengambil tasnya dengan tangan gemetar. Ia ingin membalas, namun suaranya tercekat di tenggorokan.
"Mas Ares tidak seperti itu..."
"Benarkah? Apa dia sudah menyentuhmu? Apa dia sudah mengatakan dia mencintaimu? Tidak, kan? Karena di matanya, kamu hanya pengingat akan kegagalannya menikahi Siska!"
Gia terdiam. Kata-kata itu menghujam tepat di titik terlemahnya. Benar, Ares sangat baik dan manis, tapi pria itu belum pernah mengatakan perasaan yang sebenarnya. Namun itu maklum saja karena pernikahan mereka beru terjadi beberapa hari.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat terdengar dari arah belakang. Sosok Ares muncul dengan wajah yang begitu gelap hingga para wanita itu mundur ketakutan.
sabar satria, dah maklumin aja orang lagi bucin mah suka begitu
Tuh semua jadi tahu kalau Gia istri Ares Ardiansyah, gak ada yg berani nganggu tuh di kampus