NovelToon NovelToon
Terpisah Oleh Dinding Agama

Terpisah Oleh Dinding Agama

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: abangku_ss

Alek seorang remaja SMA nakal beragama kristen sering bertanya soal kebenaran tentang hidup ini hingga datang seorang yang menjadi jawaban bagi Alek, Masya Khansa azza Nabila menjadi awal perubahan kehidupan Alek cahaya di kegelapan,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon abangku_ss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 28

BAB 28: Badai di Balik Gerbang

Ruang kerja itu berbau cerutu mahal dan dendam yang sudah mengental. Di lantai tiga puluh sebuah gedung pencakar langit di pusat Jakarta, Bapak Rahardjo—ayah dari mendiang Bagas—duduk di balik meja mahagoni yang luas. Matanya yang merah karena kurang tidur menatap tajam ke arah sebuah amplop cokelat yang baru saja diletakkan oleh asisten pribadinya.

Di dalam amplop itu terdapat beberapa lembar foto buram hasil jepretan kamera ponsel selundupan. Foto-foto itu diambil dari kejauhan, dari balik celah barak Blok B Lapas. Foto pertama memperlihatkan Alexander Panjaitan sedang duduk bersila di depan sebuah rak buku di perpustakaan. Foto kedua lebih tajam; memperlihatkan Alek yang sedang berdiri di depan deretan keran wudhu, memperhatikan Syekh Mansyur dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Dia mulai mencari Tuhan," gumam Rahardjo, suaranya parau dan penuh racun.

"Laporan dari 'orang kita' di dalam mengatakan bahwa Alexander tidak lagi menyentuh rokok, jarang bicara, dan menghabiskan hampir seluruh jam bebasnya di perpustakaan bersama Syekh Mansyur, Pak," lapor sang asisten dengan nada datar. "Bahkan ada selentingan bahwa dia mulai mempelajari bacaan shalat."

Rahardjo meremas pinggiran mejanya hingga buku-buku jarinya memutih. Baginya, setiap perubahan positif pada diri Alek adalah sebuah penghinaan. Ia ingin Alek membusuk, ia ingin Alek gila karena penyesalan, atau setidaknya ia ingin Alek tetap menjadi monster jalanan agar ia punya alasan untuk terus membencinya. Melihat Alek mencoba menjadi manusia baru melalui jalur spiritual adalah sesuatu yang tidak bisa ia toleransi.

"Dia pikir dia bisa menghapus darah anakku hanya dengan bersujud?" Rahardjo tertawa kering, sebuah tawa yang terdengar menyakitkan. "Dia ingin menebus dosa dengan cara yang mudah? Tidak. Aku tidak akan membiarkan dia merasa tenang, bahkan di dalam selnya sekalipun."

"Apa Anda ingin saya menyuruh narapidana di sana untuk 'memberinya pelajaran' lebih keras lagi, Pak?"

Rahardjo menggeleng perlahan. Matanya berkilat jahat. "Kekerasan fisik hanya akan membuatnya merasa seperti martir. Itu hanya akan membuatnya semakin dekat dengan orang tua berjenggot putih itu. Kita harus menyerang dari sisi yang paling lemah. Sisi yang akan menghancurkan fondasi hidupnya."

Ia mengambil ponselnya, mencari sebuah nomor yang sudah lama ia simpan namun belum pernah ia hubungi. Nomor Pendeta Daniel Panjaitan.

"Aku tahu Daniel," ujar Rahardjo dingin. "Dia pria yang sangat menjunjung tinggi martabat dan silsilah. Baginya, memiliki anak seorang pembunuh sudah cukup memalukan. Tapi jika anaknya menjadi seorang 'murtad'... itu akan menjadi belati yang paling tajam. Aku ingin Daniel sendiri yang pergi ke sana dan meruntuhkan mental anaknya."

Beberapa menit kemudian, di sebuah pastori yang sunyi di pinggiran Bandung, ponsel Pendeta Daniel bergetar. Sebuah pesan masuk berisi foto-foto Alek di depan masjid dan sebuah kalimat singkat dari pengirim anonim: 'Anakmu bukan hanya seorang pembunuh, Daniel. Sekarang dia sedang menginjak-injak salib di dadanya demi seorang narapidana tua di penjara. Apakah ini cara keluarga Panjaitan membayar dosa?'

Sementara itu, di dalam penjara, Alek tidak tahu bahwa badai sedang bergerak menuju arahnya. Sore itu, ia sedang duduk di ruang besuk yang bising. Di depannya, Riki duduk dengan wajah pucat dan mata yang gelisah, terus menoleh ke kiri dan ke kanan seolah-olah ada yang mengawasi mereka.

"Lex, dengar gue baik-baik," bisik Riki, menempelkan telpon ke telinganya erat-erat hingga kacanya beruap. "Gue ke sini karena Ibu lo nangis-nangis telepon gue tadi malam."

Jantung Alek seolah berhenti berdetak. "Ibu kenapa, Rik? Dia sakit?"

"Bukan Ibu, tapi Bokap lo," Riki menarik napas panjang. "Bokap dapet kiriman foto lo lagi di deket masjid. Dia dapet laporan kalau lo mulai ikut-ikutan ajaran Syekh Mansyur. Gue nggak tahu siapa yang kirim, tapi orang itu tahu detail semua kegiatan lo di sini."

Alek terpaku. Ia menatap tangannya yang baru saja ia basuh dengan air wudhu tadi sore. Rasa sejuk yang ia rasakan tiba-tiba menguap, digantikan oleh rasa dingin yang menusuk tulang.

"Bokap ngamuk, Lex. Alkitab besar di ruang tamu sampai dilempar. Dia bilang, besok pagi dia bakal ke sini. Dia mau denger langsung dari mulut lo," Riki menelan ludah, suaranya bergetar. "Ibu bilang, Bokap bawa surat pernyataan. Kalau lo nggak berhenti, dia bakal coret nama lo dari keluarga. Lo bakal dianggap mati, Lex. Nggak ada kunjungan lagi, nggak ada bantuan hukum, nggak ada nama Panjaitan lagi buat lo."

Alek menutup matanya. Ia merasakan dinding-dinding ruang besuk itu seolah bergerak mendekat, menghimpitnya. Di luar sana, dendam ayah korban sedang bekerja sama dengan prinsip keras ayahnya untuk menjepit lehernya.

"Rik..." bisik Alek, suaranya nyaris hilang. "Gue cuma pengen tenang. Gue cuma pengen napas gue nggak kerasa berat setiap malam."

"Gue tahu, Lex. Tapi buat Bokap lo, ketenangan lo itu pengkhianatan," sahut Riki sedih. "Siap-siap, Lex. Besok pagi... singa itu bakal masuk ke kandang ini."

Alek mengangguk pelan. Ia meletakkan gagang telepon dan berjalan kembali ke bloknya dengan langkah yang sangat berat. Setiap pasang mata narapidana yang ia lewati terasa seperti mata-mata. Ia baru menyadari bahwa penjara ini tidak hanya memiliki dinding beton, tapi juga memiliki telinga dan mata yang bisa menjual jiwanya demi selembar uang dari luar.

Malam itu, Alek tidak pergi ke perpustakaan. Ia hanya duduk bersila di selnya, menatap buku biru pemberian Khansa yang kini tergeletak di sampingnya. Ia merasa seperti sedang berdiri di atas seutas tali tipis di atas jurang. Di satu sisi ada ayahnya, identitasnya, dan satu-satunya akarnya. Di sisi lain, ada cahaya redup dari sujud yang baru saja ia pelajari.

"Besok..." gumam Alek pada kegelapan. "Besok semuanya akan selesai."

Pagi itu, udara di ruang besuk terasa lebih tipis dari biasanya. Alek duduk di kursi besi yang dipaku ke lantai, tangannya gemetar hebat di bawah meja. Ia telah mencoba menenangkan diri dengan mengingat setiap nasihat Syekh Mansyur, namun saat pintu baja di ujung ruangan terbuka dan sosok Pendeta Daniel melangkah masuk, semua ketenangan itu runtuh seketika.

Daniel Panjaitan tidak datang dengan tangan kosong. Ia memeluk Alkitab kulit hitamnya yang sudah usang di dada kiri, sementara tangan kanannya menggenggam sebuah amplop cokelat besar. Wajahnya yang biasanya kemerahan kini pucat pasi, namun matanya memancarkan amarah yang sangat dingin—jenis amarah yang jauh lebih menakutkan daripada teriakan mana pun.

Ia duduk di seberang Alek. Tanpa sapaan, tanpa menanyakan kabar, Daniel langsung melemparkan amplop itu ke atas meja di depan kaca pembatas. Alek mengangkat gagang telepon dengan tangan lemas.

"Ayah..." suara Alek hampir tidak terdengar.

"Jangan panggil aku Ayah jika kau masih menyimpan sampah itu di hatimu, Alexander!" suara Daniel menggelegar melalui speaker telepon, tajam dan menyakitkan. "Buka amplop itu. Lihat dengan mata kepalamu sendiri bagaimana kau sudah meludahi wajah keluarga ini!"

Alek membuka amplop itu dengan jari gemetar. Di dalamnya terdapat foto-fotonya yang sedang mengamati gerakan shalat Syekh Mansyur dan berdiri di depan keran wudhu. Foto-foto yang dikirim oleh ayah Bagas.

"Seseorang mengirimkan ini kepadaku," Daniel melanjutkan, suaranya kini bergetar karena menahan tangis. "Dia bilang, anakku bukan hanya seorang pembunuh, tapi juga seorang pengkhianat iman. Kau pikir setelah kau membuat malu nama Panjaitan dengan jeruji besi ini, kau diizinkan untuk menjual jiwamu pada agama lain? Untuk apa, Lex? Untuk mendapatkan keringanan hukuman? Atau untuk mencari suaka di balik jubah narapidana tua itu?"

"Ini bukan soal hukuman, Yah," Alek mencoba membela diri, matanya mulai memanas. "Alek cuma pengen tenang. Alek ngerasa kotor, dan di sini... bersama Syekh... Alek ngerasa ada harapan buat jadi manusia lagi."

"Harapan tidak ada di sana!" bentak Daniel, tangannya memukul kaca pembatas hingga menimbulkan bunyi dentum yang keras. "Harapan itu ada pada darah Kristus yang sudah kau abaikan! Kau ini anak Pendeta, Alexander! Jika jemaat tahu, jika keluarga besar kita di Medan tahu kau murtad di dalam penjara karena pengaruh seorang kriminal tua, di mana aku harus menaruh mukaku?"

"Jadi ini soal muka Ayah? Soal reputasi Ayah?" Alek mulai merasa sesak. "Alek di sini menderita setiap malam karena bayangan Bagas, dan Ayah cuma peduli soal apa kata jemaat?"

Daniel terdiam sejenak, napasnya memburu. Ia kemudian mengeluarkan selembar kertas dari balik Alkitabnya. Sebuah surat pernyataan bermaterai.

"Aku tidak datang ke sini untuk berdebat," kata Daniel dengan nada yang tiba-tiba menjadi sangat datar dan mematikan. "Tandatangani ini. Isinya adalah pernyataan bahwa kau akan menghentikan semua hubungan dengan narapidana itu, berhenti pergi ke perpustakaan, dan berjanji tidak akan pernah berpindah keyakinan sampai kapan pun."

Alek menatap kertas itu. Huruf-hurufnya seolah menari mengejeknya.

"Jika kau tanda tangan, aku akan tetap mengirimimu uang bulanan. Ibu akan tetap menjengukmu. Aku akan mengusahakan pengacara terbaik untuk bandingmu nanti," Daniel menatap Alek dengan mata yang memohon sekaligus mengancam. "Tapi jika kau menolak... hari ini adalah terakhir kali kau melihatku. Aku akan menganggap Alexander Panjaitan sudah mati di hari dia membunuh Bagas. Aku akan menghapus namamu dari silsilah keluarga. Kau tidak akan punya rumah untuk pulang saat kau bebas nanti."

Dunia seolah berhenti berputar bagi Alek. Ancaman itu nyata. Kehilangan nama keluarga Panjaitan berarti kehilangan segalanya—akar, identitas, dan kasih sayang ibunya. Di luar sana, ayah Bagas pasti sedang tertawa puas, melihat bagaimana rencananya berhasil memecah belah ayah dan anak ini.

Alek menoleh ke belakang, ke arah jeruji besi yang memisahkannya dari kebebasan. Ia teringat dinginnya air wudhu dan kedamaian saat ia belajar makna sujud semalam. Ia teringat Khansa yang kini entah di mana.

"Maafkan Alek, Yah," bisik Alek sambil mendorong kembali kertas itu ke arah ayahnya. "Alek nggak bisa tanda tangan kalau itu artinya Alek harus membohongi diri sendiri. Alek belum masuk Islam... tapi Alek juga nggak bisa berhenti mencari cahaya yang bikin Alek berhenti pengen bunuh diri di sel ini."

Daniel berdiri dengan sentakan yang membuat kursi besinya berderit nyaring. Matanya menatap Alek dengan kebencian yang murni. Ia tidak menangis lagi.

"Baiklah," kata Daniel dingin. Ia mengambil kembali kertas dan Alkitabnya. "Mulai detik ini, kau bukan anakku. Jangan pernah tulis surat ke rumah. Jangan pernah sebut namaku lagi. Kau ingin mencari jalanmu sendiri? Silakan. Cari jalan itu di dalam kegelapan tanpa orang tua."

Daniel berbalik dan melangkah pergi tanpa menoleh sedikit pun. Alek terpaku memegang gagang telepon yang kini hanya mengeluarkan suara tut-tut-tut yang panjang. Ia melihat punggung ayahnya menghilang di balik pintu besar itu, membawa pergi sisa-sisa dunianya yang lama.

Alek jatuh terduduk. Air matanya jatuh tanpa suara, membasahi meja besi yang dingin. Ia merasa benar-benar yatim piatu sekarang. Ia merasa kosong, hancur, dan tak bertuan.

Namun, di tengah kehancuran itu, ia merasakan sebuah tangan hangat hinggap di bahunya. Ia mendongak dan melihat petugas penjara yang menunggunya adalah salah satu narapidana yang sering ikut mengaji bersama Syekh Mansyur.

"Sabar, Lex," bisik orang itu pelan. "Syekh nunggu kamu di perpustakaan. Dia bilang, badai nggak akan berhenti sampai kamu mutusin buat jadi pelaut yang tangguh."

Alek mengusap air matanya dengan kasar. Ia berdiri, berjalan kembali ke bloknya bukan dengan kepala tertunduk, melainkan dengan langkah yang berat namun pasti. Ia telah kehilangan ayahnya di dunia, namun di dalam hatinya yang hancur, ia merasa pintu menuju 'Ayah' yang lebih besar baru saja sedikit terbuka.

Bab 28 Selesai.

Selanjutnya (Bab 29):

Alek menceritakan kejadian itu pada Syekh Mansyur. Syekh memberikan kekuatan mental pada Alek, namun di saat yang sama, ayah Bagas mulai mengirimkan "pesan" fisik

1
Hana Agustina
saranny.. apapum kondisi like n komentar nya.. tlg teteo bwrkarua thor.. krn banyak sekali pelajaran dlm kisah ini, utk sy yg msh tertatih belajar utk perbaiki diri ini.. tetep semangat y thor.. cerita ini indah sekali
Hana Agustina
saya baca tiap kata demi kata sambil menahan haru, tenggorokan sy serasa tertahan krn menahan berbagai macam perasaan.. seolah sy ikut menjadi saksi bgmn perjalanan seorang Alex memcari jati diri nya.. trimakasih thor.. cerotamu ini bener bener a masterpiece buat sy
Hana Agustina
kenapa cerita sebagus ini sepi pembaca.. sy setia nungguin setiap update kamu .. tetep semangat ya sampai selesai..dr cerita ini banyak pembelajaran itk sy belajar
Almun
alur menarik,tulisan rapi,dan cukup detail dalam men deskripsikan. KALIAN HARUS COBA BACA🥳
Alfina Assovah
sumpah..ceritanya bagus banget😍
Almun
Demi apapun kak,aku jatuh cinta sama tulisan kakak.Semoga suatu saat lebih banyak orang yg kenal karya karya kakak.🤍🤍SEMANGAT💪
Hana Agustina
alex... trus semangat ya mencari kebenaran yg hakiki.. sy ikut belajar loh dr kisahmu. kopi ya.. ini buat nemenin kamu
Hana Agustina
indah sekaliii... tiap narasi yg tercipta dr perjalanan alex .. indah sekali... masyaAllah
nabila(khansa?)
awas loh sampe sad ending 😤😤😌
Nazril Ilham: kalau di bikin sad emang kamu mau ngapain aku
total 1 replies
nabila(khansa?)
keren sih cerita kamu👍
Nazril Ilham: mana cerita mu
total 1 replies
Hana Agustina
pantas saja.. cerita yg dipaparkan terasa smp kerelung hati sy..
Hana Agustina
ikut nyesek🥺
Hana Agustina
semangat alex...
Hana Agustina
ya Allah Alex.. 🥺
Hana Agustina
ditunggu upny thor.. saya sukaa banget n penasaran
Hana Agustina
masyaAllah.. indah sekali ceritanyaaaa... 🙏
Cahaya. R. P
seriusan nih sepi banget...?? 0adahal bagus lohh cerita nya
Cahaya. R. P: 🗿🗿 kwkwkw
total 2 replies
Cahaya. R. P
yahh bersambung... sedihh dehh...jangan sampe sad ending donggg ngga tegaa
Cahaya. R. P
akhirnya upload... makasihh author... bagusss bangett ihh😍😍😍
hehe semangat bangg
Cahaya. R. P
kapan lanjut lagi nihh author..??
baguss bangett pliasss cerita nyaaa lanjutt dongg
PAGMA: Peter punk❓😱😱🤩
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!