NovelToon NovelToon
Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Romansa pedesaan / Perjodohan / Pernikahan Kilat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:59.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyah Alfatih

Kiara Valeska Pratama, desainer muda berbakat lulusan terbaik Jakarta tak pernah menyangka hidup glamornya akan runtuh hanya karena satu kata, perjodohan. Dijodohkan dengan anak Pak Kades dari desa pelosok, Kiara memilih kabur ke Bali dan mengabaikan hari pernikahannya sendiri.

Baginya, menikah dengan pria kampungan yang hidup di desa kumuh adalah mimpi buruk terbesar. Namun, Kiara tak tahu satu hal. Pria desa yang ia remehkan itu adalah Alvar Pramesa, dokter obgyn lulusan terbaik luar negeri yang meninggalkan karier gemilang demi kembali ke desa, merawat orang tuanya dan mengabdi pada tanah kelahirannya. Pernikahan tanpa kehadiran pengantin wanita menjadi awal dari konflik, gengsi, dan benturan dua dunia yang bertolak belakang. Gadis kota yang keras kepala dan pria desa yang tenang namun tegas, dipaksa hidup dalam satu atap.


Akankah cinta tumbuh dari perjodohan yang penuh luka dan salah paham?
Atau justru ego Kiara akan menghancurkan ikatan yang terlanjur terjalin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Pagi itu, Alvar baru saja menuntun motornya keluar halaman ketika suara Kiara terdengar dari arah teras.

“Mas Alvar!”

Langkah Alvar terhenti, dia menoleh, terlihat sedikit terkejut mendengar panggilan itu sopan, lembut, dan terasa asing di telinganya.

Kiara berjalan mendekat dengan langkah hati-hati. Hari itu wajahnya tampak lebih cerah. Rambutnya diikat sederhana, ia mengenakan celana jeans selutut dan kemeja lengan panjang berwarna pucat.

“Aku … boleh ikut ke sawah?” tanyanya. “Aku janji nggak akan nyusahin.”

Alvar menatapnya sejenak, lalu matanya turun ke kaki Kiara.

“Kaki kamu sudah sembuh?”

Kiara mengangguk cepat.

“Sudah, cuma sedikit pegal, tapi aku kuat.”

Nada suaranya terdengar meyakinkan. Bahkan, ada semangat kecil yang tak ia sembunyikan.

Alvar menghela napas pendek. “Ya sudah. Tapi kalau capek, bilang.”

Mata Kiara langsung berbinar. “Makasih.”

Alvar naik ke motor lebih dulu, lalu menoleh. “Naik.”

Kiara terdiam, ragu jelas terlihat di wajahnya. Namun, setelah beberapa detik, ia akhirnya duduk di belakang. Jarak mereka masih kaku dan terlalu jauh untuk disebut dekat.

“Pegang, nanti kamu jatuh." Kata Alvar singkat.

“Pegang pinggangku.”

Wajah Kiara langsung memanas. Tangannya terangkat ragu, lalu perlahan menyentuh sisi pinggang Alvar, sekadar ujung jari. Motor belum juga melaju.

“Yang kuat,” tambah Alvar tanpa menoleh. Dengan napas tertahan, Kiara akhirnya memegang lebih erat. Detak jantungnya berdegup cepat, bukan karena takut jatuh, tapi karena jarak yang tiba-tiba terasa begitu dekat.

Dari balik jendela, Sulastri memperhatikan semuanya. Senyum kecil terbit di wajahnya saat motor itu akhirnya melaju, meninggalkan halaman rumah yang masih basah oleh embun pagi.

Di jalan menuju sawah, angin pagi menyapu wajah Kiara. Sejak berada di desa itu, ia merasa ingin benar-benar mencoba berada di sisi pria di depannya.

Matahari belum terlalu tinggi saat Alvar dan Kiara berjalan di atas pematang sawah. Hamparan hijau membentang sejauh mata memandang, angin menggerakkan padi muda hingga bergelombang pelan.

“Hati-hati,” kata Alvar singkat. “Pematangnya licin.”

Kiara mengangguk, menunduk memperhatikan langkahnya. Sesekali, tanpa sadar, ia berjalan sedikit lebih dekat ke Alvar.

“Mas…” Kiara membuka suara setelah beberapa saat hening.

“Kamu tiap hari ke sawah begini?”

“Iya,” jawab Alvar. “Dari dulu.”

“Capek ya?”

Alvar meliriknya sekilas. “Kalau sudah biasa, capeknya nggak kerasa.”

Kiara tersenyum kecil. “Berarti aku yang manja.”

“Nggak juga,” sahut Alvar datar, tapi nadanya lebih lembut dari biasanya.

“Kamu cuma belum terbiasa.”

Ucapan sederhana itu membuat Kiara terdiam sejenak. Dia menatap padi yang bergerak pelan diterpa angin.

“Kalau aku belajar…” katanya ragu, “kira-kira aku bisa terbiasa juga nggak?”

Alvar berhenti melangkah. Menoleh padanya. “Bisa, semua orang bisa belajar, asal mau.”

Tatapan mereka bertemu sebentar, lalu Alvar kembali berjalan. Tapi langkahnya kini diperlambat, menyesuaikan langkah Kiara. Tak jauh dari sana, beberapa gadis desa yang sedang memotong rumput berhenti sejenak. Mereka saling berbisik sambil melirik ke arah pematang.

“Itu Nona Kiara ya, istrinya Mas Alvar?”

“Iya, kukira dia bakal nggak betah di desa.”

“Lihat deh, jalannya bareng Mas Alvar. Kayak cocok aja.”

Seorang ibu paruh baya yang membawa caping ikut menimpali, “Anaknya sopan. Tadi nyapa aku duluan.”

Kiara mendengar bisik-bisik itu. Wajahnya memerah, bukan malu karena dinilai, tapi karena tak menyangka. Ia menunduk, memainkan ujung kemejanya.

“Kok mereka,” gumamnya pelan.

Alvar tersenyum tipis. “Warga sini cuma penasaran, kamu kan orang baru.”

“Apa aku kelihatan aneh?”

“Nggak.” Alvar menggeleng. “Kamu kelihatan … berusaha jadi penduduk desa.”

Jawaban itu membuat langkah Kiara terhenti lagi. “Mas … makasih.”

Alvar menoleh, sedikit bingung. “Buat apa?”

“Karena … nggak memperlakukanku kayak orang asing.”

Alvar tak langsung menjawab. Ia hanya menatap sawah di depannya, lalu berkata pelan, “Kamu istriku. Bukan orang asing.”

Kalimat itu sederhana, tapi membuat dada Kiara menghangat.

Di kejauhan, bisik-bisik warga berubah menjadi senyum.

Alvar berhenti di pinggir petak sawah, menancapkan cangkulnya ke tanah.

“Kamu di sini saja,” katanya. “Jangan turun ke lumpur.”

Kiara mengangguk cepat. Tapi setelah melihat Alvar bekerja, ia merasa tak enak hanya berdiri.

“Mas … aku bisa bantu apa?” tanyanya.

Alvar meliriknya ragu. “Sawah bukan tempat main, ini cukup licin.”

“Aku janji hati-hati.”

Sebelum Alvar sempat melarang lagi, Kiara sudah melangkah turun. Lumpurnya dingin, lembek, dan langsung membuatnya sedikit panik.

“Oh!”

Alvar refleks mendekat. “Pelan-pelan.”

Kiara mencoba meniru gerakan Alvar, mencabut rumput liar di sela padi. Beberapa menit berjalan lancar, sampai tiba-tiba kakinya terpeleset.

“Ah!”

Tubuh Kiara oleng ke samping. Tanpa pikir panjang, Alvar menjatuhkan cangkul dan meraih lengannya. Satu tangannya menahan pinggang Kiara, mencegahnya jatuh ke lumpur.

“Kiara!”

Wajah mereka sangat dekat. Napas Kiara tercekat, matanya membulat. Tangannya spontan mencengkeram bahu Alvar.

“Maaf … aku—”

“Diam,” potong Alvar cepat. “Pegangan.”

Ia menahan Kiara beberapa detik sampai posisi mereka stabil. Tangannya masih di pinggang Kiara, baru ia sadari saat detak jantungnya sendiri terasa terlalu cepat.

Perlahan, Alvar melepas pegangan. “Sudah ku bilang ini licin.”

Kiara menunduk, wajahnya memerah. “Aku cuma mau bantu.”

Alvar menghela napas, tapi kali ini tak keras. “Niatmu baik, tapi jangan terlalu maksain.”

Dia mengambil sapu tangan dari saku dan, tanpa banyak bicara, membersihkan lumpur di tangan Kiara. Gerakannya kaku, tapi hati-hati.

Dari pematang seberang, beberapa warga memperhatikan.

“Itu Mas Alvar ya? Cepat juga nolong istrinya.”

“Biasanya dia dingin, lho.”

“Kelihatan dijagain banget.”

Seorang ibu tersenyum sambil membetulkan caping. “Berarti sayang, cuma nggak banyak omong anaknya.”

Kiara ikut mendengar gumaman itu. Ia melirik Alvar sekilas, lalu cepat memalingkan wajah.

“Mas … aku bikin kamu repot ya.”

Alvar menggeleng. “Nggak, tapi mulai sekarang, kalau mau bantu, bilang dulu.”

“Siap,” jawab Kiara ringan, kali ini tersenyum.

Alvar kembali ke pekerjaannya, tapi kini posisinya sedikit lebih dekat dengan Kiara, seolah tanpa sadar memastikan ia tetap aman.

Matahari sudah condong ke barat saat mereka berjalan menyusuri pematang menuju jalan desa. Langkah Kiara sedikit tertatih, tapi wajahnya cerah. Bajunya berlumur sedikit lumpur, rambutnya diikat asal, tampak jauh berbeda dari Kiara kota yang dulu.

Di dekat jembatan kecil, seorang pemuda desa menghentikan langkahnya.

“Nona Kiara, ya?” sapanya ramah. “Katanya kamu dari kota. Nggak nyangka betah juga di sawah.”

Kiara tersenyum sopan. “Iya, masih belajar, kok.”

Pemuda itu terkekeh. “Keren, jarang lho yang mau ikut ke sawah begini.”

Alvar yang berjalan di samping Kiara berhenti melangkah. Rahangnya mengeras, tapi ia tak berkata apa pun. Tatapannya lurus ke depan, dingin. Kiara sadar, dia melirik Alvar sekilas, lalu cepat merapikan sikapnya.

“Mas Alvar yang ngajarin,” kata Kiara cepat. “Aku cuma ikut-ikut.”

Ia sengaja menyebut nama Alvar, memberi jarak yang jelas.

Pemuda itu mengangguk, menoleh ke Alvar. “Mas Alvar, istrinya cepat adaptasi.”

“Hm,” jawab Alvar singkat.

Tak ada senyum, tak ada basa-basi. Kiara merasa suasana mengeras. Ia menunduk sedikit, lalu berkata sopan, “Kami mau pulang dulu.”

Pemuda itu pamit dan pergi. Begitu jarak cukup jauh, Kiara menghela napas kecil. Alvar kembali melangkah tanpa menunggu Kiara. Wajahnya tetap datar, dingin seperti tanah sawah yang belum kena matahari.

“Mas…” Kiara memanggil pelan.

Tak dijawab, beberapa langkah kemudian, Kiara mengejar.

“Aku cuma jawab sopan. Takut orang desa bilang kamu nggak bisa ngajarin istri.”

Alvar berhenti dan menoleh.

“Aku nggak malu,” katanya datar.

“Terus kenapa wajah kamu begitu?”

Alvar diam beberapa detik, tangannya mengepal, lalu mengendur.

“Lain kali,” katanya akhirnya, “nggak usah banyak senyum ke orang lain.”

Ucapan itu pelan, tapi tegas. Kiara terdiam, lalu, alih-alih marah, ia mengangguk kecil. “Baik.”

Mereka melanjutkan jalan. Jarak di antara mereka sempat renggang, lalu tanpa sadar Alvar memperlambat langkah agar sejajar dengan Kiara lagi.

Dari kejauhan, beberapa ibu desa memperhatikan.

“Mas Alvar itu cemburu, ya?”

“Iya, tapi caranya beda. Pendiam, tapi kelihatan.”

“Istrinya pintar. Nggak banyak tingkah.”

Tiba- tiba, seseorang yang baru saja lewat dari sana menegur mereka.

"Lagi liat apa sih, Bu?"

"Eh, Dokter Hesti. Ini Lo mas Alvar lagi pulang sama istri kotanya. Anaknya ramah dan juga cantik,"

Hesti yang mendengar hal itu nampak tak suka, dia melihat ke arah pandangan ibu-ibu itu, di mana Alvar dan istrinya boncengan motor.

1
hasatsk
setelah di simak,, seru juga ceritanya
Ni'mah azzahrah Zahrah
Kiara yg enak, aku yg tegang thor
Lilis Yuanita
aduh keringetan😄😄
Gadis misterius
Ini nanti darius yg jd duri liht dech krn klu setiap hr bertmu bklan ada rs nyaman
Eva Karmita
orang yang kalem ternyata bisa agresif juga ya 😅😅
biby
POV alvar : siapa sih.. ganggu aja, g tau apa org lg berusaha baikan
outhor nih selalu aja g suka liat alvar seneng
Aisyah Alfatih: sabar ya kak 🤭 kasih bonus deh nanti bab selanjutnya 🤭
total 1 replies
Nar Sih
ungkapan cinta juga cemburu ahir nya keluar dri hti alvar yg berahir dgn ciuman yg mungkin awal dri kebahagiaan kalian ,
Ika Wahyuni
wah itu pasti mamanya Kiara yg datang disaat tidak tepat 🤭
iza
up lgi thor
Naufal Affiq
dengar kan omongan orang tua mu kiara,jangan dengar cakap orang belum tentu benar
Nar Sih
hamil di luar nikah kok bangga ,🤣
Naufal Affiq
kau tau lala,pembantu lebuh tinggi lagi di banding kan kau,yang gak ada harga diri,yang hamil di luar nikah,bangga banget kamu,gaya manusia gak berpendidikan kalau ngomong
Teh Euis Tea
yeyyy nganggu aj deh yg ketuk pintu🤭
Ariany Sudjana
betul kata ibumu Kyara, kalau kamu bercerai dengan dokter Alvar, dimana lagi kamu akan menemukan suami seperti dokter Alvar? sudahlah lupakan semua masa lalu kalian, mulai dengan lembaran baru, dan jangan kasih celah buat Darius masuk Kyara, juga Hesty jufa jangan pak dokter Alvar
Wiwi Sukaesih
ahh ganggu aj sgla ad iklan ngetok pintu🤭
Resa05
up kayak gini terus yah min
dyah EkaPratiwi
maaf ya pak dr diganggu sebentar
iqha_24
Ternyata Alvar agresif juga, kira orangnya pendiam malu2 🤭
Lilis Yuanita
mmh...🤭🤭
Cindy
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!