Raka Adiyaksa adalah definisi nyata dari "Sobat Misqueen". Mahasiswa biasa yang rela makan mie instan diremas setiap akhir bulan demi menabung untuk gebetannya, Tiara. Namun, pengorbanannya dibalas dengan pengkhianatan. Di malam konser yang seharusnya menjadi momen pernyataan cintanya, Raka justru melihat Tiara turun dari mobil mewah milik Kevin, anak orang kaya yang sombong, sementara Raka ditinggalkan sendirian di trotoar GBK dengan dua tiket yang hangus.
Di titik terendah hidupnya, saat harga dirinya diinjak-injak, sebuah suara mekanis berbunyi di kepalanya.
[DING! Sistem Sultan Gacha Tanpa Batas Telah Diaktifkan!]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Kartu Sultan dan Tas Seharga Ginjal
|Depan Butik Louis Vuitton - Grand Indonesia|
Raka melangkah maju, membelah ketegangan di antara dua kubu wanita itu. Dia berdiri tepat di samping Sindy, memberikan rasa aman yang instan.
"Kalian ketemu temen lama?" tanya Raka santai, seolah tidak menyadari atmosfer permusuhan yang pekat.
Sindy menatap Raka dengan mata berbinar, lega karena "pelindung"-nya sudah kembali. "Eh, Kak Raka... Maaf ya nunggu lama. Iya nih, ketemu... kenalan."
Om Rudi, yang tadi sedang asyik memindai tubuh Sindy dan teman-temannya dengan tatapan mesum, kini mengalihkan perhatiannya pada Raka.
Mata Om Rudi menyipit tidak suka. Di hadapannya berdiri seorang pemuda tinggi tegap, wajahnya clean, pakaiannya rapi, dan dikelilingi oleh empat mahasiswi cantik yang menatapnya dengan penuh kekaguman.
Hati kecil Om Rudi menjerit iri. Siapa bocah ini? Apa hebatnya dia? Gue harus bayar mahal buat dapet satu, dia dapet empat gratisan?
Namun, sebagai "Om-om Berpengalaman", Rudi segera memasang topeng ramah palsu. Dia harus menunjukkan dominasi status sosialnya di depan para "prospek" baru ini.
"Halo, Mas," sapa Om Rudi dengan senyum lebar yang memperlihatkan gigi kekuningan akibat nikotin. "Temen-temennya Felis ya? Kenalin..."
Om Rudi mengeluarkan dompet kulit tebalnya, menarik selembar kartu nama dengan gerakan teatrikal, lalu menyodorkannya pada Sindy, Jihan, dan Yola.
"Saya Rudi. HR Manager dari Star Talent Agency Jakarta," ucapnya dengan nada bangga yang dibuat-buat. "Saya liat kalian ini punya potensi, lho. Cantik-cantik, tinggi, proporsional. Sayang kalau cuma jadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang)."
Om Rudi mengedipkan sebelah mata pada Sindy.
"Kalau kalian butuh tempat magang, atau mau jadi model katalog, atau butuh... ehem... 'sponsor' buat bayar UKT, hubungi saya aja. Nomor saya ada di situ. 24 jam aktif buat talenta muda."
Jihan dan Yola saling pandang dengan tatapan jijik. Mereka bukan anak kemarin sore. Di Jakarta, "Talent Agency" antah berantah dengan manajer modelan Om Rudi biasanya cuma kedok untuk prostitusi terselubung atau pencarian Sugar Baby.
"Kerjaannya gampang kok," lanjut Om Rudi agresif, berusaha menyelipkan kartu nama itu ke tangan Sindy yang kaku. "Cuma nemenin klien makan, jalan-jalan... Fee-nya gede. Bisa beli tas kayak Felis."
Sindy mundur selangkah, enggan menyentuh kartu itu. "Makasih, Om. Kita fokus kuliah dulu."
"Ah, jangan kaku gitu dong. Simpen aja dulu," paksa Om Rudi.
Tiba-tiba, sebuah tangan kekar menyambar kartu-kartu nama itu dari udara sebelum sempat menyentuh tangan Sindy.
Set.
Raka mengambil kartu nama itu. Dia membacanya sekilas dengan suara keras dan nada mengejek.
"'Rudi Hartono - Talent Scout Manager'. Wow."
Raka menatap Om Rudi tepat di mata.
"Saya kagum sama Om. Script penipuannya lancar banget. Udah berapa mahasiswi polos yang Om jebak pake iming-iming 'jadi model'?" sindir Raka tajam.
"Hebat. Beneran hebat. Inilah kekuasaan ya? Mentang-mentang punya jabatan dikit, ngerasa bisa beli harga diri orang?"
Krek.
Di depan mata Om Rudi, Raka meremas kartu nama itu menjadi bola kertas kecil yang menyedihkan. Lalu dengan gerakan santai seperti membuang sampah, dia memasukkannya ke saku kemeja Om Rudi.
"Simpen aja kertasnya buat bungkus gorengan, Om. Temen-temen saya nggak butuh."
HENING.
Felis melotot. Sindy menahan napas. Wajah Om Rudi berubah warna. Dari kuning langsat menjadi merah padam menahan amarah. Urat di lehernya menonjol.
Selama ini, dia selalu dihormati (atau setidaknya ditakuti) karena uang dan posisinya. Tidak ada anak ingusan yang berani memperlakukannya seperti sampah di depan umum.
Namun, Rudi sadar dia sedang berada di depan butik LV, di mall elit. Dia tidak bisa ngamuk seperti preman pasar. Dia harus menjaga wibawa.
Om Rudi tertawa dingin. "Heh. Anak muda jaman sekarang. Sombongnya selangit."
Dia merapikan kerah bajunya yang tadi disentuh Raka.
"Kamu mungkin ngerasa jagoan di kandang kampus. Tapi inget kata saya, Dek. Di dunia nyata, di Jakarta yang keras ini... idealisme itu nggak bisa dimakan. Nanti kalau kamu udah ngerasain susahnya cari kerja, kamu bakal ngemis-ngemis ke orang kayak saya."
Raka menaikkan satu alis, tersenyum miring. "Om lagi ceramah? Atau lagi curhat?"
"Kurang ajar..." desis Rudi pelan.
"Udah, Beb! Jangan diladenin!" potong Felis cepat, menarik lengan Rudi. Dia takut "ATM Berjalan"-nya meledak dan malah bikin malu. "Level kita beda sama mereka. Mereka mah cuma bisa bacot doang, duit kaga ada."
Felis menatap Sindy dan teman-temannya dengan tatapan menghina.
"Eh, Sindy. Kalian mending minggir deh. Jangan ngalangin pintu. Atau mau ikut masuk? Oh iya lupa, kalian kan cuma tim Window Shopping. Liat doang, beli kagak. Hahaha!"
"Yuk, Beb. Kita beli tas yang kemaren aku mau," ajak Felis manja sambil menyeret Om Rudi masuk ke dalam butik LV.
Sindy, Jihan, dan Yola menatap punggung mereka dengan perasaan campur aduk. Marah, kesal, tapi juga... insecure. Kata-kata Felis, sejahat apapun, ada benarnya. Mereka memang tidak mampu beli.
"Sialan tuh cewek. Mulutnya kayak knalpot bajaj," gerutu Jihan. "Tapi emang bener sih, kita nggak punya duit buat masuk situ."
"Yuk balik aja," ajak Hani lesu. "Daripada sakit hati."
Raka melihat wajah-wajah murung itu. Dia tidak bisa membiarkan "anak-anak"-nya di-bully begitu saja.
"Siapa bilang kita nggak beli?" suara Raka terdengar tenang namun bertenaga.
Dia memasukkan kedua tangannya ke saku celana, lalu menatap pintu kaca butik itu.
"Sindy, Hani, Jihan, Yola. Ayo masuk," perintah Raka.
"Hah? Masuk? Ngapain Kak?" tanya Sindy bingung.
"Ya belanja lah. Masa mau ngamen?" Raka tersenyum lebar. "Tunjukin ke si 'Ani-ani' itu kalau kalian bukan tim hore. Ayo."
Tanpa menunggu jawaban, Raka melangkah masuk ke dalam butik Louis Vuitton. Aura percaya dirinya begitu kuat sehingga satpam berjas hitam langsung membukakan pintu dengan hormat.
Sindy dan teman-temannya saling pandang. Ragu sejenak, tapi akhirnya mereka mengekor di belakang Raka.
|Interior Butik Louis Vuitton|
Begitu masuk, hawa dingin yang wangi dan kemewahan yang sunyi menyambut mereka. Lantai kayunya mengkilap, pencahayaannya hangat namun terang, menyorot tas-tas dan sepatu yang dipajang seperti karya seni museum.
Para Sales Associate (SA) berpakaian hitam rapi berdiri dengan sikap sempurna, siap melayani.
Sindy, Jihan, dan Yola berjalan rapat-rapat, takut menyenggol barang. Mata mereka berbinar melihat deretan tas Monogram yang selama ini cuma mereka lihat di Instagram.
"Gila... baunya aja bau duit," bisik Jihan norak.
Raka berjalan santai. Matanya menyapu ruangan, mencari keberadaan si pasangan antagonis.
Di sudut area tas wanita, terlihat Felis sedang menunjuk sebuah tas berwarna merah muda (Rose) yang dipajang di rak kaca khusus.
"Beb! Ini dia! Ini yang aku mau!" seru Felis dengan suara cemprengnya yang merusak ketenangan butik. "Tas LV Capucines Mini warna Rose. Limited Edition katanya!"
Om Rudi mengangguk-angguk sok paham. "Oh, yang ini. Bagus, bagus. Kecil ya tapi."
"Iya dong, kan tas cantik. Ambilin Mbak, saya mau liat," perintah Felis pada SA yang melayaninya.
SA itu mengambil tas mungil itu dengan menggunakan sarung tangan, lalu meletakkannya di meja presentasi.
"Pilihan yang sangat baik, Kak," puji SA itu. "Ini koleksi terbaru kami. Kulit Taurillon asli dengan handle eksotis."
Felis langsung menyambar tas itu, berkaca di cermin, berpose kanan-kiri. "Gimana Beb? Cocok kan sama aku? Keliatan classy banget."
"Cocok banget, Sayang. Kamu jadi kayak artis Korea," puji Om Rudi. "Bungkus aja kalau suka."
"Oke! Mbak, ini harganya berapa?" tanya Felis basa-basi.
"Untuk Capucines Mini Exotic Handle ini harganya Rp 125.000.000,- Kak," jawab SA itu ramah.
JLEG.
Senyum di wajah Om Rudi membeku seketika. Matanya melotot, hampir keluar.
Seratus dua puluh lima juta?! Buat tas sekecil upil ini?!
Dompet Om Rudi menjerit. Gajinya sebagai manajer emang besar, dia juga punya sampingan bisnis 'penyaluran bakat', tapi mengeluarkan 125 juta tunai untuk satu tas simpanan? Itu sama saja membakar uang sekolah anaknya setahun!
Keringat dingin mulai mengucur di dahi Rudi yang botak. Dia menelan ludah kasar.
"Hah? Seratus dua lima?" Om Rudi pura-pura batuk. "Uhuk! Mahal juga ya buat ukuran segini."
"Ih, Beb! Kan Limited Edition! Wajar dong!" rengek Felis, tidak peka sama sekali dengan kondisi keuangan Gadun-nya. "Ayo dong, kan janji mau beliin."
Om Rudi memutar otak mencari alasan. Dia tidak mungkin bilang "nggak punya duit" di depan mbak-mbak SPG. Gengsinya terlalu tinggi.
"Ehm... gini loh, Beb," Rudi memegang dagunya, berlagak berpikir kritis. "Bukan soal harganya. Om sanggup beli sepuluh juga. Tapi..."
Rudi menunjuk tas itu dengan wajah tidak puas.
"Warnanya itu loh. Pink-nya agak... norak. Kurang elegan. Terlalu ngejreng. Nanti dikira tas mainan pasar malem. Kamu kan cantik, harusnya pake warna yang lebih dewasa."
Felis cemberut. "Ih? Bagus kok! Ini warna Rose lagi ngetren!"
"Nggak, nggak. Jelek warnanya. Cari yang lain aja ya? Yang coklat biasa aja, yang 30 jutaan," bujuk Rudi, berusaha menyelamatkan dompetnya.
Saat mereka sedang berdebat alot, Raka melangkah mendekat dengan tangan di saku.
"Permisi," sapa Raka, suaranya memotong perdebatan mereka.
Raka berdiri di samping meja display, menatap tas pink itu, lalu menatap Om Rudi yang berkeringat.
"Om," panggil Raka sambil tersenyum mengejek. "Kalau Om nggak mau beli karena 'warnanya jelek'... boleh saya yang ambil?"
Felis dan Rudi menoleh kaget. Mereka melihat Raka dan rombongan Sindy sudah berdiri di belakang mereka.
"Heh! Ngapain lo di sini?!" bentak Felis.
Raka mengabaikan Felis. Dia mengambil tas itu, menimang-nimangnya.
"Bagus kok warnanya. Cocok buat anak muda," komentar Raka. Dia menoleh ke Sindy. "Sin, menurut kamu bagus nggak?"
Sindy gagap. "E-eh? Bagus sih Kak... Cantik banget..."
Felis murka. Tas incarannya dipegang oleh musuhnya. "Eh Kere! Taruh tas gue! Tangan lo kotor!" teriak Felis histeris. "Lo pikir lo siapa mau ambil tas itu? Lo tau harganya berapa? Seratus Dua Puluh Lima Juta! Denger nggak lo? Ratusan Juta!"
Om Rudi juga ikut mendengus, merasa mendapat celah untuk menghina balik.
"Hahaha! Lucu kamu, Dek," Rudi tertawa sinis. "Baru masuk mall ya? Liat harga dulu sebelum megang. Itu bukan tas Mangga Dua. Jangan bikin malu diri sendiri dengan sok-sok mau beli."
"Kamu mau beli pake apa? Pake daun? Atau mau gadai ginjal dulu?" tambah Rudi, mencoba menutupi fakta bahwa dia sendiri tadi keberatan membayarnya.
"Anak muda jaman sekarang, gaya doang selangit, dompet tipis kayak kopiah."
Raka mendengarkan hinaan itu dengan wajah datar. Gadai ginjal? Sorry, ginjal gue aman. Rekening gue yang meledak.
"Jadi intinya kalian nggak mampu beli kan?" tanya Raka telak. "Alasan warna lah, apalah. Padahal intinya dompet Om gemetar."
"Jaga mulut kamu!" bentak Rudi, wajahnya merah lagi karena ketahuan. "Saya mampu! Saya cuma nggak suka barangnya!"
"Oke. Kalau gitu minggir. Biar yang mampu yang beli," kata Raka dingin.
Raka menoleh ke Mbak SA yang sedari tadi menonton drama ini dengan canggung.
"Mbak," panggil Raka.
"I-iya, Pak?"
Raka menyodorkan tas pink itu ke pelukan Sindy. Sindy menerimanya dengan gemetar saking kagetnya.
"Bungkus yang ini buat temen saya," kata Raka santai. "Nggak usah pake lama."
Felis melotot. "Heh! Lo halu ya?! Lo mau bayar pake apa?!"
Raka merogoh saku belakang celananya. Bukan dompet tebal yang dia keluarkan. Hanya selembar kartu.
Kartu itu berwarna emas mengkilap dengan pola monogram LV yang diembos secara laser. Di tengahnya, tidak ada nomor kartu, hanya ada sebuah chip platinum dan tulisan: "VVIP GIFT CARD - UNLIMITED ACCESS".
Raka menjepit kartu itu di antara dua jari, lalu menyodorkannya ke arah SA.
"Gesek."
Mbak SA melihat kartu itu. Matanya membelalak lebar. Tangannya gemetar saat menerima kartu sakti tersebut. Dia mengenali jenis kartu itu kartu legendaris yang hanya dikeluarkan oleh kantor pusat Paris untuk klien Whale (paus) tingkat dewa. Saldo di dalamnya biasanya tidak berseri.
Mbak SA langsung membungkuk 90 derajat, sikapnya berubah dari ramah menjadi sangat hormat dan takut.
"Ba-baik! Mohon maaf saya tidak mengenali Bapak sebelumnya!" suaranya bergetar karena excited. "Ini adalah kartu Top Tier VVIP. Bapak berhak mendapatkan pelayanan prioritas tanpa antre."
Felis dan Om Rudi: "....???!!!!"
"Top... Tier...?" gumam Felis, otaknya gagal memproses.
"VVIP?" Om Rudi melongo.
"Mbak!" panggil salah satu supervisor toko yang melihat kartu itu dari jauh dan langsung berlari mendekat. "Itu kartu Titanium Access! Jangan dilayani di meja biasa! Bawa Bapak ini ke ruang VIP di belakang! Siapkan Champagne!"
Suasana di butik itu langsung heboh. Para staf berlarian menyiapkan ruang privat. Pengunjung lain berbisik-bisik melihat Raka.
Raka menatap Om Rudi dan Felis yang masih berdiri mematung dengan mulut menganga seperti ikan koi.
"Gimana, Om?" tanya Raka sambil tersenyum tipis yang sangat menyebalkan. "Masih mau ngajarin saya soal duit? Atau mau lanjut cari tas di Tanah Abang?"
Raka menoleh ke Sindy dan teman-temannya yang juga masih bengong.
"Ayo masuk ke ruang VIP. Di sana ada sofa empuk. Kita borong satu toko ini."