NovelToon NovelToon
Falling In Love Again After Divorce

Falling In Love Again After Divorce

Status: tamat
Genre:Lari Saat Hamil / Cerai / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2.8M
Nilai: 4.9
Nama Author: Demar

Sean Montgomery Anak tunggal dan pewaris satu-satunya dari pasangan Florence Montgomery dan mendiang James Montgomery yang terpaksa menikahi Ariana atas perintah ayahnya. Tiga tahun membina rumah tangga tidak juga menumbuhkan benih-benih cinta di hati Sean ditambah Florence yang semakin menunjukkan ketidak sukaannya pada Ariana setelah kematian suaminya. Kehadiran sosok Clarissa dalam keluarga Montgomery semakin menguatkan tekat Florence untuk menyingkirkan Ariana yang dianggap tidak setara dan tidak layak menjadi anggota keluarga Montgomery. Bagaimana Ariana akan menemukan dirinya kembali setelah Sean sudah bulat menceraikannya? Di tengah badai itu Ariana menemukan dirinya sedang mengandung, namun bayi dalam kandungannya juga tidak membuat Sean menahannya untuk tidak pergi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benar-benar Selesai

Ariana meletakkan penanya lalu bangkit berdiri. Tapi sebelum Ariana bangkit berdiri, Sean menarik sesuatu dari dalam jasnya amplop tipis bersegel. Pria itu meletakkannya di atas meja, jemarinya menggesernya lebih dekat pada Ariana.

“Rumah di Jalan Wistaria, sertifikatnya sudah atas nama kamu.” Ujarnya tanpa ekspresi.

Ariana menatap amplop itu sebentar lalu menggeleng pelan.

“Aku nggak butuh rumah ini Sean. Sebelumnya makasih buat perhatiannya. Kamu bisa berikan rumah ini pada Clarissa nanti.”

Sean tertegun, tak menyangka nama Clarissa akan muncul dari mulut Ariana.

Ariana mendorong amplop itu kembali ke arahnya tanpa keraguan.

“Kamu tahu Clarissa?”

Ariana mengangguk kecil, bibirnya tersenyum ingin menunjukkan bahwa ia baik-baik saja.

Sean menatap Ariana lekat. “Aku tidak menyangka kamu meninggalkan rumah secepat itu. Padahal kamu tidak perlu melakukannya.”

Ariana tersenyum lembut.

“Karna kamu memang tidak pernah memintaku bertahan. Untuk apa menunggu lebih lama, pada akhirnya aku akan tetap pergi kan?”

Ariana berdiri, ia tidak mengharapkan jawaban. Kakinya perlahan melangkah meninggalkan ruangan.

Sean hanya menatap punggungnya dalam diam, entahlah lidahnya terasa kelu.

“Sean…” Ariana berhenti di ujung pintu.

Sean menoleh.

“Boleh aku bicara sebentar?... di luar.”

Mereka berjalan menuju bangku panjang di ujung koridor. Ariana duduk duluan, sedangkan Sean berdiri diujung bangku. Jemari Ariana saling meremas saking terlalu gugup. Ini keputusan yang sulit namun ia yakin ini tetap keputusan terbaik. Ariana ingin memulai hidupnya dengan kejujuran, agar kelak ia tidak memikul beban kebohongan di pundaknya.

“Sean, aku… hamil.”

Sean tidak mampu berkata-kata namun matanya menatap Ariana lekat.

“Awalnya aku berniat untuk menyembunyikannya, tapi akhirnya tidak. Biar bagaimanapun kamu adalah papanya, kamu berhak tau. Aku nggak mau suatu saat malah jadi masalah untuk kamu dan untuk kami kalau aku nggak jujur sekarang. Aku mau hidup tenang.”

“Kenapa baru sekarang?” suara Sean rendah.

“Karena kamu sudah menentukan pilihan dan aku menghargai keputusanmu. Toh pada akhirnya semuanya akan tetap sama kan? Nggak akan ada yang berubah dari kita.”

Ariana menatap Sean, dua pasang mata mereka bertemu.

“Aku nggak minta tanggung jawab apalagi memintamu membatalkan perceraian. Aku cuma ingin kamu tahu kalau dia... ada, bagian dari dirimu dan diriku sedang tumbuh di dalam rahimku.”

Ariana berdiri dengan hati-hati, perlahan melangkah ke arah Sean.

“Aku cuma pengen setidaknya dia pernah disentuh oleh ayahnya. Sekalipun cuma sekali.”

Ariana menggenggam tangan Sean, lalu menaruhnya ke atas perutnya sendiri. Masih datar, tapi ia tahu ada kehidupan yang tumbuh di sana.

Sean menatap tangannya yang bergetar, tapi tidak berkata apa pun juga.

Ariana berjinjit, menjadikan pundak Sean sebagai pegangan sebab tubuh pria itu terlalu tinggi.

Cup…

Ia mengecup kening Sean dengan lembut dan lama lalu setelah itu menyatukan kening mereka berdua. Sean menahan pinggang Ariana, entahlah. Ada sesuatu yang tidak bisa diungkapkan dalam dirinya.

“Terima kasih Sean. Sekarang kamu sudah punya pendamping yang setara tidak seperti aku. Aku doakan semoga kamu bahagia, sungguh.” Seru Nesa seperti bisikan, suaranya sedikit bergetar. Ariana tidak ingin egois, Sean berhak mendapatkan wanita yang ia cintai. Meski kenyataannya rasa sakit masih menggerogoti hatinya.

Ia melepas tangannya lalu melangkah pergi tanpa menoleh ke belakang.

Dan Sean tetap berdiri dengan kaku di sana.

Mobil Sean melaju pelan di antara gedung-gedung kaca dan jalanan yang mulai lengang. Ia menyandarkan kepala ke jok lalu memejamkan kedua matanya.

Tapi yang datang justru sesuatu yang tidak ia harapkan, bayangan Ariana.

Sean memandang tangannya yang masih gemetar, masih tertinggal sensasi saat tangan ini menyentuh perutnya. Tidak ada bentuk, tidak juga ada gerakan tapi mengapa sensasi hangat menyebar keujung sarafnya.

“Aku cuma pengen setidaknya dia pernah disentuh oleh ayahnya. Sekalipun cuma sekali.”

Sean mengerjap, membuka mata dengan napas tidak teratur.

Ia menggeleng cepat. “Itu bukan apa-apa,” gumamnya pelan.

Ia mencoba tertawa namun suaranya terasa hambar.

Kalimat Ariana terus saja menggema di kepalanya.

“Aku ingin dia tahu rasanya disentuh ayah. Sekalipun cuma sekali.”

“Setidaknya dia pernah disentuh ayahnya.”

Sean mengusap wajahnya keras. Pria itu berdiri, menuang wine tua ke dalam gelas kaca miliknya.

Prang…

Tangannya bergetar, wine mahal itu berserak diatas lantai marmer.

Prang

Gelas kaca terlempar menemani pecahan wine di lantai yang dingin. Sean kehilangan kendalinya.

“Kehamilan itu tidak mengubah apa pun… Ariana tetap perempuan yang tidak aku cintai.”

Sean mengambil napas panjang mengumpulkan keyakinan. “Anak itu… tidak membuatku merasa… kehilangan apa pun.”

Ia mengangguk pada dirinya sendiri di depan kaca. Sekali lagi, mengumpulkan keyakinan bahwa ia tidak kehilangan apapun.

“Yah benar, tidak ada yang hilang. Kami tidak cocok sejak awal… Dia tidak mengerti duniaku. Dia tidak pernah tahu apa itu konsolidasi, saham preferen dan bahkan tidak tahu mengapa orang duduk rapat empat jam untuk membahas akuisisi kecil. Dia terlalu lambat… terlalu bodoh… terlalu naif.”

Sean mengulang alasan-alasan itu meyakinkannya bahwa apa yang ia lakukan ini benar dan rasional.

“Aku tidak salah. Aku juga berhak memilih siapa yang bisa masuk ke duniaku.”

Tidak ada yang hilang malam ini, Ariana dan anak itu tidak berarti apa-apa untuknya.

***

“Meeting jam tiga diundur ke jam lima, flight investor Jepang delay tiga jam info dari sekretarisnya.” Clarissa meletakkan tablet di meja Sean, suaranya lembut dan menggoda.

Sean hanya mengangguk, matanya masih tertuju pada angka-angka laporan di layar monitor komputernya.

“Kalau kamu terus-terusan kerja dua belas jam sehari begini, kamu bisa sakit Sean.” kata Clarissa dengan penuh perhatian. “Siapa yang akan menandatangani kontrak kalau kamu tumbang?”

Sean menyandarkan punggung. “Kamu.”

Clarissa tertawa pendek, terselip rasa bangga di dalam hatinya. Dengan santai ia duduk di kursi seberang meja seolah memang kursi itu disiapkan hanya untuknya.

“Sean… kalau kamu butuh seseorang untuk mendengarkanmu, kamu tahu kamu bisa bicara pada siapa kan?”

Sean melirik Clarissa yang hari itu mengenakan blazer hitam dan blus putih yang rapi dan bersih. Ia menyukai penampilannya yang selalu sempurna dan tidak dipaksakan.

“Aku tahu,” jawabnya singkat.

Clarissa menatapnya lebih lama. “Kamu tampak… sedikit berbeda beberapa hari ini.”

“Capek,” balas Sean.

“Ariana?”

Sean tidak menjawab.

Clarissa tidak memaksa, ia paling tahu kapan harus maju dan kapan harus menunggu. Ia meletakkan satu gelas kopi panas di samping laptop Sean. Hanya satu gelas, tapi menarik simpati dan perhatian.

“Aku nggak bermaksud mencampuri. Tapi aku ingin kamu tahu kalau kamu nggak sendirian, ada aku.”

Sean akhirnya menatap wajahnya. Clarissa langsung memberikan senyum terbaik yang ia punya.

Sean merasa sedang duduk di hadapan seseorang yang bisa memahami bahasa yang tidak Ariana pahami. Clarissa tahu kapan harus bicara dan kapan harus berhenti bicara

Dan untuk pertama kalinya Sean membiarkan wanita lain duduk bersamanya dalam waktu yang lama, selain Ariana. Logika adalah tempat ternyaman bagi Sean Montgomery untuk bersembunyi dari perasaan. Namun ketika Clarissa pamit meninggalkan ruangannya, Sean menyandarkan tubuhnya kembali di kursi kebanggannya.

Ia sudah berbicara panjang lebar pada Clarissa namun pikirannya masih tetap… penuh. Sesuatu yang bahkan tidak bisa disingkirkan oleh suara Clarissa yang terlatih sekalipun.

1
Meliana Siregar
Bagus ceritanya, aku suka,.penasaran....wlpun hasil akhir bisa diduga tapi alurnya tidak, keren !!!👍
Urang Kaler
Kenapa harus MUNGIL sii deskripsi fisiknya, bikin ambyarrr mood baca, merusak imajinasi bgtttt.
fe
keren kak
Annie Soe..
Aku selalu kagum dgn penulis yg bs membawa imajinasi readers ke dlm alur karyanya,,
Sehat2 selalu ya thor & terus tetaplah berkarya.
Dwi
Gak suka bngt sama sean, arogan. Harusnya sama bryan aja
Sastri Dalila
👍👍👍👍
Nia nurhayati
pergi saja ariana kamu dari kehidupan para manusia tocic ituu
Nia nurhayati
mampir thorr
𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒
kok wib thor kn d klmntn🙏
Ddy Siti Aj
👍👍
𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒
sjak kpn sean peduli prasaan ariana..aneh deh km sean ada atau tidak ada ariana apa beda nya wong slma ini raganya ada perhatian ada tp tk pernah dianggap
indomie00
percaya diri sekali
Annie Soe..
Thor,,
Kapan florence dpt *pelajaran* bahwa aristokrat hanya gelar duniawi,
Tdk semua hal bisa diatur semaumu krn kau seorang aristokrat dgn harta yg tdk terhitung banyaknya..
Annie Soe..
Heeyy florence, wabita yg kau sebut j*l*ng itu yg menolong & menyayangi kelahiran ethan cucumu pewaris/penerus montgomerry..
Annie Soe..
Kurang setuju bryan jadi antagonis,,
Tapi yah sudahlah ini kan dunia halu & aku tinggal baca aja..
Qothrun Nada
Bagus ceritanya,gk bosan bacanya 👍
Mamy Zp
ya ampun ...siapa yg ngiris bawang ...mata ku perih
Qothrun Nada
sayang sekali tiba tiba tokoh Bryan di jadikan orang jahat sama author nya hanya ingin membuat Ariana dan Sean bersatu
Arwondo Arni: semoga berdamai kakak adik
total 1 replies
Jiran
lahh awal mula Ariana sama Sean nikah kek mane
Annie Soe..
Sabar ya ariana,, biarkan sean merasakan bahwa dia pria yg sangat sangat merugi krn telah membuang berlian,,
Ariana, kamu adalah berlian yg belum terasah, hanya perlu di asah & kamu akan bersinar berkilau..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!