NovelToon NovelToon
Doll Controller

Doll Controller

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Summon / Spiritual
Popularitas:531
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

kekuatannya menyebabkan dia bisa mengendalikan boneka tapi semakin sering ia menggunakannya ia pun mulai di Kendalikan oleh kekuatan sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Strategi Dalang dan Simpul Benang Jiwa

Kabar mengenai pergerakan Kekosongan menuju Lembah Cahaya menyebar cepat di istana, memicu gelombang kepanikan baru yang nyaris tak terkendali. Lembah Cahaya bukan sekadar wilayah geografis; ia adalah jantung spiritual Aethelgard, rumah bagi Kuil Kuno Para Leluhur dan tempat-tempat suci di mana benang-benang eterik alam semesta diyakini paling pekat. Jika Kekosongan berhasil mencapainya, kehancuran yang tak terbayangkan akan menimpa seluruh kerajaan. Raja Aethelgard, setelah mendengar laporan langsung dari Ryo dan Lyra, segera memanggil dewan perang darurat. Kali ini, Ryo tidak lagi berdiri di ambang pintu, melainkan duduk di samping Lyra, di kursi kehormatan yang biasanya disediakan untuk penasihat paling terkemuka.

Ruangan itu dipenuhi dengan wajah-wajah tegang: jenderal-jenderal yang kelelahan, penasihat-penasihat yang bingung, dan Master Eldrin, kepala penyihir istana, yang tampak lebih tua dari biasanya. Ryo menjelaskan secara detail apa yang ia rasakan dan lihat melalui mata Kapten Kael. Ia menceritakan tentang ilusi yang digunakan Kekosongan, tentang tarikan dingin yang mencoba mencabut kesadarannya, dan tentang pergerakan strategis Kekosongan yang menargetkan simpul-simpul kekuatan spiritual.

"Ini bukan serangan acak," Ryo menegaskan, suaranya tenang namun penuh otoritas. "Ia adalah entitas cerdas yang memakan jiwa, dan ia mencari sumber energi eterik terbesar untuk menguatkan dirinya. Lembah Cahaya adalah target utamanya."

"Tapi bagaimana kita bisa melawannya?" salah satu jenderal berseru, memukul meja. "Pedang tidak mempan terhadap kabut! Sihir hanya mengurai sedikit, tapi tidak bisa menghentikannya!"

Master Eldrin mengangguk. "Energi yang dilepaskan oleh mantra kami hanya memancingnya untuk menyerap lebih banyak. Kekosongan itu seperti spons raksasa yang haus akan esensi kehidupan."

"Kita tidak bisa melawannya dengan cara konvensional," Lyra menyahut, pandangannya tertuju pada peta Lembah Cahaya yang terhampar di atas meja. "Jika Kekosongan adalah antitesis dari Dalang Jiwa, yang mencabut benang eterik, maka mungkin kita harus melawannya dengan cara yang sama sekali berbeda. Dengan mengikat, bukan memutus."

Semua mata beralih ke Lyra, lalu ke Ryo. Raja mengangguk perlahan. "Penjelasan yang masuk akal, Nona Lyra. Tapi apa artinya itu dalam praktiknya?"

Ryo memegang boneka kayunya, memutar-mutarnya di antara jari-jarinya. "Benang eterik Kekosongan itu sangat dingin. Ia mencoba mencabut kesadaran dan energi kehidupan. Namun, saya merasakan ada inti di dalamnya, sebuah kekosongan yang menarik segalanya. Mungkin, jika kita bisa mengikat inti itu, mengisinya dengan sesuatu yang... berlawanan."

"Berlawanan?" tanya Master Eldrin, matanya menyipit. "Maksudmu... energi kehidupan?"

"Bukan energi kehidupan yang pasif untuk diserap," Ryo menjelaskan. "Tapi benang jiwa yang aktif, yang berkehendak. Benang yang tidak bisa dicabut begitu saja."

Lyra teringat gulungan "Chronica Animarum" yang ia baca. "Gulungan itu menyebutkan tentang 'Anyaman Suci', sebuah ritual kuno yang bisa mengikat benang-benang jiwa yang kuat dari banyak individu, membentuk sebuah perisai eterik yang tak tertembus."

"Ritual itu terlalu berisiko!" seru Master Eldrin. "Ia membutuhkan sinkronisasi benang jiwa dari banyak orang, dan jika salah, benang-benang itu bisa saling mengoyak, menyebabkan kehancuran mental massal."

"Tapi ritual itu juga menyebutkan tentang 'Simpul Benang Jiwa'," Lyra melanjutkan, mengabaikan peringatan Eldrin. "Sebuah Dalang yang sangat kuat bisa menjadi inti dari anyaman itu, mengikat benang-benang dari sukarelawan, dan mengarahkan energi mereka. Semacam fokus tunggal untuk mencegah kekacauan."

Ryo menatap Lyra, kilatan pemahaman melewati matanya yang merah. "Aku bisa menjadi inti itu. Aku bisa merasakan dan mengikat benang-benang itu."

Raja bangkit dari kursinya, wajahnya dipenuhi kekhawatiran. "Anakku, itu akan menempatkanmu dalam bahaya besar. Kekosongan akan menargetkanmu secara langsung."

"Saya tahu, Ayahanda," Ryo membalas, tekadnya tidak goyah. "Tetapi saya adalah Dalang Jiwa. Ini adalah tugas saya. Dan saya tidak lagi sendirian." Ia melirik Lyra, yang mengangguk meyakinkan.

"Jika memang ada cara untuk mengikat Kekosongan, atau setidaknya memperlambatnya," Lyra berargumen, "maka kita harus mencobanya. Kita membutuhkan sukarelawan yang benang jiwanya kuat, yang memiliki tekad baja, dan yang bersedia mempertaruhkan segalanya."

"Para Ksatria Templar," salah satu jenderal mengusulkan. "Mereka adalah prajurit pilihan kerajaan, dilatih dalam disiplin mental dan spiritual."

Ryo mengangguk. "Benar. Benang-benang mereka akan menjadi pondasi yang kuat. Tapi kita juga membutuhkan tempat. Tempat di mana kita bisa melaksanakan ritual ini tanpa gangguan, dan yang cukup dekat dengan Lembah Cahaya untuk menghadapi Kekosongan."

Master Eldrin berpikir keras, janggut putihnya diusap-usap. "Ada sebuah benteng tua di perbatasan Lembah Cahaya, Benteng Aethel. Ia telah lama ditinggalkan, namun arsitektur kunonya dirancang untuk menyalurkan dan memfokuskan energi eterik. Mungkin itu bisa menjadi titik fokus yang aman."

"Bagus," kata Raja, suaranya kini dipenuhi harapan yang kembali menyala. "Maka ini rencananya. Ksatria Templar akan dikirim ke Benteng Aethel. Master Eldrin akan menyiapkan artefak pelindung dan mempelajari ritual Anyaman Suci lebih lanjut. Ryo, kau dan Lyra akan menjadi inti dari rencana ini. Kita akan membentuk Simpul Benang Jiwa."

Meskipun rencana itu terdengar menjanjikan, Lyra merasakan gelombang kekhawatiran dari semua orang di ruangan itu. Ini adalah taruhan besar. Mereka mempertaruhkan segalanya pada seorang pangeran yang kekuatannya ditakuti, dan pada sebuah ritual kuno yang belum pernah dicoba di era modern.

Setelah dewan bubar, Ryo dan Lyra kembali ke menara Ryo. Mereka berdua terdiam, memproses bobot keputusan yang baru saja dibuat.

"Kau yakin bisa melakukannya, Ryo?" tanya Lyra, melipat gulungan "Chronica Animarum" dengan hati-hati. "Mengikat benang jiwa puluhan orang, dan kemudian mengarahkannya ke Kekosongan? Ini jauh lebih kompleks daripada sekadar menggeser pedagang apel atau membuat penjaga tertidur."

Ryo menatap keluar jendela, matanya menerawang ke arah Lembah Cahaya yang jauh di utara. "Aku harus bisa. Aku tidak punya pilihan lain. Jika Kekosongan mencapai Lembah Cahaya, miliaran benang eterik yang terikat pada alam, pada bumi, pada keberadaan itu sendiri, akan tercerabut. Ini akan memicu kehancuran yang tak bisa diperbaiki."

Ia merasakan benang Elara yang samar dari boneka kayunya. Benang itu berbisik padanya, sebuah peringatan. "Kesalahan Elara... itu mengajariku tentang batasan. Aku mencoba mengikat benang kehidupannya secara paksa. Kali ini, aku tidak akan mengikat paksa. Aku akan meminta kesediaan. Anyaman Suci adalah tentang sinkronisasi, bukan dominasi."

"Dan aku akan ada di sana," Lyra meyakinkan. "Aku akan menjadi jangkarmu, Ryo. Jika kau mulai kehilangan diri, aku akan menarikmu kembali. Kita sudah melakukan ini sekali, dan berhasil."

Ryo menoleh ke arah Lyra, senyum tipis terukir di bibirnya. Senyum yang kini terasa lebih tulus, lebih manusiawi. "Terima kasih, Lyra."

Lyra merasakan pipinya sedikit menghangat. Ia tahu ini bukan sekadar tugas baginya. Ada sesuatu yang lebih dari itu. Hubungannya dengan Ryo telah berubah, dari rasa ingin tahu menjadi kekhawatiran, dan kini menjadi sebuah ikatan yang unik dan kuat, yang diukir oleh rahasia dan bahaya yang mereka hadapi bersama.

Beberapa hari berikutnya dihabiskan dengan persiapan yang intens. Ksatria Templar terbaik dikirim ke Benteng Aethel, di bawah komando Kapten Kael, yang kini memikul tanggung jawab besar. Master Eldrin sibuk di laboratoriumnya, mencoba menciptakan artefak yang dapat membantu Dalang Jiwa dan Ksatria dalam ritual. Sementara itu, Lyra dan Ryo mempelajari lebih dalam gulungan-gulungan kuno, mencoba memahami seluk-beluk Anyaman Suci dan Simpul Benang Jiwa.

"Benang-benang jiwa para Ksatria, Pangeran, harus diselaraskan. Seperti senar-senar harpa yang bergetar pada frekuensi yang sama," Lyra membaca dari gulungan kuno. "Dan Dalang harus menjadi konduktor, menjaga harmoni, mencegah disonansi yang bisa menghancurkan anyaman itu."

Ryo mencoba membayangkan bagaimana rasanya mengikat begitu banyak benang sekaligus, menjaga setiap benang tetap utuh dan selaras. Ini adalah tantangan yang jauh lebih besar dari yang pernah ia hadapi. Beban dari setiap jiwa yang akan ia sentuh, kini tidak hanya satu-satu, tetapi puluhan.

"Bagaimana jika aku gagal?" bisik Ryo, sebuah keraguan yang jarang ia tunjukkan.

Lyra menatapnya. "Kau tidak akan. Karena kau tidak hanya mengandalkan kekuatanmu, Ryo. Kau mengandalkan keberanian mereka, kepercayaan mereka, dan aku akan memastikan kau tidak sendirian."

Di tengah badai persiapan ini, Ryo juga mulai menemukan kembali sentuhan kemanusiaannya. Ia mulai keluar dari menaranya lebih sering, bertemu dengan para jenderal, berbicara dengan Lyra tentang hal-hal di luar Dalang Jiwa dan Kekosongan. Ia bahkan mulai makan teratur, didesak oleh Nana yang senang melihat Pangerannya sedikit lebih hidup.

Malam sebelum mereka berangkat ke Benteng Aethel, Ryo berdiri di dekat jendela, menatap bulan purnama yang bersinar terang. Di sampingnya, Lyra bergabung, tanpa perlu diundang.

"Aku merindukan Elara," kata Ryo, suaranya lirih. "Setiap kali aku merasakan benang-benang ini, aku mengingatnya."

"Dia akan bangga padamu, Ryo," Lyra membalas, menepuk bahu Ryo dengan lembut. "Kau menggunakan kekuatanmu bukan untuk mengendalikan, tapi untuk melindungi."

Ryo merasakan benang eterik Lyra, hangat, penuh kebaikan, dan kuat. Benang itu terasa seperti sebuah jangkar, jangkar yang kuat dan nyata. Ia tidak lagi merasa sendirian. Boneka kayu di tangannya, yang menyimpan esensi Elara, kini terasa lebih seperti pengingat akan pelajaran yang menyakitkan, bukan lagi kutukan yang membelenggu.

Perjalanan ke Benteng Aethel akan menjadi awal dari pertempuran sesungguhnya. Mereka akan menghadapi Kekosongan yang tumbuh, entitas yang haus jiwa, di sebuah benteng kuno yang menyimpan rahasia kekuatan dan bahaya yang sama. Sebuah Simpul Benang Jiwa akan dianyam, untuk melawan kehampaan yang mengancam menelan segalanya. Dan di tengah semua itu, ikatan antara Dalang Jiwa dan Tabib Pintar ini akan diuji hingga batas terakhir. Takdir Aethelgard kini ada di tangan mereka.

1
anggita
like👍 iklan. moga novelnya lancar.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!