NovelToon NovelToon
Variabel Yang Mencari Nilai Sejati

Variabel Yang Mencari Nilai Sejati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Ketos
Popularitas:296
Nilai: 5
Nama Author: Erna Lestari

Oskar Biru Arkais sorang pemuda yang berusaha mencari arti cinta Sejati,
Dan Si Mahira Elona Luis si Gadis Tomboy yang Tak Pernah Percaya akan Adanya cinta Sejati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

"Aku belajar mencintai dengan tenang tanpa terburu-buru tanpa tuntutan berlebihan Aku hanya ingin hadir dan memahami karena cinta tak selalu memiliki"

 

DI RUANG OSIS

Rekai dan Kalash berlari dengan cepat melewati koridor sekolah, napas mereka terengah-engah karena kecemasan. Mereka langsung masuk ke ruang kerja OSIS tanpa mengetuk terlebih dahulu, membuat Biru yang sedang mengatur berkas acara kaget melihat mereka.

“Pak Ketua!” seru Rekai dengan suara yang sedikit terengah-engah. “Ada masalah besar!”

Biru segera berdiri dari kursinya dengan wajah yang penuh kekhawatiran. “Apa yang terjadi? Kalian berdua kenapa?

“Luna dan Elona bertengkar di belakang sekolah!” jelas Kalash dengan cepat. “Mereka bahkan saling memukul sampai akhirnya dilihat oleh Ibu Rita dan sekarang mereka sedang di ruang BK!”

Ekspresi Biru langsung berubah menjadi marah dan khawatir. Tanpa berpikir dua kali, dia mengambil jasnya dan berjalan cepat menuju arah ruang BK, dengan Rekai dan Kalash mengikutinya dari belakang.

“Bagaimana bisa sampai terjadi perkelahian semacam ini?” tanya Biru dengan suara yang penuh kemarahan. “Saya sudah berusaha menjaga jarak dan menghindari masalah, tapi kenapa masih ada yang terjadi?”

“Kita tidak tahu detailnya Pak Ketua,” jawab Rekai dengan suara rendah. “Kita hanya melihat mereka sedang berantem dan segera berlari untuk memberitahumu.”

Saat mereka tiba di depan ruang BK, suara berteriak dari dalam sudah bisa terdengar jelas. Biru segera membuka pintu dan masuk ke dalam, menemukan suasana yang sangat tegang di dalam ruangan.

 

DI RUANG BK

Elona dan Luna duduk di kursi yang berlawanan, wajah mereka masih memerah dengan bekas luka dari perkelahian tadi. Ibu Rita sedang mencoba menenangkan Ibu Sherly – ibu Luna – yang sedang berdiri dengan wajah yang penuh kemarahan.

“Bagaimana bisa kamu melakukan hal seperti itu pada anak perempuanku?!” seru Ibu Sherly dengan suara tinggi yang memenuhi ruangan. “Luna adalah anak yang baik dan tidak akan pernah menyakiti orang lain tanpa alasan yang benar!”

Elona hanya diam dengan menunduk, tidak berani membantah apa yang dikatakan Ibu Sherly. Meskipun dia tahu bahwa dia tidaklah salah semata-mata, dia merasa tidak pantas untuk membantah orang tua yang lebih tua darinya.

“Ibu, mohon tenang dulu ya,” ujar Ibu Rita dengan suara lembut namun tegas. “Kita perlu mendengar kedua sisi cerita sebelum mengambil kesimpulan. Selain itu, kami sudah menghubungi wali Elona juga, tapi mereka sedang tidak bisa datang karena ada urusan mendadak.”

“Tidak perlu menunggu orang tuanya!” ujar Ibu Sherly dengan tidak suka. “Jelas sekali bahwa anak ini adalah yang salah! Dia pasti telah menggoda dan menyakiti Luna sehingga dia terpaksa membela diri!”

“Saya tidak melakukan apa-apa yang salah, Bu,” ujar Elona dengan suara lembut namun jelas. “Kak Luna yang pertama kali menyerang saya dan memukul wajah saya. Saya hanya membela diri saja.”

“Kamu berbohong!” seru Luna dengan suara yang masih bergetar karena emosi. “Kamu yang pertama kali menyakiti saya dengan kata-kata yang menyakitkan!”

Tanpa bisa menahan amarahnya lagi, Biru melangkah maju dan berdiri tepat di sebelah Elona. “Ibu Sherly, saya mohon untuk tidak menyalahkan Elona sebelum mengetahui seluruh kebenaran,” ujarnya dengan suara yang tegas namun tetap sopan. “Dari apa yang saya ketahui, Elona adalah anak yang baik dan tidak akan pernah menyakiti orang lain tanpa alasan yang benar.”

Ibu Sherly melihat ke arah Biru dengan ekspresi terkejut. “Oskar? Apa yang kamu lakukan di sini? Dan mengapa kamu membela anak ini padahal kamu tahu bahwa Luna mencintaimu?”

“Karena kebenaran lebih penting daripada perasaan pribadi, Bu,” jawab Biru dengan tegas. “Saya sudah berulang kali mengatakan bahwa saya tidak punya perasaan lebih pada Luna. Semua masalah yang terjadi akhir-akhir ini adalah karena Luna tidak bisa menerima kenyataan tersebut dan terus menerus menyalahkan Elona atas sesuatu yang tidak pernah dia lakukan!”

Luna melihat ke arah Biru dengan mata yang penuh dengan rasa sakit dan kemarahan. “Bagaimana bisa kamu mengatakan hal seperti itu padaku, Oskar? Aku sudah mencintaimu selama bertahun-tahun dan melakukan segala sesuatu untukmu!”

“Saya menghargai perjuanganmu, Luna,” ujar Biru dengan nada yang sedikit lebih lembut namun tetap tegas. “Tapi kamu tidak bisa terus menyalahkan orang lain atas kegagalanmu untuk menerima kenyataan. Perkelahian yang terjadi hari ini adalah kesalahanmu yang tidak bisa dimaafkan. Kamu yang pertama kali menyerang Elona dan harus bertanggung jawab atas tindakanmu!”

Mendengar kata-kata itu, Luna semakin menangis teresak-esak. Namun dia tetap tidak mau mengakui kesalahannya dan meminta maaf pada Elona. “Aku tidak akan pernah meminta maaf padanya!” serunya dengan suara yang penuh kemarahan. “Dia adalah penyebab semua masalah yang terjadi padaku!”

Ibu Rita menghela napas dengan kesal dan berdiri dari kursinya. “Baiklah, jika itu keputusanmu Luna,” ujarnya dengan suara yang menunjukkan bahwa dia sangat kecewa. “Kita akan memberikan sanksi yang sesuai pada kalian berdua sesuai dengan peraturan sekolah. Luna akan mendapatkan surat peringatan keras karena menjadi pihak yang pertama kali menyerang, sedangkan Elona akan mendapatkan peringatan karena membalas serangan tersebut.”

Ibu Sherly masih belum puas dengan keputusan tersebut, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa karena sudah melihat bukti dan mendengar kesaksian dari pihak sekolah. Dia hanya bisa menghela napas dan mengatakan bahwa dia akan mengurus segala sesuatu yang perlu dilakukan untuk Luna.

Setelah itu, Ibu Sherly mengajak Luna untuk pulang lebih awal, sementara Elona tetap berada di ruang BK untuk membicarakan langkah selanjutnya dengan Ibu Rita. Biru ingin tetap bersama Elona untuk memberikan dukungan, tapi dia tahu bahwa dia harus memberikan ruang pada Elona dan guru BK untuk membicarakan hal tersebut dengan tenang.

Sebelum pergi, Biru melihat ke arah Elona dengan pandangan yang penuh dengan rasa minta maaf dan penghargaan. “Maafkan saya karena semua masalah yang terjadi karena saya,” ujarnya dengan suara rendah. “Saya akan berusaha untuk memastikan bahwa hal seperti ini tidak akan pernah terjadi lagi.”

Elona hanya mengangguk dengan senyum lembut. “Tidak apa-apa Pak Ketua. Saya tahu kamu tidak bermaksud menyebabkan masalah apapun.”

Setelah Biru keluar dari ruangan, Rekai dan Kalash segera masuk untuk menemani Elona. Mereka memberikan dukungan dan kata-kata semangat pada Elona, yang merasa sedikit lega karena memiliki teman-teman yang selalu ada di sisinya. Meskipun masalah ini belum selesai sepenuhnya, Elona merasa bahwa dia sudah cukup kuat untuk menghadapi segala tantangan yang akan datang di masa depan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!