Berawal dari utang panci 1.500 koin emas, Feng—murid "sampah" Level Nol tanpa sihir—justru memutarbalikkan tatanan tiga alam semesta!
Bersenjatakan Sistem Dewa Asal Mula yang menukar kalori makanan menjadi kekuatan fisik pembelah surga, serta ditemani Buntel, naga buncit yang menjadikan pedang pusaka dan zirah dewa sebagai camilan renyah, Feng memulai perjalanan kultivasi paling brutal.
Dari meratakan Balai Penegak Hukum sekte, mengacaukan turnamen elit demi akses kantin gratis, merampok gudang senjata di Alam Dewa, hingga akhirnya meninju Sang Pencipta Kosmos di ujung semesta. Semuanya membuktikan satu hukum mutlak: Sihir paling sakti sekalipun akan hancur lebur di hadapan tamparan sandal jepit orang yang sedang kelaparan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
UJIAN? CUMA PUKUL BATU DOANG KAN?
"Lihat itu! Si Sampah Level Nol akhirnya berani keluar kandang!" seru seorang murid bertubuh gemuk yang berdiri di barisan depan.
"Hei, Feng! Mau apa kau ke panggung? Mau menyapu lantai? Hahaha!" timpal temannya sambil sengaja menjulurkan kaki ke tengah jalan untuk menjegal langkah Feng.
Feng menghentikan langkahnya tepat sepuluh sentimeter di depan kaki yang menjulur itu. Dia menunduk, menatap kaki tersebut, lalu menatap wajah si pemilik kaki dengan ekspresi datar yang sangat menyebalkan.
"Mas," panggil Feng sopan. "Sepatunya bagus. Tapi sayang sekali kalau harus saya injak sampai gepeng menyatu dengan tanah. Tolong ditarik kembali sebelum saya anggap ini sebagai sumbangan sukarela."
Murid itu mendengus remeh, hendak melontarkan makian kasar. Namun, saat matanya bertemu dengan tatapan mata Feng yang terlihat kosong namun anehnya mengerikan, nyalinya mendadak ciut. Ada sesuatu yang salah dengan sorot mata itu. Itu bukan tatapan seorang pengecut, melainkan tatapan seekor hewan buas yang sedang menahan diri untuk tidak menggigit.
Dengan canggung, murid itu menarik kakinya mundur. "Cih! Dasar sampah bermulut besar! Sana naik ke panggung biar dipermalukan!"
Feng tersenyum tipis, lalu kembali melangkah santai sambil bersiul kecil. "Terima kasih, Mas. Minggir, minggir. Jangan menghalangi jalan menuju masa depan yang cerah dan dompet yang tebal."
Dia menaiki tangga panggung batu satu per satu. Setiap langkah kakinya diiringi oleh sorakan "Huuu!" dan cemoohan dari ribuan murid lainnya. Di mata mereka, Feng hanyalah badut hiburan di tengah ujian yang tegang ini.
Di tengah panggung, seorang pengawas ujian berjubah biru tua berdiri di samping Batu Pengukur Bakat. Wajah pengawas itu terlihat sangat masam saat melihat Feng mendekat.
"Nama?" tanya pengawas itu ketus tanpa melihat wajah Feng.
"Feng. F-E-N-G. Calon pemenang hadiah utama," jawab Feng sambil melirik tumpukan peti kayu di meja juri yang konon berisi koin emas.
Pengawas itu mendengus kasar, lalu mencoret sesuatu di papan tulisnya. "Feng, Level Nol. Kau murid terakhir dari Asrama Luar. Kau tahu aturannya? Letakkan tanganmu di permukaan batu, alirkan Qi-mu, dan biarkan batu itu menilai bakatmu. Jangan buang-buang waktu kami."
"Tunggu sebentar, Pak Pengawas," sela Feng sambil mengangkat tangan. "Saya mau konfirmasi dulu biar tidak ada salah paham. Hadiah lima ratus koin emas itu cairnya tunai atau transfer? Dan apakah ada potongan pajak sekte?"
Pengawas itu melongo, lalu wajahnya memerah karena marah. "Kau pikir kau bisa menang?! Kau bahkan belum menyentuh batunya dan sudah bicara soal hadiah! Dasar tidak tahu diri!"
Dari kursi kehormatan di belakang panggung, Tetua Li berdiri dan berteriak lantang, suaranya diperkuat oleh Tenaga Dalam agar terdengar ke seluruh penjuru lapangan.
"Biarkan dia bicara, Pengawas!" seru Tetua Li sambil tersenyum licik. "Biarkan si Jenius Feng ini bertanya sepuasnya. Semakin tinggi dia bermimpi, semakin sakit jatuhnya nanti. Jawab saja pertanyaannya!"
Mendengar perintah Tetua Li, pengawas itu menahan amarahnya dan menjawab dengan gigi bergemeretak. "Hadiahnya tunai. Tanpa potongan. Sekarang cepat lakukan ujiannya atau kuusir kau dari sini!"
"Nah, begitu dong. Transparan dan akuntabel," puji Feng sambil mengangguk puas.
Dia kemudian berbalik menghadap Batu Pengukur Bakat. Batu obsidian hitam setinggi tiga meter itu berdiri kokoh, permukaannya halus dan dingin. Batu ini konon adalah pecahan meteor yang jatuh ribuan tahun lalu, memiliki kepekaan tinggi terhadap energi spiritual.
Feng mengulurkan tangannya, menyentuh permukaan batu itu, lalu mengetuk-ngetuknya pelan seperti orang sedang mengecek kematangan semangka di pasar.
Tuk. Tuk. Tuk.
"Keras juga," komentar Feng. "Pak Pengawas, kalau batu ini retak atau pecah, saya tidak disuruh ganti rugi kan?"
Gelak tawa meledak dari arah penonton. Ribuan murid tertawa terbahak-bahak mendengar lelucon konyol itu.
"Hahaha! Dia bilang apa? Pecah?! Tenaga Dalam tingkat Master saja cuma bisa membuat batu itu bergetar! Dia pikir dia siapa? Reinkarnasi Dewa Perang?"
"Dasar badut! Cepat turun!"
Tetua Li di kursi belakang ikut tertawa sinis. "Silakan, Feng. Kalau kau bisa memecahkannya, bukan cuma lima ratus emas, aku akan memberikan posisiku sebagai Tetua padamu! Hahaha!"
Feng tidak mempedulikan tawa mereka. Dia justru sedang sibuk berdebat sengit di dalam kepalanya.
SISTEM MEMBERIKAN ANALISIS LOGIS: TUAN, BATU INI ADALAH MATERIAL PENYERAP ENERGI QI. JIKA SESEORANG MENYENTUHNYA DAN MENGALIRKAN QI, BATU INI AKAN MENYALA. MASALAHNYA ADALAH TUBUH INANG TIDAK MEMILIKI QI SAMA SEKALI. JIKA TUAN HANYA MENYENTUHNYA, BATU INI AKAN TETAP HITAM PEKAT. HASILNYA: NOL BESAR. MISI GAGAL.
"Sistem," balas Feng dalam hati. "Kalau tidak punya Qi, kita pakai logika preman pasar saja. Kalau pintu tidak mau dibuka dengan kunci, ya didobrak paksa. Kalau batu ini tidak mau menyala karena dielus, ya kita pukul sampai dia 'menjerit' kesakitan."
SISTEM MENGHITUNG KEMBALI: MEMUKUL BATU OBSIDIAN BINTANG DENGAN KEKUATAN FISIK MURNI UNTUK MENGHASILKAN EFEK CAHAYA (PIEZOELEKTRIK ATAU GESEKAN PANAS) MEMBUTUHKAN DAYA HANCUR SETARA DENGAN JATUHNYA METEORIT KECIL.
BIAYA ENERGI: PENGURANGAN WAKTU HIDUP SEBANYAK TIGA JAM.
RISIKO TAMBAHAN: TULANG TANGAN INANG MUNGKIN AKAN TERASA NYERI SEDIKIT.
"Tiga jam?" Feng meringis dalam hati. "Mahal sekali! Itu setara dengan waktu tidur siang yang sangat berkualitas!"
"Kenapa diam saja, Feng?!" bentak Tetua Li dari kejauhan, tidak sabar melihat Feng dipermalukan. "Apa kau sudah sadar bahwa kau tidak punya bakat? Menyerahlah sekarang, bersujud tiga kali di depanku, dan aku akan mengizinkanmu pergi ke tambang dengan damai!"
Feng menoleh ke arah Tetua Li, lalu tersenyum lebar.
"Tetua Li, sabar sedikit. Saya sedang mencari kuda-kuda yang pas biar fotonya bagus kalau masuk koran sekte," jawab Feng santai.
Dia mundur dua langkah, merenggangkan otot bahunya. Krek. Krek. Suara tulang persendiannya berbunyi renyah.
"Tiga jam ya..." gumam Feng pelan, matanya menatap tajam ke titik tengah batu hitam itu. "Demi lima ratus koin emas dan makan gratis setahun... Sikat sajalah!"
Feng menarik napas panjang. Dia tidak memusatkan Qi karena memang tidak punya. Dia tidak merapalkan mantra karena memang tidak hafal. Yang dia lakukan hanyalah memusatkan seluruh kekuatan otot punggung, bahu, lengan, hingga ujung jari-jarinya ke satu titik ledak.
Otot-otot di balik seragam kusamnya menegang, memadat sekeras baja.
"Hei! Lihat! Dia mau memukulnya sungguhan!" teriak salah satu murid.
"Dia gila! Tangannya pasti patah!"
Pengawas ujian di samping batu itu menggelengkan kepala dengan tatapan kasihan. "Bocah bodoh. Tulangmu akan hancur menjadi bubur."
Feng mengabaikan semuanya. Dalam pandangannya, batu itu bukan lagi artefak suci sekte. Batu itu hanyalah celengan ayam jago raksasa yang harus dipecahkan untuk mengambil isinya.
"Buka pintunya, Batu Pelit!" batin Feng.
Wuuush!
Tangan kanan Feng melesat ke depan. Bukan pukulan tinju, melainkan sebuah tamparan telapak tangan terbuka yang sangat sederhana. Tamparan yang terlihat seperti gerakan menepuk nyamuk, namun dilakukan dengan kecepatan yang menembus batas suara.
Udara di sekitar panggung meledak seketika karena tekanan angin yang dihasilkan oleh ayunan tangan itu.
BOOOOOM!
Telapak tangan Feng menghantam permukaan batu obsidian itu dengan suara yang bukan seperti tepukan daging ke batu, melainkan seperti suara dua gunung yang saling bertabrakan.
Tanah di sekitar panggung bergetar hebat. Debu beterbangan ke udara. Pengawas ujian yang berdiri paling dekat terpelanting jatuh karena gelombang kejut yang dihasilkan.
Keheningan total melanda seluruh lapangan seketika itu juga. Ribuan mulut menganga, mata mereka membelalak tidak percaya. Tawa dan ejekan yang tadi ramai terdengar, kini mati kutu, tercekik di tenggorokan masing-masing.
Semua mata tertuju pada Batu Pengukur Bakat.
Di permukaan batu hitam yang konon tidak bisa dihancurkan itu, tepat di mana telapak tangan Feng menempel... tidak ada cahaya spiritual yang lembut. Tidak ada pendar warna-warni yang indah seperti murid-murid sebelumnya.
Yang ada hanyalah suara retakan halus yang terdengar sangat nyaring di tengah keheningan.
Krek... Kretek...
Garis retakan kecil muncul di bawah telapak tangan Feng. Retakan itu menjalar cepat seperti jaring laba-laba, merambat ke atas, ke samping, dan ke bawah, membelah permukaan batu hitam itu.
Dan dari dalam retakan itu, bukan cahaya Qi yang keluar. Melainkan percikan api merah menyala akibat gesekan fisika ekstrem dan panas yang luar biasa tinggi dari benturan tersebut.
"Panas juga," komentar Feng datar sambil menarik tangannya yang berasap.
Dia menoleh ke arah pengawas ujian yang masih terbaring bengong di lantai panggung.
"Pak Pengawas," panggil Feng sambil menunjuk batu yang kini menyala merah membara seperti besi panas yang baru ditempa. "Kalau lampunya warna merah begini... artinya saya lulus atau batunya yang konslet?"
Sebelum pengawas itu sempat menjawab, suara gemuruh yang lebih keras terdengar dari dalam batu itu. Struktur molekul batu purba itu akhirnya menyerah kalah melawan hukum kekerasan fisik mutlak.
KRAAAKK! DUARRR!
Batu setinggi tiga meter itu meledak.