Kevin adalah definisi pekerja korporat yang malang: terjepit di antara makian bos yang toksik dan tumpukan dokumen yang tak ada habisnya. Pelariannya hanyalah dunia anime dan manga di sela waktu lembur yang menyiksa.
Namun, hidupnya berubah total saat sang ayah kalah judi dan terlilit hutang raksasa pada rentenir. Sebagai penebusan dosa finansial ayahnya, Kevin "dijual" dalam sebuah pernikahan kontrak kepada Ashley—pewaris konglomerat yang dingin, perfeksionis, dan terobsesi pada kemewahan.
Kevin mengira hidupnya akan menjadi neraka di bawah telapak kaki Ashley. Namun, kenyataannya justru terbalik.
Di mansion megah itu, Kevin menemukan surga bagi seorang wibu introvert. Tanpa tekanan kantor, tanpa bos yang marah, dan didukung uang bulanan yang melimpah, ia resmi menjadi "pengangguran kaya" yang dilayani 24 jam. Di balik dinding marmer dan kemewahan Ashley, Kevin bebas menikmati hobi dan kemalasannya.
Tapi, apakah Ashley benar-benar hanya butuh suami pajangan, atau ada harga mahal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WesternGirl10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
Pagi di desa dimulai jauh sebelum alarm ponsel mana pun berbunyi. Suara kokok ayam hutan yang bersahut-sahutan dan hawa dingin yang menusuk tulang menembus celah-celah dinding kayu rumah keluarga Hamilton.
Namun, bagi Ashley, pagi itu tidak dimulai dengan ketenangan pedesaan, melainkan dengan gejolak hebat yang memaksa perutnya terkuras habis.
Di kamar kecil yang terletak di bagian belakang rumah—sebuah ruangan dengan lantai semen dan bak mandi plastik sederhana—Ashley tampak berlutut lemas di depan toilet. Rambut panjangnya yang biasanya tertata sempurna kini berantakan, beberapa helai menempel di dahinya yang berkeringat dingin.
Kevin berada tepat di belakangnya, setia berjongkok meski lututnya mulai terasa kaku. Satu tangannya dengan telaten memegangi rambut Ashley agar tidak terjuntai ke depan, sementara tangan lainnya terus memberikan tepukan-tepukan lembut serta usapan menenangkan di punggung istrinya.
"Keluarkan saja, Ash... jangan ditahan," bisik Kevin lembut. Suaranya tenang, kontras dengan napas Ashley yang memburu.
"Ugh... aku benci ini," erang Ashley setelah satu gelombang mual lainnya berlalu. Tubuhnya gemetar. Ia belum pernah merasa selemah ini seumur hidupnya. Menjadi pimpinan perusahaan besar tidak memberinya persiapan apa pun untuk menghadapi morning sickness yang menyerang tanpa ampun di tempat yang bahkan tidak memiliki pendingin ruangan.
Kevin meraih sebuah handuk kecil yang sudah dibasahi air dingin, lalu menyeka wajah Ashley dengan sangat hati-hati.
"Sabar, ya. Ini efek hormonnya sedang tinggi. Tarik napas lewat hidung, buang lewat mulut pelan-pelan."
Di luar pintu kayu kamar mandi, Ibu Kevin berdiri dengan perasaan cemas yang luar biasa. Setelah mendengar penjelasan Kevin semalam tentang kehamilan Ashley, seluruh kemarahan dan prasangka buruknya luruh seketika, berganti dengan rasa iba yang mendalam. Ia merasa sangat bersalah karena sempat menganggap menantunya itu angkuh, padahal Ashley sedang berjuang melawan rasa sakit demi memberikan cucu bagi keluarganya.
Ibu Kevin mengetuk pintu dengan pelan. "Kevin... bagaimana kondisi istrimu? Apa dia bisa berdiri?"
Kevin menoleh ke arah pintu. "Masih mual, Bu. Tapi sepertinya sudah sedikit lebih tenang sekarang."
"Bawa dia ke meja makan kalau sudah siap. Ibu sudah membuatkan sesuatu," ujar sang ibu sebelum melangkah kembali ke dapur.
Dengan bantuan Kevin, Ashley akhirnya bisa berdiri, meski langkahnya masih sedikit goyah. Ia merasa pening, namun aroma menyengat yang kemarin membuatnya tumbang kini tidak tercium lagi. Sebaliknya, ada aroma segar dan lembut yang mulai masuk ke indra penciumannya.
Saat mereka tiba di meja makan, Ashley melihat Ibu Kevin sedang menata sebuah mangkuk berisi bubur beras putih yang lembut dengan irisan jahe tipis di atasnya. Di sampingnya, terdapat segelas air hangat dengan perasan jeruk nipis dan sedikit madu.
"Duduklah, Nona Ashley," ucap Ibu Kevin dengan nada yang jauh lebih hangat dan lembut dibandingkan kemarin. "Ibu membuatkan bubur jahe. Jahenya Ibu bakar dulu agar aromanya tidak terlalu tajam, tapi bisa membantu menenangkan perutmu. Cobalah sedikit saja."
Ashley menatap Ibu Kevin dengan tatapan terkejut. Ia tidak menyangka wanita yang kemarin ia "tolak" makanannya akan bersikap selembut ini. Dengan ragu, Ashley menyuapkan sesendok kecil bubur itu ke mulutnya. Teksturnya lembut, rasa hangat dari jahenya menjalar ke kerongkongannya, memberikan sensasi nyaman yang seketika meredakan sisa-sisa rasa mualnya.
"Terima kasih... ini enak," bisik Ashley lirih. Ia merasa canggung, namun kehangatan yang terpancar dari mata ibu mertuanya membuat dinding pertahanan di hatinya sedikit goyah.
Ibu Kevin tersenyum lega. Ia duduk di samping Ashley, sesekali mengusap lengan menantunya itu. "Maafkan Ibu soal kemarin. Ibu tidak tahu kalau kau sedang mengandung. Ibu pikir kau tidak menyukai rumah kami."
Ashley menunduk, merasa sedikit malu. "Bukan begitu. Aku hanya... aku tidak bisa mengendalikan penciumanku."
Di tengah suasana yang mulai mencair itu, pintu depan terbuka. Amal masuk dengan langkah pelan. Ia sudah mandi dan berganti pakaian dengan kemeja bersih, meskipun guratan lelah di wajahnya tidak bisa disembunyikan. Ia berhenti di ambang ruang makan, menatap Ashley dengan kaku.
"Ah, Ayah sudah pulang," panggil Kevin. "Sini, Yah. Kenalkan, ini Ashley."
Suasana mendadak menjadi canggung. Ashley bangkit dari duduknya, mencoba bersikap seformal mungkin meskipun tubuhnya masih terasa lemas. Ia teringat cerita Ayahnya tentang bagaimana Kevin harus masuk ke keluarga Giovano. Ada rasa marah yang sempat terbersit, namun melihat sosok pria tua di depannya yang tampak begitu rapuh dan penuh penyesalan, amarah itu tertutup oleh rasa canggung.
"Selamat pagi, Tuan Hamilton," ucap Ashley kaku. Ia mengulurkan tangannya, ragu apakah ini tindakan yang benar.
Amal menatap tangan putih halus Ashley, lalu menatap tangannya sendiri yang kasar dan pecah-pecah meski sudah dicuci bersih. Ia hanya menjabat ujung jari Ashley dengan sangat singkat, seolah takut kotoran yang mungkin tertinggal di pori-porinya akan menodai kulit menantunya.
"Selamat pagi, Nona Ashley," suara Amal berat dan parau. "Maafkan keadaan rumah ini. Kami tidak punya apa-apa untuk menyambut orang sehebat Anda."
"Tidak apa-apa," jawab Ashley singkat. Ia tidak tahu harus bicara apa lagi. Baginya, Amal adalah sosok yang asing, namun ia juga ayah dari pria yang kini menjadi suaminya.
Kevin yang menyadari kecanggungan itu segera menengahi. "Ayah, Ashley sangat suka bubur buatan Ibu. Mungkin Ayah bisa membantuku mengambilkan beberapa wortel terbaik dari ladang untuk dibawa pulang nanti? Dokter bilang Ashley butuh banyak nutrisi alami."
Mendengar kata "nutrisi untuk Ashley", mata Amal sedikit berbinar. "Tentu, tentu! Ayah akan pilihkan wortel yang paling manis di ladang utara. Akan Ayah siapkan satu karung besar untukmu bawa ke kota."
Amal segera bergegas keluar lagi, seolah-olah memberikan wortel adalah satu-satunya cara ia bisa menebus rasa bersalahnya kepada putranya dan menantunya.
Sepeninggal Amal, Ibu Kevin kembali fokus pada Ashley. "Makanlah lagi, Nak. Kau butuh kekuatan untuk bayi itu. Kalau kau butuh sesuatu, bilang saja pada Ibu. Jangan sungkan, ya?"
Ashley mengangguk pelan. Di dalam rumah kayu yang sederhana ini, di tengah keterbatasan fasilitas yang biasanya ia anggap sebagai standar hidup minimum, ia merasakan sesuatu yang tidak pernah ia temukan di mansion mewahnya atau di ruang rapat Giotech C&T: sebuah perhatian yang jujur, tanpa pamrih, dan penuh kehangatan keluarga.
Ia menoleh ke arah Kevin yang sedang tersenyum menatapnya. Kevin meraih tangan Ashley di bawah meja, meremasnya lembut seolah ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ashley menyadari, keputusannya untuk ikut ke desa ini mungkin adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah ia ambil, meski harus dibayar dengan pagi yang penuh mual.
Sore harinya, saat mereka duduk di teras kecil sambil menatap matahari terbenam di balik hamparan sawah, Ashley bersandar di bahu Kevin.
"Kevin..."
"Ya, Ash?"
"Ibumu... dia sangat baik. Aku tidak menyangka dia akan membuatkan bubur itu untukku."
Kevin mencium puncak kepala Ashley. "Dia hanya seorang ibu yang ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Dan sekarang, kau juga bagian dari itu."
Ashley terdiam, menatap tangannya yang melingkar di perutnya yang masih rata. Untuk pertama kalinya, ia tidak memikirkan tentang ahli waris atau posisi di Giotech Corp. Ia hanya memikirkan tentang kehidupan kecil di dalamnya yang akan tumbuh dikelilingi oleh kasih sayang yang tulus—seperti bubur jahe hangat di pagi hari yang dingin.