Serial ini mengisahkan perjalanan Chen Feng, seorang pemuda yang menjadi satu-satunya keturunan keluarga pemburu naga setelah desa kecilnya di Tanah Seribu Pegunungan dibakar dan orang tuanya terbunuh oleh Sekte Ular Hitam. Dengan bimbingan Ye Linglong, putri dari klan pemburu naga terkemuka, Feng belajar mengendalikan kekuatan naga yang mengalir dalam dirinya—kekuatan yang tidak hanya berasal dari kemarahan akan kehilangan, melainkan dari kedamaian dan pemahaman tentang cinta serta tanggung jawab.
Melalui serangkaian ujian yang menguji keberanian, pengendalian diri, dan pemahaman tentang cinta serta masa lalu, Feng harus menghadapi dendam yang telah berlangsung berabad-abad antara keluarganya dengan Sekte Ular Hitam. Ia menemukan bahwa kekuatan sebenarnya bukanlah dari kemarahan atau kekerasan, melainkan dari kemampuan untuk menerima rasa sakit, menyatukan apa yang terpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reijii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10: Ujian Di Pintu Gua Tersembunyi
Ketika matahari mulai muncul dari balik puncak pegunungan, Feng, Linglong, dan Ye Chen akhirnya mencapai lokasi gua tersembunyi. Di tengah tebing batu yang tinggi dan kasar, sebuah pintu batu raksasa dengan ukiran kepala naga yang megah berdiri dengan kokoh. Tembok batu di sekitarnya dihiasi dengan tulisan kuno yang hampir tidak terbaca lagi oleh waktu.
“Ini dia,” bisik Feng sambil mendekati pintu batu itu. Kalung di lehernya mulai bersinar dengan cahaya keemasan yang lembut, seolah merespon keberadaan gua yang telah lama dicarinya. “Pintu masuk ke dalam gua tersembunyi.”
Ye Chen menyentuh permukaan batu dengan hati-hati, merasakan getaran lembut yang datang dari dalam. “Batu ini terasa hangat,” katanya dengan suara penuh kagum. “Seolah ada kekuatan hidup yang mengalir di dalamnya.”
Linglong berdiri di sisi Feng, menggenggam tombaknya dengan erat. “Buku kuno mengatakan bahwa hanya mereka yang melewati tiga ujian yang layak memasuki gua dan mengambil Pedang Naga. Kita harus siap menghadapi apa pun yang ada di sana.”
Tepat ketika kata-katanya keluar, pintu batu mulai bergetar dengan kuat. Bagian atas pintu itu perlahan terbuka, mengungkapkan tiga simbol yang menyala dengan cahaya berbeda—simbol api berwarna merah, simbol air berwarna biru, dan simbol tanah berwarna hijau. Di bawah simbol-simbol itu, tulisan kuno mulai menyala dengan terang:
“Hanya mereka yang menguasai diri, mengerti cinta, dan menerima masa lalu yang layak mengambil warisan naga.”
Tanpa suara apapun, simbol api merah mulai memancarkan cahaya yang sangat terang. Sebuah portal berwarna oranye muncul di depan mereka, dan suara lembut terdengar di benak mereka semua: “Ujian pertama—Ujian Api yang Menguji Keberanian dan Pengendalian Diri.”
“Ia untukku,” kata Feng dengan suara yang tegas. Dia telah merasakan bahwa ujian pertama ini ditujukan khusus untuknya. “Kalian tunggu di sini. Aku akan melewatinya.”
Linglong mengambil tangannya dengan erat, matanya penuh kekhawatiran. “Hati-hati, Feng. Jangan memaksakan dirimu seperti sebelumnya.”
“Aku tidak akan,” janjinya dengan senyum lembut. Dia memasuki portal dengan langkah yang mantap, dan segera setelah dia masuk, portal itu menghilang dengan cepat.
Di dalam ujian, Feng menemukan dirinya berdiri di tengah gurun yang luas dengan matahari yang terik menyengat. Udara sangat panas, dan pasir di bawah kakinya terasa seperti bara api. Di kejauhan, sebuah bentuk besar muncul dari balik badai pasir—Hei Yu berdiri dengan sikap tegas, namun kali ini wajahnya tidak penuh dengan kemarahan melainkan dengan kesedihan yang mendalam.
“Selamat datang di ujian pertama, Chen Feng,” ujar sosok yang menyerupai Hei Yu dengan suara yang tenang. “Di sini, kamu harus menghadapi rasa sakit dan kemarahan yang paling dalam di hatimu. Jika kamu menyerah pada amarahmu, kamu akan terbakar oleh api sendiri.”
Tanpa berlama-lama, sosok itu menyerang dengan pedang yang menyala api merah pekat. Feng menghindari dengan cepat, namun rasa panas dari pedang itu sudah membuat kulitnya terasa terbakar. Kali ini, dia tidak bisa menggunakan kekuatan naga untuk membantunya—dia hanya bisa mengandalkan keahlian dan pengendalian dirinya sendiri.
Saat pertempuran berlangsung, gambar-gambar masa lalu mulai muncul di sekitar mereka—gambar kematian orang tuanya, pembantaian desa kecilnya, dan wajah-wajah orang-orang yang terbunuh oleh Sekte Ular Hitam. Setiap gambar membuat rasa kemarahan di hati Feng semakin besar, membuatnya ingin menyerang dengan kekuatan penuh.
Namun dia mengingat apa yang diajarkan Ye Tianhong—kekuatan tidak datang dari kemarahan. Dia menutup matanya sejenak, mengambil napas dalam-dalam, dan menerima rasa sakit serta kemarahan itu sebagai bagian dari dirinya tanpa membiarkannya menguasainya. Ketika dia membuka mata kembali, wajahnya sudah penuh dengan kedamaian dan kejelasan.
“Aku tidak akan menyerah pada amarahmu,” ujarnya dengan suara yang tenang namun penuh kekuatan. “Aku menerima rasa sakit yang telah kamu berikan padaku, tapi aku tidak akan membiarkannya membuatku menjadi seperti kamu.”
Dia menghadapi serangan sosok itu dengan gerakan yang lambat namun presisi. Alih-alih menyerang balik, dia hanya menghindari setiap serangan dengan tenang, menunjukkan bahwa dia tidak perlu menggunakan kekerasan untuk mengalahkan musuhnya. Akhirnya, sosok itu berhenti menyerang dan mulai menghilang seperti debu yang terbawa angin.
“Kamu telah melewati ujian pertama,” suara lembut terdengar di udara. “Kamu telah membuktikan bahwa kamu bisa mengendalikan emosimu dan tidak menyerah pada kegelapan yang ada di dalam dirimu.”
Ketika gurun menghilang, Feng menemukan dirinya kembali di depan pintu gua. Linglong dan Ye Chen segera mendekatinya dengan wajah penuh kekhawatiran dan kagum.
“Bagaimana rasanya?” tanya Linglong dengan suara lembut, menyentuh pipinya dengan tangan yang lembut.
“Seperti menghadapi diriku sendiri yang paling gelap,” jawab Feng dengan senyum kecil. “Tetapi aku merasa lebih kuat sekarang. Aku lebih memahami siapa aku dan apa yang harus kulakukan.”
Tepat pada saat itu, simbol air biru mulai menyala dengan terang. Sebuah portal berwarna biru muda muncul, dan suara yang sama terdengar lagi: “Ujian kedua—Ujian Air yang Menguji Pengertian dan Cinta.”
“Ia untukku,” kata Linglong dengan suara yang tegas. Dia melihat Feng dengan mata yang penuh cinta dan tekad. “Aku akan melewatinya.”
Sebelum dia memasuki portal, Feng menariknya lebih dekat dan memberikan ciuman lembut di dahinya. “Aku percaya padamu,” katanya dengan suara yang penuh perhatian. “Jangan pernah lupa bahwa aku mencintaimu.”
Linglong tersenyum dengan wajah yang sedikit memerah, lalu memasuki portal yang segera menghilang setelahnya. Di dalam ujiannya, dia menemukan dirinya di tengah danau yang luas dengan air yang jernih seperti kristal. Udara sejuk dan tenang, dan suara ombak yang lembut memenuhi telinganya.
Di tepi danau, sosok wanita muda dengan wajah yang mirip dengan ibunya berdiri dengan tenang. “Selamat datang, Ye Linglong,” ujarnya dengan suara yang lembut namun penuh kekuatan. “Di sini, kamu harus membuktikan bahwa cintamu tulus dan bahwa kamu siap mengorbankan segalanya untuk orang yang kamu cintai.”
Sebuah gambar muncul di permukaan air—gambar Feng yang terluka parah dan sedang menghadapi bahaya besar tanpa ada yang bisa membantunya. Sosok wanita itu mengangkat tangannya, dan cahaya kebiruan menyala di telapak tangannya.
“Jika kamu memilih untuk tetap di sini dan menerima kekuatan yang aku berikan,” ujarnya, “kamu akan menjadi sangat kuat dan bisa melindungi kerajaanmu. Tapi kamu harus meninggalkan Chen Feng dan semua perasaan yang kamu miliki padanya.”
Linglong melihat gambar Feng dengan mata yang penuh cinta dan keputusasaan. Namun setelah beberapa saat, dia menggeleng dengan tegas. “Cinta bukanlah tentang memilih kekuatan atau kedudukan,” katanya dengan suara yang jelas dan yakin. “Cinta adalah tentang berdiri bersama orang yang kamu cintai melalui suka dan duka. Aku akan selalu memilih dia, tidak peduli apa yang terjadi.”
Saat kata-katanya keluar, gambar di permukaan air mulai berubah. Kini muncul gambar dia dan Feng yang berdiri bersama, menghadapi bahaya dengan tangan saling memegang. Sosok wanita itu tersenyum dengan bangga dan mulai menghilang seperti kabut pagi.
“Kamu telah melewati ujian kedua,” suara lembut terdengar. “Kamu telah membuktikan bahwa cintamu tulus dan bahwa kamu siap menghadapi segala rintangan bersama orang yang kamu cintai.”
Linglong kembali di depan pintu gua, dengan wajah yang penuh kedamaian dan kejelasan. Feng segera berlari ke arahnya dan memeluknya erat-erat, merasa lega melihatnya kembali dengan selamat.
“Sekarang giliran aku,” kata Ye Chen dengan suara yang tegas. Simbol tanah hijau mulai menyala dengan terang, dan portal berwarna hijau tua muncul di depan mereka. “Ujian ketiga—Ujian Tanah yang Menguji Kesetiaan dan Tanggung Jawab.”
Dengan tekad yang kuat, Ye Chen memasuki portal. Semua orang tahu bahwa ujian terakhir ini akan menentukan apakah mereka layak memasuki gua dan mengambil Pedang Naga yang telah lama dicari itu. Matahari mulai naik lebih tinggi ke langit, seolah menunggu hasil ujian yang akan menentukan masa depan seluruh Tanah Seribu Pegunungan.