(WARISAN MUTIARA HITAM SEASON 4)
Chen Kai kini telah menapakkan kaki di Sembilan Surga, namun kisahnya di Alam Bawah belum sepenuhnya usai. Ia mempercayakan Wilayah Selatan ke tangan Chen Ling, Zhuge Ming, dan Gui. Sepuluh ribu prajurit elit yang berhutang nyawa padanya kini berdiri tegak sebagai benteng yang tak tergoyahkan.
Sebuah petualangan baru telah menanti. Sembilan Surga bukanlah surga penuh kedamaian seperti bayangan orang awam; itu adalah medan perang kuno para Kaisar Agung, tempat di mana Mutiara Hitam menjadi incaran seluruh Dewa.
Di Sembilan Surga, hukum duniawi tak lagi berlaku. Di sana, yang berkuasa hanyalah Kehendak Mutlak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Labirin Angin Merah
Udara di depan mereka mulai bergetar, namun bukan karena panas, melainkan karena densitas energi yang melonjak secara tidak stabil. Langit yang tadinya tenang perlahan ternoda oleh garis-garis kemerahan, seolah-olah ada raksasa yang baru saja menggoreskan luka berdarah di atas kanvas surga.
"Cepat, Tuan! Angin Merah sudah bangun!" teriak Ah-Gou dengan nada panik yang tak dibuat-buat.
Pria kurus itu berlari dengan gerakan aneh—merunduk rendah seolah-olah ia sedang merangkak di udara. Chen Kai mengikuti di belakangnya. Meski tubuhnya terasa seberat timah, ia memaksa setiap inci ototnya untuk selaras dengan ritme pernapasan yang baru saja ia tiru dari Ah-Gou.
WUSH!
Embusan angin pertama menghantam tebing-tebing kristal di sekitar mereka. Suaranya bukan desau, melainkan jeritan logam yang saling bergesekan. Saat angin itu menyentuh pepohonan kaca, daun-daun kristalnya tidak jatuh, melainkan langsung hancur menjadi debu halus.
"Ini bukan angin biasa," gumam Chen Kai. Ia merasakan kulitnya perih, seolah-olah jutaan jarum mikroskopis sedang mencoba menembus pertahanan tubuhnya.
"Tentu saja bukan," suara Kaisar Yao bergema di dalam batin Chen Kai, tajam dan penuh peringatan. "Itu adalah Esensi Korosi yang terlepas dari retakan hampa di bawah benua ini. Di Surga Pertama, hukum alamnya masih rapuh. Angin ini akan memakan Qi dunia bawahmu seolah-olah itu adalah makanan lezat. Jangan biarkan ia menyentuh meridian utamamu!"
Chen Kai segera memadatkan Esensi Dewa yang baru saja ia murnikan sebanyak lima persen itu ke permukaan kulitnya. Cahaya hitam-perak tipis menyelimuti tubuhnya, bertindak sebagai perisai. Setiap kali Angin Merah menghantam perisainya, Chen Kai merasakan guncangan hebat di jiwanya.
Ah-Gou membelok tajam ke arah celah sempit di bawah sebuah bongkahan batu kristal yang menonjol. Di sana, terdapat sebuah lubang yang menuju ke kedalaman bumi, ditutupi oleh tirai yang terbuat dari jalinan akar pohon esensi yang layu.
"Masuk, Tuan! Sekarang!"
Mereka berdua meluncur ke dalam lubang tepat saat gelombang utama Angin Merah menyapu permukaan tanah di atas mereka. Suara gemuruh di luar terdengar seperti ribuan genderang perang yang ditabuh serentak, menggetarkan dinding-dinding lorong bawah tanah yang mereka masuki.
Chen Kai mendarat dengan stabil, sementara Ah-Gou terjatuh berguling-guling sebelum akhirnya merosot lemas di lantai tanah yang dingin.
"Aman... kita aman untuk saat ini," napas Ah-Gou tersengal, dadanya naik turun dengan liar.
Chen Kai mengabaikan rasa lelahnya sendiri dan menyapu pandangannya ke sekeliling. Lorong ini luas, diterangi oleh jamur-jamur pendar yang tumbuh di sela-sela batu. Aroma udara di sini berbeda; pengap, berbau keringat, namun memiliki kepadatan energi yang lebih stabil dibandingkan permukaan.
Saat mereka berjalan lebih dalam, lorong itu membuka ke arah sebuah ruang raksasa yang menyerupai kawah bawah tanah. Di sana, ratusan gubuk kecil yang dibangun dari sisa-sisa logam dewa dan kulit binatang terbang berjejer tanpa aturan.
Inilah Pasar Debu.
Tempat ini adalah rumah bagi para pelarian, Pendaki yang hancur, dan dewa-dewa kasta rendah yang dibuang oleh kota-kota besar di atas sana. Tidak ada kemegahan Sembilan Surga di sini. Yang ada hanyalah wajah-wajah kuyu yang dipenuhi oleh debu kristal dan mata yang waspada.
"Tuan," Ah-Gou mendekat, suaranya kini kembali menjadi bisikan pelan. "Di sini, aturan utamanya adalah: jangan menonjol. Para penjaga dari klan penguasa jarang turun ke sini, tapi 'Tikus-Tikus Penagih' selalu mencari mangsa baru."
Chen Kai menarik tudung jubahnya lebih dalam, menutupi rambut peraknya. "Bawa aku ke tempat penjual Cincin Penyamar Esensi."
Mereka melewati barisan lapak yang menjual barang-barang aneh: sisa-sisa tulang binatang dewa, botol-botol berisi cairan bercahaya yang tampak keruh, hingga senjata-senjata patah yang masih memancarkan aura tajam.
Tiba-tiba, langkah mereka terhenti oleh sekelompok pria bertubuh kekar yang mengenakan zirah kulit bersisik hitam. Pemimpin mereka, seorang pria dengan parut besar di wajahnya, memegang sebuah gada yang terbuat dari tulang naga tanah.
"Ah-Gou," pria itu menyeringai, memperlihatkan gigi-giginya yang hitam. "Kau membawa 'ikan' baru dari permukaan? Dan kau melupakan setoran keamanan untuk bulan ini?"
Ah-Gou gemetar hebat, kakinya hampir lemas. "Tuan Kora... hamba baru saja tiba. Hamba berjanji akan membayar besok setelah—"
"Besok?" Kora tertawa kasar, lalu matanya beralih ke arah Chen Kai. "Lihat postur tubuh ini. Tegak, tenang, dan memiliki aura yang murni meskipun terbungkus jubah sampah. Kau pasti seorang penguasa besar di bawah sana, bukan?"
Kora melangkah maju, menekan ujung gadanya ke dada Chen Kai. Tekanan gravitasi dari senjata itu setara dengan sebuah bukit kecil, mencoba memaksa Chen Kai untuk berlutut.
"Selamat datang di lubang kami, Tuan Besar. Berikan cincin penyimpananmu, atau aku akan merobek tanganmu untuk mengambilnya sendiri."
Chen Kai menatap mata Kora dengan ketenangan yang menakutkan. Di mata dengan lingkaran emasnya yang tersembunyi, ia melihat aliran energi Kora—kasar, tidak murni, dan penuh celah. Meskipun Kora memiliki kekuatan fisik yang jauh lebih besar darinya saat ini, pemahaman tekniknya berada di level yang menyedihkan.
"Hanya seekor anjing penjaga yang menggigit orang cacat," bisik Kaisar Yao di benak Chen Kai. "Gunakan tekanan gravitasinya untuk melancarkan sirkulasi esensimu, Nak. Matikan napasnya tanpa perlu bergerak."
Chen Kai tidak melawan tekanan gada itu. Sebaliknya, ia sedikit merelaksasikan meridiannya, membiarkan energi korosif dari luar masuk dan dikompresi seketika oleh Mutiara Hitam.
"Aku tidak punya cincin untukmu," kata Chen Kai, suaranya rendah dan bergetar dengan resonansi frekuensi tinggi.
"Tapi aku punya sesuatu yang lebih berharga."
Chen Kai mengangkat tangan kanannya, jarinya bergerak dengan kecepatan yang sulit diikuti oleh mata orang yang belum beradaptasi dengan densitas dunia ini. Ia tidak memukul, ia hanya menjentikkan jarinya ke arah udara kosong di samping leher Kora.
"Hukum Ruang: Riak Kecil."
KLAK.
Bukan ledakan yang terjadi, melainkan bunyi patahan halus. Ruang di sekitar Kora tiba-tiba menyusut selama sepersekian detik, menciptakan gaya hisap yang membuat paru-paru Kora seolah-olah dikosongkan dari udara secara paksa.
Kora terhuyung mundur, menjatuhkan gadanya. Ia mencengkeram tenggorokannya sendiri, wajahnya membiru saat ia berjuang untuk menghirup oksigen yang mendadak 'menghilang' di sekelilingnya.
Para anak buahnya terpaku. Mereka tidak melihat ada serangan fisik, namun pemimpin mereka sedang sekarat karena sesak napas.
Chen Kai melangkah melewati Kora yang sedang merangkak di tanah, bahkan tanpa meliriknya sedikit pun.
"Jalan, Ah-Gou," perintah Chen Kai datar.
Ah-Gou menelan ludah, menatap Chen Kai dengan rasa takut yang kini bercampur dengan pemujaan yang mendalam. Ia segera berlari kecil di depan, memastikan jalan terbuka lebar bagi tuannya yang baru.
Di kegelapan Pasar Debu, mata-mata lain mulai memperhatikan. Sebuah legenda baru tentang "Pendaki Tanpa Nama" telah mulai menenun benang pertamanya di Surga Hampa.
terimakasih Thor 🙏🙏🙏
dan semoga kedepannya lebih bagus lagi
Kai.... sikat semua dewa2 palsu nya
BTW.... pasti dewa2 Asli nya jadi tahanan mereka ya ?.......... 💪💪💪💪