NovelToon NovelToon
Munajat Cinta

Munajat Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Diam-Diam Cinta
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: lala_syalala

EDISI SPESIAL RAMADHAN

Zunaira Prameswari hanyalah seorang ustadzah yatim piatu yang merasa dunianya sudah cukup dengan mengabdi di Pesantren Al-Anwar.

Baginya, mencintai Gus Azlan, putra kedua sang kiai yang baru kembali dari Al-Azhar, Kairo adalah sebuah kemustahilan yang hanya berani ia langitkan dalam doa-doa di sujud terakhir.

Namun takdir berkata lain, penolakan Azlan terhadap lamaran Ning Syifa, seorang putri kiai besar yang membawa kepentingan politik pesantren, justru menyeret Zunaira ke pusaran konflik keluarga yang rumit.

Bagaimana kelanjutannya???
Yukk kepoin!!!

Follow IG @Lala_Syalala13
Subscribe YT @NovelLalaaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Detik Menuju Garis Takdir

Langkah pertama dalam strategi yaitu akad dalam hening ini adalah mengamankan saksi.

Gus Azlan sadar betul saksi bukan sekadar syarat sah pernikahan melainkan pemegang rahasia yang taruhannya adalah martabat keluarga.

Maka setelah melakukan shalat Dhuha Gus Azlan melangkah menuju rumah kakak sulungnya, Gus Haidar yang terletak di sayap timur pesantren.

"Assalamu'alaikum." sapa Azlan saat memasuki teras rumah kakaknya yang asri.

"Wa'alaikumussalam. Eh, calon pengantin rahasia sudah datang." goda Gus Haidar sambil tertawa kecil.

Ia sedang duduk di sofa ruang tamu sambil memangku putri kecilnya, Naura yang nampak sangat imut mengenakan mukena terusan berwarna ungu.

"Paman Azlan!" Naura melompat dari pangkuan ayahnya dan memeluk kaki Azlan.

"Paman, Naura punya permen dua. Satu buat Paman tapi Paman harus janji ajak Naura jalan-jalan ke kolam ikan nanti sore." seru bocah kecil itu.

Gus Azlan berjongkok, mengusap kepala keponakannya yang wangi minyak telon itu.

"Janji, tapi Paman mau pinjam Ayah sebentar ya? Naura main sama Tante Arifa dulu di dapur katanya Tante Arifa mau bikin bolu cokelat." ucap Gus Azlan.

Mendengar kata bolu cokelat, mata Naura berbinar dan ia segera berlari menuju dapur sambil berteriak memanggil Arifa.

Tak lama kemudian terdengar suara tawa ceria Arifa yang menyambut Naura yaitu sebuah pemandangan hangat yang selalu berhasil membuat Azlan merasa beruntung memiliki keluarga yang mendukungnya.

Setelah Naura menjauh, raut wajah Gus Haidar berubah serius.

"Semua sudah siap Lan, Ustadz Hafiz sudah Mas panggil dan beliau sekarang ada di ruang kerja Abah, beliau saksi yang paling aman. Loyalitasnya pada Abah tidak perlu diragukan dan beliau tipe orang yang bicara hanya seperlunya." ucap Gus Haidar.

Azlan mengangguk lega karena sang kakak membantunya sehingga semua berjalan dengan lancar.

"Matur nuwun Mas, Azlan benar-benar butuh Mas Haidar dan Ustadz Hafiz untuk menjaga punggung Azlan dan Zunaira."

"Lan," Haidar menepuk bahu adiknya.

"Menikah dengan cara ini berat bagi wanita, pastikan setelah sah nanti kamu memberikan hak batinnya dengan sempurna dan jangan karena rahasia kamu malah mengabaikan kehadirannya." tutur Gus Haidar memberikan nasihat kepada sang adik.

Di kediaman utama Kyai Hamid sudah menunggu, di sampingnya duduk Ustadz Hafiz, seorang pria sepuh dengan jenggot putih yang rapi dan tatapan mata yang sangat tenang.

Beliau adalah pengajar senior yang telah mengabdi lebih dari tiga puluh tahun di Al-Anwar.

"Ustadz Hafiz." buka Kyai Hamid dengan suara rendah namun penuh wibawa.

"Saya memanggil Panjenengan untuk sebuah amanah besar karena ini menyangkut masa depan Azlan dan seorang ustadzah yatim piatu yang sudah saya anggap anak sendiri, Zunaira." ucap Kyai Hamid.

Ustadz Hafiz menunduk takzim

"Nggih Kyai, Gus Azlan sudah menjelaskan sedikit pada saya. Bagi saya ini adalah bentuk ijtihad untuk menghindari fitnah keluarga besar yang sedang tidak stabil, saya bersumpah demi Allah untuk menjaga rahasia ini sampai Kyai sendiri yang memerintahkan saya untuk membukanya." seru ustadz Hafiz.

Kyai Hamid mengangguk puas, beliau kemudian menatap Azlan yang baru saja masuk bersama Haidar.

"Saksi sudah lengkap dan Wali hakim juga sudah saya hubungi, sahabat lama saya di KUA akan datang sebagai pribadi malam Jumat nanti. Sekarang, gus Azlan... bagaimana persiapan maharmu?" tanya sang Abah.

Azlan mengeluarkan sebuah kotak kayu berukir dari tasnya, di dalamnya terdapat sebuah kitab tafsir kuno yang nampak sangat terawat.

"Ini mahar pertama Bah, kitab Tafsir Al-Ibriz cetakan lama yang sangat dicintai Zunaira dan untuk mahar lisan... insya Allah Azlan sudah mengkhatamkan hafalan surat Ar-Rahman dalam setiap shalat sunnah Azlan seminggu terakhir." tutur Gus Azlan dengan mantap.

Kyai Hamid tersenyum, beliau teringat sebuah hadist yang sering beliau sampaikan saat ceramah di depan santri.

"Paling berkahnya pernikahan adalah yang paling mudah maharnya." (HR. Ahmad).

"Bukan soal harganya, tapi soal nilainya." tambah Kyai Hamid.

"Zunaira bukan wanita yang silau dengan emas. Berikan dia ilmu, maka dia akan menjagamu dengan imannya." lanjut Kyai Hamid.

Sementara itu di asrama ustadzah, Zunaira sedang mengalami peperangan batinnya sendiri, ia baru saja kembali dari dapur umum setelah membantu Ummi Salamah menyiapkan bumbu-bumbu dapur.

Saat melewati lorong ia berpapasan dengan Ning Arifa yang sedang menggendong Naura.

"Ustadzah Zu!" panggil Arifa dengan ceria, gadis remaja itu selalu memiliki energi yang menular.

"Kok wajahnya pucat sih? Jangan-jangan ustadzah kurang tidur ya gara-gara bantu Mas Azlan urus kurikulum atau karena bakalan sah?" tanya Ning Arifa dengan menggoda calon kakak iparnya itu.

Zunaira tersentak, mencoba mengatur napasnya perlahan, dia tidak boleh terlihat begitu mencolok.

"Nggih Ning, memang sedikit lembur belakangan ini." jawab Zunaira.

Arifa mendekat lalu berbisik dengan nada menggoda yang membuat jantung Zunaira hampir copot.

"Hati-hati lho ustadzah Zu, Mas Azlan itu kalau sudah fokus sama kerjaan suka lupa waktu tapi kalau dia lihat Ustadzah Zu, biasanya dia jadi lebih semangat, aku perhatikan lho dari jauh." goda Arifa lagi.

"Ning Arifa jangan bicara begitu nanti didengar ustadzah lain jadi fitnah." tegur Zunaira halus, meski pipinya kini memanas.

"Hehe, iya-iya maaf. Oh iya titip salam buat Mas Azlan ya kalau nanti rapat, bilang kalau bolu cokelat Naura sudah habis!" Arifa tertawa lepas sambil melanjutkan langkahnya.

Zunaira masuk ke kamarnya dengan perasaan berkecamuk, ia menyandarkan punggungnya di pintu.

Di depannya di atas meja kecil terletak mushaf miliknya, ia membukanya secara acak dan matanya tertuju pada sebuah ayat:

"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (QS. Ash-Sharh: 5)

Ia menarik napas dalam, kesulitan ini yaitu pernikahan rahasia, sembunyi-sembunyi dari Ning Syifa, menahan tuduhan rekan sejawat adalah harga yang harus ia bayar untuk sebuah kemuliaan menjadi istri dari pria yang ia kagumi.

Sore harinya, saat jam kerja kurikulum hampir berakhir, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Zunaira dari Gus Azlan.

Gus Azlan: [Semua saksi sudah siap, Mas Haidar dan Ustadz Hafiz akan menjadi penjaga rahasia kita. Besok sore Ummi akan memberikan mukena putih untukmu, pakailah saat malam itu tiba dan aku akan membacakan Ar-Rahman di telingamu setelah akad nanti. Bersabarlah, Wahai pemilik separuh agamaku.]

Zunaira menutup wajahnya dengan kedua tangan, air matanya menetes bukan air mata kesedihan melainkan haru yang tak terlukiskan.

Ia merasa Gus Azlan benar-benar mempersiapkan segalanya dengan sangat terhormat meskipun dilakukan dalam gelap.

Malam itu Zunaira tidak tidur lama, ia menghabiskan waktu dengan beristighfar dan membaca shalawat.

Ia tahu mulai besok malam hidupnya tidak lagi hanya tentang dirinya sendiri, ia akan menjadi bagian dari ndalem meskipun hanya dalam bayang-bayang.

Ia harus belajar menjadi dinding yang kokoh bagi suaminya dan menahan segala ego untuk diakui dunia demi menjaga ketenangan pesantren yang sangat ia cintai.

Persiapan batin telah selesai, persiapan teknis telah matang.

Detik-detik menuju garis takdir itu tinggal menghitung jam.

Zunaira menatap langit dari jendela kamarnya, melihat bulan sabit yang nampak begitu indah.

"Ya Allah, jika ini adalah jalan menuju rida-Mu, maka jadikanlah hamba istri yang paling sabar dalam menyimpan rahasia ini." bisiknya pada angin malam.

.

.

Cerita Belum Selesai.....

...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...

...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...

...VOTE 💌...

...LIKE 👍🏻...

...KOMENTAR 🗣️...

...HADIAHNYA 🎁🌹☕...

...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...

...SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA...

1
Kasih Bonda
next Thor semangat
Rahma Inayah
harap..harap cemas ..
Kasih Bonda
next Thor semangat
Supryatin 123
😭😭😭😭❤️❤️❤️ semoga samawa Gus Azlan n ustadzah Zu.💪💪💪menjaga rahasia.lnjut thor 💪💪
Supryatin 123
dag dig dug rasanya hati ini 🤭🤭 lnjut thor 💪💪
Kasih Bonda
next Thor semangat.
Kasih Bonda
next Thor semangat
Rahma Inayah
lanjut thir
tiara
lanjuut thor
Kasih Bonda
next Thor semangat .
Kasih Bonda
next Thor semangat
Supryatin 123
lnjut thor 💪💪❤️❤️
Rahma Inayah
ni knp nikah nya SDH berapa part blm nikah gregetan ..bacanya ..
Kasih Bonda
next Thor semangat
tiara
duh Naura polosnya bikin gemeeez aja
Kasih Bonda
semangat thor
Lala_Syalala: terima kasih kak dukungannya, semoga bisa terus suka ya sama ceritanya 🙏😊😊🤗
total 1 replies
Kasih Bonda
next Thor semangat
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut thor
Kasih Bonda
next Thor semangat
Rahma Inayah
jgn sampai rahasia besar kebongkar Krn ke polosan Naura .🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!