Linggar adalah seorang sekretaris cerdas dan berhati emas, namun ia selalu merasa rendah diri karena tubuhnya yang gemuk. Karena desakan adiknya, Nadya, Linggar akhirnya mencoba peruntungan di aplikasi kencan. Takut ditolak karena fisiknya, ia nekat menggunakan foto cantik adiknya sebagai profil.
Di dunia maya, ia bertemu dengan Rangga, pria tampan dan karismatik yang jatuh cinta pada kepribadian Linggar. Namun, Rangga mengira ia sedang jatuh cinta pada wanita di foto tersebut.
Dunia Linggar runtuh saat ia menyadari bahwa Rangga adalah CEO baru di kantornya—bos besarnya sendiri. Kini, Linggar terjebak dalam dilema besar: tetap bersembunyi di balik identitas palsu atau mempertaruhkan segalanya untuk menunjukkan bahwa yang patut dicintai adalah hatinya, bukan sekadar wajah di foto itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Mesin treadmill itu menderu pelan, namun bagi Linggar, suaranya terdengar seperti lonceng penyiksaan.
Keringat mulai membanjiri pelipisnya, dan napasnya mulai tersengal-sengal.
Baru lima menit berlalu sejak Rangga menekan tombol start, namun kaki Linggar sudah terasa seperti beton yang berat.
Linggar melambatkan langkahnya hingga mesin itu berhenti, lalu ia menggelengkan kepalanya dengan lemas.
"Capek, Rangga. Aku benar-benar capek," rintih Linggar sambil memegangi pegangan mesin, tubuhnya sedikit membungkuk mencoba menghirup oksigen sebanyak mungkin.
Rangga yang berdiri di sampingnya sambil melipat tangan di dada seketika mengerucutkan bibirnya.
Ia menatap Linggar dengan tatapan tidak puas, namun ada binar jenaka yang tersembunyi di matanya.
"Baru lima menit, Linggar. Balita saja bisa berlari lebih lama dari itu," ucap Rangga dengan nada menantang.
"Badanku tidak seringan balita!" balas Linggar ketus, wajahnya memerah bukan hanya karena lelah, tapi juga malu.
Rangga melangkah mendekat, jarinya berada di atas tombol kecepatan.
"Cepat lanjut, atau aku akan memotong gajimu bulan ini karena ketidakpatuhan pada atasan."
Linggar membelalakkan matanya sambil menatap Rangga dengan tidak percaya.
"Rangga! Ini tidak adil! Ini urusan kesehatan, kenapa dibawa-bawa ke masalah gaji? Kamu benar-benar bos yang kejam!"
Rangga tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya melotot, memberikan tatapan tajam khas CEO yang tidak menerima bantahan sedikit pun. Tatapan yang membuat nyali Linggar seketika menciut.
"Satu... dua..." Rangga mulai menghitung.
"Iya! Iya, aku lanjut!" seru Linggar panik.
Dengan sisa tenaga dan rasa kesal yang membuncah, Linggar kembali naik ke atas ban berjalan tersebut.
Begitu Rangga menekan tombol play, Linggar kembali menggerakkan kakinya.
Meski berat, ia dipaksa oleh keadaan dan ancaman potongan gaji agar terus bergerak.
"Begitu lebih baik," gumam Rangga sambil berdiri di belakangnya, memantau detak jantung Linggar yang tertera di layar.
"Jangan hanya melihat ke bawah. Lihat ke depan. Fokus pada tujuanmu, bukan pada rasa lelahmu."
Di tengah deru napasnya, Linggar mengutuk dalam hati.
Ia membenci Rangga yang sekarang menjadi pelatihnya yang galak, namun di sisi lain, ia merasakan dorongan aneh untuk membuktikan bahwa ia bisa.
Ia tidak tahu, bahwa dari balik punggungnya, Rangga sedang tersenyum tipis, bangga melihat sekretarisnya itu tidak benar-benar menyerah.
Dua puluh menit berlalu seperti sewindu bagi Linggar.
Begitu angka di layar treadmill menunjukkan waktu istirahat, Linggar hampir terjatuh jika Rangga tidak segera menahan lengannya.
Dengan langkah gontai dan napas yang masih memburu, Linggar berjalan menuju area senam.
Tanpa memedulikan imejnya sebagai sekretaris yang anggun, Linggar langsung merebahkan tubuhnya di atas matras biru di sudut ruangan.
Ia terlentang dengan tangan terentang lebar, menatap langit-langit gym dengan pandangan kosong.
Kaos abu-abunya kini sudah berubah warna menjadi lebih gelap karena basah oleh keringat.
"Rasanya, jantungku mau copot," gumam Linggar dengan suara serak.
Rangga datang menghampiri, membawa sebotol air mineral dingin dan sebuah handuk kecil.
Ia duduk di lantai, tepat di samping matras tempat Linggar terbaring.
"Minum dulu. Sedikit-sedikit saja, jangan langsung diteguk banyak," ucap Rangga sambil menyodorkan botol itu.
Linggar bangkit sedikit, menyandarkan tubuhnya pada siku, dan meminum air itu dengan rakus.
Keringat mengalir dari sudut bibirnya, membasahi lehernya yang berisi.
Rangga memperhatikan itu dalam diam, sorot matanya yang biasanya tajam kini tampak sedikit lebih lembut.
"Kamu melakukannya dengan baik untuk hari pertama," puji Rangga tiba-tiba.
Linggar menoleh, menyeka bibirnya dengan punggung tangan.
"Kamu serius? Tadi kamu mengancam akan memotong gajiku, Rangga."
Rangga terkekeh, suara tawanya terdengar sangat maskulin di tengah kesunyian area matras itu.
"Itu satu-satunya cara membuatmu bergerak, Linggar. Kamu itu keras kepala, persis seperti seseorang yang aku kenal di ponselku."
Jantung Linggar berdegup kencang, bukan lagi karena treadmill, tapi karena rasa takut.
Ia segera mengalihkan pembicaraan agar Rangga tidak menyebut nama 'Nadya'
"Kenapa kamu repot-repot melatihku sendiri? Kamu kan bisa membayar instruktur yang jauh lebih sabar daripada kamu."
Rangga terdiam sejenak sambil memutar-mutar tutup botol di tangannya.
"Karena aku ingin memastikan sekretarisku tidak tumbang lagi. Aku tidak suka melihat orang yang aku andalkan menderita karena cara yang salah."
Rangga kemudian mengulurkan tangannya, bermaksud membantu Linggar untuk duduk tegak, namun jemarinya tidak sengaja bersentuhan dengan kulit lengan Linggar yang hangat dan lembap oleh keringat.
Ada sengatan listrik aneh yang dirasakan Linggar, membuatnya segera menarik tangannya.
"Ayo, jangan kelamaan manja di atas matras," ujar Rangga berusaha menetralkan suasana yang mendadak canggung.
"Sepuluh menit lagi kita masuk ke latihan beban untuk mengencangkan otot lenganmu. Kamu tidak mau kan punya lengan yang bergelambir, kan?"
Linggar mendengus, namun ia tidak bisa menahan senyum tipisnya.
"Aku benci mengakuinya, tapi kamu benar-benar tahu cara memotivasi orang dengan cara yang menyebalkan, Rangga."
Latihan beralih ke gerakan penguatan inti tubuh. Rangga meminta Linggar untuk melakukan gerakan sit-up dengan posisi Rangga menahan kedua kaki Linggar.
Namun, karena kondisi tubuh yang sangat lelah dan lantai matras yang sedikit licin oleh keringat, tragedi kecil itu terjadi.
Saat Linggar mencoba bangkit untuk repetisi terakhir, tumpuannya goyah.
Alih-alih kembali ke posisi semula, tubuhnya justru terjerembap ke depan dengan kekuatan penuh.
BRUK!
Linggar kehilangan keseimbangan dan jatuh tepat di atas tubuh Rangga yang sedang berlutut di depannya.
Karena momentum yang besar, Rangga pun ikut terjengkang ke belakang hingga punggungnya menghantam matras, dengan Linggar yang kini berada tepat di atasnya menindih tubuh atletis sang CEO.
Suasana gym yang tadinya bising oleh musik seolah senyap seketika.
Wajah Linggar hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Rangga.
Ia bisa merasakan dada Rangga yang bidang di bawah tubuhnya, serta deru napas pria itu yang menerpa kulit wajahnya.
"Maaf, maafkan aku, Rangga! Aku benar-benar tidak sengaja!" bisik Linggar panik.
Wajahnya merah padam. Ia mencoba bangkit, namun tangannya yang gemetar justru terpeleset di samping bahu Rangga, membuatnya kembali terperosok lebih dekat.
Rangga menarik napas panjang, dadanya naik turun bersentuhan langsung dengan Linggar.
Ia tmenatap lekat ke dalam manik mata Linggar yang sedang ketakutan.
Ada sebuah keheningan yang sarat akan ketegangan emosional di antara mereka.
"Diamlah sebentar, Linggar," suara Rangga terdengar rendah dan serak, menciptakan getaran yang aneh di perut Linggar.
Rangga tidak mendorongnya menjauh dan malah menahan pinggang Linggar agar wanita itu tidak jatuh sepenuhnya ke samping.
Untuk beberapa detik yang terasa sangat lama, Rangga seolah lupa bahwa wanita di atasnya ini adalah sekretaris yang ia anggap "gemuk". Yang ia rasakan hanyalah aroma sisa parfum yang bercampur keringat dan tatapan mata yang sangat jujur.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Rangga akhirnya, suaranya sedikit tertahan.
"Aku baik-baik saja. Tapi aku pasti sangat berat bagimu," rintih Linggar dengan air mata hampir jatuh karena rasa malu yang luar biasa.
Rangga menggeleng perlahan, tangannya masih menetap di pinggang Linggar.
"Sudah kubilang berapa kali, kamu tidak seberat yang kamu pikirkan. Berhentilah menghina dirimu sendiri di depanku."
Perlahan, Rangga membantu Linggar untuk duduk tegak kembali.
Suasana canggung menyelimuti mereka berdua. Linggar segera membuang muka, sementara Rangga berdeham sambil merapikan kaosnya yang sedikit berantakan.
"Latihan cukup untuk hari ini," ucap Rangga dengan nada yang kembali tegas, meski matanya tidak bisa berbohong bahwa ia baru saja merasakan sesuatu yang tidak biasa.
"Ayo, aku antar kamu pulang. Kamu butuh mandi air hangat sebelum ototmu kaku semua besok pagi."
Longgar menganggukkan kepalanya dan menuju ke ruang ganti.