NovelToon NovelToon
Pedang Penakluk Langit

Pedang Penakluk Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: hakim2501

di Benua Roh Azure, kekuatan adalah segalanya. Ye Yuan, seorang murid luar dari Sekte Pedang Surgawi, ditakdirkan menjadi sampah seumur hidup karena Dantian-nya yang direbut kembali. Saat ia didorong ke dalam keputusasaan dan dibuang ke Lembah Kuburan Senjata, ia mendengar panggilan. Bukan dari pedang suci yang berkilauan, melainkan dari sebilah pedang besi hitam yang patah dan berkarat. Pedang itu bukan sekedar rongsokan; ia adalah pecahan dari "Penyegel Langit" yang dulu digunakan oleh Dewa Perang kuno untuk memenggal bintang. Dengan pedang patah di tangan, Ye Yuan bersumpah:"Jika Langit menindasku, akan kubelah Langit itu. Jika Dewa menghalangiku, akan kupatahkan leher Dewa itu!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Perang Harga di Lantai Lima

Malam telah menyelimuti Kota Angin Hitam. Namun, di sekitar Paviliun Harta Seribu, suasana justru semakin terang benderang oleh lentera-lentera merah yang digantung di setiap sudut pagoda.

Lantai lima paviliun itu adalah ruangan berbentuk kubah besar dengan arsitektur mewah. Lantainya dilapisi karpet bulu macan putih, dan kursi-kursi VIP disusun melingkar menghadap panggung lelang di tengah. Setiap kursi dipisahkan oleh tirai tipis yang menyamarkan wajah penawarnya, memberikan privasi—sekaligus rasa aman semu.

Ye Yuan duduk di sudut ruangan, tersembunyi di balik jubah hitam dan caping bambunya. Dia sengaja memilih posisi di mana dia bisa mengawasi pintu masuk tanpa terlihat mencolok.

"Hadirin sekalian, selamat datang di Pelelangan Bulan Merah!"

Suara merdu Madam Hong menggema di ruangan. Wanita itu berdiri di atas panggung, mengenakan gaun merah menyala yang memamerkan bahu mulusnya. Dia memegang palu lelang dari giok putih.

"Aturannya sederhana: Batu Roh adalah raja. Siapa yang punya uang, dia yang berkuasa. Dilarang bertarung di dalam ruangan ini, atau..." Madam Hong menjentikkan jarinya.

Dari langit-langit, aura tekanan Pembentukan Fondasi Tingkat Lima menekan turun, membuat beberapa tamu yang berniat rusuh kembali duduk dengan patuh.

Ye Yuan tidak peduli dengan basa-basi itu. Matanya terkunci pada pintu masuk VIP di seberang ruangan.

Pintu itu terbuka kasar.

Seorang pria paruh baya dengan jubah emas Sekte Pedang Surgawi melangkah masuk, dikawal oleh dua murid senior. Wajahnya yang dulu angkuh kini terlihat tirus, matanya cekung dan merah, dipenuhi kegilaan yang tertahan.

Itu adalah Tetua Li.

"Minggir!" Tetua Li menepis seorang pelayan yang menawarkan minuman, lalu duduk di kursi barisan depan dengan kasar.

"Dia terlihat putus asa," gumam Ye Yuan pelan. "Bagus."

Pelelangan dimulai. Barang-barang langka dikeluarkan satu per satu: senjata roh tingkat rendah, teknik bela diri kuno, hingga budak ras asing. Namun, Ye Yuan dan Tetua Li sama-sama diam. Mereka menunggu target masing-masing.

Satu jam berlalu. Suasana mulai memanas.

Madam Hong tersenyum misterius. "Tuan-tuan, barang selanjutnya adalah sesuatu yang sangat dicari oleh mereka yang mengalami musibah kultivasi."

Seorang pelayan membawa nampan emas yang tertutup kain sutra. Madam Hong menyingkap kain itu.

Sebuah bunga teratai kecil berwarna putih pucat dengan sembilan kelopak melayang di atas nampan, memancarkan aura penyembuhan yang lembut.

"Teratai Roh Penyambung Tulang."

Suara Madam Hong menjadi serius. "Ini adalah obat suci Tingkat 3. Khasiat utamanya? Ia mampu memperbaiki Dantian yang retak atau hancur hingga 70%, memungkinkan seorang kultivator yang lumpuh untuk memulai kembali jalan kultivasinya."

Mata Tetua Li langsung melebar. Dia berdiri dari kursinya, tangannya gemetar.

"Itu dia..." desis Tetua Li. "Dengan itu, Feng'er bisa sembuh... dia tidak akan jadi sampah..."

Madam Hong mengangkat palunya. "Harga buka: 2.000 Batu Roh."

"3.000!" teriak Tetua Li seketika, tidak memberi kesempatan orang lain berpikir. Dia menatap sekeliling dengan mata mengancam. "Aku Li Batian dari Sekte Pedang Surgawi! Barang ini milikku! Siapa yang berani melawanku?!"

Ancaman itu efektif. Banyak penawar yang mundur karena takut menyinggung Sekte Pedang Surgawi. 3.000 Batu Roh sudah harga yang tinggi.

"3.000 sekali... 3.000 dua ka..."

"4.000."

Suara serak dan datar terdengar dari sudut ruangan.

Semua orang menoleh. Ye Yuan duduk santai, memainkan ujung jubahnya.

Wajah Tetua Li memerah. "Kau! Siapa kau?! Berani melawan Tetua Sekte Pedang?!"

"Ini pelelangan, Tuan Tua," jawab Ye Yuan tenang, suaranya disamarkan. "Uang tidak mengenal sekte. Kalau tidak punya uang, duduklah."

"Kurang ajar! 5.000!" teriak Tetua Li.

"6.000," balas Ye Yuan instan.

"Kau..." Tetua Li mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Dia membawa total 10.000 Batu Roh—tabungan seumur hidupnya plus hasil korupsi logistik sekte. Tapi dia tidak menyangka akan menghabiskan sebanyak ini hanya untuk satu item.

"7.000!" Tetua Li meraung.

Ye Yuan terdiam sejenak. Dia tahu batas psikologis lawan. Dia tidak butuh bunga itu. Pedang Asura bisa memperbaiki tubuhnya sendiri. Dia hanya ingin membuat Tetua Li menderita.

"7.500," pancing Ye Yuan lagi.

"8.000! DAN AKU AKAN MEMBUNUHMU SETELAH INI!" Tetua Li meledak. Auranya bocor, membuat kursi di sebelahnya retak.

Ye Yuan tertawa kecil. "Silakan. 8.000 terlalu mahal untuk bunga liar. Aku mundur."

"Terjual kepada Tetua Li dengan harga 8.000 Batu Roh!" ketuk Madam Hong cepat. Dia tersenyum senang. Harga itu dua kali lipat dari estimasi pasar.

Tetua Li jatuh terduduk, napasnya memburu. Dia menang, tapi hatinya berdarah. 8.000 Batu Roh... hampir seluruh kekayaannya lenyap dalam sekejap.

"Tunggu saja, bangsat bertopeng..." gumam Tetua Li, menatap tajam ke arah Ye Yuan.

Madam Hong melanjutkan pelelangan. "Barang terakhir untuk malam ini. Sebuah material langka dari langit."

Dua pria kekar membawa sebuah kotak besi hitam ke atas panggung. Kotak itu dibuka.

Di dalamnya, terdapat bongkahan logam hitam legam yang permukaannya tidak rata, seolah-olah telah terbakar oleh api neraka. Ukurannya hanya sebesar kepala bayi, tapi meja panggung itu melengkung ke bawah karena beratnya.

"Baja Dewa Jatuh (Fallen God Steel)."

"Material ini sangat keras, tidak bisa dilelehkan oleh api biasa. Beratnya mencapai 500 kilogram. Cocok untuk material senjata berat."

Pedang di punggung Ye Yuan bergetar gila-gilaan. ZING! ZING!

"Tenang," bisik Ye Yuan, menepuk punggungnya.

Madam Hong tersenyum. "Harga buka: 1.000 Batu Roh."

Ruangan hening. Tidak banyak yang tertarik. Material ini terlalu berat untuk dibuat pedang biasa, dan terlalu sulit ditempa. Hanya pandai besi tingkat tinggi yang bisa mengolahnya.

"1.000," kata Ye Yuan mengangkat tangan.

Tetua Li menoleh. Matanya menyipit licik. Dia baru saja dikerjai oleh orang ini. Sekarang gilirannya membalas.

"1.500!" seru Tetua Li, meski dia sebenarnya tidak butuh logam itu dan sisa uangnya menipis.

Ye Yuan menatap Tetua Li.

"2.000," kata Ye Yuan datar.

"2.500!" balas Tetua Li sambil menyeringai. "Ayo, tawar lagi! Bukankah kau kaya?"

Ye Yuan terdiam. Dia menghitung sisa uangnya. Dia punya total sekitar 6.500 dari hasil jarahan sebelumnya. Dia masih aman. Tapi dia tidak mau membuang uang percuma.

"3.000," kata Ye Yuan.

"3.500!" Tetua Li tertawa. "Rasakan itu!"

Tiba-tiba, Ye Yuan berdiri. Dia mengangkat tangannya, menunjuk lurus ke wajah Tetua Li.

"Tuan Tua Li," kata Ye Yuan dengan suara aslinya—tidak lagi disamarkan. Suara muda yang dingin dan familiar.

"Apakah kau yakin ingin menghabiskan sisa uangmu untuk logam ini? Bagaimana jika... Teratai yang kau beli tadi ternyata butuh 'biaya tambahan' untuk bekerja?"

Tubuh Tetua Li membeku. Suara itu... dia kenal suara itu.

"Kau..." Tetua Li menyipitkan mata, mencoba menembus caping Ye Yuan.

Ye Yuan melanjutkan dengan suara pelan yang hanya bisa didengar oleh kultivator dengan telinga tajam. "Atau mungkin... kau ingin menyimpan uangmu untuk membeli peti mati kedua? Satu untuk anakmu, satu untukmu."

"YE YUAN?!"

Tetua Li melompat berdiri, menunjuk Ye Yuan dengan jari gemetar. "KAU YE YUAN?! BINATANG KECIL! KAU BERANI MENAMPAKKAN DIRI?!"

Seluruh ruangan gempar. Nama Ye Yuan sedang naik daun sebagai buronan nomor satu Tetua Li.

Madam Hong mengerutkan kening. "Tetua Li, dilarang membuat keributan. Apakah Anda menawar lagi?"

Tetua Li terengah-engah. Amarahnya meluap, tapi akal sehatnya (sedikit) kembali. Dia sudah menghabiskan 8.000. Sisa uangnya tinggal sedikit. Jika dia menawar lagi dan Ye Yuan mundur, dia akan bangkrut dan tidak bisa membayar Teratai itu. Jika dia tidak membayar Teratai, Paviliun Harta Seribu akan membunuhnya.

"Aku... Aku..." Tetua Li menggertakkan gigi sampai berdarah. "Aku mundur!"

"3.000 Batu Roh, terjual kepada Tuan Jubah Hitam!"

TOK!

Ye Yuan berjalan maju ke panggung, membayar dengan tumpukan Batu Roh yang dia jarah dari Sekte Ular, dan mengambil bongkahan Baja Dewa Jatuh itu. Dia memasukkannya ke dalam tas penyimpanannya.

Saat dia berjalan kembali, dia berhenti tepat di samping kursi Tetua Li.

Ye Yuan sedikit mengangkat capingnya, memperlihatkan separuh wajahnya yang menyeringai dingin, dan mata ungunya yang berkilat.

"Terima kasih sudah mengalah, Tetua," bisik Ye Yuan. "Nikmati bunga itu. Karena itu adalah hadiah terakhir yang akan kau berikan pada putramu."

Ye Yuan kemudian berjalan cepat keluar dari ruangan lelang, meninggalkan Tetua Li yang meraung seperti singa gila.

"TANGKAP DIA! SIAPA YANG BISA MEMBAWA KEPALANYA, AKU BERI 10.000 BATU ROH!" teriak Tetua Li kepada seluruh peserta lelang.

Ruangan itu meledak. Para kultivator bayaran, bandit, dan bahkan pedagang yang serakah, semuanya menghunus senjata mereka. 10.000 Batu Roh adalah jumlah yang gila.

Madam Hong di atas panggung hanya menghisap pipanya dengan tenang.

"Sudah kubilang," gumamnya. "Malam ini akan banjir darah."

Jalanan Kota Angin Hitam.

Ye Yuan tidak berlari panik. Dia meluncur di atas atap-atap rumah dengan Langkah Hantu Asura, menuju gerbang selatan kota—gerbang yang mengarah langsung ke hutan belantara.

Di belakangnya, puluhan aura kuat mengejar.

"Jangan biarkan dia lolos!"

"Dia membawa Baja Dewa dan sisa uang!"

Ye Yuan melirik ke belakang. Dia melihat Tetua Li terbang di udara dengan pedang terbangnya, memimpin pengejaran dengan wajah bengis.

"Bagus," pikir Ye Yuan. "Keluarlah dari kota. Di sini terlalu sempit. Aku butuh panggung yang lebih luas untuk makammu."

Ye Yuan melompati tembok kota setinggi dua puluh meter dalam satu loncatan, mendarat di tanah berpasir di luar, dan langsung melesat masuk ke dalam hutan hitam yang pekat.

Pengejaran hidup dan mati dimulai.

Namun kali ini, yang dikejar bukanlah kelinci.

Yang dikejar adalah harimau yang sedang memancing domba-domba bodoh masuk ke dalam kandangnya.

[Bersambung ke Bab 19)

1
Nanik S
pergi ke Benua Timur
Nanik S
Ronde dua pembantaian
Nanik S
Sial benar mereka berdua
Nanik S
apakah Ye Yuan dan Mu Bingyun bisa lolos dari mereka
Nanik S
Mu Bingyun peka sekali
Nanik S
Ye Yusn licin seperti belut
Nanik S
Bisakah Yuan selamat
Nanik S
Mu Bingyun... apakah Ye Chen akan pulang bersama Mu Bingyun
Nanik S
Kenapa tidak diambil cincin Komandan Zhu
Nanik S
Ye Chen.... jangan biarkan mereka membunuh Kakek Gu dan Jin Jinoi
Nanik S
Akirnya pedangnya yang patah kini telah utuh
Nanik S
Maaantap
Nanik S
Yuan ada saja.. ngakak main petak umpet di Neraka 🤣🤣🤣
Nanik S
Ternyata kota itu adalah Kuburan para Dewa dan Iblis
Nanik S
Perjalan baru di reruntuhan kuno
Nanik S
Harusnya menemui Tetua Mu
Nanik S
Mantap Tor... 👍👍👍
Nanik S
Semua masuk jebakan Yuan
Nanik S
Makin seru Tor
Nanik S
Shiiiip
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!