NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Penguasa Langit

Reinkarnasi Penguasa Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Fantasi
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Ranu Wara lahir di tengah kemiskinan Kerajaan Durja sebagai reinkarnasi Dewa Tertinggi, ditandai dengan mata putih perak dan tanda lahir rasi bintang di punggungnya. Sejak bayi, ia telah menunjukkan kekuatan luar biasa dengan memukul mundur gerombolan bandit kejam hanya melalui tekanan aura.

Menginjak usia tujuh tahun, Ranu mulai menyadari jati dirinya dan menggunakan kekuatan batinnya untuk melindungi orang tuanya dari penindasan pendekar asing. Pertemuannya dengan Ki Sastro, seorang pendekar tua misterius, mengungkap nubuat bahwa Kerajaan Durja berada di ambang kehancuran akibat konspirasi racun dan ancaman invasi. Kini, Ranu harus memilih: tetap hidup tenang sebagai anak saudagar miskin atau bangkit memimpin perjuangan demi melindungi keluarga dan tanah kelahirannya dari lautan api peperangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Getaran dari Langit Kesepuluh

Perjamuan nasi jagung itu seharusnya menjadi momen paling damai dalam hidup Ranu. Namun, saat ia baru saja hendak menyuap sambal terasi buatan ibunya, tangan Ranu terhenti di udara. Mata peraknya bergetar hebat.

Di langit yang tadinya bersih tanpa awan, tiba-tiba muncul sebuah garis hitam vertikal yang seolah membelah cakrawala. Garis itu tidak mengeluarkan suara, namun bagi siapa pun yang memiliki kepekaan kanuragan tinggi, rasanya seperti dunia sedang dicakar oleh kuku raksasa.

"Den Ranu?" Ki Sastro yang sedang mengunyah rempeyek ikut terdiam. "Wajah Anda mendadak pucat. Apa ada yang salah dengan sambalnya?"

Ranu meletakkan pincuk nasi jagungnya perlahan. Ia berdiri dan berjalan ke halaman, menatap lurus ke garis hitam di langit tersebut. "Sastro... ambilkan aku air minum. Sepertinya aku baru saja melakukan kesalahan besar."

"Kesalahan apa, Den?" Ki Ageng Jagat ikut keluar, wajah tuanya tampak waspada.

"Aku menghancurkan Sang Prahara dengan kekuatan penuh Bintang Ketujuh di dunia fana," bisik Ranu. "Ledakan energi itu... itu seperti menyalakan api unggun raksasa di tengah kegelapan yang sangat luas. Aku baru saja memberitahu 'Sesuatu' di luar sana bahwa Segel Pelindung Dunia ini sudah sangat tipis."

Belum sempat Ki Ageng menjawab, garis hitam di langit itu terbuka sedikit. Sebuah mata raksasa berwarna merah darah tampak mengintip dari balik celah tersebut selama satu detik sebelum celah itu menutup kembali. Namun, satu detik itu sudah cukup untuk membuat seluruh bunga di Kerajaan Durja layu seketika dan air sungai berubah menjadi pahit.

Di Dalam Aula Istana Durja

Malam itu, tidak ada pesta. Ranu memanggil Ki Sastro, Ki Ageng Jagat, dan Diajeng Sekar Arum ke sebuah pertemuan tertutup. Prabu Dirja juga hadir dengan wajah yang tampak sepuluh tahun lebih tua hanya dalam hitungan jam.

"Ranu, rakyat ketakutan," ucap Prabu Dirja. "Banyak hewan ternak mati mendadak, dan para tabib melaporkan orang-orang mulai bermimpi buruk tentang 'pria tanpa wajah' yang berjalan di atas lautan."

Ranu duduk bersila di tengah ruangan. Ia kini mengenakan pakaian pendekar biasa, namun aura di sekelilingnya terasa sangat padat.

"Apa yang kita hadapi sekarang bukan lagi iblis atau pengkhianat langit," Ranu memulai penjelasannya. "Selama ini, aku mengira jagat raya ini hanya terdiri dari Sembilan Langit. Tapi saat aku menghancurkan Sang Prahara, aku melihat sekilas... Langit Kesepuluh."

"Langit Kesepuluh?" Ki Ageng Jagat mengerutkan kening. "Dalam kitab kuno mana pun, langit hanya sampai sembilan, Gusti."

"Karena Langit Kesepuluh adalah penjara bagi Para Penelan Bintang," sahut Ranu. "Mereka adalah entitas yang ada sebelum dewa pertama lahir. Mereka tidak butuh takhta, mereka hanya butuh energi untuk dimakan. Dan saat ini, keberadaanku sebagai pemilik tujuh bintang yang aktif sepenuhnya di tubuh fana adalah aroma makanan yang paling lezat bagi mereka."

Ranu menoleh ke arah jendela. "Garis hitam di langit tadi adalah Retakan Dimensi. Sesuatu sedang mencoba masuk. Dan orang-orang Mahesa yang selamat dari perang tempo hari... aku khawatir mereka telah menemukan 'tuan' baru."

Perbatasan Barat: Sisa-Sisa Mahesa

Di sebuah gua gelap di pinggiran Kerajaan Mahesa, sisa-sisa jenderal Mahesa yang dendam berkumpul di sekitar sebuah altar batu. Di atas altar itu, tergeletak sebuah kotak perak yang jatuh dari retakan langit tadi siang.

"Dengan ini, kita akan menghancurkan bocah bermata perak itu," bisik seorang jenderal yang tangannya buntung akibat serangan Ranu dulu.

Ia membuka kotak itu. Di dalamnya bukan berisi senjata, melainkan sebuah Cacing Hitam yang terus menggeliat. Tanpa ragu, jenderal itu membiarkan cacing itu masuk ke dalam telinganya.

Seketika, tubuhnya mengejang. Urat-urat di lehernya menghitam dan matanya berubah menjadi putih kosong tanpa pupil. Suaranya berubah menjadi ribuan bisikan yang tumpang tindih.

"Cari... Wira Candra... makan... jiwanya..."

Keesokan Harinya di Kediaman Ki Garna

Ranu sedang membantu ayahnya memperbaiki pagar saat ia merasakan getaran tanah yang aneh. Ia berhenti bekerja dan menatap ke arah hutan jati.

"Sastro! Ambil senjatamu!" teriak Ranu.

Dari balik pepohonan, muncul makhluk-makhluk yang tidak pernah dilihat sebelumnya. Mereka berbentuk manusia, namun tubuh mereka terbungkus oleh cangkang hitam seperti serangga, dan tangan mereka berbentuk sabit yang tajam. Mereka bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

"Apa itu, Den?!" seru Sastro sambil menghunus pedangnya yang kini sudah diperkuat oleh rajah dari Ranu.

"Itu adalah Manusia Kerak, budak yang jiwanya sudah dimakan oleh parasit dari Langit Kesepuluh," jawab Ranu.

Ranu melompat ke tengah kerumunan makhluk itu. Ia tidak ingin menggunakan kekuatan Bintang Ketujuh secara sembarangan lagi agar tidak memperlebar retakan langit. Ia menggunakan teknik Bela Diri Arus Bawah, sebuah gerakan yang mengandalkan kelembutan untuk menghancurkan cangkang keras lawan.

TAK! BRAK!

Ranu memukul salah satu makhluk itu tepat di sambungan lehernya. Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Makhluk itu tidak mati. Tubuhnya yang hancur malah mengeluarkan cairan hitam yang mengeluarkan uap beracun.

"Jangan sentuh cairannya, Sastro! Itu bisa melelehkan jiwamu!" peringat Ranu.

Ranu menyadari bahwa musuh kali ini berbeda. Jika ia membunuh mereka dengan kekerasan, racun mereka akan menyebar. Jika ia membiarkan mereka, mereka akan memakan semua orang.

"Sepertinya," gumam Ranu sambil menghindar dari tebasan sabit, "Aku harus mencari Pusaka Pemurni yang tersimpan di dasar Danau Cermin di Benua Utara. Tapi itu berarti aku harus meninggalkan bapak dan ibu lagi."

Ranu menatap rumahnya yang tenang. Ia tahu, perjalanannya sebagai novel yang panjang baru saja dimulai. Musuh-musuh baru ini tidak mengenal rasa takut, tidak mengenal diplomasi, dan mereka datang dalam jumlah yang tak terhingga.

"Sastro, siapkan perbekalan untuk perjalanan jauh. Kita tidak hanya akan melintasi benua kali ini," ucap Ranu sambil menghancurkan kepala satu Manusia Kerak dengan sentilan jarinya.

"Lalu kita mau ke mana, Den?"

"Kita akan menuju Gerbang Antar Alam. Kita harus menutup retakan itu dari sisi dalam sebelum seluruh dunia ini menjadi sarang serangga langit," jawab Ranu.

......................

1
JUNG KARYA
bantu supportnya kak 🙏
JUNG KARYA
Komentarnya dong kak, juga satu like kalian sangat berarti untuk semangat author ini lho, apalagi kalau mau beri rating di novel ini 😁...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!