"Jika dunia membuangmu, ingatlah ada satu orang yang akan menghancurkan dunia demi menjemputmu kembali."
Bagi Kyrania Ruella, masa kecil di desa Sukamaju adalah satu-satunya memori indah yang tersisa. Di sana ada Herjuno Allegra, bocah dekil pembawa ketapel yang selalu melindunginya dari nyamuk hingga anak-anak nakal. Namun, takdir memisahkan mereka secara paksa saat Kyra diseret kembali ke kota oleh ayahnya yang serakah. Hidup Kyra bak di neraka. Menjadi istri dari Nathan Sagara, pria kaya yang patriarki dan pelit, Kyra diperlakukan lebih rendah dari pelayan. Ia terjebak dalam pernikahan hampa, bahkan nyaris dijual oleh suaminya sendiri demi menutupi hutang keluarga.
Di saat Kyra nyaris menyerah pada hidupnya, Juno kembali. Namun, ia bukan lagi bocah desa pembawa ketapel. Ia kini adalah Herjuno Allegra, pewaris tunggal kerajaan bisnis raksasa yang dingin, berkuasa, dan sangat protektif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kanvas, Keringat, dan Janji yang Dewasa
Bandung, Tahun Ketiga Perkuliahan.
Kota ini dingin, tapi tidak sedingin Jakarta bagi Kyra. Di sebuah kamar kost sempit di daerah tamansari, aroma cat minyak dan tiner memenuhi ruangan. Kyra akhirnya bisa masuk ke Fakultas Seni Rupa berkat Juno. Ayah Kyra di Jakarta masih lepas tangan, hanya mengirim uang pas-pasan yang seringkali telat, sementara ibunya masih belum pulih sepenuhnya di desa.
"Ra? Masih belum tidur?"
Pintu kamar yang sedikit terbuka menampakkan sosok Juno. Ia terlihat sangat lelah. Rambutnya basah karena keringat dan sisa air hujan. Juno bekerja paruh waktu sebagai kurir barang di siang hari dan menjadi penjaga gudang di malam hari, semua itu ia lakukan agar Kyra tidak perlu berhenti melukis karena kehabisan biaya beli kanvas dan cat yang harganya selangit.
"Juno? Kamu baru pulang?" Kyra meletakkan kuasnya, segera menghampiri Juno.
Juno tersenyum tipis, lalu meletakkan sebuah kantong plastik di atas meja kecil. "Tadi lewat jalan belakang, ada nasi goreng langgananmu yang masih buka. Makan dulu, kamu seharian cuma minum kopi kan?"
Kyra menatap wajah Juno. Ada kantung mata yang mulai menghitam di sana. Ia merasa hatinya sesak. "Jun... kamu nggak perlu kerja sekeras ini. Aku bisa cuti kuliah dulu, aku bisa kerja—"
"Jangan mulai lagi, Kyrania," potong Juno lembut namun tegas. Ia menggenggam tangan Kyra yang terkena noda cat. "Dulu di sungai aku sudah janji, kan? Kamu harus jadi pelukis hebat. Biar aku yang jadi pondasinya, kamu yang jadi warnanya. Oke?"
Kyra tidak bisa menahan air matanya. Ia memeluk Juno erat, menenggelamkan wajahnya di dada bidang laki-laki itu. Dada yang dulu kurus kini terasa sangat kokoh, tempat paling aman bagi Kyra di tengah kerasnya kota.
Malam semakin larut. Suara hujan yang menghantam atap seng kost-kostan menciptakan suasana yang sangat intim. Setelah makan, mereka duduk di lantai beralaskan karpet tipis, menyandarkan punggung di tepi tempat tidur tunggal milik Kyra.
Juno memperhatikan lukisan di kanvas besar yang sedang dikerjakan Kyra. Sebuah lukisan abstrak dengan gradasi warna biru dan jingga.
"Ini... sungai kita di desa ya?" tanya Juno lirih.
"Iya. Tapi aku tambahin warna emas sedikit, karena ada kamu di sana," jawab Kyra.
Juno menoleh, menatap Kyra dengan intensitas yang berbeda dari masa SMA dulu. Di bawah lampu belajar yang temaram, Kyra terlihat begitu dewasa. Rambutnya yang diikat asal-asalan dan kaos kebesarannya tidak bisa menyembunyikan kecantikannya yang kini lebih matang.
"Ra..." tangan Juno bergerak perlahan, menyelipkan anak rambut Kyra ke belakang telinga.
Kyra menahan napas. Sentuhan Juno selalu berhasil membuat jantungnya berdegup tak beraturan, namun kali ini ada getaran yang lebih dalam, lebih mendesak.
"Makasih ya sudah bertahan sama aku yang cuma anak desa ini," bisik Juno, wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari wajah Kyra.
"Aku nggak butuh orang kaya, Juno. Aku cuma butuh kamu," jawab Kyra tulus.
Di tengah kesunyian malam, Juno memberanikan diri. Ia mendaratkan kecupan lembut di dahi Kyra, lalu turun ke hidung, dan akhirnya menemukan bibir Kyra. Kecupan itu awalnya ragu, namun segera berubah menjadi ciuman yang penuh dengan kerinduan dan janji.
Ciuman itu bukan lagi sekadar cinta remaja, melainkan ungkapan dari dua jiwa yang telah melewati banyak badai bersama. Ada rasa haus akan kasih sayang yang selama ini mereka tahan. Tangan Juno melingkar di pinggang Kyra, menariknya lebih dekat hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka.
"Aku sayang kamu, Kyra. Lebih dari nyawaku sendiri," gumam Juno di sela napasnya yang memburu.
Kyra membalas pelukan itu dengan sama kuatnya. Di kamar sempit itu, di antara bau cat dan peluh, mereka menyadari bahwa mereka telah tumbuh. Mereka bukan lagi anak-anak yang bermain kersen; mereka adalah dua orang dewasa yang siap menghadapi dunia, meski mereka tidak tahu bahwa badai yang lebih besar—bernama Nathaniel Sagara—sedang menunggu di depan sana.
😍😍😍
didunia nyata ada gak sihh cowok kayak juno 🤭🤭🤭
kasihan kyra udah terlalu banyak menderita apalagi lg hamil skrng 🥹🙏
cintanya ugal-ugalan bet daahh....
baguslah.... buang eek ayam dapet berlian nih si Kyra.. /Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
daripada sama cowok pelit/Bye-Bye/