Raka adalah seorang "Hantu". Mantan operator elit dari unit rahasia yang keberadaannya tidak pernah diakui oleh negara. Setelah memalsukan kematiannya, ia hidup dalam bayang-bayang sebagai konsultan keamanan independen, memastikan rahasia-rahasia gelap korporasi tetap terkunci rapat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LABIRIN KACA
08:15 PM. Lorong Infiltrasi Sub Oceanic, "The Grid".
Uap panas menyembur keluar dari katup pembuangan, menciptakan kabut tebal yang menyengat kulit. Raka menarik Liana masuk ke dalam celah logam yang menganga tepat sebelum pintu hidrolik seberat dua ton itu menutup kembali dengan dentuman yang menggetarkan tulang.
Keheningan yang mencekam segera menyusul, hanya digantikan oleh dengung magnetik yang membuat bulu kuduk berdiri. Mereka kini berada di dalam The Grid pusat saraf Aegis yang terkubur di bawah terumbu karang Maladewa.
Raka bersandar di dinding besi yang dingin, napasnya memburu. Ia melirik Liana yang sedang berlutut, mencoba mengatur napas sambil mendekap tabletnya seolah itu adalah detak jantung keduanya.
"Masih hidup, Li?" bisik Raka, suaranya parau karena uap panas tadi.
Liana mendongak, wajahnya kemerahan dan rambut sutranya kini berantakan, menempel di dahi karena peluh. Ia menyeka wajahnya dengan punggung tangan, lalu menatap Raka dengan tatapan yang meski di tengah bahaya maut masih sempat memancarkan binar nakal.
"Kalau mati sekeren ini, aku tidak keberatan, Raka. Tapi jujur saja, ciumanmu tadi hampir membuatku lupa cara berenang," sahut Liana sambil berusaha tersenyum, meski tangannya sedikit gemetar saat membuka kunci layar tabletnya.
Raka mendekat, membantu Liana berdiri. Ia tidak segera melepaskan tangannya dari pinggang Liana, membiarkan kehangatan tubuh wanita itu menenangkan saraf tempurnya yang sedang memuncak. "Simpan pujiannya untuk nanti. Kita berada di dalam perut binatang sekarang."
Liana menarik napas dalam, memejamkan mata sejenak sambil menikmati sentuhan Raka. "Kau tahu, Raka... di saat seperti ini, saat maut hanya berjarak satu kesalahan kode, aku merasa sangat... hidup. Dan sedikit lapar. Lobster tadi sepertinya sudah terbakar habis oleh adrenalin."
"Nanti kubelikan satu restoran kalau ini selesai," janji Raka, suaranya melunak. Ia mengusap pipi Liana dengan ibu jarinya, menghapus noda oli kecil di sana.
"Tapi untuk sekarang, jadilah mataku di dunia digital. Aku akan jadi perisaimu di sini." ucap Raka.
Mereka bergerak menyusuri lorong yang tampak lebih seperti karya seni futuristik daripada pangkalan militer. Dindingnya terbuat dari kaca transparan yang memperlihatkan aliran air laut di baliknya, diterangi oleh ribuan kabel serat optik yang berdenyut dengan cahaya biru elektrik.
"Indah sekali," gumam Liana, jemarinya menyentuh dinding kaca. "Semua data dunia mengalir di sini. Rahasia negara, transaksi bank, pesan cinta yang tidak terkirim... semuanya ada dalam kendali Yudha."
"Keindahan yang mematikan," sahut Raka. Ia berhenti di depan sebuah pintu geser tanpa pegangan. "Li, pintunya."
Liana segera menghubungkan unit peretas portabelnya ke panel kontrol. "Ini bukan enkripsi biasa, Raka. Ini... ini sinkronisasi frekuensi. Pintunya terbuka hanya jika ia mendeteksi pola gelombang otak yang spesifik."
"Maksudmu kita terjebak?" tanya Raka.
Liana menatap Raka dengan senyum licik. "Tidak jika aku bisa memalsukan pola otaknya. Raka, aku butuh kau memikirkan sesuatu yang sangat spesifik. Sesuatu yang emosional. Yudha menggunakan gelombang emosi sebagai kunci karena itu paling sulit dipalsukan."
Raka mengerutkan kening. "Aku tidak pandai dalam hal itu, Li. Kau tahu itu."
Liana melangkah mendekat, masuk ke dalam ruang pribadi Raka hingga napas mereka saling bersinggungan. Ia meletakkan tangan Raka di dadanya, tepat di atas jantungnya yang berdegup kencang.
"Pikirkan tentang sepuluh tahun kesepianmu. Pikirkan tentang malam malam di mana kau melihat fotoku di monitor gelapmu. Pikirkan tentang... bagaimana rasanya saat kau menyadari aku tidak benar benar mati," bisik Liana, suaranya bergetar karena emosi yang tulus. "Gunakan rasa takutmu kehilangan aku lagi, Raka. Biarkan mesin ini membacanya."
Raka menatap mata Liana yang berkaca kaca. Selama sepuluh tahun, ia telah membangun tembok beton di sekeliling hatinya, menyebutnya sebagai efisiensi taktis. Namun di sini, di bawah tekanan ribuan ton air laut, tembok itu runtuh. Ia menutup matanya, membiarkan rasa sakit, kerinduan, dan rasa cinta yang ia pendam meledak keluar.
BEEP.
Lampu panel berubah dari merah menjadi putih terang. Pintu bergeser terbuka.
Liana menghela napas lega, namun ia tetap menatap Raka dengan tatapan yang dalam. "Kau punya banyak emosi di sana, Raka. Lebih banyak dari yang kau akui."
Raka menarik napas panjang, mencoba mengembalikan kendali dirinya. "Jangan terbiasa dengan itu, Li. Itu hanya... kunci pintu."
"Pembohong," goda Liana sambil mencubit pinggang Raka pelan sebelum menyelinap masuk ke ruangan selanjutnya.
Di dalam ruangan tersebut, mereka menemukan sesuatu yang membuat langkah mereka membeku. Bukan deretan server, melainkan sebuah kapsul kaca raksasa berisi cairan biru jernih. Di dalamnya, duduk seorang pria dengan ratusan kabel saraf yang menempel di kepala dan punggungnya.
Yudha.
Namun ini bukan Yudha yang mereka lihat di hologram. Tubuhnya kurus kering, wajahnya pucat pasi, dan matanya tertutup rapat. Ia tampak lebih seperti sisa-sisa manusia daripada seorang diktator digital.
"Dia... dia tidak hanya menghubungkan otaknya," bisik Liana, tangannya menutup mulut karena ngeri. "Dia mengunggah kesadarannya secara bertahap. Tubuhnya hanya... baterai yang hampir habis."
Tiba tiba, suara Yudha bergema di seluruh ruangan, tapi bukan dari speaker. Suara itu terasa seolah-olah berbisik langsung di dalam tengkorak mereka.
"Presisi adalah pengorbanan, Raka. Liana... kesempurnaan menuntut pelepasan daging yang lemah."
Raka mengangkat senjatanya, mengarahkannya ke kapsul kaca tersebut. "Yudha, hentikan semua ini. Kau bukan tuhan. Kau hanya orang tua yang takut mati."
"Takut mati? Tidak. Aku sudah melampaui kematian. Aku adalah setiap bit data yang kalian gunakan. Aku adalah masa depan yang kalian takuti karena kalian masih terikat pada emosi primitif itu." ucap Yudha.
Liana mulai mengetik dengan liar di tabletnya, mencoba mencari backdoor untuk memutus koneksi saraf Yudha. "Raka, aku butuh waktu! Sistem pertahanannya mulai melakukan internal purge!"
Tiba tiba, dari langit langit ruangan, turun empat unit automated combat drones dengan senapan mesin yang sudah terkunci pada mereka.
"Li, jangan berhenti!" teriak Raka. Ia melompat ke depan Liana, melepaskan tembakan presisi ke arah drone pertama.
RAT TAT TAT!
Pertempuran pecah di ruang stasis yang sunyi. Raka bergerak seperti tarian maut, melompat di antara pipa pipa hidrolik, menggunakan setiap inci ruangan sebagai perlindungan. Ia bukan lagi hantu yang bersembunyi ia adalah malaikat maut yang melindungi satu satunya hal yang nyata baginya.
"Raka! Aku hampir berhasil! Tapi aku butuh otorisasi fisik!" teriak Liana di tengah desingan peluru. "Kau harus memegang sensor di dekat kapsul Yudha! Tapi itu akan menyetrum sistem sarafmu!"
Raka melihat sensor itu sebuah panel logam yang dialiri arus listrik biru yang ganas. Tanpa ragu, ia berlari menerjang hujan peluru. Sebuah peluru menyerempet bahunya, namun ia tidak berhenti.
Ia mencapai panel itu dan menggenggamnya dengan tangan telanjang.
"ARGHHHH!"
Raka berteriak saat ribuan volt data dan listrik menghantam sistem sarafnya. Ia bisa merasakan setiap pikiran Yudha, setiap kode Aegis, dan setiap memori mengerikan yang mengalir di jaringan tersebut. Namun di tengah rasa sakit yang tak tertahankan itu, ia melihat satu bayangan: Liana di tepi pantai, tertawa sambil memegang sebuah buku tua.
"SEKARANG, LI!" teriak Raka.
Liana menekan tombol ENTER terakhir dengan seluruh tenaganya.
ZAP!
Cahaya biru di ruangan itu padam seketika. Kapsul stasis Yudha berhenti berdenyut. Suara dengung mesin mati, meninggalkan keheningan yang menyesakkan.
Raka jatuh berlutut, tangannya hangus dan tubuhnya gemetar hebat. Liana langsung berlari ke arahnya, menjatuhkan diri di lantai dan memeluk kepala Raka di pangkuannya.
"Raka! Hei, lihat aku! Jangan berani berani mematikan sistemmu sekarang!" tangis Liana pecah, air matanya jatuh membasahi wajah Raka.
Raka membuka matanya perlahan, menatap wajah Liana yang buram. Ia tersenyum sangat tipis, sebuah senyuman yang penuh rasa sakit namun juga kelegaan yang luar biasa. "Lobster... aku masih... berutang lobster..."
Liana tertawa di sela tangisnya, ia mencium kening Raka berkali-kali. "Kau bodoh, Raka. Kau robot paling bodoh yang pernah aku cintai."
Di dalam kegelapan pusat Aegis yang sudah mati, mereka duduk berpelukan. Yudha mungkin sudah berhenti, namun bagi Raka dan Liana, detak jantung mereka baru saja mulai selaras untuk pertama kalinya.
Namun, di sudut ruangan, sebuah monitor kecil yang masih memiliki daya cadangan tiba tiba menyala.
Sebuah teks merah muncul di sana "PHASE 2 GLOBAL ASCENSION INITIALIZED."
Yudha tidak berhenti. Ia hanya baru saja berpindah tempat.