Ragnar Aditya van Der Veen—pria berdarah campuran Indonesia–Belanda—memiliki segalanya: karier mapan di Jakarta, wajah tampan, dan masa lalu yang penuh gemerlap. Namun di balik itu semua, ia menyimpan luka dan penyesalan yang tak pernah benar-benar sembuh. Sebuah kesalahan di masa lalu membuatnya kehilangan arah, hingga akhirnya ia memilih kembali pada jalan yang lebih tenang: hijrah, memperbaiki diri, dan mencari pendamping hidup melalui ta’aruf.
Di Ciwidey yang sejuk dan berselimut kebun teh, ia dipertemukan dengan Yasmin Salsabila—gadis Sunda yang lembut, sederhana, dan menjaga prinsipnya dengan teguh. Yasmin bukan perempuan yang mudah terpesona oleh penampilan atau harta. Baginya, pernikahan bukan sekadar cinta, tapi ibadah panjang yang harus dibangun dengan kejujuran dan keimanan.
Pertemuan mereka dimulai tanpa sentuhan, tanpa janji manis berlebihan—hanya percakapan-percakapan penuh makna yang perlahan mengikat hati. Namun perjalanan ta’aruf mereka tak semulus jalan tol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Garis yang Tak Terlihat
Pagi di Jakarta terasa lebih berat dari biasanya. Meja kerja Ragnar dipenuhi dokumen hukum. Tim legal perusahaan duduk melingkar, menjelaskan kemungkinan terburuk dari gugatan yang diajukan pihak afiliasi Van Der Meer.
“Secara kontrak, ada celah yang bisa mereka pakai,” ujar pengacara utama perusahaan. “Investasi pribadi Anda dulu memang belum sepenuhnya diputus secara final. Mereka bisa menuntut ganti rugi karena dianggap merugikan reputasi bisnis bersama.”
“Berapa besar?” tanya Ragnar singkat.
Angka yang disebutkan membuat ruangan terdiam.
Itu bukan sekadar miliaran.
Itu bisa memengaruhi arus kas perusahaan secara signifikan.
Ayahnya berdiri di dekat jendela, tak banyak bicara. Namun raut wajahnya jelas menunjukkan tekanan yang semakin nyata.
“Kalau kita kalah?” tanya salah satu komisaris.
“Kita tidak akan kalah,” jawab Ragnar tenang. “Tapi kita juga tidak boleh ceroboh.”
Keheningan kembali menyelimuti ruangan.
Untuk pertama kalinya sejak konflik ini muncul, Ragnar merasakan berat yang berbeda—bukan karena takut kehilangan uang, tapi karena ia tahu keputusan pribadinya telah menyeret perusahaan ke medan hukum internasional.
Dan entah mengapa, bayangan Yasmin muncul lagi di benaknya.
Apakah ia pantas membawa perempuan itu ke dalam dunia seperti ini?
________________________________________
Di Ciwidey, Yasmin juga merasakan jarak yang tak terlihat mulai tumbuh.
Ragnar kini lebih sering sibuk. Pesan-pesan mereka tetap ada, tapi tidak sepanjang dulu. Nada suaranya masih hangat, tapi ada lelah yang tak bisa disembunyikan.
Sore itu, Farhan kembali datang—bukan untuk melamar lagi, tapi untuk berbicara.
“Aku dengar situasinya makin rumit,” katanya hati-hati.
Yasmin mengangguk pelan.
“Aku tidak ingin memanfaatkan keadaan,” lanjut Farhan, “tapi aku hanya ingin kamu tahu… pintu yang tenang itu masih terbuka.”
Yasmin tersenyum tipis. “Terima kasih.”
Farhan menatapnya dalam. “Kamu kelihatan lelah, Min.”
“Aku hanya sedang belajar kuat.”
Farhan menghela napas kecil. “Kadang kuat bukan berarti bertahan. Kadang berarti tahu kapan harus melepaskan.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Namun kali ini, hati Yasmin tidak lagi goyah seperti sebelumnya.
Ia memang lelah. Tapi bukan karena ragu.
Ia lelah karena perjuangan itu nyata.
Dan anehnya, justru di situ ia merasa tumbuh.
________________________________________
Malam itu, Ragnar akhirnya datang ke Ciwidey tanpa banyak memberi kabar. Ia ingin melihat Yasmin secara langsung.
Ketika mobilnya berhenti di depan rumah kayu sederhana itu, udara pegunungan menyambutnya dengan dingin yang menenangkan.
Yasmin terkejut melihatnya berdiri di halaman.
“Kamu tidak bilang mau datang,” katanya pelan.
“Aku perlu melihatmu,” jawab Ragnar jujur.
Mereka duduk di beranda, tetap menjaga jarak sesuai adab.
Kabut turun perlahan, membuat suasana terasa hening dan intim.
“Apa gugatan itu serius?” tanya Yasmin akhirnya.
“Iya.”
“Apakah bisa menghancurkan perusahaanmu?”
Ragnar terdiam beberapa detik. “Bisa mengguncang. Tapi tidak menghancurkan.”
Yasmin menatapnya lama. “Dan kalau sampai menghancurkan?”
Ragnar tersenyum tipis. “Aku akan mulai lagi.”
Jawaban itu sederhana, tapi tidak sembrono.
Yasmin merasakan sesuatu yang berbeda malam itu.
Bukan sekadar keyakinan.
Tapi kesiapan menerima risiko.
“Ragnar,” ucapnya pelan, “aku tidak ingin jadi beban.”
“Kamu bukan beban,” jawabnya cepat.
“Tapi kamu tidak bisa memungkiri bahwa semua ini berawal dari keputusanmu memilihku.”
Ragnar menatapnya dalam. “Tidak. Semua ini berawal dari keputusan orang lain yang tidak bisa menerima pilihanku.”
Keheningan kembali turun.
Angin berdesir di antara kebun teh.
“Aku tidak ingin kamu menikah denganku karena merasa harus membuktikan sesuatu,” lanjut Yasmin lembut. “Aku ingin kamu menikah karena benar-benar yakin.”
“Aku yakin,” jawab Ragnar tanpa ragu.
“Tapi kamu juga harus yakin bahwa kamu siap kehilangan apa pun demi keyakinan itu.”
Kalimat itu membuat Ragnar terdiam.
Ia memang siap kehilangan uang.
Siap kehilangan investor.
Tapi apakah ia siap kehilangan posisi, kekuasaan, bahkan nama besar keluarga?
Pertanyaan itu belum pernah ia jawab sepenuhnya.
________________________________________
Di dalam rumah, ayah Yasmin memperhatikan mereka dari balik jendela.
Ia melihat bukan hanya dua anak muda yang sedang jatuh cinta.
Ia melihat dua jiwa yang sedang diuji oleh takdir yang besar.
Setelah Ragnar pamit, ayahnya memanggil Yasmin.
“Apakah kau melihat keraguan di matanya?” tanya beliau.
Yasmin berpikir sejenak. “Tidak.”
“Bagus.”
“Tapi aku melihat lelah.”
Ayahnya tersenyum lembut. “Lelah itu manusiawi. Yang penting bukan apakah ia lelah, tapi apakah ia tetap berjalan.”
Yasmin mengangguk pelan.
________________________________________
Di Jakarta, tekanan lain muncul.
Salah satu bank mitra mulai mempertimbangkan ulang fasilitas kredit karena situasi hukum yang belum pasti.
Itu pukulan nyata.
Ayah Ragnar memanggilnya lagi.
“Sekarang kau mengerti?” ucapnya.
“Ya.”
“Dan?”
Ragnar berdiri tegak. “Saya tetap pada keputusan saya.”
Ayahnya menatapnya lama.
“Kau keras kepala.”
“Mungkin.”
“Tapi kau juga anakku.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi ada makna di baliknya.
Untuk pertama kalinya, ayahnya tidak lagi memaksanya kembali ke jalur lama.
Ia hanya ingin memastikan Ragnar benar-benar siap.
________________________________________
Malam itu, Ragnar duduk sendirian di ruang kerja, memandangi dua dunia yang seperti bertabrakan di kepalanya.
Satu dunia penuh angka, kontrak, dan kekuasaan.
Satu dunia penuh kabut Ciwidey, doa, dan ketenangan sederhana.
Ia tahu ia tidak bisa memisahkan keduanya.
Jika ingin bersama Yasmin, ia harus membawa dunianya tanpa membiarkan dunia itu menghancurkan mereka.
Dan untuk itu, ia perlu membuat keputusan yang lebih besar.
Bukan sekadar bertahan dari gugatan.
Tapi mengubah arah perusahaan sepenuhnya—agar tidak lagi bergantung pada jaringan lama yang sarat kepentingan.
Namun keputusan itu berarti risiko yang jauh lebih besar.
Dan mungkin akan memicu perang terbuka dengan keluarga Van Der Meer.
Sementara di Ciwidey, Yasmin memandang langit malam yang dipenuhi bintang.
Ia tidak tahu detail strategi Ragnar.
Tapi ia tahu satu hal.
Jika lelaki itu benar-benar memilih jalan yang penuh risiko demi prinsipnya, maka ia pun harus memilih dengan keberanian yang sama.
Namun pertanyaan terakhir masih menggantung di antara mereka:
Apakah cinta dan iman cukup kuat untuk bertahan ketika seluruh sistem kekuasaan mulai bergerak melawan?