NovelToon NovelToon
Jawara Pasar : Cicit Dua Milliarder

Jawara Pasar : Cicit Dua Milliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ottoy Lembayung

SMA Harapan Bangsa—tempat di mana kemewahan dan status sosial menjadi ukuran utama. Di tengah keramaian siswa-siswi yang terlihat megah, Romi Arya Wisesa selalu jadi pusat perhatian yang tidak diinginkan: berpakaian lusuh, tas dan sepatu robek, tubuh kurus karena kurang makan. Semua menyebutnya "Bauk Kwetek" dan mengira dia anak keluarga miskin yang hanya diurus oleh orang tua sambung. Tak seorangpun tahu bahkan Romi pun tidak mengetahui bahwa di balik penampilan itu, Romi adalah cicit dari dua konglomerat paling berpengaruh di negeri ini—Pak Wisesa raja pertambangan, dan Pak Dirgantara yang menguasai sektor jasa mulai dari rumah sakit, sekolah, mall hingga dealer kendaraan.
Perjalanan hidup Romi sudah ditempa dari Kecil hingga Remaja pelajar SMA.
Dari mulai membantu Emaaknya berjualan Sayuran, Ikan, udan dan Cumi, sampai menjadi kuli panggul sayur dan berjualan Bakso Cuanki.
Ditambah lagi dengan konflik perseteruannya dengan teman perempuan di sekolahnya yang bernama Yuliana Dewi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ottoy Lembayung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23. Hati kecil Yuliana Dewi

Secara spontan beberapa Siswa laki-laki kelas 10A yang duduk paling pojok belakang langsung berceletuk dengan nada menggoda kepada Shanti. Mereka berdiri sedikit dari bangkunya, wajah penuh dengan senyum candaan yang membuat suasana kelas menjadi sedikit hiruk pikuk.

"Hebat banget tuh si Romi dapet Hadiah terindah dari si Shanti! Bisa jadi ini adalah momen paling berharga dalam hidupnya lho," ucap salah satu siswa dengan suara tinggi yang membuat seluruh kelas mendengarnya.

"Ya bener banget! Mimpi apa loe Rom semalem ya? Dapet bingkisan super mewah dari Siswi tercantik di kelas 10A. Pasti kamu akan selalu ingat momen ini kan Rom?" sambung siswa lainnya dengan tatapan yang penuh sindiran.

"Pasti sepulang dari sekolah, loe akan megangin muka loe karena sangat berkesan! Jangan sampai kamu lupa kasih terima kasih ya Rom," ucap salah seorang lagi sambil menepuk-nepuk meja, membuat semua siswa laki-laki di pojok belakang tertawa-tawa riang menggoda Shanti sang ratu bintang kelas 10A.

Devan yang berdiri di samping Shanti hanya tersenyum simpul, merasa puas dengan reaksi teman-teman sekelasnya. Sementara itu, wajah Shanti yang tadinya memerah karena marah kini semakin merona merah—tidak hanya karena marah, tetapi juga karena beberapa siswa mulai memberi gelar "ratu bintang kelas 10A" padanya dengan nada yang semakin menggoda. Dia ingin marah, tetapi merasa tidak bisa melakukan apa-apa di depan banyak orang.

Tiba-tiba terdengar suara langkah-langkah sepatu hak tinggi yang jelas terdengar dari luar pintu kelas—TAK TIK TUK...TAK TIK TUK—suara yang sudah sangat dikenal oleh seluruh siswa kelas 10A sebagai ciri khas gurunya. Segera saja suasana kelas menjadi lebih tenang, semua siswa kembali duduk dengan rapi dan menatap pintu kelas yang akan segera terbuka.

Pintu pun terbuka lebar dan masuk seorang guru wanita dengan penampilan yang selalu rapi—Ibu Dewi, guru Biologi sekaligus wali kelas 10A. Dia mengenakan blus putih bersih dan rok hitam yang rapi, dengan sepatu hak tinggi hitam yang membuat langkahnya terlihat sangat anggun.

"Selamat pagi anak-anak... Senang berjumpa kembali dengan kalian semuanya setelah hari libur kemarin," ucap Ibu Dewi dengan suara yang jelas dan penuh semangat, melihat sekeliling kelas dengan tatapan yang penuh perhatian.

"Selamat pagi juga Buuu!" ucap serempak seluruh anak-anak di kelas dengan suara yang meriah, meskipun sebagian masih merasa sedikit gugup karena ketegasan gurunya.

Lalu ibu Dewi berjalan melangkah menuju mejanya yang terletak di depan kelas, sambil melihat semua anak muridnya dengan cermat. "Kalian semua terlihat rapih-rapih, cantik dan tampan ya hari ini. Saya senang melihatnya," pujinya dengan senyum hangat, membuat sebagian siswa merasa lebih tenang.

Setelah itu, ibu Dewi kembali duduk di kursi kebesarannya yang terletak di belakang meja guru, mulai membuka buku catatan dan perlengkapan mengajarnya. Namun tidak lama kemudian, wajahnya tiba-tiba berubah menjadi sangat terkejut sekali—matanya tertuju pada seorang siswa yang duduk di bangku paling depan, tepat di sebelah kiri pintu kelas.

Ibu Dewi kemudian dengan cepat bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati siswa tersebut dengan langkah yang semakin cepat. Matanya menunjukkan rasa tidak percaya dan sedikit kesal melihat kondisi siswa yang sedang duduk di sana.

"Siapa nama kamu?" tanya Ibu Dewi dengan suara yang cukup keras, membuat seluruh siswa di kelas menoleh ke arah mereka berdua.

"Maksud ibu... nama aku?" ucap Romi dengan suara pelan, memberanikan diri untuk berbicara meskipun hati sudah mulai merasa gelisah. Dia perlahan berdiri untuk menghormati gurunya.

"Ya benar kamu yang tidak rapih, kucel, kumel, pakaian lusuh dan tampak dekil seperti ini. Kamu duduk di bangku depan padahal penampilanmu tidak sesuai dengan standar kelas 10A," ucap Ibu Dewi dengan kata-kata yang sangat pedas, seolah tidak menyadari bahwa kalimatnya sedang menusuk hati Romi yang sudah merasa tertekan hari ini.

"Aku Romi Bu," ucap Romi dengan suara yang semakin pelan, sambil menundukkan wajahnya dalam-dalam agar tidak terlihat bahwa matanya sudah mulai berkaca-kaca.

"Kamu Romi, pindah duduknya ke bangku belakang sekarang juga! Dan kamu Devan—maju ke depan untuk menggantikan tempat Romi karena Devan lebih pantas duduk di depan daripada kamu Romi," ucap Ibu Dewi dengan nada yang tegas dan tidak bisa ditentang, melihat ke arah Devan yang langsung berdiri dengan senyum puas.

"Kamu Romi hanya merusak pemandangan ibu saja jika duduk di depan, bahkan bisa saja mempermalukan wali kelas 10A jika ada tamu sekolah yang melihatmu duduk di sana," ucap Ibu Dewi lagi kepada Romi dengan suara yang tetap pedas, tanpa menyadari bahwa kalimatnya seperti sebuah sambaran petir yang menghantam tubuh Romi secara langsung.

Romi menarik napas kuat-kuat lalu menghembuskannya dengan kasar, mencoba untuk menenangkan diri yang sudah mulai terasa goyah. "Apakah benar aku ini tidak pantas berada di sini? Karena aku miskin, aku anak penjual sayuran di pasar, dan aku penjual bakso Cuangki?" gumamnya dalam hati dengan rasa kesedihan yang mendalam, merasakan bahwa dirinya tidak diterima oleh siapapun di sekolah ini.

"Ya Allah... berilah aku kekuatan, kesabaran serta keikhlasan di dalam menghadapi ujian yang telah Engkau takdirkan kepadaku," ucap Romi dalam hati dengan penuh doa, menahan tetesan air mata yang hampir saja jatuh di pipinya dengan sekuat tenaga. Dia perlahan mengambil tasnya dan mulai berjalan ke arah bangku paling belakang kelas, di mana tidak ada seorang pun yang mau membantu atau bahkan melihatnya dengan rasa iba.

Dan terdengar dengan jelas suara ibu Dewi yang kembali berbicara setelah Romi duduk di tempat baru. "Kalian buka halaman 7 buku pelajaran bahasa Indonesia lalu baca dan pelajari materi tentang struktur kalimat. Jika ada yang belum dimengerti, langsung tanyakan saja ke Ibu ya," ucap Ibu Dewi dengan suara yang kembali tenang, seolah tidak pernah mengatakan hal yang menyakitkan kepada Romi.

Dan seluruh anak-anak siswa kelas 10A langsung membuka buku mereka dengan cepat, mulai membaca dan mempelajarinya dengan serius. Suasana kelas menjadi hening seketika, hanya terdengar suara halaman buku yang dibalik dan suara napas para siswa yang sedang fokus membaca.

Di kelas lain tepatnya di kelas 10D, terlihat Yuli sedang duduk di bangkunya dengan wajah yang penuh pikiran—dia sedang melamun dalam-dalam. Matanya menatap ke arah jendela kelas yang menghadap halaman sekolah, namun tidak fokus pada apa pun yang dilihatnya. Dirinya sepertinya sedang mengalami dilema yang sangat besar tentang keinginannya untuk melaporkan atau tidak melaporkan ke kepala sekolah SMA Harapan Bangsa berkaitan dengan majalah dan DVD porno yang dikirim Romi kepadanya beberapa hari yang lalu.

Jauh di lubuk hatinya, ada terbesit rasa kasihan dan iba yang semakin besar kepada Romi setelah dia membaca artikel tentang Romi di Mading sekolah. "Heem ternyata Romi benar-benar 1000% orang miskin... tinggal di kontrakan di daerah Petakan, ibunya berjualan sayuran di pasar Sewon, ayahnya telah tiada, dan dirinya membantu ibunya dengan berdagang keliling memikul dagangan bakso Cuangki. Miris sekali aku mendengar berita ini di MADING," ucap Yuli dalam hati dengan rasa kesedihan yang tiba-tiba muncul, tidak menyangka bahwa kehidupan Romi jauh lebih sulit daripada yang dia bayangkan.

"Apa yang bisa aku lakukan untuknya agar bisa meringankan penderitaannya?" Yuli berfikir keras sambil menggaruk-garuk kepalanya, merasa bingung antara rasa marah karena apa yang Romi lakukan dan rasa iba karena kondisi hidup Romi yang sangat sulit. Namun sebelum dia bisa menemukan jawaban dari pertanyaan dalam hatinya, sobatnya Erna tiba-tiba datang dan mengagetkan lamunannya.

"Hayooo lagi ngapain loe Yuli!!! Pasti lagi mikirin Devan atau Ronal kan loe Yul? Jangan bohong deh!" tanya Erna dengan suara yang cukup keras, menggoda Yuli sambil menepuk bahunya dengan lembut.

"Sialan loe Er... loe klo lagi bercanda mengenai mereka jangan keras-keras dong! Gue malu tahuuu," ucap Yuli dengan suara pelan berbisik-bisik di telinga Erna, wajahnya sedikit memerah karena merasa malu dengan dugaan temannya.

"Loe malu Yul? Gue gak nyangka seorang Yuli yang tajir melintir dan selalu dianggap sebagai 'super star' sekolah bisa malu juga ya. Biasanya kamu selalu cuek aja kan?" ucap Erna dengan suara penuh kejutan, melihat wajah Yuli yang memang terlihat sedikit canggung.

"Sssst... diem loe Er! Jaga privasi gue dooong. Jangan sampai guru denger kita berbicara begini," ucap Yuli dengan cepat, menepuk tangan Erna agar berhenti berbicara karena dia melihat guru matematika Pak Jhon sudah mulai melihat ke arah mereka berdua.

Guru matematika Pak Jhon dengan matanya yang tajam melotot ke arah Yuli dan Erna, wajahnya menunjukkan rasa tidak senang karena suasana kelas yang sedang tenang terganggu oleh obrolan mereka.

"Kalian berdua ke depan sekarang juga! Kerjakan nomor 2 dan 3 masing-masing di papan tulis—satu soal untuk setiap orang. Bapak beri waktu hanya 30 detik untuk menyelesaikannya," ucap Pak Jhon dengan suara tegas yang membuat seluruh siswa di kelas menjadi hening.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!