Ziva Putri Willson, putri bungsu keluarga Willson, adalah perpaduan sempurna antara kecantikan, kecerdasan, dan kepercayaan diri setinggi langit. Di usianya yang masih muda, dia telah menjadi desainer ternama yg namanya menggema hingga ke mancanegara.
Damian Alexander, CEO muda yang dikenal kejam dan dingin. Baginya, hidup hanyalah deretan angka dan nilai saham. Dia sangat anti pada wanita karena menganggap mereka makhluk paling merepotkan di dunia.
"Dengar, Tuan CEO, kamu mungkin bisa membeli saham dunia, tapi kamu tidak bisa membeli hak untuk mengatur kapan aku harus bernapas. Jadi, simpan wajah sok kuasamu itu untuk rapat, bukan untukku." -Ziva.
"Aku sudah menghadapi ribuan musuh bisnis yang licin, tapi menghadapi satu wanita bermulut tajam seperti dia jauh lebih menguras energi daripada akuisisi perusahaan. Tapi justru itu yang membuatnya berbeda." — Damian.
Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Si Tuan Dingin yang mulai kehilangan akal sehatnya, atau Nona cerewet berwajah manis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TETEP KETEMU
Damian membuka Instagram dan melihat Story Ziva yang baru saja diunggah 15 menit yang lalu, meskipun tanpa lokasi, Damian mengenali motif marmer meja pada foto tersebut.
"Dasar kucing nakal," batin Damian, kembali menyimpan ponsel nya.
"Mom, jangan khawatir, aku sudah tahu di mana butik yang dia maksud," ucap Damian dengan nada yang sangat tenang.
"Oh, syukurlah kalau begitu. Maafkan Ziva ya, dia memang agak sulit diatur," ucap Nyonya Mauren lega.
"Maaf ya Damian, Ziva anak nya memang sedik nakal seperti itu, nanti kamu cubit aja dia, gemes banget mommy sama dia itu," ucap Nyonya Mauren, gemes ingin mencubit Ziva.
Damian hanya tersenyum tipis, senyum yang jika dilihat Riko, pasti akan membuat asistennya itu gemetar.
"Justru itu bagian yang menarik, Mom. Saya permisi dulu," jawab Damian, kembali ke mobil nya.
Sementara di kedai kopi, Ziva sedang asyik membalas email pekerjaan sambil sesekali tertawa kecil membayangkan wajah kesal Damian yang sedang menunggu di rumahnya.
"Mungkin dia sekarang sedang mondar-mandir seperti setrikaan," batin Ziva tertawa puas.
Tiba-tiba, kursi di hadapan Ziva ditarik oleh seseorang.
"Pagi yang indah untuk urusan butik mendadak, bukan, Nona Willson?"
Uhuk
Uhuk
Uhuk
Ziva tersedak kopinya, dia mendongak dan matanya hampir keluar saat melihat Damian sudah duduk dengan santai di depannya, pria itu sedang menatapnya dengan pandangan yang seolah berkata. Kamu tidak bisa lari dariku.
"K-kamu? Gimana... kok bisa?!" ucap Ziva terbata-bata, wajah kemenangannya runtuh seketika.
"Lain kali kalau mau kabur, jangan unggah foto meja kedai langganan mamaku. Itu amatir," bisik Damian memajukan tubuhnya, menatap Ziva lekat-lekat.
Ziva mematung sesaat, jantungnya berdegup kencang karena tertangkap basah, namun harga dirinya yang setinggi langit segera mengambil alih, dia menarik napas panjang, merapikan kacamata hitamnya, dan menatap Damian dengan pandangan paling asing yang bisa dia buat.
"Maaf?" ucap Ziva dengan nada bicara yang dibuat se sopan mungkin namun sangat berjarak.
"Anda bicara dengan saya, Tuan? Sepertinya Anda salah meja. Saya sedang menunggu asisten saya, bukan seorang pria asing yang tiba-tiba duduk dan membahas meja marmer," ucap Ziva, dengan bodoh nya justru berakting pura-pura tidak kenal.
Damian menaikkan satu alisnya, sedikit takjub dengan akting Ziva yang begitu natural.
Dengan santai Damian menyandarkan punggungnya di kursi, melipat tangan di dada sambil terus menatap mata Ziva yang tertutup kacamata hitam.
"Asing?" ulang Damian dengan suara berat yang mengintimidasi.
"Jadi, wanita yang kemarin membanting pintu mobilku dan menitipkan pesan beracun lewat asistenku itu sekarang mendadak amnesia?" tanya Damian, tersenyum miring.
Ziva tetap tidak bergeming, mempertahankan aktingnya, dia menyesap kopinya dengan gaya anggun, lalu mulai merapikan laptop dan tabletnya ke dalam tas.
"Saya tidak tahu apa yang Anda bicarakan. Mungkin Anda terlalu banyak menonton drama atau terlalu lelah bekerja. Permisi, saya harus pergi," ucap Ziva bangkit dari kursinya dengan gerakan cepat, mencoba melarikan diri sebelum benteng pertahanannya runtuh.
Namun, baru dua langkah dia menjauh, sebuah tangan yang kuat dan besar dengan kilat mencengkeram pergelangan tangannya.
"Ziva."
Hanya satu kata, namun nada bicara Damian yang rendah dan penuh otoritas itu membuat langkah Ziva terkunci.
Pria itu kini sudah berdiri di belakangnya, menciptakan bayangan besar yang menelan tubuh mungil Ziva.
"Permainan ini tidak lucu," bisik Damian tepat di dekat telinga Ziva, membuat bulu kuduk gadis itu berdiri.
"Kamu boleh berpura-pura tidak mengenalku di depan umum, tapi jangan harap aku akan melepaskan tanganmu sebelum kita menyelesaikan urusan kita hari ini," bisik Damian, dengan hembusan nafas hangat yang menerpa kulit leher Ziva.
"Lepaskan! Semua orang melihat, Tuan?!" ucap Ziva mencoba menarik tangannya dengan wajah memerah.
"Bagus kalau mereka melihat," jawab Damian dingin, tanpa melepaskan cengkeramannya sedikit pun.
"Biarkan mereka tahu bahwa Nona Ziva Putri Willson sedang mencoba melarikan diri dari calon suaminya sendiri," lanjut Damian, tersenyum miring.
Ziva mendongak, menatap Damian dengan api kemarahan di matanya.
"Kamu benar-benar menyebalkan! Lepaskan atau aku teriak!" ucap Ziva, melotot kan mata nya, galak.
"Teriak lah," tantang Damian datar.
"Dan aku akan memastikan besok pagi berita utama di seluruh koran bisnis adalah tentang drama pelarianmu. Pilih mana, pergi denganku secara tenang, atau aku angkut kamu ke mobil sekarang juga?" ucap Damian, menatap Ziva tajam.
Ziva menghentakkan kakinya ke lantai kafe, napasnya memburu karena dongkol yang sudah sampai ke ubun-ubun, dia menoleh ke sekeliling dan benar saja, beberapa pengunjung mulai berbisik sambil melirik ke arah mereka.
Menjadi pusat perhatian karena drama asmara adalah hal terakhir yang ia inginkan sebagai seorang desainer profesional.
"Oke! Oke, lepasin!" sentak Ziva sambil menyentak tangannya dari genggaman Damian.
"Kamu menang, Tuan Alexander yang Terhormat. Puas?" ucap Ziva, dengan wajah marah nya.
Damian melepaskan cengkeramannya, lalu merapikan sedikit lengan kemejanya yang tidak berantakan sama sekali.
"Keputusan yang logis. Ayo," ucap Damian, tersenyum puas.
Ziva menyambar tasnya dengan kasar, hampir mengenai vas bunga di meja, berjalan mendahului Damian dengan langkah lebar, sengaja tidak menoleh ke belakang.
Di parkiran, Ziva melihat mobil sport merah miliknya terparkir cantik, namun Damian justru mengarahkannya ke arah mobil Ferrari hitam yang terparkir tepat di depan pintu masuk.
"Aku bawa mobil sendiri!" protes Ziva, menunjuk mobilnya.
"Mobilmu akan diantar oleh orangku ke mansion mu nanti, karena hari ini, kamu tanggung jawabku," ucap Damian tanpa ekspresi sambil membukakan pintu penumpang.
"Tanggung jawab? Bilang saja kamu takut aku kabur lagi lewat jalan tikus," ucap Ziva mendengus keras.
"Itu juga salah satu alasannya," jawab Damian jujur yang membuat Ziva semakin ingin melempar tasnya ke wajah pria itu.
Ziva akhirnya masuk ke dalam mobil dengan wajah cemberut maksimal, dia duduk dengan melipat tangannya di dada dan menatap keluar jendela begitu mesin mobil menyala.
Keheningan di dalam mobil terasa berbeda dari kemarin, kali ini terasa lebih intens karena tidak ada Riko yang menjadi penengah.
"Kita mau ke mana lagi sekarang? Kalau mau fitting baju lagi, mending aku turun di sini," ucap Ziva ketus.
"Kita akan ke kantor catatan sipil, lalu makan siang dengan orang tuaku, mereka ingin memastikan semua dokumen legal sudah siap," jawab Damian meliriknya sekilas melalui spion tengah.
"Hari ini? Tanpa persiapan? Aku cuma pakai baju olahraga, Damian!"ucap Ziva membelalakkan matanya, shock.
"Kamu tetap terlihat pantas, Ziva, tidak perlu berlebihan hanya untuk tanda tangan," jawab Damian enteng.
"Kamu..."
Ziva kehilangan kata-kata, dia baru sadar bahwa melarikan diri tadi pagi adalah kesalahan besar, karena sekarang dia terjebak dalam kondisi apa adanya di momen penting, sementara Damian terlihat sempurna seperti biasanya.
abang posesif vs clon suami kutub....🤣🤣🤣
crazy up dpng thorrrrr
koreksi ya semangat