Di mata dunia, Banyu hanyalah seorang pemuda desa putus sekolah yang tidak memiliki masa depan. Kehilangan kakeknya dan divonis memiliki penyakit bawaan membuat hidupnya seolah menemui jalan buntu. Namun, roda nasib berputar 180 derajat ketika Banyu secara tak sengaja mewariskan sebuah artefak kuno Kendi Penyuling Jiwa milik sang kakek.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Berdua Saja di Kosan
Kembali ke halaman Polsek Kampung Rawa.
Kombes Hendra sudah pergi dengan mobil dinasnya, meninggalkan suasana yang canggung. Siska, sang "Penyelamat" yang sebenarnya, masih berdiri di samping mobil Maserati merahnya, melipat tangan di dada.
Dia memberi kode pada Laras. "Mbak Laras, bisa tinggalin kami berdua sebentar? Ada urusan bisnis yang mau saya omongin sama dia."
"Oh... iya, Mbak. Saya tunggu di warung depan ya," kata Laras buru-buru menyingkir, mengira Siska adalah pacar rahasia atau rekan bisnis elit Banyu.
Setelah Laras pergi, Siska menatap Banyu dengan tatapan menyelidik.
"Oke, to the point aja," kata Siska dingin. "Saya gak tau apa motif kamu nyelametin Ayah saya. Tapi saya peringatin kamu: jangan macem-macem. Keluarga kami bukan orang yang bisa kamu manfaatin."
Banyu memutar bola matanya. "Mbak, jujur ya. Sampe detik ini saya gak tau bapak Mbak itu siapa. Presiden? Menteri? Sultan Andara? Buat saya, beliau cuma kakek-kakek yang butuh pertolongan di jalan."
"Kamu gak tau?" Siska menaikkan alisnya skeptis. "Ayah saya Wakil Gubernur provinsi ini."
"Oh," jawab Banyu datar. "Pantesan mobilnya plat merah."
Reaksi Banyu yang super santai membuat Siska makin bingung. Orang biasanya kaget atau langsung menjilat, tapi Banyu malah terlihat bosan.
"Jadi, apa yang kamu mau?" tanya Siska lagi, kali ini nada suaranya sedikit melunak tapi tetap waspada. "Sebut angka. Saya gak suka berhutang budi. Apalagi sama orang asing."
Banyu menghela napas. Dia menatap Siska dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Apa aja boleh?"
Siska mundur selangkah, menutupi dadanya refleks. "Asal jangan yang aneh-aneh!"
Banyu tertawa kecil. "Mbak, otak jangan ngeres. Saya cuma mau minta ganti rugi."
Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan secarik kertas kucel. "Nih, kuitansi deposit RSUD. Lima juta. Itu duit modal jualan sawi saya. Tolong diganti. Cash atau transfer boleh."
Siska tertegun. Dia menatap kuitansi itu, lalu menatap wajah Banyu.
"Cuma itu?"
"Ya iyalah. Emang saya minta saham BUMN?" sindir Banyu.
Siska merasa sedikit malu karena sudah suudzon (berprasangka buruk). Dia segera mengeluarkan buku cek dari tas Hermes-nya, menulis angka lima juta, lalu menyerahkannya ke Banyu.
"Lunas ya. Kita gak ada urusan lagi," kata Siska ketus untuk menutupi rasa malunya.
"Lunas, Bos. Makasih," Banyu menerima cek itu sambil nyengir. "Lain kali kalau bapaknya jatoh, jangan telat lagi jemputnya."
Banyu berbalik dan berjalan santai menghampiri Laras, meninggalkan Siska yang menggigit bibir karena kesal campur kagum.
---
Berita penangkapan Aiptu Somad dan Joni menyebar cepat di kampung.
Warga bersorak gembira. Penyakit masyarakat itu akhirnya tumbang. Warung kopi penuh dengan gosip tentang "Banyu si Penakluk Preman". Tapi satu orang justru panik setengah mati.
Rudi.
Dia tahu kalau Joni "bernyanyi" di penjara, namanya pasti terseret. Tanpa pamit, tanpa bayar sisa tunggakan listrik, Rudi kabur malam itu juga. Kamarnya kosong melompong.
Di saat yang sama, musibah menimpa keluarga Pak Rahmat dan Bu Yati.
Mereka mendapat kabar kalau keponakan kesayangan mereka di Bandung kecelakaan motor parah. Penabraknya lari. Butuh biaya operasi segera.
Bu Yati menangis sesenggukan di ruang tamu. "Duit dari mana Pak... tabungan kita gak cukup..."
Mendengar itu, Banyu tanpa pikir panjang menyerahkan cek lima juta dari Siska, ditambah uang hasil jualan sawi kemarin. Total sepuluh juta dia pinjamkan tanpa bunga.
"Pake aja dulu, Bu. Nyawa lebih penting," kata Banyu.
Pak Rahmat dan Bu Yati terharu sampai sujud syukur. Malam itu juga mereka berangkat ke Bandung, menitipkan rumah kos kepada Banyu.
"Ny, titip rumah ya. Jagain Laras juga. Jangan macem-macem lho," pesan Bu Yati sambil menyeka air mata.
"Siap, Bu. Aman," jawab Banyu.
Dan begitulah, situasi berubah menjadi skenario dorama Jepang: Satu rumah kos, dua penghuni muda-mudi, tanpa pengawasan orang tua.
---
Malam Minggu tiba.
Sesuai janji, Laras mengajak Banyu makan malam. Bukan di restoran mewah, cuma di warung tenda Seafood 99 di ujung jalan. Tapi bagi mereka, rasanya lebih nikmat daripada candle light dinner di hotel bintang lima.
Mereka makan kepiting saus padang dan kerang dara rebus sambil tertawa-tawa membahas kelakuan konyol Rudi yang kabur.
Saat bayar, Laras mengeluarkan dompetnya.
"Eh, jangan. Biar saya aja," Banyu menahan tangan Laras.
"Ih, kan janjinya aku yang traktir! Mas Banyu udah nolongin aku berkali-kali lho," protes Laras.
"Gaji anak magang ditabung aja buat beli skincare," canda Banyu sambil menyerahkan uang merah ke penjual. "Lagian, saya lagi banyak duit abis 'meres' anak pejabat."
Laras tertawa renyah. "Dasar..."
Mereka pulang jalan kaki di bawah sinar bulan purnama. Jalanan kampung sepi. Bahu mereka sesekali bersentuhan. Ada ketegangan manis di udara.
Sampai di depan pintu kamar Laras, Laras berhenti. Dia memilin ujung bajunya, gugup.
"Mas Banyu... makasih ya makan malemnya. Aku... seneng banget hari ini."
Banyu tersenyum lembut. "Sama-sama, Ras. Tidur yang nyenyak ya."
Laras mengangguk cepat, wajahnya memerah, lalu buru-buru masuk kamar dan mengunci pintu. Di dalam, dia bersandar di pintu sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang seperti drum band.
Banyu kembali ke kamarnya di lantai bawah sambil bersiul-siul.
"Waduh, tanda-tanda nih. Jantung sehat, dompet tebel, jodoh deket. Nikmat mana lagi yang kau dustakan?"
Di kamar, Banyu mengecek "aset"-nya. Kendi Penyuling Jiwa makin glowing. Setelah menyerap giok senilai 10 juta, produksinya naik jadi 7 Tetes per siklus.
Dan di dalam Dimensi Kendi, ladang Ginseng-nya tumbuh gila-gilaan. Ginseng-ginseng itu sudah berbunga putih. Ukurannya mungkin sudah setara Ginseng 50 tahun. Baunya harum semerbak memenuhi dimensi itu.
"Dikit lagi panen," gumam Banyu puas.
Tiba-tiba... PET!
Listrik padam. Gelap gulita.
"Yah... mati lampu. PLN ngajak berantem nih."
Baru saja Banyu mau meraba-raba cari senter HP, terdengar teriakan kaget dari arah kamar mandi umum di lantai bawah.
"KYAAA!!"
Itu suara Laras!
Banyu panik. "Laras?!"
Tanpa pikir panjang, Banyu menerjang keluar kamar menuju sumber suara. "Ras! Kamu kenapa?! Ada maling?!"
Pintu kamar mandi tertutup, tapi tidak terkunci. Khawatir Laras kenapa-napa (jatuh lagi atau diserang orang), Banyu mendorong pintu itu terbuka.
Cahaya bulan purnama menerobos masuk lewat ventilasi kecil di atas, menyinari ruangan kamar mandi yang sempit itu.
Dan di sana, berdiri Laras.
Basah kuyup. Rambut panjangnya menempel di punggung. Dan... tidak sehelai benang pun menempel di tubuhnya yang putih mulus bersinar di bawah cahaya bulan.
Laras baru saja selesai mandi dan hendak mengambil handuk saat lampu mati, membuatnya kaget dan tergelincir sedikit.
Melihat pintu terbuka dan sosok Banyu berdiri di sana, Laras menjerit tertahan. Refleks, dia berjongkok, menyilangkan tangan menutupi dada dan area vitalnya.
"KYAAA! MAS BANYU JANGAN LIAT!!"
Teriakan itu menyadarkan Banyu dari keterpakuannya. Dia langsung membalikkan badan menghadap tembok, jantungnya mau copot.
"MAAF! MAAF! GUE GAK LIAT APA-APA! GELAP BANGET SUMPAH!" teriak Banyu panik, meski dalam hati dia tahu... cahaya bulan tadi cukup terang untuk melihat siluet indah itu.
"JANGAN NOLEH!!" teriak Laras sambil meraba-raba mencari handuk dalam gelap.
"ENGGAK! SUMPAH DEMI ALLAH ENGGAK NOLEH!"
Suara krasak-krusuk terdengar. Laras memakai baju secepat kilat dalam kegelapan.
"Udah...?" tanya Banyu pelan setelah hening beberapa detik.
"Mas Banyu jahat..." suara Laras terdengar mau nangis.
"Eh, sumpah Ras, gue kira ada maling atau lu jatoh! Gue refleks doang!" Banyu mencoba membela diri tanpa berani menoleh.
Laras keluar dari kamar mandi, sudah berpakaian lengkap meski rambutnya masih basah. Dia berlari kecil melewati Banyu menuju tangga, wajahnya merah padam tak karuan.
Di anak tangga pertama, dia berhenti. Tanpa menoleh, dia berbisik.
"Aku... aku tau Mas gak sengaja. Aku gak marah."
Lalu dia lari ke atas dan membanting pintu kamarnya.
Banyu berdiri sendirian di lorong gelap itu. Dia mengusap wajahnya.
"Gusti... cobaan apa lagi ini? Jantung gue yang baru sembuh bisa meledak kalau gini caranya."
Tapi kemudian, senyum nakal terbit di bibirnya.
"Cantik banget..."